
Dia mengungkung Netta dengan kedua tangannya yang memegang bibir wastafel.
" A..aku...tidak memandangmu!" jawab Netta gugup dengan pipi yang sudah seperti kepiting rebus.
Dia menundukkan kepalanya.
" Kenapa pipimu memerah?" tanya Max lagi, lalu mengangkat dagu Netta. Netta menggigit bibir bawahnya.
" Jangan melakukan itu!" kata Max.
" Me...melakukan..a...apa?" tanya Netta.
" Menggigit bibirmu seperti itu!" ucap Max kesal.
Netta segera melepaskan gigitannya dan membuka sedikit bibirnya. Shiittt! batin Max, dengan cepat dia mel...at bibir itu dengan lembut, Netta memejamkan kedua matanya dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Max. Mereka kembali saling ******* dengan lembut dan panas. Yang terdengar disana hanya kecapan-kecapan dari bibir mereka.
Max yang sudah 5 tahun tidak pernah tersentuh atau menyentuh wanita dengan cepat tanpa melepaskan ciumannya yang dalam dan panas. Dia membawa Netta dan membaringkan ke ranjang lalu merobek pakaian Netta hingga memperlihatkan **********. Hasrat yang sudah diubun-ubun tidak bisa dibendung lagi, dia merobek semua yang tersisa di tubuh waniyanya. Netta bukan lagi gadis 5 tahun yang lalu yang masih malu-malu di depan Max.
" Touch me, darling!" ucap Netta penuh hasrat.
Kali ini Max tidak menganggap Netta ****** seperti dulu. Dia sangat yakin apa yang diucapkan Netta memang benar-benar isi hatinya. Max mencium kembali bibir Netta yang terlihat bengkak, lalu diangkatnya kedua tangan Netta keatas kepala. Max mencium seluruh wajah Netta tanpa terlewat. Dia menj...t telinga dan menggigitnya, lalu dia men...m ketiak Netta dan menj.....tnya
" Ahhh!" ******* lolos dari bibir Netta. Ditinggalkannya beberapa kissmark di leher dan tulang selangka Netta. Max berpindah ke bahu mulus Netta, dia menggigit pelan bahu itu dengan sangat lembut.
" Maxxx!" desah Netta lagi.
" Kamu masih saja merawat tubuhmu, sayang!" ucap Max.
" Apa kamu nggak mau jika aku tidak seperti dulu?" tanya Netta.
" Aku akan selalu menginginkanmu bagaimanapun keadaan dirimu!" jawab Max sudah sangat serak.
" Tapi aku ingin kamu selalu mendapatkan yang terbaik dari diriku, sayang!" kata Netta lembut.
" Aku tahu! Aku mencintaimu Arnetta Greyson Moreno! Untuk selamanya sampai kapanpun!" ucap Max ditelinga Netta.
Max sudah tidak tahan lagi, dia menyatukan tubuhnya dengan wanita cantik itu. Netta mendesah dan mengerang nikmat.
" Akhhh, darling! Kamu masih seperti dulu!" kata Max sambil terus menggoyang tubuhnya.
" Ya, sayang! Aku hanya milikmu!" jawab Netta.
Setelah beberapa menit,
" Aku lelah, sayang!" kata Netta.
" Sekali lagi, sayang!" ucap Max yang belum juga lepas.
__ADS_1
Dia mengecup kening dan kembali ******* bibir dan d...a Netta. Netta kembali merasa tubuhnya terangsang, Max mempercepat gerakannya hingga tubuh Netta terlonjak akibat hentakan keras Max. Akhirnya Max menanamkan benihnya ke rahim Netta. Max merasa sangat bahagia bisa menyalurkan hasratnya kembali pada Netta. Max merebahkan tubuh polosnya disamping Netta yang merasa lelah akibat penyatuan lama mereka. Max meraih selimut yang terjatuh di bawah dan menutupkannya pada tubuh mereka.
" Thank you, darling! I love you so much!" bisik Max lembut tapi Netta sepertinya telah tertidur dengan lelap. Max yang memiringkan tubuhnya membiarkan Netta memakai lengannya sebagai bantal dan Netta merasa nyaman berada di dekapan Max.
Tok! Tok! Tok! Suara pintu diketuk dari luar, Max yang mendengar menebak jika itu pasti Murni. Dengan perlaham dia menggantikan tangannya dengan bantal untuk dipakai Netta tidur. Max memakai boxernya dengan dilapisi celana pendek selutut dan juga kaos oblong. Dia membuka sedikit pintu kamarnya dan terlihat Murni di depan pintu.
" Maaf, Tuan Muda! Makan malam sudah siap!" kata Marni.
