
"Vin, jawab pertanyaan aku!" kata Andra sambil mengguncang bahu Vino.
"Cinta tidak harus memiliki Ndra, yang dia cintai kamu, bukan aku." ucap Vino sedikit tidak nyambung dengan pertanyaan yang Andra lontarkan.
Namun jawaban itu sudah cukup membuat Andra paham. Sahabatnya ternyata menyimpan perasaan untuk kekasihnya.
"Sejak kapan kamu mencintainya?" tanya Andra sambil duduk disebelah Vino.
"Sudah lama, sejak kita masih sekolah dibangku SMA." jawab Vino.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang Vin, andai saja dari dulu aku tahu, aku tidak mungkin pacaran dengan dia." kata Andra sambil mengusap wajahnya.
"Sudahlah Ndra, lupakan saja. Aku juga bahagia, jika dia bahagia. Aku tahu yang dia cintai kamu, bukan aku. Saat ini aku sudah berusaha untuk menghapus perasaanku padanya, aku mencoba untuk melupakan dia. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah sakiti dia, aku tidak rela, jika kamu membuatnya menangis." kata Vino sambil menatap Andra.
"Aku janji, aku akan membahagiakan dia. Aku tidak akan menyakitinya." jawab Andra dengan tegas.
"Aku pegang janji kamu Ndra." kata Vino.
"Maafin aku ya Vin." ucap Andra sambil menatap Vino.
"Aku tidak apa-apa. Tapi Ndra, bagaimana perasaanmu sama Ella?" tanya Vino.
"Dia hanya sahabatku Vin." jawab Andra.
"Ella hanya sahabatku, selamanya hanya sahabatku. Aku tidak boleh menyakiti Nadhira, aku tidak boleh mengecewakan Vino." batin Andra dalam hatinya.
"Aku harap apa yang kamu ucapkan itu memang kebenarannya Ndra. Aku hanya ingin Nadhira bahagia." kata Vino sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Vin, aku akan berusaha untuk membahagiakan Nadhira. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuknya." ucap Andra sambil membalas senyuman Vino.
"Kau memang sahabatku Ndra, semoga kamu, dan Nadhira selalu bahagia." kata Vino sambil memeluk Andra.
"Terima kasih Vin." jawab Andra sambil membalas pelukan Vino.
Sahabat sejati tidak akan pernah bertengkar hanya karena cinta. Seperti itulah hubungan Andra, dan Vino, mereka bersahabat sejak sekolah dibangku SMP.
Vino mengikhlaskan Nadhira bersanding dengan Andra, karena memang lelaki itu yang dicintai oleh Nadhira. Sedangkan dirinya, ia bisa menyembuhkan luka hatinya seorang diri. Vino teringat akan kata-kata Ella saat pesta kelulusan. Jika jodoh, Tuhan pasti akan memberikan jalan untuk bersama, jika tidak jodoh, Tuhan pasti akan menghadirkan penggantinya.
Vino mencoba untuk berfikir seperti Ella, mempercayakan semuanya pada takdir.
***
Sang surya mulai merangkak naik. Menyorotkan sinarnya yang mulai menghangat. Ella terduduk lesu di teras rumahnya. Sesekali ia melirik ponsel yang sedang digenggamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, namun orang yang ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sejak kepulangannya dari Paris, seminggu yang lalu, Kairi selalu menjemputnya untuk berangkat kerja bersama. Kairi tidak pernah mengijinkannya berangkat dengan menggunakan taxi.
Ella kembali berdecak kesal, ia menatap gang kecil didepan rumahnya, masih kosong, tidak ada Kairi di sana.
Ada apa dengan Kairi?
Satu pertanyaan yang sedari tadi mengganggu difikirannya. Biasanya Kairi datang menjemputnya lebih awal, karena dia akan mengajak Ella sarapan terlebih dahulu. Tapi kenapa dengan hari ini?
Sudah pukul sembilan lewat, Kairi belum juga muncul, ditelfon juga tidak bisa. Oh Tuhan semoga dia tetap baik-baik saja.
Ella beranjak dari duduknya, ia kembali melirik ponselnya, sudah jam setengah sepuluh, kemana Kairi?
Ella mencoba kembali untuk menghubunginya, namun tetap saja, nomor Kairi tidak aktif.
