Tentang Rasa

Tentang Rasa
Ajakan Ke Kota Impian


__ADS_3

"Ingin seperti apa yang kamu maksud?" tanya Ella dengan tubuh yang bergetar. Mungkinkah Kairi mencintainya?


Atau mungkinkah kata ingin yang Kairi maksud, adalah menginginkannya untuk satu malam saja, seperti kebiasaan para lelaki kaya lainnya.


"Aku ingin memiliki kamu." jawab Kairi.


Ella berdiri dari duduknya, "Aku bukan wanita seperti itu, maaf aku tidak bisa." ucapnya dengan kesal.


Kairi bingung melihat sikap Ella. Apa maksudnya?


"Kenapa Gabriella?, apa aku salah jika aku ingin memiliki kamu." tanya Kairi sambil ikut berdiri.


"Tentu saja salah. Meskipun aku miskin, tapi aku punya harga diri." jawab Ella dengan kesal.


Kini Kairi mulai tahu, kemana arah pembicaraan Ella. Ahh rupanya gadis itu sudah salah paham.


Namun baru saja Kairi ingin menjelaskan maksudnya, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


Kairi membukanya, dan ternyata dia adalah pengantar makanan. Lalu mereka berdua makan bersama, Ella makan sambil diam, tidak bicara sepatah kata pun.


Kairi juga ikut diam, mau menjelaskan sekarang sepertinya waktunya kurang tepat, biarlah nanti saja ia memberi tahukan tentang maksud kata katanya.


"Desain cincin yang kuminta, apa sudah kamu selesaikan?" tanya Kairi saat mereka sudah selesai makan malam.


"Sudah, tunggu sebentar aku ambilkan." jawab Ella sambil beranjak dari duduknya. Kalimatnya begitu datar, terlihat jelas jika ia sedang kesal.


"Kau sangat sensitif Gabriella, apa dulu kau juga seperti ini, saat bersama lelaki lain dimasa lalumu. Hmm aku jadi penasaran, seperti apa mantanmu itu. Sepertinya dia romantis, memberimu kalung dengan liontin yang cantik, tapi kenapa kalian putus ya. Ahh aku jadi penasaran dengan kisah asmaramu Gabriella." gumam Kairi sambil senyum senyum sendiri.


Tak berapa lama kemudian, Ella datang sambil membawa sketsa desainnya.


"Aku tidak tahu kliennya akan suka atau tidak. Kau juga tidak memberiku arahan yang jelas. Kau hanya bilang membuat desain yang paling bagus. Padahal kau tahu, itu diluar kemampuanku." ucap Ella panjang lebar. Lalu ia kembali duduk didepan Kairi.


Kairi melihat desain cincin itu, ada hiasan dua daun, dengan bunga kecil ditengah tengahnya. Bunganya sederhana, namun terlihat indah dengan hiasan permata warna biru muda. Dari situ Kairi dapat menyimpulkan, jika Ella menyukai warna biru muda.


"Cincin yang indah, dia pasti suka." ucap Kairi sambil tersenyum, dan tetap menatap desainnya.


"Sekarang pulanglah, aku ingin istirahat." kata Ella datar.


"Baiklah, jaga diri baik baik. Sampai bertemu besok." ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella.


"Jangan berfikiran yang aneh-aneh, aku tidak seperti yang kamu kira. Aku ingin membahagiakan kamu, seumur hidupku." sambung Kairi sambil memeluk Ella sekilas.


Ella tertegun mendengar ucapan Kairi, sampai ia tak menyadari jika Kairi sudah berlalu pergi.


Tersadar dari lamunannya, Ella lalu menutup pintu, dan masuk kedalam kamarnya.


Ella terduduk lesu dikasurnya, kata kata Dimas masih terngiang jelas diingatannya.


"Ada apa dengan Kak Dimas, kenapa dia tidak percaya padaku. Bahkan terang terangan dia mengatakan kecewa, padahal aku berusaha keras menolongnya, sampai aku hampir kehilangan kesucianku. Kenapa Kak Dimas begitu tega." ucap Ella sambil memeluk bantal.


