
Sudah tiga hari Ella dirawat di rumah sakit, dan keadaannya sudah mulai membaik. Ia sudah dipindahkan ke kamar rawat, bukan lagi di ICU. Namun hanya Andra, dan Bik Darmi yang menemaninya. Kemarin Reymond datang ke Paris, ia mengunjungi Ella sekaligus mengantarkan ponsel Andra. Andra sudah berhasil menghubungi orang tuanya, namun ternyata Andra malah mendapatkan kabar buruk.
Pak Louis tahu jika Kairi berencana pergi ke Pulau Reunion, dan beliau tahu jika pesawat yang mambawa Kairi jatuh di Samudra Hindia. Kabar itu sangat mengejutkan, dan langsung membuat Pak Louis drop. Saat Andra menelfon, Pak Louis sedang dirawat di rumah sakit, ia berada di IGD. Bu Mirna menangis pilu kala itu, kesedihannya tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Suaminya drop, dan tidak sadarkan diri. Lalu Kairi, hingga saat ini masih belum ada kabar tentangnya. Entah dia selamat atau tidak, sampai saat ini statusnya masih dalam pencarian.
Tak beda jauh dengan Pak Louis, Bu Halimah juga mengalami hal yang sama. Beliau langsung pingsan, dan darah tingginya langsung kambuh saat mendengar kabar ini. Beliau kaget mendengar musibah yang menimpa Kairi, beliau juga sangat mengkhawatirkan kondisi Ella. Dan alhasil, hanya Andra yang bisa menemani Ella di sini.
Saat ini hari masih sangat pagi, bahkan fajar saja belum menyingsing. Andra duduk di kursi di samping Ella sambil memijit pelipisnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi tim penyelamat, namun belum ada kabar tentang Kairi. Dari 100 penumpang, masih ada 11 orang yang belum ditemukan, dan salah satunya adalah Kairi. Dan yang membuat Andra pesimis adalah, dari semua penumpang yang sudah ditemukan, tidak ada satupun yang selamat. Mereka semua sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Andra menghela nafas panjang. Selain kacau karena memikirkan Kairi, Andra juga sedikit kacau memikirkan Suci. Sejak kemarin ia mencoba menghubungi Suci, namun tidak ada hasil sama sekali. Nomor Suci selalu saja tidak aktif. Andra juga menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Suci di Indonesia, namun hasilnya sungguh diluar dugaan. Rumah Suci kosong sejak tiga bulan yang lalu, entah pindah kemana mereka, Suci tak pernah membahas hal ini dengannya. Andra mencoba menghubungi teman-temannya, untuk mencari tahu tentang Suci, namun hasilnya masih nihil. Suci menghilang bagai ditelan bumi, entah kemana dia, dan apa yang terjadi padanya.
Andra mengacak-acak rambutnya dengan kasar, disaat ia nyaris berhasil mencintai Suci. Kenapa malah ada kejadian seperti ini, Suci menghilang, sedangkan Kairi, entah bagaimana keadaannya sekarang. Kini hanyalah Andra yang menemani Ella, dan merawatnya. Ujian ini terlalu berat, Andra takut perasaannya yang dulu akan kembali datang mengisi hatinya.
"Ndra!" panggil Ella dengan pelan.
Andra mendongak, menatap Ella yang sudah terjaga dari tidurnya. Andra menyimpan kembali ponselnya, dan beranjak dari duduknya.
"Kamu sudah bangun El, mau minum, ada teh hangat, ada susu, kamu mau yang mana?" tanya Andra sambil menatap Ella.
Dan Ella menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau Ndra, aku ingin jalan-jalan." jawab Ella.
"Ini masih sangat pagi El, diluar masih gelap." kata Andra.
Ella menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Ia sudah sangat bosan terus berbaring seperti ini. Dan dengan bantuan Andra, Ella bangkit dari tidurnya. Ia duduk sambil menyandarkan punggungnya.
"Sudah ada kabar tentang Kairi?" tanya Ella sambil menatap Andra.
Andra diam sambil menunduk, pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab. Ella memejamkan matanya, mencoba menahan buliran bening yang sudah menggenang di matanya. Melihat Andra diam, Ella paham jika Kairi belum ditemukan.
