Tentang Rasa

Tentang Rasa
Dia Kembali


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Ella sudah keluar dari rumah sakit, keadaan dirinya, dan bayinya sudah sehat. Hanya sedikit rasa nyeri yang masih tersisa di punggungnya. Bu Mirna, Pak Louis, Ariel, dan Garnis mereka sudah tiba di Paris, dan tinggal bersama di apartemen. Bu Mirna tak henti-hentinya membujuk Ella untuk tinggal di rumah besarnya, namun Ella tetap saja menolak. Meskipun di sini tempatnya lebih sempit, namun Ella sangat menyukai tempat ini.


Pagi ini Ella sedang duduk di ranjang kamarnya, sambil memangku bayinya yang masih tertidur. Bu Mirna, dan Bu Halimah, mereka juga ada di kamar, mereka sedang menata perlengkapan bayi ke dalam rak. Kemarin Andra kembali ke London, sejak orang tuanya datang ia pamit pergi untuk mengurus pekerjaan yang ada di sana.


Ella menatap wajah mungil anaknya, bulu matanya yang lentik, hidungnya mancung, dan bibirnya yang mungil, benar-benar sempurna. Ella membelai rambut anaknya, kecoklatan dan sedikit bergelombang. Ella tersenyum, semua yang ada pada Billa, benar-benar mirip dengan Kairi.


"Dia sudah lahir Kai, aku memberinya nama Salsabilla. Dia sangat cantik, sangat mirip denganmu. Tidakkah kau ingin melihatnya Kai." ucap Ella dalam hatinya.


"Dia masih tidur?" tanya Bu Mirna sambil duduk disebelah Ella.


"Iya Ma." jawab Ella sambil tersenyum.


"Biar Mama pangku, kamu pasti lelah." kata Bu Mirna sambil meraih Billa, dan membawanya kedalam pangkuannya.


"Ahh cantiknya cucu Oma." ucap Bu Mirna sambil mengusap pipi Billa dengan lembut.


"Iya Bu sangat menggemaskan." sahut Bu Halimah sambil duduk disebelah Ella.


"Andai saja Andra bisa seperti Kairi, sudah dari dulu aku menimang cucu. Billa akan menjadi cucu keduaku, aku akan memiliki cucu yang tampan, dan cantik. Ahh semua ini memang salahku, mungkin ini adalah karma dari perbuatanku dulu." ucap Bu Mirna dengan nada yang datar.


Ella, dan Bu Halimah saling memandang. Mereka tahu apa yang sedang dirasakan Bu Mirna. Semua ini pasti sangat berat baginya, kehilangan cucu yang belum sempat dilihatnya. Lalu kehilangan anak yang belum lama disayanginya.


"Mama yang sabar ya, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Kita berdoa saja, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluarga kita." kata Ella sambil merangkul Bu Mirna.


"Iya Bu, semua orang pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna, kita serahkan saja semuanya kepada Allah." sahut Bu Halimah.


"Iya Mbak, tapi terkadang kesalahan itu masih menghantuiku. Dulu aku terlalu bodoh, tidak bisa melihat sisi baiknya Mas Louis." ucap Bu Mirna sambil tersenyum hambar.


Belum sempat Ella, ataupun Bu Halimah menyahut ucapan Bu Mirna. Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, ternyata yang datang adalah Garnis.


Garnis tersenyum sambil melangkah menghampiri mereka.


"Selamat pagi baby Billa." ucap Garnis sambil membelai pipi Billa dengan pelan.


"Aku masih ngantuk Tante." jawab Bu Mirna sambil tersenyum.


"Bik Darmi sudah selesai menyiapkan sarapannya Tante. Om Louis sudah menunggu diluar. Kalian silakan sarapan, biar aku yang menjaga Billa." ucap Garnis sambil menatap Bu Mirna, dan juga Ibunya.


"Mbak Garnis silakan ikut sarapan, Billa biar sama aku." sahut Ella.


"Jangan El, mumpung dia masih tidur kamu cepat sarapan. Nanti kalau dia bangun, dan minta menyusu kamu sudah kenyang. Kalau kamu masih belum makan, asinya nanti tidak lancar." kata Garnis sambil menatap Ella.


"Garnis benar El, ayo ikut sarapan sekarang!" ajak Bu Mirna sambil menyerahkan Billa ke pangkuan Garnis.


"Mbak juga ayo sarapan!" kata Bu Mirna sambil menatap Bu Halimah.


