
Vino termenung sambil melipat tangannya di dada. Ia kini sedang berada didalam taxi yang membawanya pulang ke Surabaya.
Vino memandang gedung-gedung tinggi yang berdiri megah dipinggir jalan dengan tatapan kosong. Meskipun ia sudah sampai di Sidoarjo, namun fikirannya masih tertinggal di Malang. Tanpa pamit ia meninggalkan Nadhira sendirian di sana.
"Ini pilihan yang terbaik, aku tidak boleh terlalu dekat dengan dia. Sebentar lagi dia akan tunangan dengan sahabatku, aku harus pergi, aku tidak boleh hadir ditengah-tengah mereka. Nadhira, maafkan aku, andai saja nanti aku tidak hadir diacara pertunangan kamu. Aku tidak sanggup Nad, kenyataan ini terlalu sakit bagiku." batin Vino sambil memejamkan matanya.
Vino menghela nafas panjang, sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Ia membuka matanya dengan perlahan, bayangan tentang Nadhira masih berputar jelas dalam otaknya.
"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya supir taxi sambil melirik Vino lewat pantulan kaca.
"Saya tidak apa-apa, hanya sedikit lelah." jawab Vino sambil tersenyum kecut.
"Kalau lelah silakan beristirahat Tuan, nanti jika sudah sampai akan saya bangunkan." ucap supir taxi.
"Iya." jawab Vino singkat.
***
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, sudah lima hari waktu berlalu begitu saja sejak Varrel datang mengantarkan undangan pernikahan. Itu artinya besok Ella dan Kairi sudah terbang ke Indonesia. Kini Ella sedang termenung di kamar mandi, sambil merendam tubuhnya dalam air hangat.
Perasaan bahagia, sedih, takut, terharu semua bercampur menjadi satu. Bahagia karena ia akan bertemu dengan keluarganya yang sudah sangat dirindukannya. Tetapi ada perasaan sedih dan takut juga, mengingat cinta pertamanya Kairi yang tinggal di Indonesia.
"Kenapa perasaanku menjadi sangat sedih ya Kai. Aku merasa pulang ke Indonesia bukanlah hal yang baik untuk hubungan kita. Ini hanya perasaanku saja, atau memang sebuah firasat ya." ucap Ella sambil memainkan air dengan kedua tangannya.
Disaat Ella masih larut dalam lamunannya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di pintu.
"Sayang!" panggil Kairi sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Aku masih mandi Kai." teriak Ella dari dalam.
"Kamu sudah cukup lama didalam, kamu baik-baik saja kan?" tanya Kairi dari luar.
"Aku baik-baik saja Kai, aku masih mandi." jawab Ella.
"Ya sudah kalau begitu, kalau sudah selesai cepat keluar ya, kita sarapan dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat." ucap Kairi.
"Kemana?" tanya Ella.
"Nanti kau akan tahu sayang, aku tunggu di meja makan ya." kata Kairi.
"Iya." jawab Ella.
"Aku hanyalah wanita biasa, tapi dengan adanya kamu, aku merasa menjadi wanita yang paling sempurna. Kairi aku tidak sanggup, jika suatu saat nanti aku kehilangan kamu." batin Ella dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah sebenarnya apa yang ia takutkan, kenapa matanya pun tidak bisa diajak berkompromi, selalu saja berkaca-kaca saat mengingat kepulangannya ke Indonesia.
"Sebenarnya apa yang Tuhan persiapkan untukku, kenapa aku merasa gelisah. Aku hanya bisa berdoa semoga pulang ke Indonesia bukanlah akhir dari segalanya." ucap Ella dengan pelan.
Kemudian Ella bergegas mandi, dan ganti baju. Ia memakai dress selutut warna biru muda, dress yang menjadi saksi saat ia dilamar oleh Kairi dibawah menara.
Ella menguncir rambutnya, dan menghiasinya dengan aksesoris kecil warna putih.
Ella keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju meja makan, Kairi sudah menunggunya di sana.
"Cantik." ucap Kairi saat menatap Ella yang baru saja duduk dihadapannya.
"Kau tidak bosan Kai setiap hari mengatakan hal itu." ucap Ella sambil tersenyum.
Memang setiap hari Kairi selalu memujinya dengan kata-kata cantik.
"Sampai tua pun aku tidak akan bosan sayang." jawab Kairi dengan cepat, ia menatap Ella sambil tersenyum.
Ella hanya bisa menunduk, menyembunyikan pipinya yang mulai merona.
***
Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Namun Ella dan Kairi sudah berada didalam mobil, mereka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.
Bukan bekerja, melainkan mereka akan pergi berlibur.
