
"Ella." gumam Dimas dengan pelan. Ia tak menyangka seseorang yang tinggal di rumah ini adalah Ella.
Raut kecewa terpancar jelas dari wajahnya.
Tak beda jauh dari Dimas, Ella juga tersentak kaget. Matanya melotot menatap Dimas dengan tajam.
Dari mana dia tahu tempat tinggalnya?
Dan untuk apa dia datang menemuinya?
Raut wajahnya seperti kecewa, dan tak percaya. Ada apa ini sebenarnya?
"Kak Dimas." gumam Ella pelan.
"Aku tak percaya bisa menemukan kamu disini Ella." ucap Dimas sambil menatap Ella dengan tajam.
"Maaf jika selama ini aku menghindari Kak Dimas, aku hanya tidak ingin Mbak Yura kembali salah paham." jawab Ella.
"Silakan masuk Kak." sambung Ella kemudian.
"Tidak usah." jawab Dimas singkat.
Ella menyadari ada yang aneh dengan Dimas. Dia tidak ramah seperti biasanya.
Ella masih diam, tidak tahu harus berbicara apa. Ia tidak mengerti dengan perubahan sikapnya Dimas.
"Kenapa kamu melakukan semua ini sama aku El, jika hanya karena uang, kamu bisa memintanya langsung padaku, tanpa harus menghianatiku." kata Dimas sambil menatap Ella. Nada suaranya sedikit bergetar.
Ella tersentak kaget mendengar perkataan Dimas. Apa maksudnya dia?, menghianati, penghianatan macam apa yang sedang Dimas bicarakan.
"Apa maksud kamu Kak?" tanya Ella dengan suara tertahan. Ia menyadari akan ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Kamu pasti mengerti dengan maksudku Ella. Menurutmu aku tidak tahu, jika tadi pagi Johan menemuimu." jawab Dimas sambil memalingkan wajahnya.
"Om Johan, kapan dia menemuiku Kak, bukankah dia dipenjara?" tanya Ella heran. Sebenarnya apa yang sudah terjadi. Ella benar benar bingung dibuatnya.
"Cukup Ella!" bentak Dimas.
Tubuh Ella bergetar, ini pertama kalinya Dimas membentaknya.
Tak terasa matanya mulai berkaca kaca.
"Aku tahu kamu yang membebaskan Johan, aku tahu kamu bekerja sama dengannya. Kamu pura-pura diculik, agar terbebas dari segala tuduhan. Jika yang kamu mau adalah uang, kamu minta saja Ella, tidak perlu menggunakan rencana licik seperti ini." Kata Dimas dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu Kak?, Om Johan memang menculikku, bahkan dia hampir....." jawab Ella, ia mulai menangis.
"Cukup Ella. Jika kamu memang diculik, bagaimana cara kamu melepaskan diri, bahkan sampai bisa menjebloskan dia ke penjara. Aku tidak sebodoh itu Ella." kata Dimas masih dengan nada tinggi.
Air mata Ella sudah berderai membasahi pipinya. Ia tak menyangka seperti ini pendapat Dimas tentangnya.
"Aku bisa bebas malam itu, karena..." jawab Ella hendak menjelaskan.
"Cukup, aku tidak butuh penjelasan kamu, karena semua itu adalah palsu. Aku fikir kamu berbeda dengan gadis lainnya, tapi ternyata tidak. Kamu sama saja, aku kecewa dengan kamu Ella, sangat kecewa." kata Dimas sambil menatap Ella dengan tajam.
Dada Ella terasa sesak karena perkataan Dimas.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Kak Dimas berpendapat demikian. Tapi satu hal yang harus Kak Dimas tahu, aku tidak pernah melakukan semua itu." jawab Ella disela sela tangisnya.
__ADS_1
"Aku sudah tahu kebenarannya Ella. Kamu mau jujur, atau tidak, aku juga tidak peduli. Selama ini kamu menghilang begitu saja, aku mencarimu kesana kemari, aku tidak tahu, jika itu memang kau sengaja. Tapi ya sudahlah, mungkin ini gantinya dimasa lalu." ucap Dimas.
