Tentang Rasa

Tentang Rasa
Luka Lama Kairi


__ADS_3

Pukul 19.00 waktu Indonesia.


Andra duduk disamping Bu Mirna, wanita paruh baya itu masih memejamkan matanya, beliau belum juga siuman.


Andra menemani Bu Mirna seorang diri, sedangkan Bik Surti, dan Nadhira, mereka pulang setelah mengantarkan Pak Adit ke pemakamannya. Andra menghembuskan nafas panjang, rasanya masih belum percaya, jika Pak Adit sudah tiada, bahkan kini tubuhnya saja sudah terkubur didalam tanah.


Andra menundukkan kepalanya, sambil menggenggam tangan Bu Mirna dengan erat. Wanita yang sangat Andra sayangi, dan belum sempat ia bahagiakan.


"Maafkan aku Ma, aku tidak pernah tahu tentang sulitnya hidup Mama dimasa lalu. Aku tidak tahu, jika Mama menyimpan luka yang begitu dalam. Dan aku, aku selalu menjadi beban untuk Mama, aku belum pernah membuat Mama bangga, aku belum pernah membahagiakan Mama. Maafkan aku Ma, Mama memang benar, aku adalah anak yang tidak berguna." ucap Andra sambil menciumi tangan Bu Mirna.


Bulir bening kembali menetes membasahi pipinya, Andra sangat menyesali perbuatannya dimasa lalu. Begitu buruk kelakuannya dulu, dan alasannya hanyalah kurang kasih sayang. Sementara Ibunya, beliau menyimpan luka yang teramat sakit, namun mencoba terlihat tegar saat dihadapannya.


"Aku memang tidak berguna Ma, aku hanya menjadi beban dalam hidup Mama." ucap Andra disela sela isakannya.


"Kau adalah putra Mama yang terbaik, siapa yang bilang kau tidak berguna." kata Bu Mirna dengan suara yang lemah.


Andra tersentak kaget, sontak ia langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap Bu Mirna yang sedang tersenyum padanya.


"Mama sudah sadar." gumam Andra sambil mengusap air matanya.


"Sejak kapan kau jadi cengeng Ndra." ucap Bu Mirna sambil mengusap pipi Andra.


Andra menatap Ibunya, wajahnya masih pucat, namun bibirnya mengukir senyuman yang sangat manis.


"Mama cepat sembuh ya." kata Andra sambil mengusap usap tangan Bu Mirna.


"Mama tidak sakit Ndra, hanya sedikit lelah saja. Besok pasti Mama sudah baikan." jawab Bu Mirna masih tetap tersenyum.


"Iya Ma. Sekarang Mama mau apa? minum, makan, atau istirahat? Mama bilang saja, Andra selalu disini menemani Mama." kata Andra sambil menatap Bu Mirna.


"Sebenarnya Mama sedikit lapar Ndra." jawab Bu Mirna.


"Mama tunggu sebentar ya, aku carikan dulu didepan." ucap Andra sambil beranjak dari duduknya.


"Iya. Hati hati ya Ndra." kata Bu Mirna.


"Iya Ma." jawab Andra sambil melangkah keluar.


Bu Mirna bangkit dari tidurnya, saat Andra sudah menghilang dibalik pintu. Bu Mirna duduk, dan meraih tasnya yang berada diatas meja. Bu Mirna mengambil ponselnya, dan menatap foto dirinya bersama Pak Adit.


Bu Mirna mengusap layar ponselnya, sambil menangis. Air matanya berderai membasahi pipinya. Bu Mirna menggigit bibirnya yang pucat, dari raut wajahnya, terlihat jelas jika ia sangat kehilangan.


"Kenapa kamu pergi secepat ini Mas, bahkan aku belum sempat menceritakan masa lalu kita pada Andra. Kamu tega meninggalkan aku, sekarang bagaimana caranya aku melewati hari hariku tanpa kamu." ucap Bu Mirna sambil memeluk ponselnya.


Cukup lama Bu Mirna tenggelam dalam tangisnya, hingga ia tak sadar, jika Andra sudah berdiri didepan pintu.


Andra yang saat itu baru saja kembali, berdiri terpaku sambil menatap Bu Mirna. Hatinya terasa sakit saat melihat Ibunya menangis, tanpa terasa ia menjatuhkan kantong plastik berisi makanan, yang sedang dipegangnya.