" Bisakah Mbok Marni bawa ke sini?" tanya Max pelan, dia takut jika Netta akan bangun.
" Baik, Tuan Muda!" jawab Murni tersenyum.
" Apa ada yang aneh dengan wajah saya?" tanya Max yang melihat Murni tersenyum-senyum melihat dirinya.
" Nggak ada, Tuan! Tuan jadi kembali tampan! Xixixi!" kata Murni langsung berlalu pergi ke bawah.
Max hanya tersenyum, seburuk itukah dirinya dulu? batin Max. Ditutupnya kembali pintu kamarnya dan dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebenarnya aku masih sangat menginginkanmu, sayang! Tapi aku kasihan jika melihatmu kelelahan seperti itu! batin Max. Max membaringkan tubuhnya sejenak disisi Netta dan memandangi wajah wanita itu tanpa merasa bosan. Netta membuka matanya perlahan, dia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menguap.
" Selamat malam, sayang!" sapa Max.
" Malam, sayang!" jawab Netta belum sadar sepenuhnya.
" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Max lagi.
" Iy...dimana aku?" tanya Netta yang melihat kesekeliling ruangan.
" Kamu lupa?" tanya Max lagi.
" Apa kamu sudah ingat?" tanya Max menggoda.
Netta menarik selimutnya mencapai hidung, lalu menganggukkan kepalanya.
" Kamu sangat menggemaskan, sayang!" ucap Max lalu memeluk Netta dengan erat. Max mengecup puncak rambut wanita cantik itu dan juga keningnya
" Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Max.
" Tubuhku sedikit lelah!" jawab Netta.
" Maaf kalo begitu! Aku tidak akan melakukannya lagi!" kata Max pura-pura sedih.
" Eh, tidak seperti itu! Aku hanya...aku akan baik-baik saja!" jawab Netta gugup.
" Jadi kamu mau melakukannya lagi?" tanya Max cepat.
" Iya! Eh...tidak...eh...entahlah, Maxxx! Kau membuatku malu!" jawab Netta tersipu sambil memukul pelan dada pria penggoda itu.
" Ayo, mandilah! Aku sudah menyiapkan air hangat di bathup!" kata Max.
__ADS_1
Lalu Netta bangun dari ranjangnya dan memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.
" Apa kamu masih malu, sayang?" tanya Max menggoda.
" Dasar mesum!" kata Netta kesal.
Dia merasakan nyeri di selangkangannya, tanpa sengaja dia menggigit bibirnya.
" Apa yang aku katakan tentang bibirmu, sayang?" kata Max yang melihat Netta menggigit bibirnya.
" Tapi ini...sedikit sakit, Max!' jawab Netta meringis.
" Apa ini wanita yang dulu selalu menggodaku? Yang selalu memegang kendali?" sindir Max.
" Aku baru melakukannya lagi setelah 5 tahun, Max! Jadi aku belum biasa!" elak Netta.
" Hahaha! Ok, Ok, aku nggak akan bisa menang kalo melawan kamu, sayang!" kata Max menangkup wajah Netta yang sudah cemberut.
" Ayo, mandi!" kata Max yang kemudian mendekati Netta dan mengangkatnya ke kamar mandi.
" Aaaaa! Maxxx!" teriak Netta kaget.
Netta membulatkan matanya menatap wajah Max, pipinya memeeah karena malu.
" Aku bisa mandi sendiri!" kata Netta pelan.
" Aku tahu! Karena jika kamu memintaku, kamu akan lebih kesakitan!" bisik Max tersenyum, lalu mengecup bibir Netta dan keluar dari kamar mandi setelah meletakkan ke dalam bathube.
" Singaku telah kembali!" kata Netta ambigu.
Dia menyandarkan tubuhnya ke dalam bathup yang telah terisi ramuan dan air hangat. Ponsel Max bergetar, nama Ken tertera di layar. Deg! Jantung Max berdetak keras.
" Halo!"
" Max?"
" Ken?"
" Apa kabar?"
" Baik!"
" Apa Netta ada bersamamu?"
" Tidak!"
" Jika dia kesana tolong bilang putranya mencarinya!"
__ADS_1
" Iya!"
Ken mematikan panggilannya. Max merasa bersalah telah berbohong, tapi dia tidak mau jika mereka memisahkan dia dengan Netta. Sudah cukup penderitaannya selama ini, tapi bagaimana dengan anak Netta? Dia membutuhkan Netta. Apa anaknya bisa menerima dia sebagai ayah tirinya? Max ragu, karena selama ini dia belum pernah dekat dengan anak-anak.