"Seharusnya aku memang tidak pernah datang kesini, pasti hubunganku dengan Kak Dimas tetap baik baik saja. Aku juga tidak akan pernah bertemu dengan Kairi. Ahh lelaki yang menyebalkan." gerutu Ella.


Lalu Ella berbaring dikasurnya, mencoba memejamkan matanya, namun tidak bisa. Bayangan tentang Kairi, berputar putar diotaknya.


"Ahh... Kenapa ingat dia terus sih." gerutu Ella dengan kesal, sambil tengkurap memeluk bantal.


Hampir tiga jam Ella hanya bergelimpungan, tidak bisa tidur. Matanya masih terbuka dengan lebar, tidak ada rasa ngantuk sama sekali.


"Perasaan macam apa ini, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Kenapa dulu waktu mencintai Andra, aku tidak sampai seperti ini." gumam Ella sambil beranjak dari kasurnya.


Ella duduk di kursi kamarnya, dalam cahaya yang hanya remang remang, Ella merenung. Memikirkan segala hal yang terjadi padanya.


Tentang Dimas yang sudah kecewa padanya. Yang Ella tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kejadian sebenarnya.


Tentang kata kata Kairi, yang terdengar seperti merendahkannya, tapi terkadang juga seperti menyanjungnya. Ahh bingung sekali mengartikan sikapnya.


Saat Ella dalam posisi tersulit, Kairi datang menolongnya, tapi entah tulus atau tidak, Ella juga tidak bisa menebak. Apa Kairi mencintainya, atau hanya menginginkan tubuhnya.

__ADS_1


"Perasaan ini salah, aku seharusnya tidak boleh mencintainya. Apa gunanya melupakan Andra, kalau akhirnya jatuh cinta dengan orang seperti dia. Pasti ujungn ujungnya sama sama sakit hati." ucap Ella dalam kesendirian.


******


Dimas mengendarai mobilnya dengan pelan, ia mengemudi sambil merenung. Apa maksudnya Kairi ?, apa dia tahu sesuatu ?


Dia bilang cemburu, memangnya siapa yang cemburu ?


Dimas kembali mengingat tentang Ella, gadis itu menangis, saat Dimas mengatakan kekecewaannya. Ia menangis, dan raut wajahnya terlihat tulus, tidak menyimpan kebohongan. Lalu seperti apa kejadian yang sebenarnya.


Dimas membuang nafas kasar, sejujurnya ia bisa menyimpulkan satu kemungkinan. Tapi untuk mempercayainya, tentu saja sangat berat. Mana mungkin istrinya sekejam itu ?


Dimas mulai memasuki pintu gerbang rumahnya, ia memarkirkan mobilnya di garasi. Beberapa detik Dimas masih diam, ia mencoba menata hatinya sebelum bertemu dengan istrinya.


Dimas turun dari mobilnya, dan melangkah memasuki rumahnya. Yura sedang duduk di sofa ruang tamu, sepertinya ia memang sengaja menunggu Dimas.


"Sayang bagaimana hasilnya ?" tanya Yura sambil menghambur memeluk lengan Dimas.


Dimas menatap Yura, "Aku menemukan Ella disana." ucapnya pelan.


"Apa ?, kok bisa ?" tanya Yura heran.


"Aku juga tidak tahu." jawab Dimas sambil duduk di sofa.


"Apa itu artinya Ella memang terlibat Dim ?" tanya Yura dengan hati hati.


"Mungkin." jawab Dimasa singkat sambil menatap istrinya.


"Kamu yang sabar ya Dim, terkadang memang ada, seseorang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Tapi ya sudahlah, anggap saja itu sebagai ganti kesalahan kamu dimasa lalu." ucap Yura sambil mengusap usap lengan Dimas.


"Terima kasih ya, kamu selalu mendukungku." kata Dimas sambil tersenyum.


"Aku istri kamu, sudah kewajiban aku untuk mendukung kamu." jawab Yura.


