Tentang Rasa

Tentang Rasa
Pingsan


__ADS_3

Satu bulan setelah pernikahan. Andra mengajak Suci untuk kembali ke London. Mereka akan menjalani kehidupannya di London, sambil mengurus bisnis yang ada di sana. Mereka tinggal di apartemen yang dulu ditinggali oleh Kairi. Suci menolak saat Andra berencana untuk membeli rumah. Menurut Suci apartemen ini sudah cukup luas, dan mewah untuk mereka tinggali bersama. Ada dua pelayan yang Andra pekerjakan untuk membantu mengurus keperluan mereka.


Mereka tiba di London sejak tiga hari yang lalu, dan hari ini sudah waktunya bagi Andra untuk kembali bekerja. Suci bangun terlebih dahulu. Ia menyeduhkan kopi hitam untuk Andra, dan membawanya ke dalam kamar.


"Ndra! Andra! Bangun Ndra!" panggil Suci sambil menggoyangkan tubuh Andra.


Andra menggeliat pelan, ia mengerjapkan matanya sambil menguap.


"Aku masih ngantuk sayang." ucap Andra dengan suara seraknya.


"Sudah jam tujuh Ndra, cepat bangun, katanya hari ini kamu kerja." kata Suci sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh Andra.


"Masih malas."


"Tidak boleh seperti itu, kasihan Rey, sudah kamu tinggal cukup lama, dia keteteran sendirian. Ayo bangun!" kata Suci.


"Aku ngantuk lho sayang, aku ingin tiduran, dan dipeluk sama kamu." ucap Andra sambil mengucek matanya. Dengan malas ia bangkit dari tidurnya.


"Sudah jadi suami, tidak boleh malas. Aku tidak mau kelaparan!" kata Suci sambil melipat selimutnya.


"Walaupun aku tidak bekerja selamanya, kita tidak akan kelaparan." sahut Andra.


"Sombong, itu harta Papa, bukan harta kamu." kata Suci sambil melangkah menuju meja rias.


"Sama saja."


"Tidak!"


Andra masih duduk sambil memeluk guling, menatap Suci yang sedang menguncir rambutnya. Tak lama kemudian Suci menoleh, ia menghela nafas panjang saat menatap Andra masih bermalas-malasan.


Suci melangkah mendekati ranjang, dan duduk di depan Andra. Tanpa banyak kata, Suci mengalungkan tangannya di leher Andra, dan mencium bibir lelaki itu sekilas. Andra sedikit tersentak, ia berusaha meraih pinggang Suci, namun wanita itu malah beranjak dari duduknya.


"Sayang, kenapa kamu pergi?" tanya Andra sambil ikut berdiri. Ia melangkah mendekati Suci yang sedang menyibak tirai kamarnya.


"Cepat mandi Ndra!" kata Suci.


"Tapi yang tadi kau lakukan, apa maksudnya?" tanya Andra.


"Mencium suami sendiri, masih kau tanyakan maksudnya apa."


"Bukan seperti itu, kau menciumku lalu meninggalkan aku, apa maksudnya?"


"Aku hanya ingin membangunkanmu." ucap Suci dengan santainya.


"Itu bukan cara tepat." sahut Andra dengan cepat.


"Sangat tepat Ndra, buktinya kau langsung turun dari ranjang." jawab Suci sambil tersenyum lebar.


"Tapi bukan hanya mataku yang bangun, tapi juga..." Andra menggantungkan kalimatnya. Ia melangkah mendekati Suci yang merapat di dinding. Andra menatap Suci lekat-lekat, sambil tersenyum miring.


"Kau harus bertanggungjawab sayang." ucap Andra sambil merengkuh pinggang Suci, dan membawanya kedalam pelukannya.


"Cepat mandi Ndra ini sudah siang!" kata Suci. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, namun perlakuan Andra selalu saja membuat jantungnya berdetak cepat.

__ADS_1


"Aku menginginkannya." ucap Andra sambil mendekatkan wajahnya.


Suci berusaha menghindar saat nafas Andra mulai menghangat di wajahnya. Meski sekarang Andra sudah berubah menjadi lelaki yang dewasa, dan berkepribadian baik. Namun satu hal itu masih tidak berubah darinya. Masih tetap seperti dahulu, tidak ada bosan-bosannya.


"Aku lelah Ndra." ucap Suci dengan pelan. Ia tidak berbohong, saat ini tubuhnya memang terasa sangat lelah.


"Kamu serius?"


"Iya, nanti malam saja ya." jawab Suci.


"Maafkan aku ya, seharusnya aku tidak berlebihan." ucap Andra sambil memeluk Suci, dan mengusap rambutnya dengan lembut.


"Tidak perlu meminta maaf, kau tidak berlebihan Ndra. Tapi entah kenapa dua hari ini badanku rasanya kurang nyaman, sering lelah, dan sering mengantuk." jawab Suci.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Sayang, perlukah kita ke dokter?" tanya Andra dengan panik. Ia melepaskan pelukannya, dan menatap Suci lekat-lekat.


"Tidak usah Ndra, hanya lelah saja. Mungkin ini hanya karena perjalanan dari Paris kemarin." jawab Suci sambil tersenyum.


"Tapi aku khawatir, kita ke dokter ya."


"Jangan berlebihan, aku tidak apa-apa. Sudah mandi sana, ini sudah sangat siang Ndra!" kata Suci.


"Baiklah, tapi jika sampai besok kau masih merasa lelah, kita ke dokter ya." ucap Andra.