"Mama begitu hancur, tapi Mama berusaha tersenyum saat dihadapanku. Mama selalu menutupi kesedihannya demi aku, tapi apa balasanku, sedikitpun aku belum pernah membahagiakan Mama." ucap Andra sambil menjatuhkan tubuhnya. Ia kini terduduk lesu dilantai.


Andra menunduk sambil memeluk lututnya, ia tak peduli meskipun ada orang lain yang menatapnya. Andra sudah tak bisa lagi menahan air matanya, bayangan tentang masa lalu kembali melintas dalam ingatannya.


Begitu banyak wanita yang sudah ia renggut kesuciannya, dan entah bagaimana masa depan mereka sekarang, Andra meninggalkan mereka begitu saja, saat dirinya sudah merasa bosan.


Andra juga teringat akan kebiasaannya datang ke club malam. Begitu banyak uang yang ia hamburkan, hanya demi sebotol minuman. Ibunya mencari uang dengan susah payah, dan ia habiskan untuk hal hal yang tidak berguna. Ibunya sudah menyimpan lukanya sendirian, dan dia malah menambahkan beban untuknya.


"Anak macam apa aku ini, aku sama sekali tidak berguna." gumam Andra sambil terisak. Ia tetap menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya.


Setelah puas menangis, Andra mengusap air matanya dengan lengannya. Ia mendongak, dan menyandarkan punggungnya di pintu.


"Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu El, selalu berfikir positif meski hidup kita sedang sulit. Tapi dulu aku tidak seteguh kamu, aku terlalu lemah hingga dikalahkan oleh nafsu. Kau pasti tertawa saat melihat aku saat ini El, aku menangis menyesali perbuatanku dimasa lalu. Aku benar benar bodoh kan El." gumam Andra dengan pelan.


Disaat Andra sedang menerawang mengingat masa masa dulu, tiba tiba ia kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya oleng, dan akhirnya ia terjatuh kebelakang. Punggungnya terasa nyeri, dan kepalanya sedikit pusing, karena beradu dengan lantai.


"Andra!" teriak Bu Mirna dengan kaget. Bagimana tidak, beliau membuka pintu, dan tiba tiba Andra terjatuh didepan kakinya.


"Mama." gumam Andra sambil berdiri, dan memegangi punggungnya.


"Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Bu Mirna sambil mengerutkan keningnya.


"Aku mau masuk, tapi tiba tiba Mama membuka pintunya tanpa bilang bilang." gerutu Andra dengan bibir yang manyun.


"Beberapa menit yang lalu, aku melihat Mama menangis sedih, tapi kini sudah kembali tersenyum. Mama, seharusnya kesedihan itu jangan disimpan sendirian." ucap Andra didalam hatinya.


"Oh kamu mau masuk, dengan langkah mundur begitu. Lagi latihan dance ya." sindir Bu Mirna sambil menatap Andra.


Andra tidak menjawab, ia hanya tersenyum nyengir sambil menggaruk kepalanya.


"Mana makanan Mama?" tanya Bu Mirna sambil menatap tangan Andra. Anaknya tidak membawa bungkusan apapun.


"Ah...ehm...itu..." jawab Andra dengan gugup.


Andra menatap keluar ruangan, bungkusan makanan yang tadi ia bawa tergeletak begitu saja di lantai. Bu Mirna menyadari hal itu, dan ia langsung menatap Andra sambil melotot.


"Andraaaa!!" teriak Bu Mirna.


****


Pukul 16.00 waktu Paris.

__ADS_1


Kairi baru saja menghentikan mobilnya diparkiran apartemen. Ella turun sambil membawa tasnya, dan juga gulungan kertas desain yang baru saja mereka buat. Sedangkan Kairi, ia menenteng beberapa kantong plastik yang berisi bahan makanan.


Mereka berdua masuk kedalam apartemennya Kairi.


"Aku ganti baju dulu ya." ucap Ella sambil berdiri didepan pintu kamarnya.


"Iya, aku tunggu di dapur." jawab Kairi sambil tersenyum.


Ella mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Kairi meneruskan langkahnya menuju dapur. Hari ini mereka berencana untuk makan malam bersama, Kairi akan mengenalkan Ella pada Ayahnya, Louis Da Vinci.


Kairi meletakkan belanjaannya diatas meja, lalu ia menggulung kemejanya sampai ke siku.


Kairi mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas, menengguknya dengan pelan hingga habis setengahnya.


"Haus banget ya." goda Ella yang tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya.