"Iya, Nis tidak apa-apa kan Ibu tinggal dulu." ucap Bu Halimah.


"Tidak apa-apa Bu, silakan sarapan, tidak usah terburu-buru." jawab Garnis sambil tersenyum.


"Aku tinggal dulu ya Mbak." kata Ella sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, makan yang banyak El." jawab Garnis sambil tertawa.


Bu Halimah, Bu Mirna, dan Ella mereka melangkah keluar, meninggalkan Garnis sendirian didalam kamar. Garnis menatap wajah mungil yang berada dalam pangkuannya. Imut, lucu, dan menggemaskan. Namun wajah imutnya itu seakan mengiris hati Garnis. Wajah Billa sama persis dengan wajah Kairi, ahh Kairi entah dimana dia sekarang, masih ada atau sudah tiada.


"Tumbuhlah menjadi wanita yang kuat nak, sekuat Ibumu." ucap Garnis sambil membelai rambut Billa. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Billa kelak, ia tumbuh hanya ditemani seorang ibu. Dia pasti sangat sedih saat melihat anak lain seusianya ditemani sosok seorang ayah, sedangkan dirinya tidak.


"Aku tidak menyangka, kau akan mengalami hal sesulit ini El." kata Garnis sambil menyeka air matanya.


Nasib adiknya sangatlah buruk. Sewaktu kecil ia sudah kehilangan ayah, dan ia dituntut untuk belajar dengan keras demi mendapatkan besiswa prestasi, hingga ia tak pernah sempat bermain dengan teman-temannya. Saat duduk dibangku SMA, ia sudah mulai bekerja, mencari uang untuk biaya kuliahnya. Lulus SMA ia berjuang sendiri di London, keluarganya tak pernah tahu bagaimana sulitnya menjalani kehidupan di san. Dan sekarang, dia hamil dan melahirkan tanpa didampingi suami. Suaminya kecelakaan saat mereka masih menjadi pengantin baru.


"Ya Allah, Ella yang begitu baik, kenapa ujian hidupnya seberat ini." ucap Garnis sambil menunduk. Lagi-lagi air matanya mulai menetes, mengingat nasib adiknya, selalu saja membuatnya menangis.


***


Hari demi hari terus berganti. Waktu bergulir ibarat air yang mengalir, tak pernah berhenti walau hanya sedetik saja. Billa tumbuh menjadi bocah kecil yang sehat, dan ceria. Ella mengasuhnya ditemani oleh Ibunya, dan Andra.


Bu Mirna dan Pak Louis kembali ke Indonesia satu bulan setelah Ella melahirkan, begitu pula dengan Garnis dan juga Ariel. Hanya Bu Halimah yang tetap berada di Paris, beliau tidak tega meninggalkan Ella sendirian di sana. Sedangkan Andra, ia tetap mengurus bisnisnya di London, namun ia juga sering datang ke Paris untuk menjenguk keponakannya.


Bu Halimah sudah beberapa kali membujuk Ella untuk pulang ke Indonesia. Bukan karena apa-apa, tapi karena keluarganya lebih banyak di sana. Tinggal di sini, sebenarnya Bu Halimah juga sedikit sungkan. Beliau tidak bisa bekerja, dan menggantungkan kebutuhan hidupnya pada keluarganya Pak Louis. Meskipun Pak Louis, dan Bu Mirna tidak pernah mempermasalahkan hal itu, namun Bu Halimah merasa tidak enak sendiri. Beliau tidak ingin terlihat seperti orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain.


Sesungguhnya Ella mengerti apa yang dirasakan oleh Ibunya. Namun ia juga berat untuk meninggalkan tempat ini, satu hal yang membuatnya ingin tetap bertahan adalah Kairi. Ella masih berharap suatu saat nanti Kairi akan kembali ke apartemen ini. Mungkin orang lain akan menganggapnya bodoh, atau gila, tapi biarlah, cinta terkadang memang tak bisa diukur dengan logika.


Ella tidak sepenuhnya menolak ajakan Ibunya, namun ia menundanya. Ia meminta waktu satu tahun untuk tetap berada di Paris. Jika selama itu Kairi belum juga kembali, baiklah Ella akan pulang ke Indonesia. Ella akan mengubur semua harapannya.


Dan sekarang waktu itu telah tiba. Tidak terasa Ella sudah melewati waktu satu tahun sejak melahirkan. Billa sudah tumbuh menjadi bocah yang cantik, dan aktif. Ia sudah bisa berjalan, dan sudah belajar bicara. Billa sangat senang jika Andra datang menjenguknya, ia sangat betah berada dalam gendongan Andra.