Ella mendengus kesal, lalu ia masuk kedalam rumahnya, bermaksud mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya.
Namun baru saja ia melangkah didepan pintu, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
"Gabriella..." panggil Kairi.
Ella menoleh dengan cepat, tampak di sana seorang lelaki tampan sedang tersenyum padanya. Mata birunya menatap Ella dengan lembut, ah syukurlah ternyata dia baik-baik saja, batin Ella kala itu.
"Kau darimana saja, tidak memberiku kabar sama sekali. Aku menunggumu sejak tadi, nomormu juga tidak bisa dihubungi, kau sengaja ya." gerutu Ella dengan kesal, sambil melangkah mendekati Kairi.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan aku baby?" goda Kairi sambil tersenyum manis.
"Tidak, aku tidak khawatir sama sekali." ucap Ella dengan kesal.
"Maafkan aku sayang, tadi pagi tiba-tiba Rey menelfonku. Dia memberitahuku jika ada rapat pagi ini, jadi aku belum sempat mengabarimu." ucap Kairi sambil menggenggam kedua tangan Ella.
"Seharusnya sempatkan dulu mengirim pesan padaku, kau tahu, aku sangat khawatir Kai." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Maafkan aku, Rey memberitahunya mendadak sayang, jadi tadi aku sangat buru-buru, dan itu saja hampir terlambat. Maafkan aku ya." ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella.
"Ya sudahlah, jangan minta maaf terus. Tapi usahakan untuk tidak mengulanginya ya." kata Ella sambil tersenyum.
"Iya, lain kali sesibuk apapun aku, aku akan berusaha untuk selalu mengabari kamu." kata Kairi.
"Ini sudah siang, aku tidak usah kerja ya." ucap Ella sambil menatap layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Kairi sambil mengernyit heran.
"Ini sudah sangat siang Kai, aku tidak enak dengan yang lainnya. Mereka sudah bekerja sejak tadi pagi." jawab Ella.
"Santai saja sayang, kamu sekertarisku, pekerjaan kalian berbeda, jadi untuk apa kamu merasa tidak enak." ucap Kairi.
"Justru karena aku sekertaris kamu Kai, aku jadi merasa tidak enak." kata Ella.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Kairi.
__ADS_1
"Aku tidak mau mereka menilaiku buruk. Jika aku berangkat kerja sesiang ini, mereka akan menganggapku seenaknya sendiri. Semua orang di kantor tahu, kita selalu pulang bersama Kai. Aku tidak mau mereka menilaiku sebagai penggoda." kata Ella menjelaskan maksudnya.
"Hahaha...kenapa kau bisa menganggapnya seperti itu sayang?" tanya Kairi sambil tertawa keras.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Ella balik bertanya, ia menatap Kairi sambil mendengus kesal. Tidak ada yang lucu, kenapa dia malah tertawa keras.
"Semua orang di kantor tahu sayang, kalau kamu itu kekasihku, calon istriku." kata Kairi menatap Ella.
"Hah!!" teriak Ella dengan kaget.
"Kenapa kaget?" tanya Kairi.
"Mereka tahu dari mana?" Ella balik bertanya.
"Tentu saja dari aku." jawab Kairi dengan santainya.
"Kapan?" tanya Ella.
"Sejak pertama kali kamu kerja, sekarang kamu tahu kan, kenapa orang di kantor menghormatimu, dan tidak pernah berbicara buruk tentang kamu." kata Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Jadi bahasa Perancis waktu itu..." ucap Ella sambil melotot.
"Iya, aku mengenalkan kamu sebagai calon istriku." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Kamu menyebalkan Kai." teriak Ella sambil memukul dada Kairi dengan kedua tangannya.
"Kenapa menyebalkan?" tanya Kairi sambil menangkap tangan Ella, dan menggenggamnya dengan erat.
"Waktu itu kita tidak ada hubungan apa-apa." jawab Ella.
"Tapi akhirnya kita punya hubungan kan, akhirnya kau juga menjadi calon istriku kan." ucap Kairi sambil mendekatkan wajahnya.
"Kau menyebalkan!" teriak Ella sambil mendorong tubuh Kairi.
"Yah baiklah, mungkin aku memang menyebalkan. Tapi baby, sekarang kita jadi ke kantor, atau tidak?" tanya Kairi sambil kembali mendekati Ella.
