
"Gabriella...." panggil Kairi.
Ella menoleh menatap Kairi, ia belum bisa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa kamu tidak pernah punya kekasih ?" Kairi mengulangi pertanyaannya.
"Aku sibuk belajar. Aku mengenyam pendidikan dengan mengandalkan beasiswa, jadi aku harus mempertahankan prestasiku." jawab Ella. Yang dia katakan, tidak sepenuhnya kebohongan, karena dia memang harus berprestasi untuk mendapatkan beasiswa.
"Tidak ada alasan lain ?" tanya Kairi.
Ella menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu kamu tidak bohong, tapi aku merasa, kamu juga tidak sepenuhnya jujur Gabriella." kata Kairi sambil menatap Ella.
Ella merasakan detak jantungnya kembali tidak karuan. Tatapan mata biru itu rasanya membekukan tubuhnya, memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya.
Ahh mata biru, terkadang terlihat menyejukkan, tapi terkadang juga terlihat menakutkan.
"Kau sungguh ingin tahu apa alasannya ?" tanya Ella dengan suara pelan. Sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari lelaki itu.
"Ya, aku sangat ingin tahu." jawab Kairi dengan serius.
"Karena aku mencintai sahabatku." jawab Ella sambil melirik Kairi, ia ingin tahu bagaimana ekspresi lelaki itu.
"Lalu kenapa kalian tidak pacaran ?" tanya Kairi.
"Dia tidak mencintaiku." jawab Ella sambil menunduk. Ia ingat betul, bagaimana sakitnya mencintai Andra.
"Dia pernah menolakmu ?" tanya Kairi.
"Tidak." jawab Ella sambil menggeleng.
"Lalu darimana kau tahu tentang perasaannya ?" Kairi kembali bertanya.
"Buktinya dia memilih wanita lain." ucap Ella sambil tersenyum hambar.
"Dia tahu tentang perasaanmu ?" tanya Kairi. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini, ia harus tahu tentang masa lalu Ella sedetail mungkin.
"Tidak." jawab Ella singkat.
"Kenapa kamu tidak mengutarakan perasaanmu padanya ?" tanya Kairi.
"Aku seorang wanita Kai, rasanya kurang nyaman jika harus menyatakan cinta pada seorang lelaki. Aku mencoba untuk menjaga harga diriku." jawab Ella.
"Kamu memang luar biasa Gabriella. Kamu tahu, dulu bukan aku yang menyatakan cinta, tapi Angelina yang datang padaku, dan menyatakan cintanya, hingga akhirnya kita bisa menjalin hubungan. Kau adalah wanita pertama, yang membuatku menyatakan cinta Gabriella." kata Kairi sambil tersenyum manis.
Ella tertunduk malu, apa yang baru saja Kairi ucapkan, membuat hatinya seakan melayang bebas diangkasa, perasaannya benar benar bahagia.
"Berapa lama kamu memendam perasaanmu Gabriella ?" tanya Kairi.
"Tujuh tahun." jawab Ella.
"Apa ?. Itu waktu yang sangat lama Gabriella, pasti dia sosok lelaki yang sempurna, hingga bisa mendapatkan perasaan yang setulus itu, dari gadis sebaik kamu." kata Kairi, kepercayaan dirinya mulai memudar, ia takut jika Ella tidak mau menerima cintanya.
"Dia bukan lelaki sempurna, bahkan bisa dikatakan, jika kepribadiannya cukup buruk. Kau tahu, kenapa aku kuliah disini Kai, itu karena aku kecewa, saat tahu cara berpacarannya dia." jawab Ella.
__ADS_1
"Memangnya seperti apa cara berpacarannya ?" tanya Kairi.
"Dia lelaki playboy, entah sudah berapa banyak wanita yang pernah menjadi pacarnya. Dan setiap wanita yang dia pacari, semua sudah pernah ia tiduri." jawab Ella sambil menggigit bibirnya, ia teringat bagaimana ia menangis, dan meratapi luka dihatinya, saat Suci datang dan mengatakan hamil anaknya Andra.
