Tentang Rasa

Tentang Rasa
Keputusan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Sayang!" panggil Kairi sambil mendekati Ella, dan berdiri disebelahnya.


"Eh kamu sudah di sini Kai." ucap Ella sambil tersenyum.


"Kenalkan ini Kairi, calon suamiku." kata Ella sambil menggandeng lengan Kairi.


"Hai, selamat ya, turut berbahagia atas pernikahan kalian." ucap Kairi sambil menyalami Nathan, dan Vani.


"Terima kasih, aku menunggu undangan darimu." kata Nathan, dan Kairi hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Terima kasih sudah hadir dalam acara kami." ucap Vani sambil tersenyum, dan lagi-lagi Kairi hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Pantas saja Mbak Ella tidak memilih Andra, lelaki ini gantengnya lebih maksimal daripada Andra." batin Vani sambil menatap Kairi.


Lalu Kairi dan Ella melangkah sedikit menjauh, karena banyak tamu lain yang mendekati Nathan, dan Vani untuk memberikan selamat. Ella dan Kairi melangkah menuju meja, mereka hendak mengambil minuman. Namun tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menyapa Ella.


"Ella, bagaimana kabar kamu?" teriak wanita itu sambil memeluk Ella dengan erat. Kairi mengernyitkan keningnya, siapa wanita itu.


Ella tersentak kaget, ia tahu siapa wanita yang sedang memeluknya, dia adalah Nadhira.


"Bagaimana caranya aku menyapa Nadhira, dia putus dengan Andra pasti gara-gara aku. Kenapa sekarang dia memelukku, apa dia tidak marah padaku." batin Ella sambil membalas pelukan Nadhira dengan ragu-ragu.


"A...aku baik Nad, kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Ella dengan gugup.


"Aku juga baik, walaupun kemarin sempat buruk." jawab Nadhira sambil melepaskan pelukannya. Ia tampak tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang putih, dan rapi.


"Kau datang dengan siapa?" tanya Ella mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas hal buruk yang dialami Nadhira, karena semua itu disebabkan olehnya.


"Dengan teman, nanti dia akan menyusul kesini. El katanya kau punya pacar, kau mengajaknya kemari kan?" tanya Nadhira masih dengan senyumannya.


"Nadhira begitu ceria, apa dia tidak marah padaku. Apa dia tidak tahu, jika Andra menyukaiku." batin Ella.


"Iya, kenalkan ini Kairi, calon suamiku." kata Ella sambil menggandeng tangan Kairi.


"Nadhira." ucap Nadhira sambil mengulurkan tangannya.


"Dia Nadhira, jadi ini tunangannya Andra." batin Kairi.


"Kairi." ucap Kairi sambil menyambut tangan Nadhira.


"Mungkinkah dia kakaknya Andra, tidak mirip sama sekali." batin Nadhira sambil melirik Kairi.


"Kalian bertemu di London, sudah berapa lama menjalin hubungan?" tanya Nadhira.


"Iya kita bertemu di London. Dan kita menjalin hubungan sekitar dua bulan." jawab Ella sambil tersenyum.


"Dua bulan." Nadhira mengulangi ucapan Ella sambil mengernyit heran. Betapa beruntungnya Ella, baru dua bulan, sudah merencanakan pernikahan. Sementara dirinya, sudah lebih dua tahun, tapi kandas ditengah jalan.


Kairi tersenyum hambar mendengar ucapan Nadhira. Sepertinya wanita itu tidak percaya dengan jawaban Ella, tapi wajar saja, baru dua bulan sudah merencanakan pernikahan. Kairi kembali teringat tentang Andra, dibandingkan dengan dia, dirinya memang hanya orang baru bagi Ella.


"Kalau kalian kapan rencananya?" tanya Nadhira sambil menatap Ella, dan Kairi secara bergantian.


"Dalam waktu dekat." jawab Ella.


"Syukurlah, jangan lupa untuk mengundangku ya." ucap Nadhira.


Dan belum sempat Ella menjawab ucapan Nadhira, tiba-tiba seorang lelaki datang menghampiri mereka.


"Ternyata kau di sini Nad, pantas saja aku cari di sana tidak ada." kata lelaki itu sambil menunjuk ke arah Nathan, dan Vani.


"Vin!" sapa Ella saat tahu jika lelaki itu adalah Vino.

__ADS_1


Vino menoleh, menatap Ella dan kemudian tersenyum.


"El, ini benar kamu, bagaimana kabarmu? Kau datang dengan siapa?" tanya Vino sambil tersenyum lebar.