Seperti halnya saat ini, Billa sedang duduk di pangkuan Andra sambil memainkan bonekanya, boneka beruang kecil berwarna coklat, boneka yang dibelikan oleh Andra. Hari ini Billa akan ulang tahun, itu sebabnya Andra datang lebih awal. Bu Halimah, dan Bik Darmi sedang sibuk di dapur membuat kue ulang tahun. Sedangkan Ella, ia duduk termenung didalam kamarnya.


Lalu tangannya meraih sebingkai foto yang tergeletak di atas ranjang. Foto pernikahannya dengan Kairi. Ella mengusapnya dengan pelan, air matanya terus menetes, membasahi foto yang sedang digenggamnya.


"Sudah enam bulas bulan kamu meninggalkan aku Kai. Anak kita sekarang sudah besar, dia sudah berjalan, dan sudah belajar bicara. Ibu mengajakku pulang, dan besok aku akan meninggalkan tempat ini. Benarkah kisah kita berakhir seperti ini Kai, tidak adakah harapan untuk kita bersama lagi Kai." ucap Ella sambil terisak.


"El!" panggil Andra yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya. Kebetulan kamarnya tadi memang tidak ditutup dengan rapat.


"Kamu menangis El?" tanya Andra sambil membaringkan Billa di ranjang. Sudah menjadi kebiasaannya, setelah cukup lama bermain Billa akan tertidur dipelukan Andra.


"El!" panggil Andra sambil memegang kedua bahu Ella. Ella masih tetap menunduk, ia masih tenggelam dalam tangisnya.


Andra melihat bingkai foto yang sedang digenggam Ella, foto pernikahan yang sekarang sudah basah karena air mata.


Andra menghela nafas panjang, ia duduk didepan Ella, sambil menggenggam tangannya.


"Jika kau berat untuk pulang, tetaplah di sini. Aku akan bicara dengan Budhe, nanti aku juga akan sering kesini, untuk menjenguk kamu dan Billa." ucap Andra sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Kenapa sampai sekarang Kairi belum kembali Ndra, aku membutuhkan dia." kata Ella dengan pelan, suaranya terdengar serak karena bercampur dengan tangisnya.


"Jangan seperti ini El, aku tahu kau membutuhkan Kairi. Tapi kau juga harus tahu, Billa membutuhkan kamu. Dia butuh sosok ibu yang kuat, dan tegar, bukan ibu yang rapuh seperti ini." ucap Andra sambil menggenggam tangan Ella dengan lebih erat.


Ella menoleh kesamping, menatap putri kecilnya yang sedang terlelap dalam tidurnya. Billa tidur sambil memeluk bonekanya dengan erat. Ella kembali menunduk, ia teringat masa kecilnya dulu, begitu pilunya saat ia kehilangan sosok seorang ayah. Dan Billa, bahkan sejak dalam kandungan ia sudah ditinggalkan ayahnya, kasihan sekali dia.


"Kau pasti bisa El, kau kuat, kau hebat, aku tahu itu." kata Andra sambil mengusap air mata Ella dengan kedua tangannya.


"Terima kasih Ndra, kau selalu mendukungku, dan kau selalu ada disaat aku sedang rapuh." ucap Ella sambil tersenyum.

__ADS_1


"Itu sudah seharusnya kulakukan El, itukan gunanya sahabat. Saling mendukung, dan saling menguatkan." jawab Andra sambil tersenyum.


Ella tersenyum lebih lebar, lalu ia menyeka air matanya dengan selimut tipis yang ada disebelahnya.


"Jangan menangis lagi, kau sudah menjadi seorang ibu, masa masih cengeng." ucap Andra sambil terkekeh, seraya tangannya mengacak rambut Ella. Seperti kebiasaannya waktu masih remaja dulu.


"Berantakan Ndra, kamu kebiasaan." gerutu Ella dengan kesal. Dan Andra hanya tertawa keras menanggapi ucapan Ella. Melihat Ella kesal itu lebih baik, daripada melihat Ella tenggelam dalam kesedihannya.


Selang beberapa detik, Billa menggeliat sambil buang angin. Andra dan Ella menoleh menatap gadis kecil itu, Billa kembali memejamkan matanya, dan kembali terlelap dalam tidurnya. Andra dan Ella tertawa bersama, tingkah anak kecil terkadang memang sangat lucu.