"Kamu mencintai lelaki seperti itu Gabriella ?" tanya Kairi tidak percaya.
"Cinta datang dengan sendirinya Kai, kita tidak bisa memilih kemana hati kita akan berlabuh. Seperti juga kau, kenapa harus memilihku, padahal selain kepribadian, aku tidak punya kelebihan apa apa." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Tapi kepribadianmu sempurna, sedangkan dia, apa yang kau lihat darinya ?" tanya Kairi.
Ella menghela nafas panjang, ia tidak kaget mendengar ucapan Kairi. Vino, Dimas, dan juga Varrel, mereka semua merasa aneh dengan perasaan Ella. Kenapa harus mencintai lelaki seperti Andra ?
Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itulah kenyataannya, cintanya tumbuh begitu saja untuk Andra. Bahkan sampai harus mengeluarkan banyak air mata pun, nyatanya perasaan itu juga bertahan lama dihatinya.
"Dia selalu ada untukku. Sejak kita berteman dibangku SMP, dialah yang selalu membelaku, saat anak anak lain banyak yang menghinaku karena miskin. Sampai SMA pun dia juga selalu menjagaku, dan selalu memprioritaskan aku." jawab Ella.
"Kamu bilang, selama tujuh tahun kamu mencintainya, itu artinya saat kamu sudah disini pun, kamu masih mencintainya ?" tanya Kairi.
"Kau benar, tapi setelah setahun aku berada disini, aku kembali kecewa, saat tahu jika dia menjalin hubungan dengan teman baikku. Sejak saat itu aku berusaha melupakannya, dan menghapus perasaanku untuknya." jawab Ella menjelaskan.
"Jadi saat dipesta waktu itu, kau masih mencintainya ?" tanya Kairi.
"Saat itu aku sedang mencoba untuk melupakannya. Aku belajar membuka hati untuk seseorang yang mencintaiku. Aku belajar menerima kehadiran Varrel, lelaki yang bersamaku waktu itu, tapi dia kecewa, saat melihatmu memberiku kalung, dan dia menjauhiku sampai sekarang. Kau telah membuatnya patah hati Kai." ucap Ella sambil menyenggol lengan Kairi, dan tersenyum lebar.
"Kau menyesal ?" tanya Kairi menggoda Ella.
"Tidak, mungkin itu memang jalan yang diberikan oleh Tuhan, agar aku tidak memanfaatkan perasaan orang lain sebagai pelarian." jawab Ella sambil tetap tersenyum.
"Bagaimana jika suatu saat nanti, sahabatmu datang, dan menyatakan cintanya padamu ?
"Aku sudah memberinya kesempatan dua kali. Jika dia datang, aku tidak akan menerimanya. Saat aku sudah memilih untuk pergi, aku tidak akan pernah kembali." jawab Ella, yang langsung membuat Kairi tersenyum senang.
"Lalu bagaimana perasaanmu padaku ?" tanya Kairi, jantungnya berdetak cepat, menanti jawaban dari mulut Ella dengan harap harap cemas.
"Setelah kau tahu tentang perasaanku dimasa lalu, kau masih mencintaiku ?" Ella balik bertanya.
"Tentu saja, itu hanya masa lalu Gabriella. Yang terpenting adalah perasaanmu sekarang, dan juga nanti." ucap Kairi.
"Begitukah,"
"Ya."
"Jadi aku harus menjawabnya sekarang ?" tanya Ella menggoda Kairi.
"Gabriella cepat jawab." ucap Kairi pelan, namun cukup tegas.
"Bismillah, aku juga mencintaimu." kata Ella dengan pelan. Pipinya langsung memerah saat mengucapkan kalimat itu.
"Katakan sekali lagi, yang lebih keras." kata Kairi sambil tersenyum lebar.
"Jika aku mengulanginya, bisa jadi kalimatnya berubah." jawab Ella dengan tertawa.
"Ternyata kau bisa menggodaku Gabriella." kata Kairi sambil menarik tubuh Ella kedalam pelukannya. Ia memeluk gadis pujaannya itu dengan sangat erat.