"Kabarku baik, dan aku datang berdua dengan dia. Kenalkan dia Kairi, calon suamiku." jawab Ella.


"Vino." kata Vino sambil mengulurkan tangannya.


"Kairi." jawab Kairi.


"Seperti orang barat, apa Ayahnya Andra juga orang barat ya. Tapi kenapa wajah Andra asli Indonesia." batin Vino sambil menatap Kairi.


"Vino, seseorang yang awalnya kuanggap sebagai sahabatnya Gabriella. Ahh andai saja sahabat kamu benar-benar dia, mungkin aku tidak akan merasa resah seperti ini." batin Kairi sambil menghela nafas panjang.


Mereka berbincang cukup lama, sambil menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan. Dan setelah acaranya selesai, Ella dan Kairi berjalan keluar menuju mobilnya. Mereka masuk kedalam mobil, dan mulai melaju meninggalkan rumah Nathan. Perjalanan menuju ke rumahnya Ella tidak memakan waktu yang lama, karena jalanan sudah mulai sepi, sehingga Kairi bisa melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.


Perlahan Kairi mulai menghentikan mobilnya, mereka kini sudah sampai didepan rumah Ella. Ella melepaskan sabuk pengamannya, dan bersiap untuk keluar dari mobil.


"Gabriella tunggu!" kata Kairi sambil meraih tangan Ella, dan menatapnya lekat-lekat.


"Ada apa Kai?" tanya Ella.


"Aku ingin berbicara sebentar, ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu." jawab Kairi.


"Hal penting apa Kai?" tanya Ella dengan jantung yang berdetak cepat, dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Kairi tidak sedang membicarakan hal baik.


"Aku ingin kita sampai disini saja." ucap Kairi dengan pelan.


"Kau dan Andra harus bahagia, kau bisa menjadi pengaruh baik baginya. Dan dia adalah lelaki yang mengenal kamu sejak lama, kau pasti lebih bahagia jika bersamanya Gabriella." batin Kairi dalam hatinya.


"Apa maksudmu Kai?" tanya Ella dengan jantung yang semakin berdetak cepat, Kairi meminta berakhir, apakah ia salah dengar?


Mata Ella mulai memanas, dan pandangannya mulai kabur, buliran bening sudah mulai menggenang di matanya.


"Kenapa Kai?" tanya Ella dengan suara yang sangat pelan, dadanya terasa sesak sehingga ia kesulitan untuk mengeluarkan suaranya.


"Andra mencintaimu, aku tahu kau juga mengetahuinya Gabriella. Aku melepaskan kamu, agar kamu bisa bahagia bersama Andra." kata Kairi sambil menatap Ella. Meskipun ia tidak tega kala melihat Ella yang mulai menangis, tapi ini adalah jalan yang terbaik. Ia tidak ingin adiknya kembali terluka, dan mengurung diri seperti kemarin. Ia juga tidak ingin Ella menyesal dikemudian hari.


"Lalu kenapa jika Andra mencintaiku, yang kucintai adalah kamu Kai. Aku bahagia jika bersama kamu, kau bilang kau akan menikahiku, tapi kenapa kau malah melepaskan aku!" teriak Ella dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Kau memang mencintaiku, tapi aku tahu kau masih menyimpan perasaan untuk Andra. Aku tidak mau menjadi penghalang diantara kalian. Dia yang lebih dulu mengenal kamu, dia yang lebih dulu mendapatkan cinta kamu. Jadi dia yang lebih berhak menikah dengan kamu." kata Kairi dengan panjang lebar.


"Kau salah Kai, aku sudah tidak menyimpan perasaan apa-apa padanya. Kau bilang kau bisa menerima masa laluku, tapi kenapa sekarang kau mempermasalahkannya." kata Ella.


"Bukannya aku mempermasalahkan masa lalu kamu, aku hanya menghargai perasaan yang kamu simpan untuk Andra." ucap Kairi.


"Aku tidak menyimpan perasaan untuk Andra Kai, apa kau masih meragukan aku?"


"Maaf Gabriella, tapi hanya kamu yang bisa mengembalikan semangat hidupnya Andra. Aku tidak ingin dia kembali terluka, dan terpuruk, jika kita terus bersama." kata Kairi.


Ella mengusap air matanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikiran Kairi, sangat aneh menurutnya.


"Waktu itu kau berjanji akan selalu mencintaiku, sekarang mana janji kamu Kai, kenapa kau mengingkarinya?" ucap Ella sambil menatap Kairi.