"Mendengar jawabanku, kamu terlihat sangat senang Yura. Apa memang ini rencana kamu, bodoh sekali jika hanya karena cemburu, kamu sampai senekat itu. Apapun caranya, aku akan mencari tahu kebenarannya." batin Dimas dalam hatinya.


"Ayo." jawab Dimas sambil merangkul Yura, dan mengajaknya masuk ke kamar.


****


Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, Kairi berdiri didepan pintu rumah Ella. Ia merogoh kunci yang ada disakunya, lalu ia membuka pintu rumah itu.


"Gabriella.... Gabriella...." panggil Kairi sambil melangkah masuk


Sunyi, tidak ada suara sama sekali. Dimana Gabriella ?


Kairi kembali melangkahkan kakinya, ia kini berdiri didepan pintu kamar Ella.


"Gabriella...." panggil Kairi sambil mengetuk pintunya.


Tidak ada jawaban dari dalam, Kairi mulai khawatir.


"Gabriella...." teriak Kairi sambil mengetuk pintunya lebih keras.


Beberapa kali Kairi mengetuk pintu, namun tetap saja, tidak ada jawaban sama sekali. Lalu Kairi membuka pintunya, kebetulan tidak dikunci. Biarlah Ella menganggapnya tidak sopan, ia sangat khawatir dengan keadaan Ella.


Pintu kamar terbuka lebar, dan Kairi melihat Ella sedang tidur dengan nyenyak dikasurnya. Kairi tersenyum, Ella terlihat sangat manis saat terlena dalam mimpi. Alangkah bahagianya Kairi, jika setiap bangun paginya selalu menatap wajah gadis itu disampingnya. Ahh kapan ya angan angan itu bisa kesampaian.


Kairi mendekati Ella, ia merapikan anak rambut yang berantakan diwajah Ella. Lalu ia juga membetulkan selimutnya yang sedikit melorot.


Ella menggeliat pelan, dan mengerjapkan matanya. Rupanya ia sudah terjaga dari tidurnya.


Ella membuka matanya, dan alangkah kagetnya saat mendapati Kairi sedang duduk didepannya, sambil menatapnya lekat lekat.


Spontan Ella langsung beranjak dari tidurnya.


"Apa yang kamu lakukan disini ?. Jangan macam macam, keluar kamu !" teriak Ella sambil memukuli Kairi dengan bantal.

__ADS_1


Kairi sempat kaget melihat sikap Ella yang menurutnya berlebihan.


Dia hanya diam disini, tidak melakukan apa apa, kenapa Ella sehisteris itu.


"Hei, hei tanganlah. Aku tidak akan macam macam. Aku hanya melihat keadaan kamu." kata Kairi berusaha menenangkan Ella.


"Bohong, jika hanya melihat keadaanku kamu bisa bertamu baik baik. Tidak perlu masuk ke kamarku. Kamu pasti punya niat jahat. Kamu cepat keluar, keluar !" teriak Ella dengan keras, ia juga masih memukuli Kairi.


Tidak ada pilihan lain, Kairi langsung memegang tangan Ella, dan memeluknya dari belakang. Gerakan Ella terkunci, ia tak bisa bergerak lagi.


"Lepaskan aku !" teriak Ella, matanya sudah berkaca kaca, ia teringat akan malam itu. Mungkinkah Kairi juga bermaksud menyentuhnya, tidak, Ella tidak mau. Meskipun Kairi sangat tampan, tapi bukan berarti Ella akan merelakan tubuhnya. Ini salah, ini akan merusak masa depannya.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa apa. Aku khawatir sama kamu, aku hanya ingin melihat keadaan kamu." ucap Kairi.


"Kamu bohong. Lepaskan aku." kata Ella sambil menangis.


Kairi menggeram kesal saat menyadari, jika Ella menangis. Seburuk itukah dirinya dimata Ella ?