Besok mereka sudah terbang ke Indonesia, jadi sekarang Kairi mengajak Ella berjalan-jalan menikmati keindahan kota London.
Beberapa menit kemudian mobil melintas di Tower Bridge, atau Jembatan Tower adalah jembatan yang melintasi sungai Thames, panjangnya mencapai 244 meter.
Ella menatap keluar lewat kaca mobilnya, ia melihat keindahan dua menara yang yang berdiri diujung jembatan. Dari tempat ini Ella juga bisa menatap London Tower yang berdiri kokoh didekat lokasi ini.
Ella berdecak kagum, meskipun sudah hampir 5 tahun ia tinggal di negara ini, tapi belum pernah ia menikmati keindahan kota ini. Selama ini dia disibukkan dengan kuliahnya, dan juga pekerjaannya.
"Ini sangat indah Kai." ucap Ella sambil tetap memandang keluar. Kairi sengaja melambatkan laju mobilnya, agar Ella bisa menikmati perjalanannya.
"Kau suka?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Iya, apa kau akan mengajakku kesini Kai?" Ella balik bertanya.
"Tentu saja tidak, aku akan membawamu ke tempat yang jauh lebih indah." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Benarkah? Memangnya kita akan kemana?" tanya Ella.
"Sebentar lagi kita akan sampai sayang." jawab Kairi sambil mengedipkan matanya.
Ella tidak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang, sedikit kesal karena Kairi tidak mau menjawab pertanyaannya.
Dan tak berapa lama kemudian, Kairi menghentikan mobilnya disebuah kawasan taman. Ternyata Kairi mengajak Ella mengunjungi Hyde Park.
__ADS_1
Hyde Park adalah taman terbesar dipusat kota London. Luasnya mencapai 142 hektar, dengan ribuan pohon yang berdiri kokoh dipinggiran taman. Ditengah-tengahnya terdapat danau dengan air yang jernih, dan disekitarnya berdiri sebuah restoran mewah yang menyediakan aneka makanan khas London.
Sejauh mata memandang, tampak hamparan padang rumput yang menghijau, berpadu dengan ribuan bunga yang beraneka warna, bermekaran dengan indahnya.
Ella turun dari mobilnya, sambil tersenyum lebar. Baru kali ini ia menatap pemandangan yang begitu menakjubkan.
"Apa ini indah sayang?" tanya Kairi sambil memeluk Ella dari belakang. Karena hari masih pagi, jadi taman ini masih tampak sepi.
"Ini sangat indah Kai." jawab Ella sambil mengusap lengan Kairi yang melingkar di pinggangnya.
"Kau mau menelusuri taman ini dengan bersepeda?" tanya Kairi.
"Bersepeda?" Ella balik bertanya.
"Iya, kau lihat di sana. Kita bisa menyewanya, lalu kita kayuh bersama dan kita memutari seluruh kawasan taman ini." kata Kairi sambil menunjuk ketempat penyewaan sepeda.
"Sepertinya itu sangat menyenangkan Kai." ucap Ella.
"Kau mau?" tanya Kairi.
"Iya." jawab Ella.
"Baiklah tunggu di sini sebentar, aku akan menyewanya dulu." kata Kairi sambil melepaskan pelukannya.
Ella tersenyum sambil menatap punggung Kairi yang berjalan menjauhinya.
Tak lama kemudian Kairi sudah datang sambil mengayuh sepedanya, ia tersenyum sambil menatap Ella.
"Naiklah!" perintah Kairi.
Ella tersenyum sambil mengangguk, lalu ia menaiki sepedanya dan duduk dibelakang Kairi.
Kairi mulai mengayuhnya dengan pelan, dan tangan Ella mulai melingkar di pinggangnya.
"Kai bunganya sangat cantik, bisakah kita berhenti sebentar." ucap Ella.
"Sebentar lagi kita akan berhenti sayang, di sana nanti bunga-bunganya jauh lebih indah.
" Benarkah?" tanya Ella.
"Iya, percaya saja padaku." jawab Kairi.
Kairi terus mengayuh sepedanya, dan tak lama kemudian mereka sampai ditepi danau.
Danau jernih yang dikelilingi beraneka jenis bunga. Ella benar-benar terpesona, ia terus berdecak kagum saat Kairi mengajaknya turun dari sepeda.
Kairi menuntun tangan Ella dan membawanya mendekati danau. Mereka duduk diatas padang rumput yang menghijau, sambil menatap air danau yang bergerak-gerak karena tiupan angin.
"Gabriella, akhir-akhir ini aku melihatmu sering melamun. Apa yang kau fikirkan?" tanya Kairi sambil menggenggam tangan Ella.