"Maafkan aku, aku melakukan semua ini, agar diantara kita tidak ada yang terluka. Kau tahu Gabriella, kebersamaan kita membuat Andra terluka, jadi sekarang aku melepasmu. Aku berharap kau bisa bahagia bersama Andra." kata Kairi.


"Aku mencintai kamu Kai, kau fikir aku akan bahagia, jika bersama dengan Andra. Tidak Kai, aku bahagia jika bersama kamu." ucap Ella.


"Aku yakin masih ada sedikit perasaan yang kau simpan untuk Andra. Kau bisa menjaga perasaan itu, dan aku yakin kau akan bahagia." kata Kairi.


"Ternyata kau meragukan perasaan aku Kai, dan ternyata kau juga tidak percaya padaku, aku kecewa sama kamu Kai!" ucap Ella dengan nada yang sedikit tinggi. Hatinya semakin sesak saat mendengar ucapan Kairi, yang menganggap dirinya masih menyimpan perasaan untuk Andra.

__ADS_1


"Aku baru dua bulan mengisi hati kamu, sedangkan Andra, tujuh tahun kau mencintainya. Mana mungkin aku bisa menggantikan posisi dia. Dan lagi, Andra semalam pulang, dia mendengarkan semua ucapan kamu. Sekarang kau tahu, betapa pentingnya kamu dalam hidupnya. Tolong jangan lukai dia, kembalilah padanya, dan cintai dia. Aku berharap kalian bisa bahagia." kata Kairi.


Ella memejamkan matanya, mencoba menahan buliran bening agar tak menetes semakin banyak.


"Kau yakin dengan keputusanmu Kai?" tanya Ella.


"Aku yakin." jawab Kairi.


"Baiklah, jika itu memang keputusan kamu, aku hargai Kai. Tapi satu hal yang harus kau ingat, aku tidak akan pernah memilih Andra. Kau bilang kebersamaan kita membuat Andra terluka. Apa menurutmu kebersamaanku dan Andra akan membuat kita bahagia. Tidak Kai, hanya Andra yang bahagia, tapi kau dan aku akan terluka. Jadi sekarang, kita berpisah, tetapi aku tidak memilih Andra, agar kita bertiga sama-sama terluka, bukankah itu lebih adil Kai." ucap Ella sambil menatap lurus kedepan, ia tak menatap Kairi yang berada disebelahnya.


"Tapi Gabriella, Andra sangat mencintaimu, dia akan kembali terluka, jika kau tak memilihnya. " kata Kairi.


"Aku tidak peduli, bukankah kau juga tidak peduli dengan perasaanku. Aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian. Aku akan memilih orang lain untuk menggantikan kamu." ucap Ella sambil menatap Kairi.


"Tapi Gabriella..." kata Kairi.


"Aku menghargai keputusan kamu, jadi kau juga harus menghargai keputusan aku. Lagipula sekarang kau bukan siapa-siapaku lagi, jadi kau tidak punya hak untuk menentukan pilihanku. Hidupku, adalah aku sendiri yang menentukan, bukan orang lain." ucap Ella dengan tegas. Dia sudah terlanjur kecewa dengan sikap Kairi, bisa-bisanya lelaki itu meragukan perasaannya, dan sekarang melepaskannya.


Kairi terdiam, ia tidak menjawab ucapan Ella, ia hanya menatapnya dengan lekat-lekat.


"Satu hal yang harus kau tahu Kai, yang dulu juga pernah kukatakan padamu. Saat aku sudah memutuskan untuk pergi, aku tidak akan pernah kembali. Dulu aku sudah menyerah, aku tak mau lagi berharap pada Andra. Aku sudah memutuskan untuk pergi darinya, jadi sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padanya." ucap Ella sambil melirik Kairi sekilas, lelaki itu masih diam, dan Ella kembali melanjutkan kalimatnya.


"Dan itu juga berlaku untukmu Kai. Saat kau sudah melepaskan aku, dan aku sudah mengiyakan permintaanmu, aku tidak akan pernah kembali lagi. Aku tidak akan pernah kembali padamu Kairi, tidak akan pernah." sambung Ella sambil menatap Kairi dengan tajam, lalu ia membuka pintu mobilnya, dan turun dengan cepat.


Kairi tertegun, ia menatap Ella yang sudah berada diambang pintu rumahnya. Terlihat jelas jika Ella sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak ingin melukai adiknya.