Kairi menoleh, sambil tersenyum. Ia menatap Ella dari ujung kaki, hingga ke ujung kepalanya. Ella memakai dress rumahan selutut, sebenarnya tidak terbuka, tapi karena rambutnya digulung keatas, lehernya yang jenjang terpampang dengan jelas. Kairi memalingkan wajahnya, tak sanggup rasanya menatap leher itu terlalu lama.


"Memang harus segera dihalalkan, kalau tidak bisa tersiksa terus batinku." gumam Kairi didalam hatinya.


Ella mulai mengeluarkan belanjaannya, ada daging, jamur, dan beberapa macam sayuran. Mereka akan memasak rendang, dan sup jamur.


"Apa Pak Louis nanti akan suka dengan rendang, dan sup ini. Kenapa kita tidak memasak makanan khas Perancis saja?" tanya Ella sambil memotong wortel.


"Makan malam ini adalah acara untuk menyambut kamu, jadi kita harus menghargai kamu." jawab Kairi sambil meraih pisau, dan bersiap memotong daging.


"Tapi kalau Pak Louis tidak suka, aku kan jadi merasa tidak nyaman Kai." ucap Ella.


"Kamu tenang saja, Papa pasti suka, dan satu lagi, jangan panggil Pak." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Terus?" tanya Ella.


"Panggil saja Papa." jawab Kairi dengan santainya.


"Jangan sembarangan." ucap Ella.


"Panggil Om saja." kata Kairi.


"Aku merasa sungkan." gumam Ella.


Kairi tidak menjawab, namun ia menatap Ella dengan tajam. Ella tersenyum kikuk, sambil memalingkan pandangannya.


"Iya aku panggil Om, Om Louis." ucap Ella sambil tersenyum.


Ella memutar bola matanya, kenapa tatapan Kairi selalu saja membuatnya menurut.


Sudah hampir satu jam mereka berkutat di dapur. Rendang, dan sup yang mereka masak, sudah hampir matang. Kini Ella sedang memotong beberapa buah untuk membuat salad. Sementara Kairi, ia sedang mengaduk kuah sup yang belum mendidih.


Karena terlalu lama berdiri didekat kompor, tubuh Kairi terasa panas, dan berkeringat, kemudian ia melepaskan kancing kemejanya.


Ella yang hendak mengambil buah didalam kulkas, tidak sengaja menatap tubuh Kairi yang terbuka. Dada, dan perutnya terlihat sangat jelas, dengan sedikit berkeringat, tubuh itu terlihat lebih sexi.


Ella merasakan pipinya mulai memanas. Kenapa Kairi harus melepaskan kancing kemejanya?


"Kau kenapa Gabriella?" tanya Kairi saat melihat Ella berdiri terpaku.


"Aku tidak apa apa." jawab Ella dengan gugup.


"Wajahmu merah." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Aku lelah, aku harus istirahat." kata Ella sambil berlari meninggalkan Kairi.


Kairi tertawa saat menatap kepergian Ella, ia menunduk, dan melihat dadanya yang berkeringat.


"Ternyata kau bisa terpesona juga ya sayang." gumam Kairi sambil terkekeh.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Kairi, dan Ella sudah duduk bersama di meja makan. Semua menu sudah tersaji diatas meja. Mereka tinggal menunggu Pak Louis yang masih mandi di apartemennya.


Sekitar lima belas menit kemudian lelaki paruh baya itu sudah datang. Ella beranjak dari duduknya, dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Pak Louis.


"Selamat malam Om." sapa Ella sambil tersenyum ramah.


"Selamat malam nak." jawab Pak Louis sambil membalas uluran tangan Ella.


Lalu beliau duduk disebelah Kairi, dan Ella juga kembali duduk didepan Kairi.


"Bagaimana Pa?" tanya Kairi sambil tersenyum nyengir.


"Apanya?" Pak Louis balik bertanya.


"Calon istriku, sempurna kan." jawab Kairi dengan santainya. Ella menunduk malu mendengar ucapan Kairi.


"Begitukah cara kamu mengenalkannya pada Papa, benar benar payah. Tapi kamu memang benar, calon istri kamu sangat sempurna, dia gadis yang cantik, dan juga sopan, Papa merestui hubungan kalian." ucap Pak Louis sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Pa." ucap Kairi sambil tersenyum senang.

