Tentang Rasa

Tentang Rasa
Selain memaafkan kamu tidak punya pilihan lain untuk mengadili seseorang


__ADS_3

Hujan turun sangat lebatnya hari ini, mulai dari pagi hingga waktu sudah menunjukkan jam siang. Hujan juga tidak reda. Kiran sedang gelisah di tempatnya, sebab ia ingin segera bisa pulang ke kost-annya.


Ia melirik kanan kiri sambil menghindar dari kejaran air hujan yang merembes masuk ke tempatnya berteduh. Ia berdesak-desakan dengan beberapa mahasiswa yang juga sedang berlindung dari hujan yang nampaknya akan berlangsung sangat lama.


Pandangannya segera tertumbuk pada seseorang yang juga berdiri tak jauh dari tempatnya. Kiran meringis, "Ia begitu dekat, namun dinding yang menjadi sekat di antara kita berdua terasa begitu tebal dan menyurutkan keberanianku untuk menembus dinding tersebut," gumamnya dalam hati.


Lagi-lagi ia melihat Rizal sedang berdiri tak jauh darinya. ia mengenakan kaos merah dengan jaket hijau di luarnya. Yah, dia sangat menyukai warna hijau, seingatnya demikian," "Itukan cewek yang membuatnya pergi dari aku?" Walau terkesan bodoh tapi ia ingin mengetahui hal itu.


Pertanyaannya tersebut terjawab seketika setelah cewek itu bergelayut menggandeng tangannya dengan tenang. Cewek itu merebahkan kepalanya dengan manja di bahunya. Sedangkan dia berusaha menahan getir yang tiba-tiba saja dirasakannya.


"Terjawab sudah," gumamnya kecil.


Dilihatnya lagi Rizal dengan pasangannya itu, nampak sangat akrab dan Rizal menyambut pembicaraan yang dilayangkan perempuan itu berupa senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


Senyum itulah yang dulunya selalu akrab ia nikmati ketika ia masih menikmati secangkir kebersamaan dengan Rizal. Sekarang semua itu hanya berbentuk kenangan yang tak lagi bisa utuh menjadi nyata lagi.


Setelah dirasanya hujan sudah mulai mereda dan hanya berupa gerimis, ditinggalkannya tempat ia berteduh lalu melangkah pergi dengan sekeping hati yang perlahan nyeri.


Setibanya di kamar kost, ia sendiri tak tahu harus berbuat apa-apa. Padahal sebelumnya ia sangat antusias agar bisa cepat sampai kost-annya. Ia kembali lemas dan tak berdaya. Rebah, lalu melelapkan pikirannya di antara bantal-bantal kesepiannya.


Seseorang mengetuk pintu kamar Kiran.


"Ki, kamu ada di dalam gak?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah teman satu kost-annya.


"Iya, ada apa?" jawab Kiran sekenanya.


"Ini aku Feby, Kim Ada yang cari kamu tuh."


"Siapa?"


"Aku juga gak tahu, mendingan kamu keluar dulu deh."


"Iyah suruh tunggu sebentar."


"Oke."


Meski masih heran kenapa tiba-tiba ada tamu untuknya sore-sore begini, ia pun bergegas merapihkan dirinya dan segera beranjak keluar.


Dari jauh Kiran masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Orang yang kini duduk di ruang tamu rumah kost-nya adalah Radit. Masih ingat Radit? Yah Radit mantannya Eva yang membuat Eva harus menderita dan melahirkan bayinya tanpa suami baginya dan tanpa ayah untuk anaknya.

__ADS_1


Kiran melangkah dengan cepat dan alangkah terkejutnya dia, ternyata orang yang kini duduk di hadapannya adalah benar Radit.


"Sore Ki, maaf aku sudah mengganggu istirahat kamu sore-sore begini," sapanya sehati-hati mungkin.


"Ngapain kamu ke sini?"


"Aku... aku ingin menanyakan beberapa hal padamu."


"Tantang?'


"Tentang Eva."


"Eva? Sudahlah Dit, itu semua kan sudah berlalu," tegas Kiran.


"Tapi aku merasa bersalah, Ki."


"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Gak ada gunanya juga kamu di sini, Dit."


"Aku mohon Ki, kasih aku petunjuk untuk menemukan Eva."


"Tidak ada petunjuk buat kamu Dit, jadi pergilah."


"Apa-apaan sih kamu Dit, norak tahu nggak."


"Aku tidak akan bangun, bahkan akan mencium kaki jika itu yang bisa membuat kamu memberitahu aku petunjuk tentang Eva."


"Keras kepala ya. Di mana kamu selama ini, Dit? Di mana?" emosi Kiran tiba-tiba meledak.


"Please... aku mohon!'


Kiran bergeming, ia sama sekali tidak melihat wajah Radit sekali pun. Namun, di dalam hatinya tergores sedikit penasaran. Kenapa Radit sampai berlutut di kakinya? Apa ia benar-benar merasa bersalah? Haruskah ia memberikan petunjuk seperti yang Radit mau?


"Ki..."


"Baiklah tunggu sebentar," Kiran akhirnya menyerah, ia meninggalkan Radit lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian Kiran muncul dengan secarik kertas bertuliskan sesuatu.


"Ini, cari Eva disini. Di alamat ini," tegasnya lagi ketika ia menyodorkan secarik kertas itu ke Radit.


"Ini alamat siapa, Ki?"

__ADS_1


"Gak usah banyak nanya, kamu cari saja Eva di sana."


"Kamu serius, Ki?"


"Aku gak pernah bercanda Dit, apalagi jika hal itu menyangkut Eva."


"Baiklah. Makasih ya, Ki."


"Sama-sama," jawabnya pendek dan dingin.


Sepeninggal Radit air mata Kiran tak bisa ia bendung lagi, ia ingat akan semua yang Eva rasakan selama ia mengandung bayi dari hasil persetubuhan dengan Radit. Ia bisa merasakan bagaimana hati Eva sangat sakit dan ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah pada takdir.


Kiran mengusap air matanya ketika Feby yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan antara dia dan Radit muncul dan duduk di sampingnya dan sedang menghiburnya.


"Ki, kok kamu nangis?"


"Tadi itu siapa? pacar kamu?"


"Bukan feb, dia itu mantan dari sahabatku Eva."


"Eva?"


"Iyah Eva. Tepatnya almarhumah Eva."


"Jadi... Eva sudah meninggal, Ki?" tanya Feby kaget


"Iyah Feb, kurang lebih sebulan yang lalu."


"Terus tadi kenapa kamu ngasih alamat ke dia dan bilang bahwa dia bisa mencari Eva di alamat itu?"


"Aku cuman ingin dia tahu bahwa Eva sebenarnya sudah tidak ada dan dia hsrus menerima kenyataan itu."


"Kamu yang sabar yah Ki, mudah-mudahan ini semua bisa berbuah baik."


"Makasih Feb."


"Sama-sama."


__ADS_1


__ADS_2