"Jangan menangis. Demi Allah aku hanya ingin melihat keadaan kamu. Kamu tidak masuk kerja, dan tidak bisa aku hubungi, aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu." ucap Kairi sambil melepaskan pelukannya. Ia berharap Ella bisa tenang, dan mempercayainya.


"Demi Allah kamu bilang ?" tanya Ella.


"Iya, aku berani bersumpah, demi Allah aku tidak punya niat lain." jawab Kairi meyakinkan Ella.


"Kamu kenal Allah ?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


Kairi mengernyitkan keningnya, "Aku kamu fikir aku tidak mengenali Tuhanku, kamu meragukan keyakinanku Gabriella ?" jawab Kairi.


"Maksudku bukan begitu, maksudku kamu orang Islam ?" tanya Ella.


"Apa selama ini kamu tidak tahu ?" kata Kairi balik bertanya.


Ella menggeleng.


"Dari sejak lahir agamaku hanya satu, yaitu Islam. Kita satu keyakinan, apa kamu merasa senang ?" tanya Kairi menggoda Ella.


"Apa maksud kamu !" bentak Ella dengan spontan. Ia kesal mendengar ucapan Kairi, namun dalam hatinya ia memang bahagia. Mereka satu keyakinan, jika memang ada cinta, mereka pasti bisa bersama.


"Itu sebabnya kamu tidak usah khawatir, kamu tahu kan, ajaran dalam agama kita seperti apa. Jadi aku tidak mungkin melakukan hal hal buruk sama kamu. Tapi kamu juga harus menghilangkan fikiran negative kamu tentang aku. Meskipun aku bukan ahli agama, tapi aku bisa menjaga diriku. Aku tidak seperti yang kira Gabriella." kata Kairi sambil duduk di kursi kamar Ella.


Ella masih diam, dia belum menjawab ucapan Kairi.


"Jangan menilai seseorang dari lingkungannya. Mungkin menurutmu orang barat menyukai kebebasan, tapi perlu kamu tahu, jalan hidup ditentukan dari diri kita masing masing, bukan dari lingkungan. Jadi tidak semua orang barat menyukai kebebasan, dan tidak semua orang timur, tidak menukai kebebasan." kata Kairi.


Ella sedikit tersentak mendengar ucapan Kairi.


"Kairi benar. Buktinya Andra hidup di Indonesia, tapi gaya hidupnya juga bebas. Dan Kak Dimas, sudah bertahun tahun hidup disini, tapi juga tetap berkepribadian baik." batin Ella dalam hatinya.


"Terkadang lingkungan sekitar yang buruk memang bisa mempengaruhi kita. Tapi jika prinsip, dan pendirian kita kuat. Bukan kita yang terpengaruh lingkungan buruk, tapi lingkungan buruk yang mejadi lebih baik, karena pengaruh kita. Apa aku benar Gabriella ?" sambung Kairi.


"Iya, kau benar." gumam Ella pelan.


"Aku punya keyakinan, dan aku juga punya pedoman Gabriella. Aku tidak kenal apa itu one night stand, dan apa itu baby sugar." ucap Kairi sambil menatap Ella.


Ella yang saat itu masih duduk di kasurnya, merasakan pipinya mulai merona. Jika yang Kairi katakan benar, ahh betapa sempurnanya dia.


"Lalu kenapa kau masuk ke kamarku, kenapa tidak menungguku di kantor ?, semalam kau lihat aku baik baik saja kan ?" tanya Ella.


"Sekarang sudah jam sepuluh lewat Ella, mau menunggu sampai kapan ?" Kairi balik bertanya.


"Benarkah ?" tanya Ella spontan. Lalu ia meraih ponselnya dengan cepat, dan ia tertawa nyengir saat melihat jam sudah menunjukkan angka 10.40.


"Maaf..." gumam Ella.


"Tidak apa apa, yang penting kau baik baik saja. Ngomong ngomong aku juga ada hal penting yang ingin kusampaikan. Aku ingin mengajakmu ke Paris Gabriella." jawab Kairi.


Ella mendongak kaget, Paris ?

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2