
"Maaf." kata Andra sambil membuang rokoknya. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati Ella.
"Apa yang membawamu datang kesini?" tanya Andra sambil menatap Ella. Wanita yang dulu menjadi sahabatnya, yang sekarang dicintainya, namun sudah menjadi milik orang lain.
"Aku tahu kau sedih, kau kecewa, kau terluka. Tapi bisakah kau berfikir dewasa Andra, belajarlah bersyukur dengan apa yang kamu punya. Aku tahu kenyataan ini pahit, tapi dengan seperti ini, apa itu bisa mengubah hidupmu menjadi manis. Tidak Andra, justru seperti ini malah membuatmu semakin terluka. Kau akan semakin larut dalam kesedihanmu, kau akan membuat Tante Mirna bersedih. Apa belum cukup kau mengecewakannya selama ini, kau sudah seringkali membuatnya menangis. Apa itu belum cukup Andra, apa sekarang kau masih ingin membuatnya menangis lagi!" kata Ella dengan suara yang sedikit tinggi. Air matanya sudah mulai menetes, ia tak sanggup lagi membendungnya.
Melihat Ella menangis, Andra menjadi salah tingkah. Apa yang harus ia lakukan? Menghapus air matanya, tapi ada Kairi di sana, Andra tidak ingin jika nanti Kairi salah paham. Mau membiarkannya, ia juga tidak tega. Air mata itu terus mengalir, dan membasahi kedua pipinya.
"El jangan menangis, aku hanya butuh waktu untuk sendiri, kamu jangan menangis." ucap Andra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu butuh waktu sendiri hanya untuk maratapi nasib seperti ini, lalu kapan kamu bisa berfikiran dewasa Ndra. Kau selalu mencari pelarian setiap kali ada masalah, kau tahu itu hanya menunjukkan bahwa diri kamu adalah pengecut. Jika kamu masih menganggap aku sebagai sahabat, pulang dan jalani kehidupan kamu seperti biasanya. Masalah tidak akan pergi, jika tidak pernah kau hadapi. Kau paham itu Andra!" teriak Ella sambil menatap Andra.
"Kamu tidak mengerti dengan apa yang aku hadapi El, kenyataan ini terlalu pahit bagiku. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku pasti pulang, tapi tidak sekarang." kata Andra sambil membalas tatapan Ella.
"Sepahit-pahitnya hidup kamu, itu masih ada manisnya Ndra. Kau masih punya harta yang cukup, coba kau fikirkan, banyak orang diluar sana yang kelaparan, dan tidak memiliki uang untuk membeli sesuap nasi. Apa menurutmu kehidupan mereka jauh lebih manis daripada kehidupan kamu, iya!" teriak Ella.
"Cukup El! Kenapa kau selalu membawa-bawa harta setiap kali kita membahas tentang masalah." kata Andra dengan suara yang sedikit tinggi.
"Karena itu adalah kelebihan kamu. Setiap orang punya kekurangan, dan kelebihannya masing-masing Ndra. Semua orang punya kesulitannya sendiri-sendiri. Kau selalu berfikir, bahwa hidupmu yang paling sulit, dan paling kurang. Padahal tidak Ndra, masih banyak orang lain yang kehidupannya tidak seberuntung kamu. Jadi kumohon berhentilah berfikir bahwa hidupmu yang paling sulit. Jika pemikiranmu tetap seperti itu, selamanya kau tidak akan bisa keluar dari kelukaan. Perbaiki diri kamu, belajarlah mengendalikan emosi, belajarlah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tante Mirna sangat menyayangi kamu, apa kamu ingin membuatnya tenggelam dalam perasaan bersalah. Setega itukah kamu Andra!" kata Ella dengan cepat.
"Tapi El..." jawab Andra.
"Pulang, dan jalani kehidupan kamu seperti biasanya!" kata Ella dengan tegas.
"Aku pasti pulang, tapi tidak sekarang El." ucap Andra.
"Terserah padamu, tapi jika kau tidak pulang sekarang juga, jangan pernah menganggap aku sebagai sahabat kamu. Apapun yang terjadi padamu aku tidak akan peduli lagi, aku akan menganggap bahwa kita tidak pernah saling kenal!" bentak Ella sambil membalikkan badannya.
"Tapi El..." ucap Andra.
"Pulanglah Andra, Tante Mirna menunggumu." kata Ella dengan suara yang pelan, sambil melangkah meninggalkan Andra.
