
Tiga hari kemudian.
Kairi, Bu Mirna, dan Pak Louis sedang memasak bersama di dapur. Mereka sengaja menyiapkan makan malam sendiri tanpa bantuan dari Bik Surti. Kairi tersenyum saat menatap kedua orang tuanya. Hubungan mereka sudah mulai membaik, bahkan sejak semalam Pak Louis sudah tinggal di rumah ini, hanya saja mereka masih tidur terpisah.
Tapi memang seperti itulah seharusnya. Mereka sudah berpisah cukup lama, dan sudah talak entah berapa kali. Jika berniat untuk rujuk, mereka juga harus melakukan ijab qabul lagi. Akan dosa jika langsung tidur bersama, meskipun menurut hukum mereka masih suami istri, tetapi menurut agama mereka sudah berpisah.
"Ahh apa yang kufikirkan, melihat Mama dan Papa rukun seperti ini saja aku sudah bahagia. Aku tidak berani berharap mereka akan rujuk, Mama tidak mencintai Papa, dan aku harus menghargai hal itu." batin Kairi sambil memotong wortel.
Kairi menatap kedua orang tuanya yang sedang memotong daging bersama-sama, mereka tampak berbincang santai tanpa ada bentakan, dan teriakan. Sebenarnya pemandangan ini cukup harmonis, namun Kairi masih merasa kurang, karena tidak ada kehadiran Andra ditengah-tengah mereka.
Sudah empat hari Andra tinggal sendiri di apartemennya. Bu Mirna pernah mendatanginya, dan menyuruhnya pulang, namun Andra menolak, karena dia masih ingin sendiri. Kairi sudah tiga kali mendatanginya, membujuk Andra untuk pulang, dan tinggal bersama keluarga. Namun Andra juga menolak, dia bilang dia masih butuh waktu untuk sendiri, dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.
Kairi menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tahu keadaan adiknya sedang tidak baik-baik saja. Terbukti dari banyaknya puntung rokok yang berserakan di lantai kamarnya, dan lagi penampilannya juga kusut dan kacau, terlihat jelas jika Andra tidak mengurusi dirinya. Dia terlihat seperti orang yang sedang frustrasi.
"Kai, kamu mandi sana terus jemput Ella, ini biar Mama saja yang menyelesaikan." kata Bu Mirna sambil menatap Kairi. Mereka berencana mengajak Ella untuk makan malam bersama.
"Tidak apa-apa aku tinggal Ma, ini masih belum selesai lho memotong sayurnya." ucap Kairi.
"Tidak apa-apa Kai." kata Bu Mirna sambil tersenyum.
"Ada Papa juga Kai, nanti biar Papa yang membantu Mama kamu." sahut Pak Louis sambil menatap Kairi.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku mandi dulu ya." ucap Kairi sambil melangkah pergi.
"Iya." jawab Bu Mirna.
"Mama dan Papa memasak berdua, semoga saja itu bisa membuat hubungan mereka semakin membaik. Andai saja aku boleh berharap, aku sangat ingin suatu saat Mama bisa mencintai Papa." batin Kairi sambil melangkah pergi.
Pak Louis dan Bu Mirna kembali melanjutkan pekerjaannya. Pak Louis mulai memanggang dagingnya, dan mengolesnya dengan bumbu yang telah mereka siapkan.
"Ini ladanya Mas." kata Bu Mirna sambil menyodorkan lada bubuk pada Pak Louis.
"Tidak usah." jawab Pak Louis.
"Kenapa?"
"Kau tidak bisa makan lada kan." jawab Pak Louis.
"Sudah begitu lama, kenapa kau masih mengingatnya Mas." batin Bu Mirna dalam hatinya.
"Tapi ini untuk makan malam bersama, nanti rasanya akan kurang pas kalau tidak ada ladanya. Nanti aku bisa makan dengan yang lainnya." ucap Bu Mirna.
"Tidak usah, aku sudah terbiasa memasak tanpa lada. Dan itu rasanya sangat enak." kata Pak Louis sambil tersenyum.
