Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kejahatan Angelina Dan Yura


__ADS_3

Pukul 12.00 waktu Paris.


Kairi menghembuskan nafas lega, sambil melangkah menuju parkiran. Sejak pagi tadi ia menghadiri rapat disalah satu perusahaan besar, yang sejak dulu sudah menjalin kerjasama dengan perusahaannya.


Sesampainya di parkiran, Kairi langsung masuk kedalam mobilnya, dan mulai melaju meninggalkan area kantor.


Kairi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil mencoba menghubungi Ella. Namun hingga beberapa kali panggilan, nomor Ella tetap tidak aktif.


"Kemana kamu sayang." ucap Kairi sambil menatap ponselnya. Lalu ia meletakkan ponselnya, dan menambah laju kecepatannya. Ia ingin segera sampai di rumahnya Ella.


Namun tak lama kemudian, saat sampai dibelokan, Kairi nyaris saja menabrak seorang wanita yang berlari menyebrangi jalan. Spontan Kairi langsung menghentikan mobilnya, hingga suara decitan rem terdengar cukup keras. Dengan cepat, Kairi turun dari mobilnya, dan menghampiri seorang wanita yang terjatuh didepan mobilnya.


"Are you okay (kau tidak apa-apa)?" tanya Kairi sambil mendekati wanita itu.


"I'm okay (aku tidak apa-apa)" jawab wanita itu sambil berdiri, dan mengusap lututnya.


"Angelina." ucap Kairi sambil mengernyit heran, ia tidak menyangka, jika wanita yang nyaris ditabraknya adalah Angelina.


Angelina langsung mendongak menatapnya, sepertinya ia juga tidak menduga akan bertemu Kairi dengan cara seperti ini.


"Kairi please help me (Kairi tolong bantu aku)" kata Angelina dengan raut wajah yang ketakutan.


"What happened (apa yang terjadi)?" tanya Kairi.


"I'm being chased by bad people, he teased me, he wanted to rap me Kai (aku dikejar orang jahat, dia menggodaku, dia ingin menyentuhku Kai)" jawab Angelina dengan cepat.


"Where did you meet him (kau bertemu dengannya dimana)?" tanya Kairi.


"Just now when I walked down the over there (tadi waktu aku berjalan di gang sebelah sana)" jawab Angelina sambil menunjuk gang kecil yang berada didepan mereka.


Kairi menoleh, melihat ke arah yang ditunjuk Angelina.


"Help me Kai (tolong aku Kai)" ucap Angelina.


"Come on in (masuklah)" kata Kairi sambil membuka pintu mobilnya.


"Thank you (terima kasih)" ucap Angelina sambil naik kedalam mobil.


Kemudian Kairi juga ikut naik kedalam mobil, ia menghidupkan mesinnya, dan mulai melajukan mobilnya. Angelina tidak mengucapkan kata sepatah pun, dia hanya diam sambil menunduk. Kairi juga tidak mengajaknya bicara, ia hanya sesekali meliriknya, wajahnya terlihat murung. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Hingga beberapa menit lamanya, mereka berdua masih diam, hanya hening yang menemani perjalanan mereka. Namun tak lama kemudian terdengar suara Angelina memecah keheningan.


"We'll turn left Kai (kita belok kiri Kai)" ucap Angelina sambil menunjuk perempatan didepan mereka.


"This is not the road to your house (ini bukan jalan menuju rumahmu)" kata Kairi sambil membelokkan mobilnya.


"Now I live in the apartment (sekarang aku tinggal di apartemen)" ucap Angelina.


"Oh." jawab Kairi.


Kemudian Kairi menambah kecepatan mobilnya, ia mengikuti arahannya Angelina. Dan tak lama kemudian, mereka sudah sampai di apartemen tempat tinggalnya Angelina.


"Thank you, come on in, I'll make you a drink (terima kasih, mari masuk, aku akan membuatkan minum untukmu)" ucap Angelina saat Kairi sudah menghentikan mobilnya.


"I'll go home (aku akan pulang)" jawab Kairi dengan singkat.