"Hapus air matamu, aku tidak suka melihatnya!" kata Andra dengan suara yang cukup keras.
Ella tak menghiraukannya, ia terus melangkah sampai ke ambang pintu.
"Ayo Kai!" ajak Ella pada Kairi yang masih berdiri di sana.
"Iya. Aku pergi dulu Ndra." kata Kairi sambil menatap Andra. Lalu ia berlalu pergi mengikuti langkah Ella.
Andra menatap kepergian Ella, dan Kairi dengan raut sendu. Wanita yang dicintainya, yang selama ini selalu ada untuknya, sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Sementara itu, Ella dan Kairi, mereka sudah duduk bersebelahan didalam mobil. Kairi menatap Ella yang sedang mengusap air matanya dengan tisu.
"Kau menangis untuk Andra Gabriella. Aku jadi teringat dengan masa lalumu, kau pernah mencintainya cukup lama. Sedangkan aku, aku hanyalah lelaki yang belum lama hadir dalam hidupmu. Benarkah aku sanggup menggantikan posisi Andra dihati kamu." batin Kairi sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Perlahan Kairi mulai melajukan mobilnya, meninggalkan halaman apartemen, dan mulai menyusuri jalanan yang cukup padat. Tidak ada perbincangan dalam perjalanan ini, mereka saling diam, hanya sesekali saling berpandangan sambil tersenyum.
Dan tak berapa lama kemudian, Kairi menghentikan mobilnya didepan rumah Ella.
"Sudah malam, aku langsung pulang ya." kata Kairi sambil menatap Ella.
"Iya, terima kasih ya Kai." ucap Ella sambil tersenyum.
Kairi mengangguk sambil membalas senyuman Ella. Meskipun sebenarnya ia tidak mengerti terima kasih untuk apa yang Ella maksudkan. Untuk makan malamnya? Untuk mengantarnya pulang? Atau untuk pertemuannya dengan Andra?
"Cepat tidur ya, semoga kau bermimpi indah." kata Kairi sambil memeluk Ella, dan mengecup keningnya.
"Kau juga ya, hati-hati di jalan, nanti jika sudah sampai rumah jangan lupa untuk mengirimkan pesan padaku." ucap Ella sambil menatap Kairi, dan mengusap rahangnya.
"Iya, I love you Gabriella." kata Kairi sambil mengusap pipi Ella.
"I love you too Kairi." jawab Ella.
Lalu Ella turun dari mobil, dan melangkah menuju kedalam rumahnya. Kairi menatapnya sambil tersenyum getir, perasaan resah dan gelisah kembali menyeruak didalam hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin diantara mereka ada yang terluka, jika Gabriella masih menyimpan perasaan untuk Andra, bukankah itu namanya mereka saling mencintai. Aku bahagia, jika mereka berdua bisa bahagia." ucap Kairi sambil melajukan mobilnya.
Sementara itu, Ella duduk termenung ditepi ranjang. Bayangan tentang Andra kembali melintas dalam ingatannya. Untuk pertama kalinya Ella melihat Andra merokok, ditambah lagi penampilannya yang sangat kacau. Ahh bayangan itu benar-benar mengganggu fikirannya.
"Maafkan aku Ndra, mungkin keputusan aku juga melukai kamu. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah memberimu kesempatan begitu lama, tapi kamu tidak pernah mengerti. Sekarang aku sudah mencintai Kairi, aku sangat mencintainya, aku tidak mau berpisah darinya. Aku harap kamu bisa mengerti ya Ndra, takdir kita hanya sahabat, seperti perkataanmu dulu. Selamanya kita akan bersahabat." ucap Ella seorang diri.
Lalu ia merebahkan tubuhnya di ranjang, dan mulai memejamkan matanya.
***
Sinar mentari mulai menyemburat indah menyapu kota. Kairi yang baru saja terjaga dari tidurnya, melangkah mendekati jendela, dan menyibak tirainya. Angin pagi mulai berhembus menerpanya, menyisakan sensasi rasa dingin diwajahnya yang masih kusut. Kairi menguap sambil merentangkan tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku.