"Kamu dimana Kai, kenapa kamu tega meninggalkan aku seperti ini. Kau harus kembali Kai, aku butuh kamu." batin Ella seraya tangannya mencengkeram selimutnya.
"El kamu yang sabar ya, jangan berfikir yang terlalu berat, itu tidak baik untuk kondisi kamu. Kamu adalah wanita yang tegar, aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Ingat, ada nyawa lain dalam diri kamu, yang harus kamu jaga. Kamu harus bisa, demi dia." kata Andra sambil menggenggam tangan Ella. Melihat Ella memejamkan mata, dan menggigit bibirnya, Andra tahu bahwa wanita itu sedang terluka.
"Aku butuh Kairi Ndra, kebersamaan kita masih sangat singkat. Tapi kenapa harus ada musibah seberat ini, aku tidak kuat Ndra." ucap Ella sambil terisak. Sakit, rasanya sangat sakit.
"Kamu harus kuat, kamu tidak boleh menyerah. Ada aku yang akan selalu menemani kamu, dan selalu mendukung kamu. El, percaya padaku, Kairi pasti baik-baik saja, dia pasti akan kembali." kata Andra sambil mengusap air mata Ella.
Meskipun dalam hati sebenarnya ia juga ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Ella kembali semangat. Jika ternyata hasilnya mengecewakan, biarlah itu menjadi urusan nanti. Yang penting sekarang Ella harus sembuh, Ella dan bayinya harus baik-baik saja.
"Oh ya El, tadi Dimas menelfonku." ucap Andra mengalihkan pembicaraan.
"Kak Dimas."
"Iya, katanya nanti sore dia akan kesini, menjenguk kamu." kata Andra sambil tersenyum.
__ADS_1
Ella tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil menautkan jari tangannya.
"Yang kuharapkan bukan Kak Dimas, tapi Kairi." batin Ella dalam hatinya.
"El, fajar sudah menyingsing. Apa kau mau jalan-jalan sekarang?" tanya Andra.
"Dengan jalan-jalan, mungkin kau akan sedikit terhibur El." batin Andra dalam hatinya.
"Iya." jawab Ella sambil mengangguk.
Andra membantu Ella turun dari ranjang, lalu Andra mengambilkan kursi roda, dan membantu Ella duduk di sana. Kursi roda yang sudah dilengkapi dengan penyangga infus, sehingga Andra tidak kerepotan membawanya. Dengan pelan Andra mulai mendorong kursinya, dan mengajak Ella keluar dari ruangan.
Andra mengajak Ella pergi ke taman rumah sakit. Menghirup aroma bunga yang semerbak mewangi. Menatap sang surya yang mulai menyemburatkan cahaya jingganya. Semilir angin pagi berhembus dengan perlahan, meriapkan rambut Ella yang sedikit berantakan. Andra duduk berjongkok di samping Ella, ia menyelipkan rambut Ella di belakang telinganya.
Ella memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Bayangan tentang Kairi kembali melintas dalam ingatannya. Biasanya Ella selalu menatap matahari terbit seperti ini lewat jendela kamarnya. Sambil menatap menara, dan juga menatap suaminya yang masih terlelap di ranjang. Atau terkadang jika Kairi sudah terjaga, mereka akan menatapnya bersama-sama. Kairi selalu memeluknya dari belakang, sambil membisikkan kata-kata manis yang membuat Ella merona.
Tapi, semua itu hanya kenangan. Kenangan yang masih terpatri erat dalam ingatan Ella. Sekarang, Kairi entah ada dimana, dan entah bagaimana keadaannya. Bukannya Ella pesimis, dan tidak percaya dengan kebesaran Tuhan. Namun mendapati kenyataan, bahwa tidak ada satu korbanpun yang selamat, Ella tidak berani berharap lebih. Ella takut harapan itu akan berakhir mengecewakan, dan membuatnya semakin terpuruk.
