Tentang Rasa

Tentang Rasa
Hanum


__ADS_3

Terbayang jelas wajah cantik Eva yang kelihatan lebih gemuk dari biasanya saat terakhir ia datang menjenguknya.


Ia teringat bagaimana kuatnya Eva bertahan demi melahirkan buah hatinya. Ia mengenang setiap kebersamaannya dengan Eva yang kemudian membuat pipinya kembali basah oleh air mata.


Bayi di gendong Kiran nampak tenang dan tidak rewel sama sekali.


"Kasihan kamu sayang, bahkan untuk ASI pertama dari ibu kamu belum sempat kamu sesap. Tapi tenang yah, Tante Kiran akan selalu ada buat kamu. Ibu kamu pasti senang melihat wajah mungil kamu. Lucu."


Kiran mengusap-usap pipi merah si kecil, masih menggantung sisa-sisa air mata di kedua matanya.


"Cu, Nenek menemukan ini di kamar Eva," ucap neneknya sembari memperlihatkan dua amplop di tangannya.


"Apa ini, Nek?"


"Nenek juga tidak tahu, tapi yang pasti itu benda milik Eva."


"Sepertinya ini surat, Nek," ujarnya lalu memperhatikan amplop itu. Di situ tertera namanya dan surat untuk kedua orang tua Eva.


"Ini surah buat aku Nek, yang satunya buat orang tua Eva," lanjutnya kemudian.


"Bacalah..." perintah neneknya.


Perlahan dibukanya amplop putih yang sudah di tangannya itu. Dalam amplop itu terdapat sebuah surat yang isinya kurang lebih seperti ini.


*To. Kiran...


Ki, maaf jika aku harus merepotkan kamu untuk sekian kalinya. Aku merasa bahwa aku hanya bisa sampai di sini. Aku ingin minta tolong sesuatu padamu untuk terakhir kalinya Ki. Aku mohon jagalah anakku untuk sementara paling tidak jika umurnya sudah sampai setahun. Lalu bawalah ia pulang kerumah ibu dan ayahku sebagai pengganti kepulanganku. Ki, aku. Aku sangat bersyukur pernah kenal sama kamu dan pernah merasakan menjadi sahabat kamu. Kamu adalah sahabat terbaikku dunia akhirat.


Sampaikan juga rasa hormat dan rasa terima kasihku pada Nenek yang sudah memberikan banyak pelajaran buat aku selama tinggal bersamanya. Kalian adalah keluarga kecilku di sini.


Aku sayang sama kalian ....


Aku nitip bayiku Ki, semoga ia sehat selalu ...


Aku pergi Ki ...


Salam, Eva*!


Bibirnya seketika bergetar, Kiran ingin berucap sesuatu namun terhenti di kerongkongannya. Ia hanya bisa menangis dan menangis, mendapati bahwa sepucuk surah itu adalah surah pamit Eva untuknya.


"Va...!" ucapnya sangat lirih.


Ia kembali memperhatikan amplop satunya lagi, itu untuk orang tuanya. Semoga saja kelak jika ia memenuhi permintaan Eva untuk membawa bayinya kerumah ibu bapaknya, mereka tidak keberatan untuk menerima kehadiran bayi itu. Dan semoga juga orang tua Eva bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada.




Selama seminggu ia berada di desa neneknya. lantas ia pamit kembali ke kota dengan membawa bayi Eva.



Rencananya ia akan pulang ke rumahnya dulu untuk menitipkan bayi ini kepada ibunya. Ia yakin ibunya sangat bisa membantu Kiran untuk merawat bayi mungil tersebut. Walau ia harus bertanggungjawab untuk menjelaskan semua itu pada kedua orang tua Kiran.



Setelah turun dari taksi, ia pun menggendong bayi itu masuk ke salah satu rumah yang terbilang megah. Itu adalah rumah orang tua Kiran.


__ADS_1


Dengan perasaan was-was dan takut, ia pun memberanikan diri untuk masuk dan menemui kedua orang tuanya.