"Cukup Kak, jangan bicara tentang masa lalu. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, aku tidak pernah menyalahkan Kak Dimas atas kejadian itu. Aku pergi, dan memblokir nomornya Kak Dimas, karena aku tidak ingin Mbak Yura kembali salah paham. Aku tidak menyangka penilaian Kak Dimas seperti itu terhadap aku." jawab Ella sambil melangkah masuk. Ia menutup pintunya, dan tak peduli dengan Dimas yang masih berdiri diluar sana.
Ella tak mampu lagi mendengarkan kata kata Dimas, sungguh menyakiti hatinya. Bisa bisanya Dimas menganggap dirinya bekerja sama dengan Johan, bahkan mengatakan jika pencukikan itu hanya pura-pura. Padahal ia nyaris kehilangan kesuciannya dimalam itu.
Ella duduk di kursi ruang tamunya, ia memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya disana. Ia menangis, meratapi nasibnya. Hancur sudah...
Hubungannya dengan Dimas tak bisa diperbaiki lagi, ia benar benar sendirian sekarang. Dinegeri orang, tanpa uang, tanpa teman. Malang nian jalan hidupnya.
Untung saja dia sudah mendapatkan pekerjaan, jika belum, pasti ia sudah sangat berputus asa.
Sementara itu, Dimas masih terpaku ditempatnya. Apa ia salah?
Tapi semua bukti menunjukkan, jika Ella memang menghianatinya.
Tapi melihat Ella menangis, jauh didalam hatinya, ia merasa ragu. Apa Ella memang tidak terlibat ya?
Saat Dimas masih berkecamuk denga fikirannya sendiri, tiba tiba ada seseorang yang datang menghampirinya.
"Soal bisnis kau memang cerdas, tapi soal mengurus keluarga, kau sangat bodoh Dimas Renaldi." ucap seseorang yang baru saja datang.
Dimas menoleh. Dan menatap tak percaya saat melihat siapa yang datang. Orang yang sangat dia segani.
"Tuan Da Vinci." gumam Dimas.
"Gabriella mengikuti Johan sampai ke pinggiran kota, hanya demi mencari bukti tentang kejahatannya. Dia melakukan semua itu demi kakaknya, bahkan sampai melupakan keselamatannya. Dan sekarang kakaknya malah menuduh dia sebagai penghianat. Heh ironis sekali." sindir Kairi sambil menatap Dimas dengan tajam.
Dimas tertegun, dari mana Kairi tahu?
Apa malam itu, dia yang sudah menolong Ella?
"Bukankah tadi kau sendiri yang bilang, jika kau tidak butuh penjelasan. Jadi untuk apa sekarang kau bertanya?" sindir Kairi sambil tersenyum miring.
"Saya minta maaf, saya tidak..." jawab Dimas.
"Untuk apa minta maaf padaku. Yang kau sakiti Gabriella, bukan aku.
Pulanglah, urus saja keluargamu dengan pecus, jangan lagi mengganggu Gabriella." kata Kairi menahan emosi.
"Tapi...." jawab Dimas dengan gugup.
"Pergi!" teriak Kairi.
Melihat Kairi yang mulai emosi, Dimas tidak lagi banyak bicara. Dia mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan rumah Ella.
"Rasa cemburu bisa merubah kepribadian seseorang. Aku harap kau mengerti dengan maksudku Tuan Renaldi." ucap Kairi sambil membuka pintu rumah Ella.
Dimas yang saat itu baru saja membuka pintu mobilnya, tertegun mendengar ucapan Kairi. Cemburu?, apa sebenarnya yang terjadi ?, apakah Kairi tahu sesuatu.
Lalu Dimas menoleh kebelakang, berharap mendapatkan penjelasan lebih. Namun terlambat, pintu rumah Ella sudah tertutup, Kairi sudah masuk.
Tidak Mungkin jika ia menyusulnya sekarang, waktunya kurang tepat.