"Aku tidak memikirkan apa-apa Kai." jawab Ella.
Ella menghela nafas panjang, lelaki disebelahnya ini memang selalu tahu tentang dirinya.
"Aku takut Kai." ucap Ella dengan pelan.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Kairi.
"Indonesia." jawab Ella.
"Apa maksud kamu?" tanya Kairi sambil mengernyit heran.
"Cinta pertamamu tinggal di Indonesia." jawab Ella dengan suara yang lebih pelan.
"Gabriella!" panggil Kairi sambil manangkup pipi Ella dengan kedua tangannya.
"Kau salah paham, cinta pertamaku tidak seperti yang kau bayangkan." ucap Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Maksud kamu apa?" tanya Ella.
"Cintaku padanya tidak seperti cintaku padamu, atau pada Angelina dulu. Gabriella, aku punya masa lalu yang cukup pahit, aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Tapi aku janji, tiba saatnya nanti aku akan menjelaskannya padamu secara rinci." ucap Kairi sambil mengusap pipi Ella dengan lembut.
Ella mengernyit heran, ia mencoba mencerna semua perkataan Kairi. Cinta yang tidak seperti cintanya pada dirinya, atau pada Angelina, lalu cinta yang seperti apa?
Mungkinkah karena mereka tidak sampai menjalin hubungan, jadi cintanya juga berbeda?
"Aku kurang paham dengan maksud kamu Kai." ucap Ella.
"Nanti aku akan menjelaskannya, sekarang kita nikmati saja pemandangan yang indah ini." jawab Kairi sambil tersenyum.
Lalu ia memetik setangkai bunga Juliet Rose yang berwarna merah keunguan, dan memberikannya pada Ella.
Ella menerimanya sambil tersipu malu, aroma wanginya menyeruak di hidungnya ketika ia menciumnya.
"Tidak hanya bentuknya yang indah, tapi aromanya juga sangat wangi Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Sama sepertimu, tidak hanya wajahmu saja yang cantik, tapi hatimu juga." jawab Kairi sambil mengusap rambut Ella.
"Kau sangat pandai merayu Kai." cibir Ella.
"Aku bicara apa adanya Gabriella." jawab Kairi.
"Tapi Kai ini bunga apa sebenarnya? Bentuknya mirip mawar, tapi tidak ada durinya, dan aroma wanginya juga sedikit berbeda." kata Ella sambil menatap bunga yang sedang digenggamnya.
"Itu namanya Juliet Rose, meskipun bentuknya sedikit berbeda, tapi itu salah satu spesies mawar. Kau tahu, butuh belasan tahun untuk melihatnya mekar seperti ini." ucap Kairi.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ella sedikit tidak percaya.
"Iya, itu sebabnya harga bunga ini cukup mahal, jika dirupiahkan bisa mencapai ratusan juta hanya untuk satu bibit saja." jawab Kairi sambil menyentuh bunga Juliet Rose yang tumbuh diatas tanah.
"Hah! Kamu serius Kai." teriak Ella.
"Serius sayang." jawab Kairi dengan santainya.
"Lalu kenapa kamu memetiknya begitu saja, kita akan dimarahi Kai." teriak Ella sambil mengguncang bahu Kairi.
"Tenanglah, itu tidak akan terjadi, mereka kenal siapa aku. Jika ada yang berani memarahiku, akan aku beli taman ini." kata Kairi sambil tersenyum miring.
"Sombong!" ucap Ella sambil melirik Kairi.
"Dan kau mencintai lelaki yang sombong ini." kata lelaki dengan cepat.
"Aku tidak mencintai sifatmu." ucap Ella.
"Lalu?"
"Wajahmu."
"Maksudmu?"
"Aku mencintaimu karena kau tampan, andai saja wajahmu jelek, aku tidak akan mencintaimu." jawab Ella sambil terkekeh.
"Jadi jika nanti aku sudah menua, wajahku sudah keriput, dan ketampananku memudar, apa cintamu padaku juga ikut memudar?" tanya Kairi, ia menganggap serius apa yang Ella ucapkan.
"Tentu saja iya, aku akan mencari lelaki lain yang masih muda dan tampan." jawab Ella.
"Kau tidak boleh seperti itu, sekarang saat aku masih tampan kau mencintaiku, jadi meskipun aku sudah menua kau juga harus mencintaiku, kau harus menerima wajah keriputku." kata Kairi dengan tegas.
"Aku tidak mau, jangan memaksaku!" jawab Ella sambil menyembunyikan senyumannya.
"Gabriella..." ucap Kairi dengan pelan, ia menatap Ella lekat-lekat.