"You've helped me, just consider this a thank's from me (kau sudah menolongku, anggap saja ini ucapan terima kasih dariku)" kata Angelina sambil tersenyum.


"I can't, I have other business (aku tidak bisa, aku ada urusan lain)" jawab Kairi.


"I'am sorry Kairi, I promise I won't bother you again, just think of it as the last time I see you (maafkan aku Kairi, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, anggap saja ini terakhir kalinya aku menemuimu)" kata Angelina sambil menatap Kairi.


Kairi masih diam, ia belum menjawab ucapan Angelina.


"Come on (ayo)!" ajak Angelina.


"Okay." jawab Kairi sambil menghela nafas panjang. Tidak apalah mampir sebentar, jika setelah ini Angelina tidak akan mengganggunya lagi.


Kemudian mereka berdua turun dari mobil, berjalan menuju lift, dan turun di lantai 9, lalu mereka masuk di apartemen nomor 87.


"Have a seat (silakan duduk)" ucap Angelina saat mereka sudah tiba di ruang tamu.


Kairi mengangguk, dan kemudian duduk di sofa.

__ADS_1


Angelina melangkah menuju dapur, ia menyeduh secangkir teh untuk Kairi.


"From now on you will be mine, only I have the right over you (mulai saat ini kau akan menjadi milikku, hanya aku yang berhak atas dirimu)" batin Angelina sambil memasukkan sesuatu kedalam tehnya.


Lalu Angelina membawa secangkir teh itu ke ruang tamu, dan ia menyodorkannya kepada Kairi.


"Drink up (minumlah)!" kata Angelina sambil tersenyum.


"Thank you (terima kasih)" jawab Kairi sambil menerima tehnya. Kemudian ia menengguknya hingga tinggal setengah.


Kairi meletakkan cangkir tehnya diatas meja, ia beranjak dari duduknya, dan hendak pulang.


Namun saat berdiri, Kairi merasakan kepalanya sangat pusing, ia kembali duduk sambil memijit pelipisnya.


Akan tetapi rasa pusing itu kian menjadi, hingga akhirnya Kairi merasa gelap, dan tak ingat lagi dengan apa yang terjadi.


"Easier than I imagined (lebih mudah dari yang kubayangkan)" ucap Angelina sambil menatap Kairi yang sudah tidak berdaya.


***


Ella mengerjapkan matanya dengan pelan, saat merasakan tubuhnya kedinginan. Ia sedikit kebingungan kala kesulitan menggerakkan tangannya. Apa yang terjadi padanya?


Ia melihat baju, dan ujung rambutnya basah kuyup, mungkinkah ia kehujanan?


"Bangun!" bentak seorang wanita yang sedang berdiri dihadapannya.


Suaranya terdengar familiar di telinga Ella.


Ella mendongak menatap wanita itu, dan benar saja dugaannya, wanita itu adalah Yura. Ia sedang berdiri sambil memegang ember, raut wajahnya penuh dengan kebencian.


Ella mulai paham dengan situasinya, ia kesulitan menggerakkan tangannya, karena tangannya sedang diikat dengan kursi. Jantung Ella mulai berdetak cepat, apa yang akan dilakukan Yura padanya.


"Ternyata Kairi benar, MbakYura adalah orang jahat. Maafkan aku Kai, aku sudah mengabaikan pesan kamu, tapi aku mohon, tolonglah aku Kai." batin Ella dengan ketakutan.


"Kenapa Mbak Yura melakukan ini?" tanya Ella.


"Kenapa katamu, jangan bodoh Ella, jangan pura-pura polos, kamu sudah tahu jelas apa alasannya!" bentak Yura sambil melotot tajam.


"Apa karena Kak Dimas?" tanya Ella sambil menatap Yura.


"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Dimas, Mbak Yura jangan salah paham." kata Ella.


"Diam!!" bentak Yura.


"Tapi Mbak..." belum sempat Ella meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Yura menamparnya dengan keras.


Rasa panas mulai menjalar di pipinya.