"Tidak." jawab Ella singkat.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu di sini." ucap Kairi sambil memainkan ujung rambut Ella.
"Apa maksud kamu?" tanya Ella sambil menoleh.
"Aku ingin selalu bersama kamu, jadi kalau kamu tidak mau ke kantor, ya aku yang kesini. Ideku cukup bagus kan sayang." kata Kairi sambil tersenyum jahil.
"Semakin hari kau semakin menyebalkan Kai." teriak Ella sambil melangkah menjauhi Kairi, ia berjalan menuju gang kecil didepan rumahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Kairi masih tetap berdiri didepan pintu.
"Selatan." jawab Ella singkat.
Kairi terkekeh melihat sikap Ella, lalu ia menutup pintu rumah itu, dan menguncinya. Kemudian ia melangkah menyusul kekasihnya.
Mereka berdua berjalan bersama menyusuri gang kecil itu.
Ella masih dengan muka yang ditekuk, hatinya masih kesal dengan sikap Kairi.
Tapi lain halnya dengan Kairi, ia berjalan disebelahnya Ella sambil tersenyum lebar, menggoda kekasihnya memanglah menyenangkan.
***
Pukul 11.30 waktu London.
Kairi beranjak dari kursi kerjanya, ia melangkah menghampiri Ella yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Tinggalkan dulu pekerjaannya sayang, kita makan dulu yuk!" kata Kairi sambil berdiri disebelah Ella.
"Tanggung Kai, tinggal sedikit, sebentar lagi ya." ucap Ella tanpa menoleh.
"Gabriella, makan!" kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella.
Ella menoleh memandang Kairi, ruapanya lelaki itu sudah menatapnya dengan tajam.
"Baiklah, tapi aku sedang malas keluar Kai, kita pesan saja ya, kita makan di sini." ucap Ella dengan pelan.
"Tidak masalah, asal tinggalkan dulu pekerjaan kamu." jawab Kairi.
"Iya." ucap Ella sambil beranjak dari duduknya.
Lalu mereka berdua duduk bersama di kursi yang berada disudut ruangan. Kairi menelfon seseorang, dan memesan makanan. Sedangkan Ella, ia menunggu sambil memainkan ponselnya.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Kairi saat melihat Ella memainkan ponselnya.
"Ngobrol dengan Callista, sudah lama kita tidak bertemu." jawab Ella sambil menunjukkan ponselnya.
"Teman kamu waktu kuliah itu ya?" tanya Kairi.
"Iya, katanya sebentar lagi dia mau menikah." jawab Ella sambil menatap Kairi.
"Sebentar lagi kamu juga akan menikah sayang." goda Kairi.
"Tidak, masih lama." jawab Ella singkat.
"Hei jangan lama-lama. Kamu suka menyiksaku ya." protes Kairi.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" tanya Ella dengan heran.
"Kamu fikir menahan diri untuk tidak menyentuhmu itu mudah." ucap Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Kairi, jangan sembarang kalau bicara." bentak Ella sambil menatap Kairi dengan tajam.
"Aku tidak sembarangan, itu fakta sayang. Kau tahu, sebenarnya aku ini sangat ingin me..." belum sempat Kairi meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Ella sudah menyahutnya dengan cepat.
"Diam!" bentak Ella sambil melotot.
"Untuk saat ini aku memang hanya bisa diam, tapi nanti setelah kita menikah, aku jamin kamu tidak akan bisa berjalan." ucap Kairi dengan santainya.
"Kairi diam!" teriak Ella sambil mencubit lengan Kairi dengan keras. Pipinya sudah memerah menahan malu.
"Kamu kebiasaan Gabriella." kata Kairi sambil mengusap lengannya.
"Manja." ucap Ella sambil mendengus kesal.
"Hanya dalam hitungan hari saja, kenapa Kairi bisa berubah jadi semesum ini ya." batin Ella sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Tidak ada." jawab Ella dengan singkat.
Lalu tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan. Ternyata dia adalah karyawan yang mengantarkan makananan mereka. Kairi menerimanya, dan meletakkannya diatas meja.
"Ayo kita makan sayang." ucap Kairi sambil kembali duduk didepan Ella.