"Oh begitu ya." ucap Bu Mirna sambil menunduk.
Beberapa menit kemudian, daging yang Pak Louis panggang sudah matang. Pak Louis memotongnya dengan pisau, lalu meniupnya, dan menyodorkannya pada Bu Mirna.
"Cobalah!" ucap Pak Louis.
Bu Mirna menoleh, dan sedikit kebingungan saat Pak Louis menyodorkan daging didekat mulutnya. Bu Mirna merasa sedikit gugup dan malu.
"Cobalah!" Pak Louis mengulangi ucapannya.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Bu Mirna membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Pak Louis. Bu Mirna mengunyahnya dengan pelan, rasanya sangat lezat.
"Bagaimana?" tanya Pak Louis.
"Enak, sangat enak." jawab Bu Mirna.
"Andai saja dulu aku tidak gegabah, tidak memaksa kamu dengan kekerasan. Mungkin aku bisa mendapatkan cinta kamu Mirna." batin Pak Louis sambil melirik Bu Mirna yang sedang menunduk.
Kairi yang sejak tadi mengintip mereka, kini mengulas senyuman manis di bibirnya.
"Semangat Pa, Papa pasti bisa. Aku saja bisa meluluhkan Ella, masa Papa tidak bisa meluluhkan Mama." ucap Kairi dengan pelan.
Lalu ia melangkah mendekati mereka.
"Ma!" panggil Kairi.
"Sudah mandi?" tanya Bu Mirna.
"Sudah Ma, sekarang mau pamit dulu, mau menjemput Ella." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Iya, hati-hati ya. Mama titip salam untuk Mbak Halimah." kata Bu Mirna.
"Iya Ma, ya sudah aku pergi dulu ya. Pa aku pergi dulu ya, semangat ya masaknya." ucap Kairi sambil terkekeh.
"Berani menggodaku sekarang kau Kai." batin Pak Louis sambil menahan tawanya. Pak Louis paham betul dengan maksud Kairi.
***
Jarum menunjukkan pukul 06.45 malam. Kairi sudah membawa Ella didalam mobilnya, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Bu Mirna. Kairi tersenyum saat melirik kekasihnya yang begitu cantik. Dress panjang berwarna kuning gading, dengan hiasan pita di pinggangnya. Rambutnya digerai dengan hiasan aksesoris kecil dibagian depannya. Wajahnya dioles make up tipis-tipis dengan lipstik warna merah muda. Tampilan sederhana, namun berhasil membuat Kairi terpesona.
"Kai!" panggil Ella.
__ADS_1
"Hmmm." gumam Kairi sambil menoleh sekilas.
"Besok temani aku ya." kata Ella.
"Kemana?" tanya Kairi.
"Teman sekolahku ada yang menikah, dan dia mengundangku. Temani aku ya." jawab Ella.
"Jam berapa?" tanya Kairi.
"Jam tujuh malam, mau ya." ucap Ella.
"Iya, kalau malam aku bisa sayang, tapi kalau siang aku tidak bisa, soalnya membantu pekerjaan Mama di kantor." kata Kairi. Disamping mengurus bisnisnya di London, sekarang dirinya memang membantu pekerjaan Bu Mirna, karena Andra masih berdiam diri di apartemennya, tanpa peduli lagi dengan pekerjaannya.
"Kairi membantu pekerjaan Tante Mirna, memangnya Andra kemana." batin Ella dalam hatinya.
"Malam kok Kai, jadi kamu mau kan menemani aku." ucap Ella.
"Tentu saja, tapi ngomong-ngomong teman kamu laki-laki, atau perempuan?" tanya Kairi.
"Laki-lakinya dulu seangkatan dengan aku, tapi kita beda jurusan. Sedangkan wanitanya, dia adik kelasku. Jadi aku mengenal mereka semua." jawab Ella. Sedikit kaget juga saat mendapatkan undangan dari Nathan, ternyata dia menikah dengan Vani, seorang wanita yang dulu pernah menjadi pacarnya Andra.
"Oh begitu ya."