Bel dibunyikan dan seseorang muncul dari balik pintu. Selama ini ia juga bersalah karena tidak menceritakan perihal ini kepada ibu bapaknya karena Eva tidak ingin ada banyak orang yang tahu tentang dirinya.



Orang yang muncul dari balik pintu itu adalah tak lain ibunya sendiri.



"Kiran..." ucap ibunya kaget.



"Bu....!" jawab Kiran.



"Apa-apaan ini nak, itu bayi dari mana?" tanya ibunya gelisah.



"Kiran boleh masuk dulu kan, Bu? tanyanya kemudian tanpa mejawab pertanyaan ibunya terlebih dahulu.



"Ayo, masuklah."




"Lantas apa maksudnya ini, Kiran? Kamu membuat ibu khawatir, tahu tidak."



"Maaf Bu, bukan maksud Kiran untuk seperti itu. Ibu dengarkan dulu penjelasan Kiran."



"Baiklah, ayo kamu jelasin ke ibu." tegas ibunya.



"Beberapa bulan yang lalu, ada teman Kiran yang sudah dikhianati oleh pacarnya. Ia hamil dan pacarnya tidak mau bertanggungjawab. Akhirnya karena ia putus asa dan berniat menggugurkan kandungannya, Kiran pun berusaha agar ia tak melakukan hal bodoh semacam itu. Kiran membawa dua jauh dari lingkungan kampus dan lingkungan tempat dimana ia tinggal. Kiran bawa dia ke desa Nenek. Bu, waktu iku aku sudah datang ke rumah nenek dan memberitahu semuanya, kemudian nenek tidak keberatan dan akhirnya menerima teman aku itu untuk tinggal sementara di sana, paling tidak sampai bayinya lahir. Namun sesaat setelah ia melahirkan bayi ini, ia pun meninggal, Bu..." cerita Kiran pada ibunya yang masih setengah percaya.



"Ibu bisa tanya nenek untuk kebenarannya," lanjutnya lagi.



"Lalu kenapa kamu bawa bayi ini kesini, Nak?" tanya ibunya.



"Aku pikir ibu bisa membantu Kiran untuk merawatnya. Sebab ibunya menitipkan bayi ini pada Kiran sampai usianya kira-kira setahun. Setelah itu, Kiran harus membawa bayi ini ke rumah neneknya seperti yang diperintahkan Eva temanku itu."

__ADS_1



"Kiran..."



"Ibu tidak keberatan, kan?"



"Ibu tidak keberatan sayang, kamu sudah melakukan hal yang terbaik buat teman kamu itu. Setidaknya ibu akan bantu kamu merawat bayi ini. Mari sini ibu bantu gendong."



Diserahkannya bayi itu ke tangan lembut ibunya. Ia sudah membayangkan hal ini sebelumnya, bahwa ibunya pasti akan setuju apalagi ia sangat senang pada anak-anak



"Nak, bayi ini cantik sekali. Sudah ada namanya?"



"Belum Bu, Kiran masih gak kepikiran."



"Gimana kalo ibu kasih nama Hanum. Hanum artinya kemuliaan."



"Itu juga sangat bagus, Bu..." jawab Kiran berbinar.



"Rencana kamu berikutnya apa, Ki?"



"Kiran rencananya pengen tinggal di sini dulu, walaupun harus bolak-balik kampus dan rumah yang jaraknya lumayan jauh."



"Ya sudah kalau begitu, ibu juga senang kamu bisa di sini, Nak."



"Terima kasih, Bu..."



"Sekarang kamu mandi dulu, biar ibu hang memberi susu pada bayi ini. Kelihatannya ia sudah lapar."



"Iya, Bu."



Aku melihat ketulusan di mata ibu, ketulusan seorang ibu. Aku sangat bersyukur karena telah menemukan orang yang tepat untuk sama-sama merawat Hanum. Setidaknya Eva bisa tersenyum sekarang.

__ADS_1


__ADS_2