
Satu minggu kemudian.
Dengan balutan kemeja panjang warna putih, dan celana panjang warna hitam. Andra turun dari mobilnya, ia menghela nafas panjang sebelum melangkah memasuki pelataran rumah.
Andra menatap rumah mewah yang berdiri kokoh didepannya, ini adalah rumahnya Pak Ramdan, Ayahnya Nadhira. Andra datang kesini untuk menemui calon mertuanya, dan membahas sebuah hal penting yang harus segera ia sampaikan.
Setelah membulatkan niatnya, Andra mulai melangkah mendekati pintu, di sana ia langsung disambut oleh pelayan yang sudah menunggunya. Andra dipersilakan masuk, karena Pak Ramdan sudah menunggunya didalam.
Kemudian Andra melangkah memasuki rumah itu.
Andra tersenyum saat menatap Pak Ramdan, Bu Yuni, dan Nadhira sudah menunggunya di meja makan. Kemudian Andra meneruskan langkahnya, dan mendekati mereka.
"Selamat siang Om, Tante." sapa Andra sambil menyalami keduanya.
"Selamat siang, silakan duduk nak." jawab Bu Yuni sambil tersenyum.
Andra tersenyum, dan kemudian duduk disebelah Nadhira, didepan Bu Yuni, dan Pak Ramdan.
"Kamu dari kantor?" tanya Nadhira sambil menatap Andra.
"Iya, tadi ada rapat penting yang harus aku hadiri." jawab Andra.
"Bagaimana kabar Ibu kamu nak?" tanya Bu Yuni.
"Belum ada kemajuan Tante, fisiknya masih lemah, dan masih sering drop." jawab Andra sambil menunduk.
Ia sangat sedih jika mengingat tentang kondisi Ibunya, fisiknya begitu lemah, dan sekarang tubuhnya terlihat semakin kurus.
"Kamu sabar ya nak, jangan lupa untuk berdoa, semoga Ibu kamu cepat sembuh." ucap Bu Yuni sambil menatap Andra.
"Iya Tante." jawab Andra.
"Lalu bagaimana dengan pertunangan kalian?" tanya Pak Ramdan sambil menatap Andra.
Nadhira juga ikut menatap Andra sambil menggigit bibirnya, ia menanti jawaban dari mulut Andra, dengan harap-harap cemas.
"Maafkan saya Om, mungkin jawaban saya akan mengecewakan. Saya berniat untuk menundanya, jujur sebenarnya ini juga berat bagi saya, tapi mau bagaimana lagi, kondisi Mama masih belum membaik, sedangkan hari pertunangannya tinggal seminggu lagi." kata Andra menjelaskan maksudnya.
"Akhirnya apa yang takutkan terjadi juga, Andra menunda hari pertunangannya. Kenapa hatiku semakin resah ya, aku takut ini adalah awal dari berakhirnya hubunganku dengan Andra." batin Nadhira sambil menatap Andra.
"Om mengerti, Om tidak kecewa dengan keputusan kamu, bagaimanapun juga kita tidak mungkin merayakan pesta, sedangkan Ibu kamu saja, masih dirawat di rumah sakit." ucap Pak Ramdan sambil tersenyum.
"Iya nak, yang penting itu niatnya, kalau masalah waktu itu bisa diatur. Kamu menunda pertunangan ini dengan alasan yang baik, dan jelas. Tante mengerti dengan keadaan kamu saat ini." sahut Bu Yuni sambil ikut tersenyum.
"Terima kasih ya Om, Tante. Sekali lagi saya minta maaf, sudah mengecewakan keluarga disini." kata Andra sambil menatap Pak Ramdan, dan Bu Yuni secara bergantian.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, kami mengerti dengan keadaan kamu Andra. Niat kamu hanya menunda kan, bukan membatalkan." kata Pak Ramdan sambil terkekeh pelan.
"Tentu saja tidak Om, saya sangat mencintai Nadhira." jawab Andra sambil menatap Nadhira.
__ADS_1
"Tante tahu kalian saling mencintai. Kalian ini adalah pasangan yang serasi, Nadhira tidak salah sudah memilih kamu, kamu adalah lelaki yang sangat baik, Nadhira sangat beruntung bisa mendapatkan kamu." sahut Bu Yuni sambil tersenyum lebar.
"Tante bisa saja, saya tidak sebaik itu Tante." jawab Andra sambil terkekeh.
