Tentang Rasa

Tentang Rasa
MENCARI TAHU


__ADS_3

" Kenapa kamu tega mengatakan ini semua, Axel? Apa salahku? Setelah aku memberikan semua padamu dan aku rela dibuang oleh keluargaku demi kamu!" kata gadis itu hancur.


" Cih! Lu kira gue nggak tahu kalo lu nggak cuma sama gue aja?" ucap Axel sinis.


Plakkk!


" Lu..." kata Axel dengan mata memerah menahan amarah.


" Jaga bicaramu! Meskipun aku bukan orang kaya dan terhormat seperti dirimu, tapi mahkota dan tubuhku bukan untuk diobral!" kata gadis itu lagi.


Lalu dia berlari pergi meninggalkan Axel yang terpaku mendengar ucapan gadis itu. Kenapa gue merasa sedih karena telah berkata seperti itu padanya? Arghhh! Persetan dengan dia! batin Axel.


Netta memasuki kamar inap putranya dengan tersenyum, karena melihat Axon yang tertidur lelap bersama dengan Ella.


" Netta! Aku pergi dulu sama Mike sebentar, dia menungguku di parkiran!" kata Diana yang melihat Netta masuk ke dalam kamar.


" Iya! Take your time!" kata Netta tersenyum, lalu Diana meraih tasnya dan mereka mencium pipi Netta dan pergi.


Netta duduk di sofa lalu mengeluarkan ponselnya, dia menelpon Aris.


" Selamat siang, Boss!"


" Bagaimana perusahaan?"


" Baik, Boss!"


" Apa dia sudah ambil barang-barangnya?"


" Sepertinya belum, Boss! Kemarin kata security Pak Max dipapah sopirnya karena sakit!"


" Apa? Apa maksudmu?"


Aris menjauhkan ponselnya dari telinganya karena Netta berteriak


" Kata mereka dia hampir pingsan!"


" Maksudmu dia bener-bener sakit?" Netta lupa jika dia berada di dalam kamar Axon. Dilihatnya kedua anak itu, Axon sedikit bergerak, tapi kemudian dia tertidur lagi. Netta menghela nafasnya, kemud8an dia masuk ke dalam kamar mandi agar suaranya tidak mengganggu.


" Kamu yakin kalau dia sakit?"


" Iya, Bos! Security kantor tadi membenarkan hal itu!"


Apa benar yang dikatakan Pak Maman kalo dia memang sakit? Tapi tadi pagi...! Arghhh! Kenapa dengan gue? Tidak! Gue nggak boleh goyah! Dia pasti hanya masuk angin saja! batin Netta.


" Hallo, Bos!"


" Darimana mereka tahu kalo dia sakit?


" Mereka bilang dia berkeringat dan memegangi perutnya menahan sakit!"


" Ya, sudah! saya besok akan ke kantor!"

__ADS_1


" Iya, Bos!"


Netta mematikan ponselnya, dia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa. Apa tadi Pak Maman datang untuk melihat dia? Apa karena itu istrinya menangis? Tapi Axel? Persetan dengan keluarga Smith! batin Netta. Netta membuka pesan dari Frans dan membacanya, jantungnya berdetak kencang saat dia membaca pesan itu yang mengatakan jika Max dirawat di Rumah Sakit itu karena maag akut. Netta segera melakukan pencarian di Google tentang penyakit Max. Netta merasa seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang saat membaca tentang penyakit tersebut. Separah apakah penyakitnya? batin Netta. Lalu dia berdiri dan menghampiri brankar anaknya, diusapnya rambut Axon dengan lembut. Apakah aku salah jika tidak jujur tentangmu? batin Netta ragu. Ditekannya bel untuk memanggil perawat, karena dia ingin memastikan sesuatu. Tidak lama kemudian pintu kamar Azon diketuk dan masuklah seorang perawat perempuan.


" Selamat Siang, Bu! Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.


" Bisa saya titip anak saya sebentar? Saya harus membeli sesuatu!" kata Netta.


" Bisa, Bu!" jawab perawat itu, lalu Netta bergegas keluar dari kamar itu dan pergi ke bagian informasi.


" Selamat Siang, Bu! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai RS itu.


" Dimana letak Ruang VVIP untuk penyakit dalam?" tanya Netta.


" Ibu keluar saja dari pintu lalu belok ke kanan, bersebrangan dengan Ruang VVIP anak, Bu!" jawab pegawai itu. Netta langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Dia menyusuri koridor Rumah Sakit dan sampai di tempat yang di tuju. Dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Didekatinya meja perawat untuk pasien VVIP penyakit dalam.


" Selamat Siang, sus!" sapa Netta.


" Selamat Siang, Bu! Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.


" Apa ada pasien yang bernama Max...ximiliano...Smith?" tanya Netta dengan nada bergetar.