"Jangan-jangan kamu juga seperti itu El!" goda Andra.


"Jangan sembarangan, aku tidak pernah!" sahut Ella dengan cepat.


"Kamu malu mengakuinya!"


"Tidak Ndra, aku tidak pernah!" kata Ella sambil melotot tajam.


"Kalau marah berarti iya." goda Andra sambil beranjak dari duduknya, ia melangkah keluar kamar dengan tertawa keras.


"Andra!!" teriak Ella.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 sore waktu Paris. Ella, Billa, Bu Halimah, Andra, Bik Darmi, dan Bik Ida, mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka merayakan ulang tahun Billa yang pertama. Kue ulang tahun berbentuk hello kitty, juga beberapa makanan, dan minuman tersaji dengan rapi diatas meja. Billa terlihat menggemaskan dengan balutan gaun merah muda berenda, dengan hiasan bunga-bunga kecil di dadanya. Rambut pendeknya dihiasi bandana dengan warna yang senada. Sepatu warna putih berbentuk boneka tampak menghiasi kaki-kaki mungilnya.


Ella duduk di sofa sambil memangku Billa. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama-sama. Billa ikut tertawa melihat orang-orang disekelilingnya bernyanyi sambil bertepuk tangan. Andra berdiri didepan mereka, merekam videonya, dan mengirimkannya kepada Bu Mirna.


Setelah selesai menyanyi, mereka memotong kuenya, dan makan bersama-sama. Mereka seperti satu keluarga, tidak terlihat seperti pelayan, dan majikan.


Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah menghabiskan makanannya. Hanya tinggal kue ulang tahun yang masih tersisa separuh. Bik Darmi, Bik Ida, dan Bu Halimah, mereka membawa piring-piring kotornya ke dapur. Sedangkan Billa, ia digendong Andra, dan dibawa ke ruang tengah. Andra mengajaknya membuka kado yang ia beli dari London. Dan Ella, ia membersihkan ruang tamu. Ia menyapunya, dan juga mengelap mejanya yang penuh dengan bekas makanan.


Disaat Ella sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu apartemen dibuka dari luar. Ella tersentak kaget, siapa yang bisa membuka pintu apartemennya dengan begitu mudah. Pak Louis, dan Bu Mirna sedang ada di Indonesia, sedangkan Andra, dia sedang berada didalam. Mungkinkah itu orang jahat?


Ella menoleh dengan cepat, sambil menggenggam gagang sapu dengan erat. Kalau itu orang jahat, Ella akan langsung memukul kepalanya dengan gagang sapu. Namun alangkah terkejutnya ia saat matanya menatap sosok lelaki yang sedang duduk di atas kursi roda. Rambut coklatnya, mata birunya, sangat persis dengan seseorang yang sedang ia rindukan selama ini. Mungkinkah ini mimpi?


"Gabriella!" panggil lelaki itu.


Ella tersentak mendengar ucapan lelaki itu, ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata. Tanpa sadar Ella melepaskan gagang sapu yang sedang digenggamnya. Sapu itu jatuh, dan tergeletak di lantai. Ella berlari ke ambang pintu. Ia duduk berjongkok didepan lelaki itu, air matanya langsung terburai begitu saja.


"Benarkah ini kamu Kai?" tanya Ella sambil menggenggam tangan Kairi.


"Iya, ini aku." jawab Kairi sambil tersenyum.


Ella tak bisa lagi berkata-kata. Ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Kairi, dan menumpahkan tangisnya di sana. Enam belas bulan ia menanti lelaki ini, dan sekarang dia sudah kembali. Banyak hal yang ingin Ella ungkapkan pada Kairi, namun semua itu sulit untuk ia ucapkan lewat kata. Ella hanya bisa mengutarakannya lewat tangisan, serta genggaman erat di tangannya.


"Mas Kairi." panggil seorang wanita yang berdiri dibelakang Kairi.


Ella terpaku sejenak, mendengar suara itu ia langsung mendongak. Seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang. Satu tangannya memegangi kursi roda tempat Kairi duduk, dan tangan lainnya sedang menenteng tas kecil berwarna coklat. Ella menatapnya tanpa kedip.


Namun bukan tasnya yang membuat Ella terpaku, melainkan perutnya. Perut wanita itu tampak membuncit, sepertinya ia sedang hamil enam, atau tujuh bulan. Siapa dia, memanggil Kairi dengan sebutan Mas. Sedekat itukah hubungan mereka?


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2