"Iya." jawab Ella sambil mengangguk.
Kemudian mereka berdua mulai menyantap makanannya. Dua porsi Roast Meat, makanan khas Inggris yang menjadi menu favoritnya Kairi. Sedangkan Ella, mungkin makanan ini memang terasa nikmat di lidahnya. Tetapi ia lebih menyukai nasi putih hangat plus teluar dadar, menu legendaris yang sudah ada sejak ia masih ingusan.
Setelah satu porsi Roast meat yang ada dihadapannya habis tak tersisa, Ella meraih minumannya, segelas matcha latte dingin yang menyegarkan. Ella menengguknya hingga hampir tandas.
"Kau sudah Kai?" tanya Ella saat melihat Kairi sudah menghabiskan minumannya.
"Sudah, sangat kenyang." jawab Kairi sambil tersenyum. Ia mengambil tisu dihadapannya, dan mengelap mulutnya.
"Aku akan membereskannya." ucap Ella sambil kembali menengguk minumannya hingga tak tersisa.
Kemudian Ella beranjak dari duduknya, dan membuang bungkus makanannya kedalam tong sampah. Lalu Ella melangkah menuju kamar mandi.
Disaat Ella sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba telfon di meja Kairi berdering.
"Hello." sapa Kairi.
"I'am sorry Sir, there is someone insists on meeting you (maaf Tuan, ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Anda)" jawab karyawan yang sedang menelfonnya.
"Who (siapa)?" tanya Kairi.
"Miss Morgant." jawab karyawan itu.
"Angelina, untuk apa dia datang kesini." batin Kairi sambil menghela nafas panjang.
"All right, let him in (baiklah, izinkan dia masuk)" ucap Kairi.
"Yes Sir." jawab karyawan itu sambil menutup telfonnya.
Dan tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak di sana seorang wanita cantik sedang tersenyum padanya.
Angelina Morgant, wanita bermata biru, dan berambut coklat, wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya Kairi.
Kairi menatap Angelina, rambut coklatnya masih panjang, sama seperti dulu, dan penampilannya pun juga tidak berubah, tetap anggun, dan glamour.
"Hi Kairi." sapa Angelina sambil melangkah mendekati Kairi, kemudian ia duduk di kursi, didepan Kairi.
"How are you? long time no see you (bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu)" tanya Angelina sambil menatap Kairi.
"I'am fine (kabarku baik)" jawab Kairi singkat.
"You didn't ask how I was (kau tidak bertanya bagaimana kabarku)?" tanya Angelina.
"No (tidak)" jawab Kairi singkat.
"Why (kenapa)?" tanya Angelina.
"Because I see you're quite well (karena kulihat kau cukup baik)" jawab Kairi masih tanpa senyuman.
"But the truth is I'm not well Kai (tapi sebenarnya aku sedang tidak baik Kai)" ucap Angelina dengan nada yang manja. Ia menatap Kairi lekat-lekat, ahh bodoh sekali dia dulu, meninggalkan lelaki sebaik, dan setampan Kairi.
"Why (kenapa)?" tanya Kairi.
"I miss you (aku merindukan kamu)" jawab Angelina.
"What exactly do you want (apa sebenarnya yang kau inginkan)?" tanya Kairi.
"Not much, I just want us to get back to how we used to be (tidak banyak, aku hanya ingin kita kembali seperti dulu lagi)" kata Angelina sambil memegang tangan Kairi.
Satu kalimat yang berhasil membuat seseorang menunduk sedih, siapa lagi kalau bukan Ella. Saat ini dia sedang mengintip mereka dari balik dinding yang berada disebelah kamar mandi.
"Ternyata Angelina secantik itu, aku hanya ibarat butiran pasir, jika dibandingkan dengan dia. Sekarang dia datang, dan ingin kembali dengan Kairi. Apakah nanti Kairi akan meninggalkan aku?
Jika Angelina saja secantik itu, lalu bagaimana dengan cinta pertamanya. Kairi seperti sangat mencintainya, pasti dia jauh lebih sempurna. Kai, dengan keadaanku yang seperti, bisakah kamu tetap bertahan disisiku." batin Ella sambil menunduk, hatinya sedih, kepercayaan dirinya mulai memudar.
__ADS_1
Bersambung.......