"Iya." jawab Suci sambil mengangguk.


Lalu Andra mencium kening Suci sekilas, dan kemudian ia melangkah menuju ke kamar mandi. Sedangkan Suci, ia menyiapkan baju ganti untuk Andra. Serta menyiapkan peralatan lain yang akan dibawa ke kantor.


"Ternyata semanis ini rasanya menikah." batin Andra sambil tersenyum.


"Kamu kenapa Ndra?" tanya Suci saat melihat Andra sedang menatap dirinya tanpa kedip, dan tersenyum sendiri.


"Aku sedang bersyukur." jawab Andra sambil mengancingkan kemejanya. Ia melangkah mendekati Suci, dan kemudian duduk di sebelahnya.


"Bersyukur?"


"Iya, menikah dengan kamu aku sangat bersyukur." ucap Andra.


"Gombal!" sindir Suci sambil memukul lengan Andra.


"Aku bicara serius sayang. Jujur sampai sekarang rasanya aku masih tidak percaya, kamu bisa menerima aku. Kau tahu kan bagaimana kelakuanku dulu, begitu banyak kesalahan yang aku perbuat, dan diantaranya sangat menyengsarakan kamu." kata Andra sambil menggenggam tangan Suci.


"Aku yang banyak kekurangan Ndra, bukan kamu." jawab Suci.


"Aku bahkan tidak bisa memberikan malam pertamaku padamu. Andai saja waktu masih diputar, aku tidak akan pernah melakukan hal itu sebelum menikah. Aku sangat menyesal!" ucap Andra sambil menunduk.


"Jangan menyesali hal yang telah lalu, masa depan kita masih panjang. Perbaiki saja masa sekarang, dan masa nanti. Jalan yang lurus terbuka untuk semua orang, bahkan mantan pendosa sekalipun. Kau mengerti maksudku kan?"


"Aku mengerti." jawab Andra sambil menghela nafas panjang.


"Jangan tenggelam pada kesalahan dimasa lalu. Jadikan semua itu sebagai pelajaran, agar kau tak mengulanginya dimasa depan." kata Suci.


"Iya, kau benar. Terima kasih untuk kehadiranmu Suci." ucap Andra sambil memeluk Suci dengan erat.

__ADS_1


"Cepat bersiap Ndra, kau hampir telat!" kata Suci dengan pelan.


Andra tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya, dan menyisir rambutnya. Gaya rambutnya masih tidak berubah, berdiri dan dibiarkan cinta langit. Mungkin memang itulah ciri khas dari seorang Andra Dwi Anggara.


"Baiklah aku berangkat sekarang ya, jaga diri baik-baik di rumah. Aku usahakan untuk pulang lebih awal." ucap Andra sambil mengusap puncak kepala Suci.


"Iya hati-hati."


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore waktu London. Andra baru saja keluar dari pusat perbelanjaan sambil menenteng dua kantong plastik yang berisi buah-buahan. Sore tadi Suci menelfon, dan memesan beberapa jenis buah untuk persediaan di rumah.


Andra tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya. Suci, wanita yang pernah hadir dimasa lalunya, yang kini menjadi istrinya, benar-benar berhasil mencuri hatinya.


"Aku tidak terlambat pulang, aku tidak membuat Suci menunggu." ucap Andra sambil melirik gelang jam yang melingkar di tangannya.


Lalu ia menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Sekitar setengah jam kemudian, mobil Andra sudah memasuki halaman apartemen. Ia memarkirkannya, dan kemudian melangkah menuju apartemennya.


Andra membuka pintunya dengan perlahan. Ia melenggang masuk, dan meletakkan belanjaannya di atas meja makan.


"Suci dimana Bik?" tanya Andra pada salah satu pelayan yang baru saja keluar dari ruangan dapur.


"Ada Tuan, Nyonya sedang berada di kamar." jawab pelayan itu.


"Oh begitu, terima kasih ya Bik." ucap Andra.


"Iya Tuan."


Lalu Andra melangkah menuju ke kamarnya. Ia membuka pintunya, dan tersenyum saat melihat Suci sedang duduk di dekat jendela.


"Sayang!" panggil Andra sambil melangkah mendekati Suci.


Namun tidak ada jawaban dari Suci. Wanita itu tetap duduk, tanpa menoleh sedikitpun kepada Andra.


Andra mendekatinya, dan menyentuh lengannya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Andra dengan sedikit panik, wajah istrinya terlihat sangat pucat.


"Aku lelah, kepalaku pusing, dan aku tidak bisa tidur." jawab Suci dengan pelan.


Andra menyentuh kening Suci, dan raut wajahnya terlihat semakin panik, saat menyadari suhu tubuh istrinya cukup tinggi.


"Kita ke dokter sekarang!" kata Andra sambil membantu Suci untuk berdiri.


Namun baru saja beberapa detik Suci berdiri, tiba-tiba tubuhnya ambruk di pelukan Andra. Suci tidak sadarkan diri, dan Andra sangat panik saat menyadari hal itu. Jantungnya berdegub kencang, dan keringat dinginnya mulai bercucuran.


"Suci! Suci! Sayang, bangun sayang! Sayang jawab aku sayang!" teriak Suci sambil mengguncang tubuh Suci yang lemas tak berdaya.


Tanpa banyak kata Andra langsung mengangkat tubuh Suci, dan membawanya keluar kamar. Ia menggendong tubuh istrinya ke dalam mobil. Andra melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Fikirannya mulai kacau, ia sangat takut, jika terjadi apa-apa dengan istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2