Ella menunduk, ia memetik daun bunga yang sudah mengering. Menggenggamnya dengan erat, dan menatapnya lekat-lekat. Andra masih berjongkok di samping Ella, ia menatap apapun yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Kairi benar Ndra, di dunia ini semua punya masanya sendiri-sendiri. Mereka akan pergi jika batas waktunya sudah tiba. Seperti daun ini, dia tumbuh, lalu menua, dan kemudian mengering. Hidup kita juga tidak beda jauh dengan daun itu. Masing-masing dari kita pasti akan mengalami yang namanya kematian." ucap Ella dengan mata yang berkaca-kaca. Andra belum menjawab, tenggorokannya seakan tercekat mendengar ucapan Ella. Hatinya teriris sakit, ia tahu saat ini Ella sedang dalam keadaan yang sangat hancur.
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, berani memiliki harus berani kehilangan. Itu kalimat yang Kairi ucapkan padaku, dan ternyata dia benar. Dulu aku berani memiliki dia, sekarang aku harus berani kehilangan dia. Kau tahu Ndra, dia mengucapkan kalimat itu sehari sebelum dia berangkat ke Reunion. Andai saja aku tahu akan ada hari seperti ini, aku akan memilih untuk tidak mengenalnya. Aku tidak sanggup kehilangan dia, sakit Ndra." sambung Ella sambil menangis. Tubuhnya bergetar, ia larut dalam tangis yang memilukan.
Andra beranjak dari duduknya, ia mengusap air mata Ella, dan menatapnya lekat-lekat.
"Kairi pasti baik-baik saja. Meskipun penumpang lainnya tidak ada yang selamat, tapi aku yakin Kairi akan selamat. Dia berbeda El, dia sangat tangguh, dia sangat hebat. Kau tahu, dia sudah berjanji padaku untuk selalu menjagamu. Dia pasti menepati janjinya, kau tahu kan dia tidak pernah ingkar janji." kata Andra dengan nada yang bergetar, sesungguhnya hatinya juga menangis pilu. Ia tidak berani berharap seperti yang diucapkannya, ibarat kata kemungkinan Kairi selamat hanyalah 10% saja.
"Jangan menangis, dia tidak akan senang melihatmu seperti ini. Berjanjilah El, berjanjilah untuk tidak menangis lagi. Ingat, ada bayi dalam perut kamu. Dia akan bersedih, jika kau menangis seperti ini." sambung Andra sambil tetap menatap Ella.
"Sejak tahu Ayahnya kecelakaan, dia sudah bersedih Ndra." jawab Ella dengan pelan.
"Lalu kenapa kau menambah kesedihannya? Jika kau tahu dia sedih, seharusnya kau berusaha menghiburnya? Kau tahu El, Allah masih menyayangimu. Kau masih diberi kepercayaan untuk merawatnya. Kau wajib menjaganya!" kata Andra dengan tegas.
Ella menatap Andra dengan tanpa kedip. Apa yang diucapkan Andra memang ada benarnya. Ella menunduk, tangannya mengusap perutnya dengan pelan.
"Meski ini sulit, tapi aku akan mencoba untuk bertahan, demi dia. Ya Allah semoga Engkau memberikan kekuatan, serta ketabahan untuk hamba. Dan semoga Engkau masih memberikan kebahagiaan untuk hamba. Selamatkanlah Kairi, izinkanlah dia untuk tetap menjadi imam hamba." batin Ella sambil memejamkan matanya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu Paris. Ella duduk di ranjang rumah sakit, sedangkan Andra, ia duduk di sampingnya sambil menyuapinya. Keadaan Ella sudah semakin membaik, namun dokter masih belum mengizinkannya pulang, karena kondisi kandungannya masih sedikit lemah.
Ella mengunyah makanannya dengan pelan, rasanya sangat hambar, dan rasanya sangat berat untuk menelannya.
Meskipun sudah hampir satu jam Ella makan, namun Andra tidak bosan, ia tetap sabar menyuapi Ella sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Tinggal satu lagi El." ucap Andra sambil menyuapkan makanannya, ia bernafas lega karena sepiring nasi sudah berhasil masuk kedalam perut Ella.
"Minum susunya, ini anjuran dokter, agar kandungan kamu semakin membaik." ucap Andra sambil meraih segelas susu hangat yang berada di atas meja.