"Iya."
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumahnya Bu Mirna. Kairi memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu mereka berdua turun dari mobil, dan melangkah menuju pintu. Namun belum sampai mereka diambang pintu, tiba-tiba ada wanita paruh baya yang keluar dari dalam rumah. Wajahnya cemberut, dan langkahnya sedikit cepat.
"Tante Yuni." sapa Ella saat mereka sudah berpapasan. Ternyata wanita paruh baya itu adalah Ibunya Nadhira.
"Ella, kamu Ella kan, temannya Nadhira." kata Bu Yuni sambil menatap Ella.
"Iya Tante, bagaimana kabarnya Tante dan Nadhira?" tanya Ella sambil tersenyum.
"Sangat buruk." jawab Bu Yuni dengan cepat.
"Hah!"
"Kamu tahu tidak, Nadhira itu berpacaran dengan Andra sudah dua tahun lebih. Bulan lalu mereka berencana tunangan, karena ada sedikit masalah lalu ditunda. Dan sekarang, dengan seenaknya malah dibatalkan. Kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Tante, sangat malu El. Semua teman-teman Tante sudah tahu, jika mereka akan tunangan. Tapi sekarang ternyata batal, mau ditaruh dimana muka Tante." kata Bu Yuni dengan panjang lebar, terlihat jelas jika beliau sedang kesal.
"Andra membatalkan tunangannya, kenapa? Apa ini karena aku?" ucap Ella dalam hatinya.
"Tante cuma bisa berpesan sama kamu, hati-hati jika berurusan dengan keluarga ini. Ucapannya tidak bisa dipercaya, mereka suka seenaknya sendiri, dan tidak bertanggung jawab. Ahh Tante benar-benar kesal, Tante akan pergi saja dari sini." sambung Bu Yuni sambil melangkah pergi meninggalkan Ella, dan Kairi.
Mereka langsung menuju ke meja makan, Bu Mirna dan Pak Louis sudah menunggunya di sana.
"Selamat malam Om, Tante." sapa Ella sambil menyalami Pak Louis, dan Bu Mirna.
"Selamat malam sayang, aduh kamu cantik sekali malam ini." ucap Bu Mirna sambil memeluk Ella.
"Akhirnya kesampaian juga punya menantu sebaik Ella." batin Bu Mirna.
"Silakan duduk Ella." kata Bu Mirna sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Tante." jawab Ella sambil duduk disamping Kairi.
Ella tersenyum bahagia, kala menatap hubungan keluarganya Kairi yang mulai membaik. Pak Louis dan Bu Mirna terlihat akrab, terlihat seperti suami istri pada umumnya. Dan mereka juga memperlakukan Kairi dengan sangat baik. Hanya saja ada satu hal yang mengganggu hati Ella, yaitu Andra. Kenapa dia tidak ada di sini? Dan kenapa tunangannya batal?
Dua pertanyaan yang benar-benar membuatnya penasaran.
Sambil menyantap makanannya, Ella terus saja memikirkan tentang Andra. Seburuk apapun lelaki itu, dia pernah berjasa besar dalam hidupnya. Dimasa lalunya, dialah satu-satunya orang yang menjadi tempatnya bergantung, dan bersandar. Andra adalah lelaki yang rapuh, dia akan hancur dan larut dalam masalah yang menimpanya, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa juga tidak ada yang membahas tentang dia?
Sesekali Kairi melirik Ella, ia menyadari ada sesuatu yang sedang difikirkan oleh kekasihnya. Mungkinkah itu tentang adiknya?
Setelah satu jam kemudian, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Ella membantu Bu Mirna membereskan meja makan. Ia membawa piring kotornya ke dapur, dan kemudian mencucinya.
"Tidak usah dicuci El, besok pagi saja biar dicuci Bik Surti." kata Bu Mirna sambil mendekati Ella.
"Tidak apa-apa Tante, saya cuci saja cuma sedikit kok." jawab Ella.
"Baiklah, kalau begitu biar Tante bantu." ucap Bu Mirna sambil membantu Ella membilas piringnya.