__ADS_1


"Gabriella, terima kasih ya kamu mau menerima lamaran anak saya. Kairi benar benar beruntung punya calon istri sebaik kamu." kata Pak Louis sambil menatap Ella.


"Saya tidak sebaik itu Om, saya biasa saja. Sejujurnya saya yang lebih beruntung bisa mendapatkan lelaki seperti Kairi." jawab Ella sambil menunduk malu.


"Wah, kau menganggapku seistimewa itu ya sayang." sahut Kairi sambil tertawa.


"Kairi!" ucap Pak Louis sambil menatap Kairi dengan tajam.


Kairi hanya menanggapinya dengan kekehan.


"Tolong maklumi sikapnya Kairi ya, terkadang dia memang sangat menyebalkan, tapi percayalah dia lelaki yang sangat setia." ucap Pak Louis pada Ella.


"Ya Om." jawab Ella.


"Sekarang mari kita makan, semuanya terlihat sangat lezat." kata Pak Louis sambil menatap makanan yang tersaji diatas meja.


"Aku, dan Gabriella yang memasaknya Pa, pakai bumbu cinta, tentu saja sangat lezat." ucap Kairi sambil menyiapkan piringnya.


"Kau kekanak kanakan Kai." kata Pak Louis sambil tersenyum.


Ella juga ikut tersenyum, sambil menatap Kairi.


Kemudian mereka bertiga mulai memenuhi piringnya masing masing dengan makanan yang sudah tersedia.


Mereka menyantap makan malamnya dengan hati yang bahagia.


Setelah hampir satu jam berlalu, mereka sudah menghabiskan makanannya.


Ella, dan Pak Louis masih duduk di meja makan, sedangkan Kairi, ia pergi ke ruang tamu, karena ada telfon dari rekan bisnisnya.


"Gabriella." panggil Pak Louis.


"Ya Om." jawab Ella.


"Boleh Om minta satu hal sama kamu." ucap Pak Louis.


"Boleh Om, apa?" tanya Ella.


"Tolong bahagiakan Kairi, jangan pernah sakiti dia. Masa lalunya sudah cukup kelam, Om tidak ingin dia terluka lagi. Kamu adalah gadis yang bisa menyembuhkan luka lamanya." kata Pak Louis sambil menatap Ella.


"Luka lama." gumam Ella dengan pelan. Luka seperti apa yang Pak Louis maksud.


"Iya, dia pernah terluka dimasa lalunya. Kau tahu, karena luka itu Kairi sampai menolak semua kerjasama yang berasal dari Indonesia, karena dia tidak mau lagi berurusan dengan negara itu. Ia mendapatkan lukanya di negara Indonesia." ucap Pak Louis.


Dan belum sempat Ella bertanya lagi, Kairi sudah datang mendekati mereka.


"Bisnismu masih lancar?" tanya Pak Louis.


"Berkat doa Papa, semuanya berjalan lancar." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Bagus, sebentar lagi kamu menikah, harus lebih giat dalam bekerja." kata Pak louis, yang membuat Ella tersipu malu.


"Siap Pa." jawab Kairi.


"Ya sudah Papa duluan ya, kamu bantu Ella dulu, kasihan kalau dia membereskannya sendirian." kata Pa Louis.


"Iya Pa." jawab Kairi.


"Gabriella Om pergi dulu ya." ucap Pak Louis sambil menatap Ella.


"Iya Om, hati hati." jawab Ella.


Pak Louis tersenyum, dan kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Papa sangat menyukaimu Gabriella." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Iya." jawab Ella singkat. Hatinya kurang nyaman saat mengingat ucapan Pak Louis tadi.


"Kamu kenapa?" tanya Kairi saat melihat ada yang berbeda dari raut wajahnya Ella.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ella memberanikan diri.


"Tanya saja." jawab Kairi masih dengan senyumannya.


"Bagaimana pendapatmu tentang negaraku?" tanya Ella dengan hati hati.


Kairi tersentak kaget, senyuman dibibirnya hilang begitu saja, ia menatap Ella lekat lekat.


"Apa yang Papa katakan padamu?" tanya Kairi dengan nada datar.


"Maaf aku tidak jadi bertanya." jawab Ella sambil beranjak dari duduknya.


Ia pergi ke dapur sambil membawa piring, dan gelas yang kotor.


Jantungnya mulai berdetak dengan cepat.


"Ternyata masih ada hal, yang tidak boleh aku tahu tentang kamu Kairi." ucap Ella didalam hatinya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2