Ia membantu Ella meminumnya hingga tandas.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Ternyata Dimas yang datang. Dimas melangkah mendekati Ella sambil membawa parsel buah.
"El, bagaimana keadaan kamu? Maaf ya aku terlambat menjengukmu." kata Dimas sambil duduk di sebelah Andra.
"Aku baik Kak, terima kasih sudah datang kesini." jawab Ella dengan nada datar. Saat ini ia tidak terpengaruh dengan kehadiran siapapun, karena yang diharapkan hanyalah kehadiran Kairi.
"Bagaimana..." Dimas tidak meneruskan kalimatnya, karena kakinya diinjak oleh Andra. Dimas menoleh menatap Andra yang sedang melotot padanya. Dimas menghela nafas panjang, seharusnya ia memang tidak menanyakan tentang Kairi pada Ella.
"Bagaimana kandungan kamu?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraannya.
"Alhamdulillah dia juga baik Kak." jawab Ella masih dengan nada datar.
"Syukurlah kalau begitu." ucap Dimas.
"Kak Dimas bagaimana kabarnya?" tanya Ella dengan pelan.
"Aku baik El, Willi juga baik, dia semakin aktif sekarang." jawab Dimas.
Ella tertegun, mendengar nama Willi, ia jadi teringat dengan waktu itu. Dimas dan Yura berpisah karena dirinya. London, seharusnya ia memang tidak datang ke London. Andai saja ia menetap di Indonesia, Dimas tidak akan berpisah dengan Yura. Dan dia juga tidak akan bertemu dengan Kairi, ia tidak akan kehilangan seperti ini. Mungkin seperti inilah maksud pepatah, jangan mencintai secara berlebihan, jika tidak ingin mendapatkan kesedihan yang berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur mencintai Kairi dengan berlebihan. Kairi sudah terlanjur bertahta diseluruh ruang didalam hatinya.
"Kamu mau makan buah El, aku kupaskan ya?" tanya Andra.
"Tidak, nanti saja. Aku...aku mau istirahat Ndra, tidak apa-apa kan Kak?" jawab Ella.
"Tidak apa-apa, istirahatlah aku akan keluar." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Panggil aku jika butuh sesuatu." sahut Andra sambil beranjak dari duduknya.
Ella menatap Dimas, dan Andra yang sudah sampai di ambang pintu. Ella memalingkan wajahnya, dan air matanya kembali menetes. Sekuat apapun ia mencoba bertahan, dan bersabar. Rasa sakit itu tetap saja menyesakkan hatinya. Ella memeluk selimutnya dengan erat. Ia menunduk, membiarkan air matanya menetes membasahi wajahnya.
"Aku rapuh Kai, aku tidak sanggup kehilangan kamu. Kenapa kamu setega ini, kenapa kamu meninggalkan aku sendiri. Sakit Kai, rasanya sangat sakit." ucap Ella disela-sela isakannya.
Ella memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Dua kali ia kehilangan sosok lelaki yang sangat berharga dalam hidupnya. Dulu ketika ia masih kecil, ia kehilangan Ayahnya, sosok lelaki yang sangat menyayanginya, dan sangat memanjakannya.
Dan sekarang ia kehilangan Kairi, sosok lelaki yang menjadi suaminya, yang sangat mencintainya, dan sangat menyayanginya.
"Kenapa bukan aku saja yang pergi, kenapa harus kalian. Kau tahu Kai, dulu aku terpuruk saat aku kehilangan Ayah, dan sekarang kau juga meninggalkan aku. Kau lihat aku sekarang Kai. Aku rapuh, aku sangat rapuh." ucap Ella sambil tetap terisak.
Dan dalam hitungan detik, Ella merasa dunianya mulai gelap. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia hanya mendengar suara Andra yang samar-samar memanggil namanya. Ingin rasanya ia melihat sekelilingnya, namun seakan tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya. Tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk membuka matanya saja ia tidak bisa. Antara sadar, dan tidak, Ella merasakan tubuhnya dibopong, dan dibawa entah kemana.
__ADS_1
Bersambung......