Seolah ada banyak kata yang tak mampu ia ucapkan.
Ella menatap Kairi sambil tertawa keras, ekspresi Kairi benar-benar lucu, ia tak menyangka jika Kairi akan menganggapnya serius.
"Gabriella!" panggil Kairi sambil menatap Ella yang masih tertawa.
"Aku hanya bercanda Kai, kenapa kau menganggapnya serius." jawab Ella.
"Oh kau berani menggodaku ya!" kata Kairi sambil memeluk Ella dan menggelitiki pinggangnya.
"Kai lepaskan Kai!" teriak Ella sambil mencubit tangan Kairi yang menggelitikinya.
Namun bukannya melepaskan, Kairi malah menarik tubuh Ella, dan mengajaknya berbaring dihamparan rumput hijau.
"Aww...!" teriak Ella saat tubuhnya sudah terbaring disamping Kairi, kepalanya bertumpu pada lengan Kairi.
"Jangan seperti ini Kai, malu dilihat orang." protes Ella sambil berusaha bangkit.
"Kita hanya berbaring, kenapa harus malu." jawab Kairi sambil menahan tubuh Ella.
"Tapi orang lain akan menganggap kita sedang macam-macam Kai." kata Ella.
"Ssttt diamlah, orang lain tidak akan peduli dengan kita. Sekarang coba pejamkan matamu, rasakan semilir angin yang menerpa kita, dan nikmati aroma mewangi dari bunga-bunga yang tumbuh disekitar kita. Bukankah ini sangat nyaman Gabriella." ucap Kairi.
Ella menuruti arahan Kairi, ia mulai memejamkan matanya, dan benar saja, semilir angin dan aroma wangi benar-benar membuat perasaannya menjadi sangat nyaman.
"Ada satu hal yang kau lupakan Kai." ucap Ella masih dengan mata yang terpejam.
"Apa?" tanya Kairi.
"Sentuhan dari seseorang yang kita cintai, bukankah ini membuat hati kita menjadi lebih hangat Kai." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi.
"Kau benar, rasanya aku ingin detik waktuku berhenti di sini saja, agar aku bisa selalu bersamamu." kata Kairi.
"Katanya kau ingin menikahiku, kenapa kau ingin berhenti di sini. Jika waktu tidak berjalan, kita hanya akan tetap berbaring di sini, itu artinya kita tidak jadi menikah kan." ucap Ella menggoda Kairi.
"Mungkin kita tidak menikah, tapi kita tidak akan berpisah.
Gabriella, jika waktu terus berjalan meskipun kita menikah dan mempunyai anak, suatu saat kita pasti akan berpisah." kata Kairi sambil membuka matanya dan menatap Ella yang berbaring disampingnya.
"Apa maksudmu Kai? Apa kau punya niatan untuk meninggalkan aku?" tanya Ella sambil menoleh menatap Kairi.
"Tentu saja tidak, aku hanya bicara apa adanya Gabriella. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Meskipun kita bisa melewati semua ujian dalam hidup kita, tapi kita tidak bisa melawan takdir, kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita. Tapi yang jelas, kita tidak bisa menghindarinya." kata Kairi.
Ella tertegun mendengar ucapan Kairi. Selama ini yang dia fikirkan hanyalah perpisahan karena berpaling pada cinta yang lain. Tapi ia lupa dengan perpisahan yang jauh lebih menyakitkan, yakni perpisahan karena maut.
"Jangan bersedih, aku hanya bicara tentang hal yang belum tentu kapan terjadinya.
Gabriella apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu. Apapun nanti yang memisahkan kita, cintaku tidak akan pernah berubah. Kehadiran kamu dalam hidupku, membuat aku tak bisa jatuh cinta lagi dengan wanita manapun. Hanya namamu yang selalu ada di sini Gabriella." kata Kairi sambil menuntun tangan Ella untuk menyentuh dadanya.
Ella dapat merasakan detak jantung Kairi dengan jelas.
"Terima kasih untuk semua cintamu Kai, aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu.
Aku selalu berharap, kau akan menjadi imam dalam hidupku. Betapa bahagianya aku jika semua itu bisa terjadi Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Kita berdoa saja, semoga Tuhan merestui niat kita." kata Kairi sambil tersenyum.
Lalu ia membawa Ella kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku selalu merasa nyaman saat bersandar di dada ini. Kairi, kau ibarat cahaya dalam hidupku. Kau tumbuhkan lagi cinta didalam hatiku, cinta yang telah layu karena mengharapkan rasa yang hampa." batin Ella sambil tersenyum.
Bersambung......