"Andai saja Tante Yuni tahu tentang masa laluku, apakah beliau masih bisa ya memujiku seperti itu." batin Andra dalam hatinya.
"Nadhira maaf ya, mungkin keputusanku ini mengecewakan kamu. Tapi aku berjanji, jika nanti Mama sudah sembuh, kita akan langsung tunangan." kata Andra sambil menatap Nadhira.
"Tidak apa-apa Ndra. Kita memang harus menunggu sampai Tante Mirna sembuh, supaya beliau juga bisa ikut berbahagia. Aku juga tidak ingin, jika pesta tunangan kita nanti berlangsung tanpa kehadirannya Tante Mirna." jawab Nadhira sambil berusaha tersenyum.
"Sebenarnya pilihan ini memang yang terbaik Ndra, tapi entahlah, kenapa hatiku rasanya semakin gelisah ya." batin Nadhira dalam hatinya.
"Terima kasih ya Nad, kamu sudah mengerti dengan keadaan aku." ucap Andra.
"Itu sudah seharusnya Ndra." jawab Nadhira.
"Melihat kalian seperti ini, Tante jadi ingat dengan masa lalu, dulu Om dan Tante awalnya juga berteman seperti kalian, dan akhirnya kita saling mencintai, dan memutuskan untuk menikah." ucap Bu Yuni sambil tersenyum.
"Dulu kita tidak hanya berteman Ma, tapi bersahabat. Kalian tahu, awalnya kami dulu tidak menyadari, jika masing-masing saling mencintai. Tapi semakin lama kita bersama, kita bisa saling cemburu, dan sejak saat itu kita sadar, jika sebenarnya kita saling mencintai." sahut Pak Ramdan sambil ikut tersenyum.
"Perlu kalian tahu ya, menikah dengan teman itu rasanya jauh lebih istimewa. Sulit untuk dijelaskan secara rinci, tapi nanti setelah kalian menikah, kalian akan mengerti dengan maksudku ini." ucap Bu Yuni sambil menatap Andra dan Nadhira secara bergantian.
Jika Pak Ramdan, dan Bu Yuni saling tertawa bahagia, lain halnya dengan Andra, dan Nadhira.
Mereka tertegun, terdiam tanpa kata ataupun senyum. Mereka larut dalam fikirannya masing-masing.
"Tidak menyadari jika saling mencintai. Jika hal itu bisa terjadi pada Om Ramdan, dan juga Tante Yuni. Mungkinkah hal itu juga bisa terjadi padaku, mungkinkah sebenarnya aku, dan Ella itu saling mencintai. Apa rindu yang selama ini kurasakan itu karena cinta?
Ella atau Nadhira?" batin Andra didalam hatinya.
"Kata-kata Mama tidak membuatku merasa lebih bahagia, tetapi malah membuatku merasa semakin resah. Sahabatnya Andra bukan aku Ma, tapi Ella. Dan saat ini aku sedang meragukan perasaan mereka. Bagaimana jika sebenarnya Andra juga seperti Mama, dan Papa. Awalnya tidak sadar jika saling mencintai, kemudian setelah sadar memutuskan untuk menikah. Jika hal itu benar-benar terjadi, lalu bagaimana denganku, aku sangat mencintainya." batin Nadhira dalam hatinya.
"Ya sudah sekarang kita makan dulu yuk, Bibi sudah selesai memasaknya. Nad bantu Mama membawa makanannya ya." kata Bu Yuni membuyarkan lamunannya Nadhira, dan juga Andra.
"Ba...baik Ma." jawab Nadhira sedikit gugup. Meski ia mencoba untuk tersenyum, namun jujur didalam hatinya, ia sangat ingin untuk menangis.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam.
Andra terduduk lesu disamping Ibunya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Andra menatap Ibunya yang sedang tertidur pulas, matanya terpejam rapat, bibirnya pucat, dan pipinya terlihat sedikit cekung. Beberapa hari dirawat di rumah sakit, membuat tubuh Ibunya semakin kurus, dan guratan-guratan di wajahnya juga terlihat semakin jelas.