"Aku tidak butuh penjelasan kamu, aku tidak peduli kau menganggap Dimas apa, tapi yang jelas Dimas selalu memikirkan kamu, dia selalu memprioritaskan kamu." kata Yura masih dengan nada tinggi.


Lalu Yura melangkah mendekati Ella.


"Dan asal kau tahu Ella, aku sangat muak setiap kali mendengar mertuaku membicarakan kamu, mereka selalu memuji kamu, seolah kamu adalah wanita terbaik diseluruh jagad raya. Kau sendiri yang membuatku melakukan ini Ella." ucap Yura sambil meraih dagu Ella, dan mendongakkannya.


"Aku tidak bermaksud begitu Mbak, aku tidak tahu jika mereka membicarakan aku." kata Ella.


"Diam! aku tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut kamu. Sekarang kamu tahu, kenapa aku sangat membencimu. Karena keadaan sangat tidak adil padaku, keadaan selalu memojokkan aku." bentak Yura.


"Aku tidak menyangka, jika selama ini Mbak Yura sangat membenciku, aku memang terlalu polos, aku menganggap semua orang baik, tanpa pernah mencurigainya sedikitpun." batin Ella dalam hatinya.


Yuru duduk di kursi, disebelah Ella. Ia mengangkat satu kakinya, dan melipat tangannya di dada.


"Dimas menyukaimu, Kairi juga menyukaimu. Sepertinya kau memang layak disukai banyak lelaki." kata Yura sambil menatap Ella.


"Apa maksud Mbak Yura?" tanya Ella, ia yakin Yura punya maksud buruk padanya.


"Nanti kau akan tahu. Kau dengar baik-baik Ella, tidak akan ada yang bisa menolongmu." ucap Yura sambil tersenyum licik.


"Ya Allah apa yang akan dilakukan Mbak Yura padaku, lindungilah hambaMu ya Allah, Ibu doakan keselamatan untuk anakmu." ucap Ella dalam hatinya.


Ella menunduk sedih, tubuhnya mulai menggigil kedinginan, bulir-bulir air masih menetes dari ujung rambutnya. Menyedihkan, satu kata yang tepat untuk dirinya saat ini.


Yura masih duduk di kursi, ia menatap Ella dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Tangannya mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dan senyumannya semakin mengembang, kala ia menatap sebuah foto yang baru saja dikirimkan padanya.


Yura beranjak dari duduknya, ia mendekati Ella dan menunjukkan foto dalam ponselnya.


"Apa kau mengenal lelaki ini Ella?" tanya Yura sambil tersenyum lebar.


"Kairi." batin Ella saat melihat foto yang ditunjukkan olehYura.


Hati Ella berdebar kala menatap fotonya Kairi. Lelaki itu tampak tidur dengan nyenyak sambil memeluk seorang wanita, yang tak lain adalah Angelina.


Hatinya mulai teriris sakit, namun ia mencoba berfikir dengan akal sehatnya, Kairi tidak mungkin sengaja melakukannya.


"Aku lebih mempercayai Kairi, daripada wanita jahat seperti mereka berdua." batin Ella dalam hatinya.


"Apa yang kau lakukan pada Kairi?" tanya Ella dengan nada yang sedikit tinggi.


"Aku tidak melakukan apapun padanya, kau lihat, dia sendiri yang memeluk wanita lain, mungkin dia sudah bosan padamu." kata Yura sambil menyimpan kembali ponselnya.


"Kau pasti menjebaknya!" teriak Ella.


"Sekarang kau tahu kan, sakitnya cemburu itu seperti apa." kata Yura sambil menaikkan alisnya.


"Jangan sakiti Kairi!" teriak Ella.


"Diam!!" bentak Yura sambil menampar Ella.


Ella kembali merasakan rasa panas yang menjalar di pipinya, namun kali ini rasa panas itu bercampur dengan rasa sakit, dan perih.