Kairi melirik jarum jam yang menggantung di dinding, masih pukul 06.00. Masih ada banyak waktu sebelum ia pergi ke kantor. Kairi mengucek matanya, sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Kairi keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar, dengan buliran air yang menetes dari ujung rambutnya. Dan dengan cepat ia membalut tubuhnya dengan setelan formal, lalu ia menyisir rambutnya, dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Setelah merasa cukup, Kairi melangkah menuju pintu kamarnya. Dan alangkah terkejutnya dia, saat matanya menatap Andra yang baru saja keluar dari kamarnya. Sejak kapan dia pulang?
"Pagi Kai." sapa Andra sambil tersenyum.
Kairi menatap Andra dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, Andra sudah lengkap dengan pakaian formalnya, sepertinya ia juga bersiap untuk pergi ke kantor.
"Pagi." jawab Kairi dengan senyuman kakunya.
"Ayo turun!" ajak Andra sambil melangkahkan kakinya.
"Kapan kau pulang?" tanya Kairi sambil berjalan dibelakang Andra.
"Tadi malam, tapi sudah cukup larut, kau sudah tidur." jawab Andra.
"Oh."
"Berkali-kali aku dan Mama menyuruhmu pulang, tapi kau tak menghiraukannya sedikitpun. Dan sekali saja Gabriella menyuruhmu pulang, kau langsung menurut. Rupanya sepenting itu peran Gabriella dalam hidup kamu Ndra." batin Kairi dalam hatinya.
Andra dan Kairi berjalan menuju meja makan. Kedua orang tuanya sudah menunggu di sana, mereka menyambut Andra dan Kairi dengan tersenyum lebar. Terlihat seperti keluarga yang harmonis, ahh andai saja dari dulu hubungannya seperti ini. Pasti Andra dan Kairi tidak perlu merasakan luka, mereka akan merasakan masa kecil yang bahagia.
"Iya Ma." jawab Andra dan Kairi bersamaan.
"Bisnismu di London bagaimana Kai?" tanya Pak Louis.
"Sejauh ini masih lancar Pa." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Kau luar biasa, bisa memiliki bisnis sendiri. Kapan-kapan ajari aku ya, agar aku juga menjadi hebat sepertimu." sahut Andra sambil menepuk bahu Kairi.
Kairi tersenyum hambar, melihat Andra yang begitu ceria. Hanya beberapa kalimat saja yang keluar dari mulut Ella, Andra langsung mendapatkan kembali semangat hidupnya. Wanita itu bisa menjadi pengaruh baik bagi Andra.
"Kau juga hebat." ucap Kairi singkat.
"Kau sangat hebat, bisa membuat Gabriella jatuh cinta dalam waktu yang cukup lama, padahal kau hanya mengandalkan sifat burukmu saja." batin Kairi sambil menyuap makanannya.
"Kai, kau kenapa?" tanya Andra saat melihat Kairi yang sedang melamun.
"Tidak apa-apa." jawab Kairi.
"Kau baik-baik saja kan Kai?" tanya Bu Mirna.
"Aku tidak apa-apa Ma." jawab Kairi sambil berusaha tersenyum.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Namun Kairi belum juga meninggalkan pekerjaannya, ia masih berkutat dengan beberapa berkas yang menumpuk di mejanya. Kairi bekerja di ruangannya Bu Mirna, sedangkan Andra, ia bekerja di ruangannya sendiri.
Disaat Kairi masih fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ternyata Andra yang datang.
"Sudah waktunya makan siang Kai, kenapa kau masih bekerja. Aku menghubungimu dari tadi, tapi tidak kau hiraukan sama sekali." gerutu Andra sambil melangkah mendekati Kairi.
__ADS_1
"Tanggung Ndra, tinggal sedikit." jawab Kairi sambil menoleh sekilas.
"Makan dulu Kai, aku sudah memesankan makanan untukmu, sudah ada di ruanganku sekarang. Ayo makan!" ajak Andra sambil menatap Kairi.
"Kau sangat cerewet." kata Kairi sambil beranjak dari duduknya.
Lalu ia mengikuti langkah Andra yang menuju ke ruangannya.
"Pekerjaanku sudah hampir selesai, jadi nanti aku bisa membantumu. Yang penting sekarang kau makan dulu, dan lupakan sejenak tentang pekerjaan." kata Andra sambil membuka pintu ruangannya.
Kairi tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil menatap setiap jengkal ruangan yang didominasi warna biru muda, berbeda dengan ruangan lain yang dominan warna putih. Entah ini hanya kebetulan, atau memang ada hubungannya dengan Ella. Apapun itu, yang pasti menatap warna biru ini, membuat hati Kairi kembali resah. Ditambah lagi dengan Andra yang terlihat sangat ceria, ahh ia serasa berada dalam dilema.