"Tante!" panggil Ella.
"Ada apa?" tanya Bu Mirna sambil menoleh menatap Ella.
"Mmm Andra kemana Tante?" tanya Ella ragu-ragu.
"Di apartemennya, sudah empat hari dia tinggal di sana." jawab Bu Mirna sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Oh."
"Waktu menemuiku Andra terlihat baik-baik saja, kenapa tiba-tiba ia tinggal di apartemennya? Hubungan Kairi, dan Tante Mirna tiba-tiba membaik, dan Andra juga tiba-tiba pergi. Sepertinya masalah ini tidak sesederhana yang kufikirkan, ada apa sebenarnya." batin Ella dalam hatinya.
Setelah selesai mencuci piring, Ella berbincang sebentar dengan Bu Mirna. Lalu tak lama kemudian ia pamit untuk pulang. Dan kini ia sedang berada didalam mobil bersama Kairi. Ella melirik Kairi sekilas, ada hal yang ingin sekali ia tanyakan, namun ia masih sedikit ragu.
__ADS_1
Perlahan Kairi mulai melajukan mobilnya, meninggalkan pelataran rumahnya.
Hingga beberapa menit lamanya keadaan masih hening, baik Ella maupun Kairi belum ada yang membuka suara.
"Kai!" panggil Ella.
"Ada apa?" tanya Kairi sambil menoleh.
"Kelihatannya hubungan Tante Mirna dengan kamu sangat baik, dan bahkan dengan Om Louis juga. Kenapa tiba-tiba bisa membaik Kai?" tanya Ella.
Kairi menghela nafas panjang, ia tahu kemana arah pembicaraan Ella.
"Ada kesalah pahaman dimasa lalu, dan sekarang sudah diluruskan. Jadi hubungan kita sekarang bisa membaik." jawab Kairi.
"Oh." Ella masih ragu untuk bertanya tentang Andra. Cukup lama ia diam, tak berani membuka suara.
"Kai!" Ella kembali memanggil Kairi, ia sudah membulatkan niatnya untuk bertanya tentang Andra. Ella merasa ada sesuatu hal yang terjadi pada Andra, hingga dia tinggal sendirian di apartemennya.
"Kenapa?" tanya Kairi.
"Mmm..."
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan." ucap Kairi sambil berusaha tersenyum, sebenarnya jauh didalam hatinya ia merasa sangat sesak. Ia tahu apa yang membuat Ella gelisah, tak lain adalah adiknya sendiri.
"Tadi Tante Mirna bilang Andra tinggal di apartemennya, kenapa Kai?" tanya Ella dengan pelan. Butuh keberanian yang besar untuk menanyakan hal itu pada Kairi.
"Kau masih peduli padanya Gabriella." batin Kairi sambil tersenyum getir.
"Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya. Sulit baginya untuk menerima kenyataan yang sebenarnya." jawab Kairi.
"Kenyataan apa?" tanya Ella.
"Andra bukan anak kandung Papa, dia adalah anaknya Om Adit. Dan Om Adit sudah meninggal bulan lalu." jawab Kairi.
"Apa!" teriak Ella. Perkataan Kairi bagaikan benda tajam yang menikam tepat diulu hatinya.
Andra adalah anak kandungnya Pak Adit, dan sekarang Pak Adit sudah meninggal. Ella tak bisa membayangkan, bagaimana rapuhnya Andra saat ini. Meskipun perasaan cinta untuk Andra sudah tak lagi tersisa, namun Ella juga masih peduli padanya. Ella tak bisa melupakan tentang kebaikan Andra dimasa lalu, lelaki itu punya peran penting dalam hidupnya. Tanpa Andra, mungkin Ella akan kesulitan dalam menjalani hidupnya.
"Lalu bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Ella sambil menatap Kairi.
"Dia tidak baik-baik saja. Dia menolak saat aku, dan Mama mengajaknya pulang." jawab Kairi.