Andra menghela nafas panjang, ia beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati jendela. Ia menyibak sedikit tirainya, tampak di sana beberapa perawat sedang berjalan entah kemana tujuannya, dan apa yang akan dilakukannya. Andra juga melihat beberapa bunga hias yang tumbuh indah didalam pot. Andra merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya. Ia mencari satu foto lama yang masih disimpannya, foto dirinya saat bersama dengan Ella. Ella tampak tersenyum manis dalam rangkulannya, Andra menatap foto itu sambil tersenyum.
"Kenapa semakin kesini, aku semakin ragu dengan pilihanku. Apakah selama ini perasaanku untuk Nadhira bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya. Ahh, tapi apa lagi yang bisa kulakukan, aku sudah melangkah sejauh ini, tidak mungkin aku mundur begitu saja. Lagipula kalaupun benar perasaanku ini untuk Ella, belum tentu dia akan menerimaku, dan membalas perasaanku. Dia terlalu sempurna untuk disandingkan dengan orang sepertiku." ucap Andra dengan pelan. Fikirannya menerawang jauh, mengingat satu sosok yang sejak dulu menemani kesehariannya.
Andra terlalu larut dalam lamunannya, hingga ia tidak sadar jika seseorang datang, dan membuka pintu ruangannya.
__ADS_1
Dia adalah Vino, lelaki tampan yang sejak dulu menjadi sahabatnya Andra.
Vino mengernyit heran saat melihat Andra berdiri terpaku didekat jendela. Apa yang sedang dia lakukan?
"Andra..." panggil Vino sambil melangkah mendekati Andra.
Tidak ada jawaban, Andra masih tetap diam, dan tak bergeming sedikitpun. Seolah suara Vino hanyalah deru nafasnya semut yang sedang berbaris di dinding. Vino mendengus kesal, lalu ia melangkah mendekati Andra. Dan dalam jarak yang lebih dekat, ia bisa melihat apa yang sedang Andra lakukan.
Andra diam sambil menatap foto diponselnya, Vino kembali melangkah, dan kini dia berdiri tepat dibelakang Andra.
Vino sedikit tersentak saat melihat foto diponselnya Andra.
"Ella." gumam Vino dengan pelan.
"Ada apa dengan Andra, kenapa dia menatap fotonya bersama Ella hingga terpaku seperti itu." batin Vino didalam hatinya.
"Andra!" teriak Vino sambil menepuk bahu Andra.
"Hah...heh... Vino kamu mengagetkanku saja." ucap Andra dengan kaget.
"Salah sendiri melamun, mikirin apa?" tanya Vino sambil menaikkan satu alisnya.
"Tidak ada." jawab Andra singkat sambil menyimpan ponselnya.
"Tidak perlu mengelak Ndra, aku tahu foto siapa yang kamu lihat, dia juga kan yang sedang kamu fikirkan." kata Vino sambil memalingkan wajahnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Andra pura-pura tidak mengerti.
"Kamu memikirkan Ella kan." kata Vino dengan tegas.
"Tidak, aku hanya..." belum sempat Andra meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Vino sudah menyahutnya dengan cepat.
"Hanya apa, kamu jangan egois Ndra, jika kamu memang mencintai Ella, putuskan Nadhira, biarkan dia bahagia bersama yang lainnya. Jangan menyakitinya dengan cara seperti ini." kata Vino dengan suara yang sedikit tinggi.
"Apa maksud kamu, aku mencintai Nadhira Vin, sebentar lagi kita tunangan." jawab Andra sambil menatap Vino.
"Jika kamu memang mencintai Nadhira, kenapa kamu menatap foto Ella sampai terpaku seperti itu, apa kamu akan menjawab, jika itu hanya rindu?
Ingat ya Ndra, aku merelakan Nadhira bersama dengan kamu, karena aku berharap dia bisa bahagia. Aku tidak akan tinggal diam, jika kamu menyakitinya." kata Vino sambil menunjuk muka Andra.
"Merelakan, apa maksud kamu Vin?" tanya Andra sambil mengernyitkan keningnya, apa maksud perkataan Vino?
"Kamu tidak bodoh Ndra, kamu pasti tahu apa maksudku." jawab Vino sambil melangkah menjauhi Andra, dan duduk di kursi.
"Mungkinkah Vino mencintai Nadhira?" ucap Andra dalam hatinya.
"Vin, apakah kamu mencintai Nadhira?" tanya Andra sambil melangkah mendekati Vino.
Vino menoleh, menatap Andra sambil tersenyum hambar.
__ADS_1
Bersambung........