Tentang Rasa

Tentang Rasa
MEMBELA DIA


__ADS_3

" Ini adalah peringatan! Jika lo masih banyak bicara, peluru itu akan berpindah di kepala lo!" kata pria itu.


" Aku sudah bilang..."


" Diam!" teriak pria itu dan Netta bersamaan.


" Tap...!"


" Diam!" teriak mereka lagi.


Jantung Netta seperti mau lepas saat mendengar suara tembakan tadi. Nyawanya seakan melayang dari raganya membayangkan Max benar-benar meninggalkan dunia ini. Max terdiam karena teriakan Netta. Mendengar Netta masih mau menyebut namanya saja Max merasa sangat bahagia. Pria itu masih menodongkan pistolnya dengan keringat membasahi wajahnya.


" Apa dia istri lU?" tanya pria itu.


Max hanya diam saja, aku inginnya swperti itu! batin Max.


" Bukan!" jawab Max datar.


" Kekasih?" tanya pria itu lagi.


" Bukan!" jawab Max lagi dengan perasaan khawatir.


Pria itu sangat kesal dengan jawaban Max.


" Lu! Apa benar dia bukan suami lu?" tanya pria itu pada Netta.


Netta bergeming.


" Jawab! Atau lu pengen gue tembak kepala dia?" bentak pria itu.


" Jangan! Iya! Bukan! Dia bukan suami gue!" jawab Netta dengan wajah khawatir.


" Kekasih?" tanya pria itu.


" Bukan!" jawab Netta.


" Hah! Serius? Tapi kalian saling mengkhawatirkan satu sama lain. Gimana kalo gue melakukan ini pada dia?" ucap pria itu lalu menekan luka di kening Max dengan ujung pistolnya. Max bertahan merasakan sakit yang teramat sangat di keningnya yang sobek sambil memejamkan matanya. Luka itu semakin berdarah dan membesar.


" Akhhhhh!" akhirnya Max berteriak tidak tahan lagi.


Hati Netta terasa teriris-iris mendengar kesakitan Max. Max menatap Netta dengan mengedipkan matanya sebagai tanda Netta harus tega padanya. Pria itu menghentikan perbuatannya. Dia berpikir sejenak.


" Hmmm! Mungkin ini akan membuat lu berubah pikiran!" kata pria itu lalu menempelkan pistolnya di dahi kanan Max dan menarik pelatuk pistol dengan pelan.


Klik! Suara dari pistol itu membuat jantung Netta seperti meloncat keluar.


" Percuma saja! Gue sudah bilang sama lu kalo gue...!"


" Hentikan! Dia memang mantan kekasih gue!" jawab Netta cepat.


" Mantan kekasih? Sepertinya ada yang belum selesai!" kata pria itu tersenyum.


" Gue nggak pernah mencintai dia!" potong Max tiba-tiba.


" Tapi sepertinya dia nggak!" kata pria itu.


" Apa mau lu?" tanya Mike.


" Lu diam!" sahut pria itu.


" Gue akan lakukan apa mau lu!" kata Netta.


Bagaimanapun dia takut jika sesuatu benar-benar terjadi pada Max.

__ADS_1


" Netta?" ucap Max lirih, dia tersenyum dan tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini.


" Jangan senang dulu! Gue malakukan ini karena rasa kemanusiaan!" kata Netta dingin.


Max tidak perduli karena apapun itu, baginya sikap Netta saat ini sungguh diluar dugaannya.


" Ternyata kalian saling mencintai!" kata pria itu.


" Tidak sama sekali!" jawab Netta datar.


" Ok! Kalo gitu gue akan keluar dari sini tanpa ada yang menghalangi!" kata pria itu.


" Tapi polisi telah mengepung tempat ini!" kata Mike.


" Tapi dia akan membantu gue lolos dari sini!" kata pria itu menunjuk Netta.


" Tidak! Lu nggak boleh membawa dia! Lu bisa bawa gue!" kata Max khawatir.


" Lo nggak berhak bicara!" kata pria itu.


" Diem lu!" teriak Netta.


" Jangan Arnetta! Kamu memiliki keluarga!" kata Max lagi.


" Kemarilah, sayang!" kata pria itu.


" Tidak, Arnetta! Please! Biarkan dia menembakku!" kata Max.


" Diam!" teriak pria itu memukul lagi kepala Max hingga semakin berdarah dan terjatuh ke lantai.


" Diamlah bodoh! Apa lu ingin mati sia-sia?" kata Netta yang berjalan pelan mendekati pria itu.


" Aku tidak perduli! Aku tidak akan membiarkan bajingan ini menyakitimu!" kata Max lagi sambil mencoba berdiri.


" Akhhhhhh!" teriak Max kesakitan, dia merasa nyawanya seakan melayang keluar dari tubuhnya.


Mata Netta berkaca-kaca mendengar teriakan Max yang sangat keras dan terasa menderita.


" Maxxxx!" teriak Netta.


" Benar-benar menyebalkan!" kata pria itu melihat Max yang kesakitan.