"Maafkan aku Gabriella, tapi aku memang tidak ingin melukai Andra, hubungan keluarga kita baru saja membaik. Dan juga, aku yakin kau masih menyimpan perasaan untuk dia, bukan hal yang sulit untuk kamu menjalin hubungan dengan dia. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian." ucap Kairi sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Dengan langkah cepat Ella berjalan menuju kamarnya. Untung saja ini sudah cukup larut, jadi Ibu dan Kakaknya sudah tidur, mereka tidak tahu jika Ella pulang dengan air mata yang berderaian di pipinya. Ella duduk diatas ranjang sambil memeluk guling, ia menangis terisak-isak seorang diri.


"Kenapa kamu melakukan ini Kai, hatiku sakit menerima keputusan kamu Kai." ucap Ella disela-sela isakannya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Kairi, kenapa ia tiba-tiba mengajak berpisah?


Apa yang membuat Kairi ragu dengan perasaannya, mungkinkah waktu di apartemen itu?


Ella tersentak kaget, waktu di apartemen itu dirinya memang menangis, apa itu yang membuat Kairi ragu. Tapi dia tidak punya maksud lain, dia hanya peduli karena Andra adalah sahabatnya, dan dulu lelaki itu pernah berjasa dalam hidupnya.


Soal air mata, entahlah kenapa ia sangat sedih saat melihat Andra yang rapuh seperti kemarin. Seburuk apapun Andra, tapi dia pernah menjadi orang penting dalam hidupnya, itulah alasannya kenapa Ella masih peduli pada Andra.


Ella mengusap cincin dijari manisnya, hatinya teriris sakit mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Luka ini lebih perih daripada luka waktu dulu, waktu Andra menjalin hubungan dengan Nadhira. Ella menggenggam cincin itu dengan erat, dan mendekapnya di dada.


"Aku sangat mencintaimu Kai, kenapa kau tega melakukan ini padaku. Kita sudah merencanakan pernikahan, tapi kenapa malah berakhir dengan perpisahan." ucap Ella sambil terisak-isak.


Ella memejamkan matanya, fikirannya menerawang jauh, mengingat tentang kenangannya bersama Kairi. Dia adalah lelaki yang datang mengulurkan tangannya, saat ia sedang terpuruk dalam posisi yang yang paling bawah. Lelaki itu yang selalu membantu setiap kesulitannya, lelaki itu juga yang telah mengobati luka hatinya yang pernah patah.


Kairi adalah lelaki yang telah mengenalkan indahnya cinta padanya, namun sekarang, Kairi jugalah yang menunjukkan sisi lain dari cinta itu sendiri. Ternyata cinta itu pahit, cinta itu perih, dan cinta itu sangat menyakitkan. Ella mengusap air matanya, tatapannya tertuju pada cincin dijari manisnya.


"Kau yang mengenalkan aku tentang indahnya pertemuan, tapi kau juga yang mengenalkan aku tentang sakitnya perpisahan. Kenapa kau melamarku dengan cara yang seromantis itu, jika akhirnya kau meninggalkan aku dengan cara yang sesadis ini. Hanya karena sedikit kesalahanku, kau meragukan perasaanku dan tidak percaya padaku. Lalu hubungan kita selama ini kau anggap apa Kairi, apa kau fikir perasaanku selama ini cuma main-main. Untuk pertama kalinya aku menganggap kamu bodoh Kairi, kamu tidak bisa memahami perasaanku yang paling dalam." ucap Ella dengan sangat pelan.


"Kamu bodoh Kairi, kamu bodoh!" kata Ella sambil menutup mulutnya, ia terus saja terisak, dan air matanya terus saja berderai.


Ella merebahkan tubuhnya di ranjang, memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Fikirannya hanya tertuju pada Kairi, pada lelaki yang beberapa jam yang lalu masih menjadi kekasihnya. Bayangan tentang beberapa hari yang lalu kembali melintas dalam ingatannya. Saat mereka berada di taman belakang rumahnya, Kairi mencium bibirnya, meskipun hanya sekilas, tapi bibir mereka saling bersentuhan.


Ella jadi teringat dengan kata-katanya waktu ditelfon kala itu, "Jangan macam-macam ya, kau berani menciumku, jangan harap bisa menikahiku" itulah kalimat yang ia ucapkan sebagai candaan.


Namun sekarang candaan itu menjadi kenyataan. Mereka berpisah, belum lama setelah Kairi mencium bibirnya.


Ahh kenapa semuanya menjadi seperti ini?


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2