Ella menunduk, ia cukup paham dengan jawaban Kairi. Andra sekarang pasti sedang terpuruk, dan larut dalam kesedihannya. Andra adalah lelaki yang rapuh, hatinya tak setegar fisiknya. Kenyataan ini pasti sangat mengguncang jiwanya.
"Kai!" panggil Ella dengan pelan.
"Hmmm." gumam Kairi sambil menoleh, menatap Ella.
Ella masih terdiam, sedikit kesulitan untuk mengutarakan isi hatinya.
"Kau ingin menemuinya?" tanya Kairi, ia mencoba menebak apa yang akan Ella katakan.
"Sebenarnya aku berharap kau mengatakan tidak Gabriella." batin Kairi.
"Apakah boleh Kai?" tanya Ella.
"Ternyata diluar harapanku." batin Kairi sambil menghela nafas panjang.
"Aku akan mengantarmu." jawab Kairi sambil membelokkan mobilnya, ia mengubah arah perjalanannya, dan menuju apartemennya Andra.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, mereka larut dalam fikirannya masing-masing.
"Aku harap kau bisa mengerti Kai, bagaimanapun juga dia pernah berjasa dalam hidupku. Aku tidak mungkin menutup mata, saat dia sedang terluka." batin Ella dalam hatinya.
"Kau peduli saat tahu Andra sedang ada masalah, apakah perasaanmu untuknya masih tersisa Gabriella." batin Kairi dalam hatinya.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di apartemennya Andra. Kairi memarkirkan mobilnya, dan mengajak Ella turun bersama. Mereka melangkah menuju apartemennya Andra. Kairi membuka pintunya, dan mereka melangkah masuk. Sepi, tidak ada suara sama sekali, bahkan lampunya juga tidak semuanya menyala.
Kairi terus melangkah menuju kamar Andra, dan Ella mengikutinya dibelakang. Mereka berhenti didepan pintu warna coklat, pintu kamar Andra.
Kairi membuka pintunya cukup lebar, dan Ella bisa melihat jelas apa yang Andra lakukan di dalam. Hatinya sedikit sesak saat melihat keadaan Andra yang sangat kacau. Lelaki itu sedang mengisap rokok di dekat jendela kamarnya. Wajahnya kusut dan penampilannya berantakan. Jauh berbeda dari beberapa hari lalu, saat Andra datang menemuinya.
Andra menoleh kala mendengar suara pintu dibuka, dan ia mengernyit heran saat tahu siapa yang datang. Ella dan Kairi. Mengapa Kairi membawa Ella ke sini?
"Sejak kapan kau merokok, Ndra?" Ella bertanya sambil melangkah mendekati Andra. Ia menatap lelaki itu. Kantung matanya menghitam, mungkin dia jarang tidur. Rambutnya kusut berantakan, bajunya pun lusuh, dan aroma rokok begitu menyengat kuat di hidung Ella. Ella menatap ke lantai, banyak puntung rokok yang berserakan di sana. Sehancur itukah kamu, Andra?
Ella tak menyangka, jika ada hari ini dalam hidupnya. Hari dimana ia melihat Andra sedang hancur dan kehilangan jati diri. Sejak dulu, Andra memang rapuh, tetapi lelaki itu tak pernah mengurung dirinya seperti ini. Sekarang, Andra seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
Perlahan, Ella mengingat tentang dulu. Tentang baiknya Andra yang selalu ada untuknya, tentang Andra yang selalu memprioritaskan dirinya. Sekarang, lelaki itu larut dalam pahitnya hidup. Lelaki itu tenggelam dalam perihnya luka. Luka yang Ella sendiri juga ikut menorehkannya.
"Kenapa kau menjadi seperti ini, Ndra?" tanya Ella dengan sangat pelan. Sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.
"Meskipun aku sudah tidak mencintai kamu dan tidak bisa menerima perasaanmu. Tapi ... kamu tetaplah sahabatku. Aku ingin kamu bahagia, walaupun bukan aku yang membahagiakan kamu. Aku sedih melihat kamu seperti ini, Ndra." Ella membatin sambil menggigit bibirnya.
Bersambung......
__ADS_1