Tentang Rasa

Tentang Rasa
Semakin Kritis


__ADS_3

Keesokan harinya. Sang fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, Ella dan Bu Mirna sudah selesai berkemas untuk pergi menemui Andra di rumah sakit Kota Lyon. Setelah Kairi membujuk, dan merayunya dengan segala macam cara, akhirnya Ella menyetujui keinginannya. Selesai berkemas, mereka menyantap teh hangat, dan roti bakar di meja makan. Kairi, Pak Louis, dan Bu Halimah, mereka juga ikut duduk bersama menemani mereka.


"Nanti hati-hati ya Ma, apapun yang terjadi, dukung Andra, dan jangan memarahinya." ucap Pak Louis sambil menatap istrinya.


"Iya Mas, terima kasih ya sudah mau peduli dengan Andra." jawab Bu Mirna sambil menunduk. Terbersit rasa malu didalam hatinya, Andra adalah anak dari hasil kesalahannya, dan sekarang Pak Louis yang ikut menanggung bebannya.


"Apa yang kau katakan, Andra adalah anakku. Tidak perlu berterima kasih, sampai kapanpun Andra akan tetap menjadi tanggungjawabku." kata Pak Louis sambil menggenggam tangan Bu Mirna.


"Maafkan aku Mas." ucap Bu Mirna.


"Mirna cukup, aku tidak mau lagi mendengar kata terima kasih, atau maaf dari kamu. Andra anakku, dia sama dengan Kairi, jangan menganggapku membedakan mereka." kata Pak Louis.


"Aku malu Mas, sangat malu. Andai dulu aku bisa menerima kamu, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya." batin Bu Mirna dalam hatinya.


Ella, dan Kairi saling memandang. Lalu mereka menatap Bu Mirna sekilas, mereka tahu apa yang sedang difikirkan Bu Mirna. Kairi menghela nafas panjang, lalu ia ikut berbicara.


"Ma, aku tahu apa yang Mama fikirkan. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan hal itu, Andra butuh Mama, sangat membutuhkan Mama." ucap Kairi sambil menatap Ibunya.


Bu Mirna mengangkat wajahnya, beliau menatap Kairi yang sedang tersenyum padanya.


"Iya, Mama mengerti." jawab Bu Mirna sambil menyeka air matanya yang hampir menetes.


Bu Halimah memandang mereka sambil tersenyum, ikut senang melihat hubungan keluarganya Bu Mirna semakin membaik.


"Ma, Bu aku ke kamar sebentar ya." ucap Ella sambil beranjak dari duduknya. Bu Mirna, dan Bu Halimah menanggapinya dengan anggukan, dan senyuman.


Lalu Ella mendorong Kairi, dan mengajaknya pergi ke kamar.


Sesampainya di sana, Ella melihat Billa masih terlelap dalam tidurnya. Untuk pertama kalinya ia akan pergi meninggalkan anaknya. Walaupun tidak lama, tapi ada rasa sedih didalam hatinya.


"Kai, aku ragu untuk pergi." ucap Ella sambil duduk di tepi ranjang.


"Kenapa, hmm?" tanya Kairi sambil menggenggam tangan Ella.


"Aku tidak tega meninggalkan kamu, dan Billa sendirian." jawab Ella.


"Aku tidak sendiri sayang, ada Ibu, ada Papa, ada Bibi." kata Kairi.


"Tapi tidak ada aku. Kai, biarkan Mama dan Papa saja ya yang pergi, aku di sini saja menemani kalian." ucap Ella.


"Semalam kau sudah setuju sayang, tolong jangan mengubah keputusanmu. Aku tidak ingin Andra terpuruk, dia adalah adikku, adikmu juga, dan sahabat kamu juga." kata Kairi sambil menatap mata Ella.


Ella hanya bisa menghela nafas panjang, ia tidak bisa lagi membantah keinginan Kairi. Ahh semoga saja kehadirannya tidak sia-sia. Semoga nanti Andra tidak lagi terpuruk, apapun yang terjadi.