"Kai, aku tidak bisa bernafas." ucap Ella sambil mencoba melepaskan diri.
__ADS_1
Kairi mengecup kening Ella, sebelum ia melepaskan pelukannya. Sontak Ella langsung menutup wajahnya, ia benar benar malu, ini adalah pertama kalinya ada seorang lelaki yang mengecupnya dengan mesra.
Begini ya ternyata rasanya punya kekasih ?
"Sekarang pakai ini, jangan pernah dilepaskan. Aku akan segera meminta restu pada Ibumu, dan aku akan segera menghalalkanmu." ucap Kairi sambil memasangkan cincin dijari manisnya Ella.
Ella merasa hari ini, adalah hari yang paling bahagia sepanjang hidupnya. Dilamar oleh lelaki yang dicintainya, tepat dibawah Menara Eiffel, dengan sebuah cincin yang ia desain sendiri.
"Kai, bukankah ini cincin yang kudesain waktu itu ?" tanya Ella sambil menatap Kairi.
"Benar." jawab Kairi.
"Kau telah membohongiku, kau bilang itu untuk klien." protes Ella.
"Kliennya adalah aku sayang." jawab Kairi sambil mencubit pipi Ella.
Ella kembali merona, mendengar Kairi memanggilnya sayang.
Ahh senangnya punya kekasih, kenapa tidak dari dulu ya, Tuhan mengirimkan pasangan untuknya.
Tapi tunggu, ini ada yang aneh.
"Kai, cincin itu kan pesanan kamu. Jangan jangan rumah itu...." ucap Ella sambil menatap Kairi, dan yang ditatap hanya tersenyum nyengir.
"Dugaanmu benar, itu adalah tempat tinggalku. Rumah itu adalah peninggalan Kakek, sejak dulu belum pernah direnovasi, dan aku berencana merenovasinya sekarang. Itu sebabnya aku, dan Papa tinggal di apartemen." jawab Kairi.
"Lalu sebenarnya untuk apa kau mengajakku kesini, tidak ada urusan kerja kan ?" tanya Ella.
"Untuk melamarmu, aku tahu kamu suka dengan menara ini." jawab Kairi sambil tersenyum.
Ella mendengus kesal, dasar orang kaya, suka sekali menghamburkan uang. Pergi ke luar negeri hanya untuk melamar, kenapa tidak dilakukan di London saja, lebih hemat kan. Yang penting kan niatnya, bukan tempatnya.
"Aku memang suka, tapi bukan berati aku berharap dilamar ditempat ini Kai. Asal niat, dan perasaanmu tulus, dimanapun kamu melamarku, aku sudah bahagia." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Aku ingin membuatmu lebih bahagia. Dan aku juga ingin mengenalkanmu pada Papa." jawab Kairi.
"Kau akan mengenalkanku pada Tuan Louis." gumam Ella dengan gugup.
"Tentu saja, aku akan memberitahu Papa, bahwa aku sudah punya calon istri." kata Kairi.
"Aku belum siap Kai, aku takut." ucap Ella dengan pelan.
"Papaku bukan seorang pembunuh, kamu tidak usah takut." jawab Kairi sambil tersenyum.
Lalu belum sempat Ella menjawab, tiba tiba Kairi sudah menggendongnya.
"Ahh..... Kai... turunkan aku." teriak Ella ketakuatan, saat Kairi mengajaknya berputar putar. Reflek ia langsung mengalungkan tangannya dileher Kairi.
"Aku akan menunjukkan pada seluruh dunia, jika saat ini aku sedang bahagia. Seorang Gabriella Tamara telah menerima lamaranku. Jadi aku tidak perlu lagi, mengenalkanmu sebagai calon istriku dalam bahasa Perancis." kata Kairi dengan suara yang lantang. Ella bahagia melihat senyuman yang tulus dibibir Kairi, tapi ucapannya membuat Ella mengernyit heran.
"Apa maksud ucapanmu Kai ?" tanya Ella sambil menatap Kairi yang masih menggendongnya.
"Tidak ada." jawab Kairi sambil tersenyum miring.
Bersambung......
__ADS_1