***
Hari sudah semakin gelap, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30 malam. Kairi sedang berjalan menuruni anak tangga. Dengan balutan celana panjang, dan kemeja warna biru tua, Kairi terlihat sangat tampan.
"Kau sudah rapi Kai, mau kemana?" tanya Andra yang saat itu sedang menonton tv bersama Bu Mirna di ruang tengah.
"Aku mau menemani Gabriella, temannya ada yang menikah. Memangnya kau tidak diundang?" Kairi balik bertanya.
"Tidak." jawab Andra.
"Temannya Gabriella bukankah temanmu juga, kenapa kau tidak diundang?" tanya Kairi.
"Aku tidak terlalu akrab dengan dia." jawab Andra dengan asal.
"Sebenarnya aku diundang, tapi aku tidak mau datang. Masa iya pergi ke pesta pernikahan mantan tanpa membawa pasangan, jadi bahan tertawaan aku Kai." batin Andra dalam hatinya.
"Oh begitu. Ma aku pergi dulu ya." kata Kairi sambil menatap Bu Mirna.
"Iya hati-hati Kai. Titip salam ya untuk Ella." ucap Bu Mirna.
"Iya Ma."
Lalu Kairi berjalan keluar dari rumahnya, dan bergegas menuju rumah Ella.
Beberapa menit kemudian, Kairi sudah sampai di rumah Ella. Setelah berbincang sebentar, dan meminta izin pada Bu Halimah, mereka berangkat menuju ke rumah Nathan.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai ditempat tujuan. Kairi menggandeng tangan Ella, dan mereka melangkah bersama menuju ke tempat mempelai.
Banyak mata yang memandang mereka dengan tatapan takjub, kecantikan dan ketampanan Kairi benar-benar mencuri perhatian. Banyak yang memuji keserasian mereka, namun juga banyak yang membatin iri, dan ingin berada diposisi mereka.
Mereka terus melangkah untuk menemui Nathan, dan Vani yang saat itu sedang bercakap dengan tamu lainnya. Namun belum sampai di sana, Kairi bertemu dengan teman lamanya, dan ia berhenti sebentar untuk menyapanya.
"Kai aku kesana dulu ya." kata Ella sambil menunjuk kearah Nathan, dan Vani.
"Iya sayang, nanti aku akan menyusul." jawab Kairi.
"Jangan lama-lama." ucap Ella sambil terus melangkah mendekati Nathan dan Vani.
"Nathan, Vani, selamat ya semoga menjadi keluarga yang bahagia, aku ikut senang dengan pernikahan kalian." kata Ella sambil menyalami Nathan, dan Vani.
"Terima kasih El, aku senang kau datang." ucap Nathan sambil tersenyum. Kini Nathan sudah bersikap biasa, tidak seperti dulu, yang selalu gugup saat berdekatan dengan Ella.
"Terima kasih ya Mbak Ella, aku senang Mbak Ella mau datang ke acaraku." kata Vani.
"Sama-sama, aku juga senang kalian mau mengundangku." jawab Ella.
"Mbak Ella sendirian?" tanya Vani sambil menatap Ella.
"Tidak, aku bersama kekasihku. Dia masih menyapa teman lamanya, sebentar lagi dia akan kesini." jawab Ella.
"Oh begitu, dulu aku mengira Mbak Ella akan berakhir dengan Andra. Mengingat hubungan kalian yang sangat dekat dan akrab. Meskipun hanya sahabat, tapi Mbak Ella dan Andra terlihat sangat serasi, dan romantis. Bahkan pasangan yang benar-benar pacaran saja kalah romantisnya." kata Vani sambil tersenyum.
"Kita hanya sahabat Van, tidak lebih." jawab Ella singkat. Ia merasa kurang nyaman dengan ucapan Vani, mengingat perasaan Andra yang sekarang sudah mulai berubah.
__ADS_1
Dan bukan hanya Ella saja yang merasa kurang nyaman, melainkan juga Kairi. Ia yang saat itu sudah berdiri dibelakang Ella, memalingkan wajahnya kala mendengar ucapan Vani. Dekat, akrab, serasi, romantis. Seindah itukah hubungan mereka dulu?
Bersambung.......