***


Waktu sudah hampir tengah hari. Bu Mirna, dan Ella baru saja tiba di halaman rumah sakit. Mereka bergegas masuk, dan mencari keberadaan Andra. Ella menghentikan langkahnya, saat melihat wanita yang pernah mengantarkan Kairi, sedang berdiri di depan ICU. Ella berjalan mendekatinya, dan Bu Mirna juga mengikuti langkah Ella.


"Bu Sarah!" panggil Ella.

__ADS_1


Wanita itu menoleh, ia menatap Ella sambil mengernyitkan keningnya.


"Saya Ella, istrinya Kairi." ucap Ella memperkenalkan dirinya, sepertinya wanita itu tidak berhasil mengingat wajahnya.


"Oh iya, saya ingat sekarang, maaf saya terlambat mengenali Anda." kata Sarah sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa Bu, hmmm boleh saya bertanya?" tanya Ella.


"Silakan!"


"Dimana pasien yang bernama Suci Regina Hilmy? Kebetulan saya juga temannya, dan kami kesini juga untuk menemui Andra." tanya Ella.


Sarah diam terpaku, ia menatap Ella lekat-lekat. Fikirannya mulai menerawang jauh. Ella, satu nama yang sangat familiar dimasa lalunya. Sarah sering mendengar nama Ella dari Suci. Menurut keterangannya Suci, Ella adalah sahabat dekatnya Andra, yang kemungkinan besar juga dicintai oleh Andra.


"Ella, dia bersahabat dengan Andra, dan menikah dengan kakaknya. Dunia ternyata begitu sempit." ucap Sarah dalam hatinya.


"Bu Sarah!" panggil Ella, karena Sarah masih diam terpaku.


"Eh, ehm iya maaf. Suci ada dirawat di dalam, dan Andra sedang menemaninya. Silakan masuk tapi bergantian, suamiku ada di sana." ucap Sarah sambil tersenyum.


"Terima kasih Bu. Silakan Mama masuk lebih dulu!" kata Ella sambil menatap Bu Mirna.


"Iya." jawab Bu Mirna sambil membuka pintu ruangan.


"Apakah kau Ella sahabatnya Andra?" tanya Sarah dengan hati-hati. Ia ingin tahu kepastiannnya, yang berdiri di hadapannya benar sahabatnya Andra, atau bukan.


"Aku sahabatnya Suci, jangan memanggilku Bu, panggil Sarah saja, aku sebaya dengan Suci." jawab Sarah sambil tersenyum.


"Sahabatnya Suci." ucap Ella dengan pelan.


"Iya, aku dulu sering mendengar namamu dari Suci. Dia bilang kau sahabat dekatnya Andra." kata Sarah.


"Iya, dulu kami berteman cukup akrab." jawab Ella.


"Apa Andra pernah menyukaimu?" tanya Sarah.


"Ap...apa!" teriak Ella dengan kaget. Menyukai, apa maksudnya Sarah. Sebanyak apa Suci mengetahui hubungannya dengan Andra.


"Suci bilang, mungkin saja Andra menyukaimu. Apa itu benar?" tanya Sarah.


"Tentu saja tidak, kita hanya berteman." jawab Ella dengan gugup.


"Kenapa Suci menganggapnya demikian?" batin Ella.


"Kau sendiri bagaimana, apakah kau pernah menyukai Andra?" tanya Sarah tanpa rasa bersalah. Ia tidak sadar, jika pertanyaannya itu membuat jantung Ella berdetak cepat.


"Itu lebih tidak mungkin, yang kucintai kakaknya bukan Andra." jawab Ella dengan cepat.


"Wanita ini kelihatannya saja anggun, tapi aslinya sangat cerewet. Untuk apa bertanya tentang hal itu, membuatku tidak nyaman saja." gerutu Ella dalam hatinya.

__ADS_1


Belum sempat Sarah kembali bertanya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Bu Mirna keluar sambil mengusap air matanya, yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya.


"Ma, ada apa Ma?" tanya Ella sambil melangkah mendekati Bu Mirna. Namun Bu Mirna tidak menjawab, beliau hanya menunduk sambil terus menangis.


"Ma, ada apa Ma, jawab aku Ma!" kata Ella dengan panik, seraya mengguncang bahu Bu Mirna.