"Lebih baik kamu diam, dan jangan fikirkan dia, fikirkan saja diri kamu sendiri. Kamu tidak tahu kan, apa yang akan aku lakukan padamu." kata Yura sambil tertawa menyeringai.


"Apa maksudmu?" tanya Ella.


Jantungnya berdetak semakin cepat, ternyata Yura begitu kejam, ternyata Yura menyimpan dendam yang begitu besar.


Yura tidak menjawab pertanyaan Ella, ia malah melangkah menjauhinya, dan kembali duduk di kursinya. Dan beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang lelaki dengan tubuh kekar, dan tangan yang dipenuhi banyak tato datang menghampiri mereka.


Yura menyambut lelaki itu dengan tersenyum ramah, sedangkan Ella, dia menatap lelaki itu dengan tubuh yang gemetaran. Ia tahu, lelaki ini datang, tidak dengan maksud baik.


"Selamat datang Mike." sapa Yura sambil menyalami lelaki itu.


"Aku tidak terlambat kan." ucap lelaki yang bernama Mike itu.


"Tentu saja tidak." jawab Yura.


"Apakah dia, barang yang kau tawarkan padaku?" tanya Mike sambil melirik Ella.


"Iya." jawab Yura.


Percakapan singkat yang membuat tubuh Ella semakin bergetar ketakutan.


Mike berjalan mendekati Ella, ia meraih dagunya, dan memaksa Ella untuk mendongak. Mike menatap wajah Ella lekat-lekat.


Mata Ella mulai berkaca-kaca, untuk kedua kalinya ia berada dalam posisi seperti ini, dan pelakunya pun juga tetap sama, Yura. Jika dulu ada Kairi yang datang menolongnya, tapi entahlah untuk sekarang, Kairi sendiri sudah terperangkap dalam jebakan mereka. Ella hanya bisa berdoa, mengharap pertolongan dari Yang Maha Kuasa.


"Apakah dia masih perawan?" tanya Mike sambil menoleh menatap Yura.


"Dilihat dari sifatnya, seharusnya dia masih perawan. Tapi entahlah, akhir-akhir ini dia punya pasangan. Tapi Mike, kau punya cara kan untuk memastikan dia masih perawan atau tidak." kata Yura sambil tersenyum licik.


"Hahaha aku paham maksudmu. Sebelum dia melayani pelanggan, memang seharusnya dia melayaniku lebih dulu, itu kan gunanya bos." ucap Mike sambil tertawa.


"Kau menawar berapa?" tanya Yura sambil ikut tertawa.


"Barang yang bagus, aku pasti membelinya dengan harga yang fantastis. Aku pastikan kau tidak akan menyesal bekerjasama denganku." jawab Mike.


"Baiklah, aku percaya padamu." kata Yura.


Ella kembali menunduk, bulir bening mulai menetes membasahi pipinya yang lebam. Tidak, jangan biarkan semua ini terjadi Tuhan. Sekian lama dia menjaga kehormatannya, jangan sampai semuanya sia-sia, karena dirampas oleh pria bejat seperti dia.


"Lindungilah hambaMu ya Allah, selama ini aku selalu menjaga diriku, jangan biarkan semuanya sia-sia seperti ini. Selama ini aku tetap bersyukur meski hidup dalam kekurangan, jangan biarkan mereka memaksaku menjalani pekerjaan yang hina." batin Ella dengan air mata yang semakin berderai.


Mike mengangkat wajah Ella, ia mengusap pipinya dengan lembut. Ella berusaha memalingkan wajahnya, ia merasa jijik dengan jemari Mike yang menyentuh pipinya. Ella menggigit bibirnya, kala Mike mulai mendekatkan wajahnya. Ella tidak akan membiarkan Mike menyentuh bibirnya, walau hanya sedikit saja.


"Kairi saja tidak pernah melakukannya padaku, apalagi lelaki biadab seperti dia. Tidak, aku tidak akan membiarkannya, aku tidak sudi disentuh olehnya." batin Ella sambil menggigit bibirnya dengan kuat. Ia bersumpah tidak akan membuka bibirnya sedikit pun.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2