Akhirnya dengan berat hati, Dimas memilih untuk pergi.
Kairi melangkah masuk, dan mendapati Ella sedang menangis di atas kursi. Gadis itu memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya. Hati Kairi bergetar, ia tahu betapa hancurnya perasaan Ella. Lalu Kairi mendekatinya, dan memeluknya.
__ADS_1
"Menangislah, jika itu bisa mengurangi bebanmu. Aku disini, aku akan selalu ada untuk kamu."
bisik Kairi sambil membelai rambut Ella, ia membiarkan gadis itu menangis di dadanya.
Tak sengaja mata Kairi menatap ke atas meja, ada sepiring nasi, sebungkus kerupuk udang, dan segelas air putih. Kairi menggeram dalam hatinya, betapa sulit jalan hidup Ella. Ia tidak bisa menunda lagi, ia harus segera membahagiakannya. Mana bisa ia tenang dalam kemewahan, sementara gadis yang dicintainya, berjuang ditengah kekurangan.
"Maaf aku terlambat, andai saja aku datang tepat waktu, kamu tidak akan mengalami semua ini. Maafkan aku Gabriella." bisik Kairi sambil mengeratkan pelukannya.
Ella mendongak, menatap Kairi yang sedang mendekapnya.
Ia berharap sikap lelaki ini tulus. Ia tak bisa lagi mengelak dengan perasaannya. Perhatian, dan kepedulian yang Kairi berikan, benar benar meluluhkan hatinya. Ia telah jatuh cinta.
"Terima kasih." ucap Ella disela sela isakannya.
Kairi tersenyum, sambil mengusap air mata Ella.
"Tersenyumlah, aku akan berusaha membuat kamu bahagia.'' ucapnya dengan lembut.
Hati Ella berdebar dengan keras, apa maksud ucapannya?
" Apa maksudmu Kai, jangan memberi aku harapan, jika tidak bisa memberikan kepastian. Aku pernah merasakan sakitnya mencintai, aku tidak ingin terluka untuk yang kedua kali." batin Ella dalam hatinya.
Lalu Ella melepaskan pelukan Kairi, ia mengusap usap sisa air matanya.
"Maaf." ucapnya pada Kairi.
"Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Aku mengotori bajumu." ucap Ella pelan. Memang benar, ia menangis sampai membasahi bajunya Kairi.
"Ini hanya basah, tidak kotor." kata Kairi.
Lalu ia menatap Ella, "Apa kamu keberatan, jika aku mengajakmu makan sekarang?" tanya Kairi.
Ella tersenyum kikuk. Matanya menatap sepiring nasi diatas meja, ahh rasanya malu sekali, Kairi tahu jika dirinya makan hanya dengan kerupuk.
"Apa kamu marah, jika aku menolak." jawab Ella. Semoga dengan menolaknya, lelaki itu segera pergi dari rumahnya. Ia sedikit risih, karena Kairi datang disaat ia sedang kacau. Lagi pula Ella merasa lelah, ia ingin segera tidur.
"Kalau begitu aku pesan saja. Kita makan bersama disini." ucap Kairi sambil merogoh ponselnya.
"Hah...." jawab Ella kaget. Kok malah pesan makanan, bukannya langsung pergi saja.
"Kenapa?" tanya Kairi.
"Kenapa kamu tidak pulang saja." gumam Ella.
Kairi tertawa, "Kamu mengusirku Gabriella." ucapnya.
"Tidak, bukan begitu." jawab Ella spontan. Waduh bagaimana kalau dia tersinggung.
Kairi menatap Ella lekat lekat, "Bolehkah aku mengaharapkanmu Gabriella?" tanya Kairi dengan sungguh sungguh.
Ella salah tingkah, ia tidak bisa menjawab. Hatinya berdebar semakin keras. Tatapan Kairi seakan membekukan tubuhnya.
"Maksud kamu?" tanya Ella sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
"Aku menginginkanmu Gabriella." jawab Kairi masih tetap menatap Ella.
__ADS_1
Bersambung.....