Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 32


__ADS_3

?"Pa, aku masih selalu khawatir tentang Rena," ucap Mama Ratna yang saat ini berada di ranjang.


Tio yang sudah mengganti bajunya langsung naik ke ranjang dan masuk kedalam selimut. Ia merengkuh pinggang ramping istrinya. "Khawatir kenapa lagi sih sayang?"


"Aku selalu merasa, Rena tuh ga benar-benar dalam keadaan baik Pa," kata mama Ratna yang memindahkan kepalanya ke lengan suaminya.


"Mama lupa atau mama mengabaikan apa yang dikatakan Rena?" tanya Papa Tio. 


"Bukan gitu Pa."


"Lalu apa? Rena juga anak papa, bukan berarti papa ga khawatir sayang. Tapi yang diinginkan Rena, kita percaya kalau dia baik-baik saja. Setidaknya dengan melihat kita bahagia itu mengurangi bebannya dan Rena bisa benar-benar kembali seperti Rena yang dulu," ucap papa Tio lirih.


Ratna terdiam, apa yang dikatakan suaminya itu benar. Tapi hati seorang ibu tetap saja tidak tenang ketika tahu anaknya dalam keterpurukan.


"Sudah jangan dipikirkan lagi," ucap papa Tio dengan tangannya yang sudah mulai membuka kancing baju istrinya. "Mending kita menjalankan ibadah."


Mama Ratna  baru menyadari kancing bajunya sudah terbuka. "Papa iiiih… apaan sih udah tua juga masih aja doyan."


"Umur boleh tua, stamina mah ga kalah sama umur 20 tahunan," ucap Papa Tio sambil mengangkat selimut untuk menutupi mereka berdua.


"Papa…." Mama Ratna memekik kaget dan terjadilah kegiatan panas dimalam yang dingin.


***


Udara malam memang dingin walau begitu tetap terasa segar ketika mandi. Lelah yang seharian di rasakan rasanya hilang seketika. Itulah yang Albian rasakan.


"Segarnya…" Albian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. 

__ADS_1


Albian melihat Adrian yang keluar dari kamarnya. Ia terlihat tergesa-gesa berjalan sambil memakai jaketnya. "Kamu mau kemana?"


"Ada Lili di bawah, aku harus menemuinya," sahut Adrian.


"Perlu ku temani?"


"Tidak perlu, hanya sebentar. Aku akan mengakhirinya." ucapnya sambil berlalu pergi.


"Semoga aja ga babak belur lagi," monolog Albian. Lalu ia masuk ke kamarnya untuk memakai baju lalu bersiap untuk tidur.


***


Ting…


Pintu lift terbuka, Adrian langsung berlari keluar dari lift. Ia keluar dari apartemen menuju taman yang letaknya tak jauh dari apartemen Albian.


Adrian berhenti tepat di depan Lili yang sedang duduk di bangku yang berada di taman itu. 


Adrian mendongakkan kepalanya. "Sorry nunggu lama ya?"


Bukan menjawab, Lili meraih lengan Adrian dan memintanya untuk duduk. Lili menyeka keringat Adrian yang ada di dahinya setelah Adrian duduk.


Adrian diam membiarkan apapun yang ingin dilakukan Lili. Ia memandangi wajah Adrian dengan seksama. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sangat berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Jangan begini Lili," kata Adrian lirih. Hatinya perih melihat air mata yang tergenang di mata Lili. Tapi dia tetap bertekad untuk mengakhirinya.


"Apa hubungan kita akan benar-benar berakhir?" tanya Lili yang sudah menjatuhkan air matanya di salah satu pipinya yang putih.

__ADS_1


Adrian menghapus airmata Lili dengan ibu jarinya. "Harus Lili, ini yang terbaik. Aku sudah ikhlas dan aku berharap kamu pun juga mengikhlaskanku. Berbahagialah dengannya. Aku yakin Papamu tidak akan salah memilih calon suami untukmu.


Air matanya bukannya berhenti, malah semakin deras. Lili semakin terisak. "Bagaimana aku bisa bahagia kalau aku ga cinta sama dia? Aku cintanya sama kamu hiks hiks…"


"Kamu pasti bahagia, percayalah."


Lili menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Aku mohon berhenti untuk mencariku dan menghubungiku." Rasanya tenggorokan Adrian tercekat mengatakan itu. Tapi dia harus mengatakannya, iya harus demi kebaikan semuanya.


"Kenapa kamu sejahat ini ke aku? Kenapa kamu ga mau perjuangin aku?" tanya Lili dengan suara yang menyayat hati Adrian.


"Ya… aku memang jahat. Aku ga pantas untuk kamu. Jadi aku mohon lupakan aku," ucap Adrian.


Lili memejamkan matanya, rasanya sesak sekali mendengar apa yang dikatakan Adrian.


Adrian memeluk Lili dan mengusap punggung. Tak lama Adrian melepaskan pelukannya dan mencium kening Lili. "Berjanjilah kamu harus bahagia."


Lili tidak menjawab apapun. Ia masih saja terisak dan terus memandangi wajah Adrian.


"Pulang lah ini sudah malam, aku pun harus pulang," ucap Adrian beranjak berdiri. "Maaf aku ga nganterin kamu."


Ketika Adrian baru melangkahkan kakinya. Lili berdiri dan meraih tangan Adrian. 


Adrian menoleh dan melihat tangannya yang di genggam Lili. Dengan perlahan Adrian melepaskan tautan genggam tangan Lili. "Kita sudah selesai. Pulanglah ini sudah malam."


Adrian kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi. Sakit, jelas sangat sakit hatinya. Membiarkan orang yang masih sangat dicintainya menangis karena dirinya. 

__ADS_1


Lili berjongkok dan semakin terisak. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan begitu sakit.


Cinta beda kasta nyatanya begitu sulit bersatu. Begitu juga dengan Adrian dan Lili. Jalannya begitu berat mereka hadapi. Restu yang sangat di nanti tak dapat mereka raih. Malah mendapat kenyataan kekasihnya sudah di jodohkan.


__ADS_2