" Sebentar, ya, bu! Saya cek dulu!" kata perawat itu kembali menatap layar komputernya. Netta berdiri sambil sesekali melihat kekanan dan kekiri. Beberapa saat kemudian.


" Maaf, bu! Pasien dengan nama tersebut tidak ada!" jawab perawat itu.


" Apa? Ini ruang VVIP untuk penyakit dalam kan?" tanya Netta ngotot.


" Coba dicek lagi, sus!" kata Netta lagi.


" Maaf, bu! Tapi sudah saya cek beberapa kali, tapi tidak ada pasien dengan nama itu yang sedang dirawat disini!" jawab perawat itu sedikit kesal.


" Tapi saya dapat info jika orang tersebut sedang dirawat di Rumah Sakit ini!" kata Netta sedikit meninggi.


" Mungkin di ruang lain, Bu!" jawab perawat lain.


" Tidak mungkin! Ini ruang VVIP kan?" tanya Netta.


" Iya, Bu! Tapi nama itu tidak ada disini! Saya bantu mencarinya di ruang lain!" kata perawat itu lalu dia memainkan jarinya diatas keyboard komputer.


" Tidak mungkin dia di ruang lain, suster! Karena saya tahu siapa dia!" kata Netta kesal.


Netta melangkah gontai menyusuri lorong Rumah Sakit, telinganya masih terngiang-ngiang perkataan perawat ruang VVIP tadi.


" Bu! Bu! Pasien Maximiliano Smith, sakit maag akut, di lantai 2 Kelas II kamar 201/A!" kata perawat itu lantang.


Langkah Netta terhenti, kelas...II? Max? Batin Netta. Netta menyandarkan tubuhnya yang sedikit limbung di tembok Rumah Sakit.


" Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya seorang dokter yang reflek memegang tubuh Netta agar tidak jatuh.


" Iya, saya tidak apa-apa!" kata Netta, dia menatap dokter itu dan membaca Tag Name di dadanya, I Gde Dewa Brata, Sp.PD.

__ADS_1


" Apa anda dokter penyakit dalam?" tanya Netta.


" Iya! Benar!" kata Dewa.


" Apa anda mau Visite?" tanya Netta setelah melihat seorang perawat membawa map berdiri di belakangnya.


" Iya!" jawab Dewa.


" Di kelas apa?" tanya Netta,


" Kelas II! Kenapa?" tanya Dewa curiga.


" Tidak! Anak saya dirawat di Anggrek!" jawab netta.


" O, begitu! Saya permisi dulu!" kata Dewa.


" Silahkan!" kata Netta kemudian dokter itu pergi bersama dengan perawatnya. Secara diam-diam wanita itu mengikuti Dewa yang kebetulan akan memeriksa di ruang Max juga.


Ruangan Max berisi 6 orang pasien dan dia berada di brankar paling pojok dekat pintu masuk. Netta berdiri di dekat jendela kamar Max yang sengaja dibuka oleh perawat saat pagi hari.


" Selamat Siang, Pak Max!" sapa Dewa.


" Siang, Dok! Ahhh!" rintih Max, bersamaan dengan suara rintihan itu Netta memejamkan kedua matanya. Hatinya seperti teriris mendengar rintihan pria yang dianggapnya brengsek itu.


" Apa masih sakit?" tanya Dewa.


" Iya!" jawab Max dengan wajah kesakitan.


" Sepertinya obat yang saya beri tidak bereaksi, padahal dosisnya lumayan tinggi, lho!" kata Dewa.


" Apa kira-kira saya bisa sembuh, Dok?" tanya Max.


Deg! Kenapa dia bertanya seperti itu? Batin Netta. Sekali lagi hatinya seperti disayat puluhan pisau tajam.


" Saya tidak akan berbohong pada Pak Max! Penyakit Pak Max memang benar-benar parah. Mudah-mudahan dengan minum obat, makan makanan yang tepat juga berolah raga yang teratur, bapak bisa sembuh. Dan saya harap bapak bedrest selama sebulan penuh, jangan stress ataupun banyak pikir!" tutur Dewa.


" Mana mungkin saya tidak bekerja, Dok! Apa yang saya pakai untuk biaya berobat nanti?" tanya Max lemah.


" Tapi itu syarat yang harus dilakukan agar bapak bisa pulih kembali!" kata Dewa.


" Saya sudah pasrah, Dokter! Hidup saya sudah tidak berarti lagi! Saya hanya manusia yang penuh salah dan dosa!" ucap Max frustasi.


" Pak Max tidak boleh begitu, apa tidak kasihan sama anak istri di rumah? Atau pacar mungkin?" tanya Dewa.


" Tidak ada, Dok! Mungkin ini...adalah karma saya!" kata Max pelan.


" Keluarga?" tanya Dewa lagi.


" Saya...sudah menge...cewakan mereka, akhhh!" jawab Max terbata, perutnya terasa sangat sakit.


" Sus, injection!" kata Dewa saat melihat Max begitu kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2