Tanpa disadari oleh pria itu Netta meraih pisau yang dicabut oleh pria itu dari tangannya tadi dan dibuangnya dilantai. Secepat kilat Netta berlari dan mencoba menusuk pria itu, tapi pria itu tiba-tiba memutar kepalanya dan melihat Netta yang berlari kearahnya. Dorrrr! Suara tembakan kembali terdengar untuk yang kedua kalinya. Dengan cepat Mike dan polisi menyerobot masuk mendekati TKP. Dilihatnya pria itu terjatuh dengan dada berlumuran darah dan pisau penuh darah yang dipegang oleh Max.


" Saya yang menusuk dia!" kata Max dengan wajah pucat dan kesakitan.


" Anda kami tahan...!" kata seorang polisi lalu membawa Max.


Mike yang melihat kejadian itu bertanya-tanya dalam hati. Netta hanya diam saja saat Max dibawa oleh Polisi keluar kamar rawat Axon. Tiba-tiba terjadi kegaduhan diluar kamar, Mike dan Netta bergegas keluar dan mereka melihat Max terkapar tidak sadarkan diri.


" Ya, Tuhan! Maxxxx!" panggil Netta dengan mata berkaca-kaca.


" Maxxxx!" panggil Netta lagi sambil berjalan mendekati Max.


" Kami akan menanganinya, Nyonya!" kata polisi yang menahan Netta untuk mendekat.


" Tolong, Pak! Dia sedang sakit, tolong selamatkan dia!" kata Netta dengan tangis yang tak dapat dia bendung.


" Mike! Tolong Max!" kata Netta.


Mike menganggukkan kepalanya dan memeluk Netta sambil mengusap punggung wanita itu.


" Tenanglah! Dia akan baik-baik saja!" kata Mike.

__ADS_1


" Dia harus baik-baik aja, Mike! Dia harus tahu jika dia memiliki putra!" kata Netta.


" Iya! Dia pasti akan tahu!" kata Mike.


Untuk beberapa hari Max harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit karena penyakitnya. Bahkan Max harus dirawat di ruang ICCU selama seminggu, ruang ICU selama seminggu juga dan akhirnya Max dipindahkan ke ruang rawat biasa. Tok! Tok!


" Gimana keadaan kamu?" tanya Mike pagi itu yang datang ke kamar Max.


" Baik!" jawab Max yang telah seminggu keluar dari ruang ICU.


" Baguslah!" kata Mike.


" Terima kasih!" kata Max .


" Untuk?" tanya Mike pura-pura tidak tahu.


" Semua pertolongan anda!...Arnetta pasti bahagia bersama anda!" kata Max dengan lirih.


" Besok saya harap kamu bisa hadir di persidangan!" kata Mike.


" Iya!" jawab Max.


" Terima kasih karena telah mengambil tanggung jawab Tata!" kata Mike.


" Apa maksud anda?" tanya Max.


" Saya tahu yang membunuh bukan kamu, tapi Netta!" kata Mike.


" Saya harus melakukannya untuk menebus semua kesalahan saya!" kata Max.


" Baiklah! Saya harus pergi!" kata Mike.


Max menganggukkan kepalanya. Dia berharap Arnetta akan benar-benar bahagia.


Keesokan harinya, Max masih tertidur saat ada yang masuk.


" Bagaimana keadaannya?"


" Baik! Semua sudah aku lakukan sesuai permintaanmu!"


" Trima kasih! Kamu memang yang terbaik!"


" Sudah, melihatnya?"


" Sudah!"


" Kita pergi? Axon pasti menunggu kita!"


" Ya! Ayo!"


Max meneteskan airmata untuk yang kesekian kalinya. Hatinya masih saja terasa hancur mendengar percakapan itu. Apa yang aku pikirkan? Heh! Mana mungkin dia masih menyimpan peeasaan itu! Aku sebaiknya meninggalkan mereka setelah persidangan selesai! Batin Max dengan airmata menetes.


Persidangan berjalan dengan lancar, karena Mike adalah pengacara yang sangat hebat dan memiliki reputasi yang sangat baik di dunia hukum. Oleh karena itu kasus Max sangat mudah baginya untuk ditangani. Max tidak melihat Netta sama sekali selama dirinya di pengadilan, sekali lagi dia tersenyum kecut karena terlalu berharap sesuatu yang jelas-jelas adalah hal yang mustahil.


" Trima kasih atas semuanya, Tuan!" kata Max pada Mike saat sidang pembacaan keputusan yang membuat dirinya terbebas dari segala tuduhan.


" Sama-sama! Kamu telah menolong Tata, jadi aku harus membalas kebaikanmu!" kata Mike.


" Itu bukan sesuatu yang besar dibandingkan apa yang telah aku lakukan pada dia dulu!" kata Max sedih.


Mike hanya terdiam mendengar ucapan Max.


" Sampaikan salamku padanya dan sekali lagi aku meminta maaf pada istrimu!" kata Max sambil mengatur debaran dalam dadamya.

__ADS_1


__ADS_2