"Masuklah El!" kata Bu Mirna dengan pelan.


Ella terpaku sejenak, ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Andra? Kenapa Bu Mirna menangis seperti ini?


Namun tak lama kemudian Ella tersadar dari lamuanannya. Tanpa banyak kata ia membuka pintu ruangan, dan melenggang masuk ke dalam.


Ella terus melangkah, dan matanya menatap sosok wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang. Ella menggigit bibirnya, keadan Suci sangat memprihatinkan. Tubuhnya yang dulu cantik, dan bugar, kini terlihat kurus, dan pucat. Matanya terpejam rapat, dengan beberapa alat bantu tampak menancap diseluruh tubuhnya.


"Ya Allah tolong selamatkan dia!" ucap Ella dalam hatinya.


Samar-samar Ella mendengar suara isakan. Lalu ia menoleh ke samping kanan, hatinya teriris sakit saat netranya menatap Andra yang sedang duduk di sudut ruangan. Andra duduk sambil memeluk lututnya, ia menenggelamkan wajahnya, dan menyembunyikan tangisnya. Tanpa fikir panjang, Ella langsung melangkah mendekati Andra. Ia duduk berjongkok di depan Andra, seraya tangannya mengusap lengannya.


"Ndra!" panggil Ella dengan pelan.


Tidak ada jawaban dari Andra, lelaki itu tetap menyembunyikan wajahnya. Tak bergeming meskipun Ella menggenggam lengannya dengan erat.


"Lihat aku Ndra, aku ingin bicara denganmu!" kata Ella.


Tak lama kemudian, Andra mengangkat wajahnya. Ella tersenyum getir melihat keadaan Andra, matanya sayu, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat sangat kusut. Sisa-sisa air matanya masih membekas dikedua pipinya.


"Kenapa kamu malah seperti ini, Suci butuh kamu Ndra." kata Ella mengawali pembicaraannya.


"Dia semakin kritis, bahkan Pak Anston nyaris menyerah." ucap Andra dengan pelan.


"Jangan pesimis Ndra, Suci pasti sembuh, percayalah padaku!" kata Ella sambil menatap Andra.


"Sangat sulit El." jawab Andra sambil menggelengkan kepalanya.


"Ndra dengarkan aku! Allah punya mu'jizat yang tidak pernah kita ketahui. Kau ingat Kairi, dia sudah menghilang lebih dari satu tahun, tapi dia kembali dengan selamat. Dan Suci, dia masing berbaring di sana, jantungnya masih berdetak, nadinya juga masih berdenyut. Ada dokter hebat yang berdiri di sampingnya, peluangnya untuk sembuh sangat besar Ndra. Jadi kenapa kau menyerah seperti ini, seharusnya kau temani dia, dan doakan dia." kata Ella sambil sesekali menatap Suci yang berbaring di ranjang.


"Tapi dia seperti ini karena aku El, anak kita mati juga karena aku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri El!" ucap Andra sambil menutup wajahnya.


"Apa maksud kamu Ndra?" tanya Ella.


"Anakku mati karena menderita kanker darah, dan Suci tidak punya cukup uang untuk mengobatkannya. Andai saja aku tidak bodoh, aku pasti bisa mengobatkannya, dan dia akan sembuh. Anakku tidak akan mati, dan Suci tidak akan seperti ini." ucap Andra sambil memegangi kepalanya.


"Apa!" kata Ella sambil menutup mulutnya, ternyata seperti itu kebenarannya. Andra pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini.


"Aku lebih baik mati El, daripada dihukum dengan cara seperti ini. Aku ingin menebus kesalahanku pada Suci, aku tidak ingin kehilangan dia. Tapi kenapa Tuhan tidak memberikan aku kesempatan. Jika begini, aku akan terus hidup dalam penyesalan El, aku akan terkubur dalam luka yang kuciptakan sendiri. Aku tidak bisa El, aku tidak bisa." kata Andra sambil menjambaki rambutnya sendiri.


"Ndra, Andra tenang! Jangan seperti ini, kau sudah dewasa, kau tidak boleh bodoh!" ucap Ella sambil mencoba menenangkan Andra.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2