
Kring… kring..
Rena yang sedang memasang antingnya menoleh ke arah ponselnya. Ia tersenyum dan langsung menjawabnya.
"Halo Al"
"Kita berangkat bareng"
"Ok" jawab Rena tersenyum. Moodnya mendadak semakin baik.
"Aku ada depan unit kamu" ucap Albian.
"Hah…. Yaudah aku sebentar lagi keluar" Rena mengakhiri panggilannya. Ia buru-buru merapikan rambutnya, tak lupa memoleskan lipstik berwarna nude ke bibirnya.
Rena berlari keluar kamarnya. Dia berhenti tepat di depan pintu. Rena memakai sepatunya yang ada di rak sepatu tepat di sampingnya. Ia sudah tak sempat memilih lagi sepatu mana yang akan dipakainya. Mengambilnya secara asal dan memakainya.
Setelah selesai mengenakan sepatunya dan kembali merapikan rambutnya. Ia menetralkan nafasnya sebelum membuka pintunya.
"Hai… lama ya nunggunya" sapa Rena dengan senyum penuhnya.
"Ga kok" sahut Albian yang juga tersenyum. Hati merasa lega melihat Rena jauh lebih ceria.
Albian mendorong Adrian yang terdiam melongo menatap Rena.
"Aaargh… sialan, sakit tau" umpat Adrian.
"Lagi ngeliatin orang sampe melongo gitu" gerutu Albian.
Rena yang melihat itu terkekeh, mereka berdua tim yang baik di dapur namun di luar bagaikan tikus dan kucing.
"Gue terpesona melihat senyumnya Bu Rena" jawab Adrian dengan senyum tengilnya.
__ADS_1
"Aduh…!!!!"
Albian memukul kepala bagian belakang Adrian dengan telapak tangannya.
"Aku masih babak belur gini, tega banget malah nambahin" gerutu Adrian yang mengusap kepala bagian belakangnya. Sedangkan sang tersangka hanya tertawa melihat penderitaan Adrian.
Rena baru menyadari kalau wajah Adrian sedikit babak belur.
"Kamu kenapa bisa begitu" tanya Rena.
"Biasa akibat cinta tak di restui" sahut Albian mendahului Adrian.
Adrian hanya mampu tertawa miris tak mampu mengelak. Suasananya pun kini menjadi canggung.
"Yaudah yuk jalan" Rena mencoba memecah kecanggungan. Dan mereka berjalan beriringan menuju lift.
Semalam setelah Adrian mengantar kekasihnya dengan terseok-seok ia mendatangi apartemen Albian. Adrian babak belur akibat di pukuli oleh papi dan kakaknya Lily. Adrian memilih pulang ke apartemen Albian daripada harus pulang ke rumahnya. Ia tidak ingin kedua orang tuanya khawatir.
*****
Rio hanya menganggukan kepalanya kemudian menoleh dan tersenyum. Rio menggenggam tangan Debby yang berada di pundaknya. Debby melangkah tepat dihadapan Rio. Dia berlutut dan menggenggam kedua tangan Rio.
"Apapun itu keputusan kamu, aku akan mendukungmu" ucap Debby lirih kemudian mengecup kedua tangan Rio yang ada di genggamannya.
Rio menatap Debby sendu. Ia mengusap pipi merah Debby. Dalam hatinya dia tahu mungkin ini akan menyakitinya lagi. Namun beban yang ada dihatinya rasanya teramat berat bila ia belum mendapatkan maaf dan menjelaskan semuanya.
Sedangkan Debby hanya bisa mendukung apapun yang suaminya inginkan. Walau dalam hati kecilnya dia berharap Rio berhenti untuk berusaha minta maaf. Bukan karena rasa cemburu, melainkan ia pikir ini akan memperburuk keadaan.
******
Perjalanan dari apartemen ke restoran diwarnai canda tawa. Mungkin tepatnya lebih di dominasi Albian yang mengejek Adrian.
__ADS_1
"Aku ga nyangka loh kalian kalau di luar seakrab ini" ucap Rena yang masih tidak menyangka dengan apa yang ia lihat.
"Ya begitulah dia, sok sok an mau jadi chef profesional" sahut Adrian.
"Memang aku profesional. Sudah terbukti bukan, aku menjadi salah satu chef yang diperhitungkan La Pasta" ucap Albian jumawa yang disambut tawa Rena dan Adrian.
"Iya...iya… aku percaya" sahut Adrian dan mereka kembali tertawa.
Albian merangkul pundak Adrian, kemudian sedikit meremas pundaknya. Adrian tampak sedikit meringis.
"Sssss… ampun… ampun" ucap Adrian memohon dengan wajah sok memelas.
Rena menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Ada saja ulah mereka.
"Wah kok kalian bisa barengan" ucap salah satu staf restoran setelah mereka sampai di depan restoran.
"Iya kayanya seru banget deh kalian" sahut Yanto.
Mereka bertiga tersenyum menanggapi mereka.
"Loh mas Adrian mukanya kenapa?" tanya Serli yang melihat ada beberapa luka lebam di wajah Adrian.
"Ga apa-apa, biasalah cowok" jawab Adrian asal.
Namun Serli dan Yanto tak begitu saja percaya. Pasalnya semalam mereka melihat Adrian bertemu dengan wanita. Serli dan dan Yanto saling pandang. Dalam pandangan mereka mengartikan bahwa mereka sepakat akan mencari tahu nanti apa penyebab Adrian penuh lebam.
"Ayo masuk" ajak Albian kepada para beberapa staf restoran yang datang bersamaan dengan mereka.
"Buat kalian yang akan membuat menu baru. persiapkan dengan baik" ucap Albian selama berjalan masuk bersama kedalam restoran.
"Ya chef" jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Semangat untuk kalian ya" sahut Rena.
"Siap bu Rena" jawab mereka serentak pula. Rena tertawa ringan mendengar betapa bersemangatnya mereka.