Tentang Rasa

Tentang Rasa
Seperti Mimpi


__ADS_3

"Aku memberimu kesempatan kedua. Jika kau masih ingin melanjutkan hubungan kita, kau harus melamar aku lagi." ucap Ella sambil tetap menatap Kairi.


Kairi tersentak kaget, spontan saja ia langsung tersenyum sambil memegang kedua bahu Ella.


"Kau serius Gabriella?" tanya Kairi.


"Iya." jawab Ella sambil mengangguk.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Kairi langsung memeluk Ella dengan erat. Wanita yang sangat dicintainya, dan sangat dirindukannya, kini sudah menerimanya kembali.


"Terima kasih Gabriella, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji, aku akan membuktikan betapa besarnya cintaku padamu. Terima kasih Gabriella." ucap Kairi sambil mengusap-usap rambut Ella dengan lembut.


Ella tidak menjawab, namun ia mengukir senyuman manis di bibirnya, dan ia juga membalas pelukan Kairi. Lelaki yang selalu dirindukannya, kini kembali dalam pelukannya. Meskipun ia sudah berkata tidak akan pernah kembali, namun nyatanya hatinya tak bisa diajak berkompromi. Biarlah ia sedikit menurunkan harga dirinya, soal cinta, terkadang memang bisa mengalahkan logika.


"Aku senang akhirnya kalian bisa kembali bersama!" teriak Andra sambil menghambur ke pelukan mereka.


"Kalian harus selalu bersama, dan tidak boleh berpisah lagi. Janji ya." kata Andra sambil menepuk bahu Kairi, dan Ella dengan kedua tangannya.


"Terima kasih Ndra." jawab Ella sambil tersenyum.


"Kebahagiaan kamu adalah segalanya bagiku El, cukup aku yang terluka. Kau harus bahagia." batin Andra sambil membalas senyuman Ella.


"Gabriella, aku pasti akan melamarmu lagi, tapi tidak sekarang ya. Tadi Mama telfon, katanya ada rapat penting di kantor, aku dan Andra harus segera kesana. Tidak apa-apa kan, jika lamarannya ditunda dulu, waktunya sudah mepet." kata Kairi sambil menatap jam tangannya.


"Ternyata lebih penting pekerjaan daripada aku." batin Ella dalam hatinya.


"Iya tidak apa-apa, pergilah!" jawab Ella sambil berusaha tersenyum.


Sebenarnya jauh didalam hatinya, ia merasa sangat kecewa. Ia berharap Kairi akan melamarnya dengan cara romantis seperti dulu, tapi ternyata Kairi malah berpamitan untuk pergi.


"Aku pergi dulu ya, hati-hati pulangnya. Sampai ketemu nanti." kata Kairi sambil melangkah pergi. Dan Andra, ia juga pergi mengikuti langkah Kairi.


Ella memandang kepergian mereka dengan memanyunkan bibirnya. Sedikit jengkel dengan sikap Kairi yang meninggalkan dirinya begitu saja.


"Kairi mana?" tanya Garnis yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Ella.


"Sudah pergi." jawab Ella dengan kesal.


"Kamu mengecewakan dia ya El, kamu menolaknya lagi?" tanya Garnis.


"Sudahlah Mbak ayo pulang!" ajak Ella sambil melangkah pergi.


Mau tidak mau Garnis, dan Ariel mengikutinya dari belakang.


Ella masuk kedalam mobil Ariel, ia duduk dikursi belakang. Tak lama kemudian, Garnis dan Ariel juga masuk kedalam mobil. Mereka duduk bersebelahan dikursi depan.


"Aku di sini tidak apa-apa ya El." kata Garnis sambil memasang sabuk pengamannya.


"Tidak apa-apa Mbak." jawab Ella.


Ariel mulai melajukan mobilnya, mereka keluar dari halaman rumah sakit, dan mulai meluncur menuju rumah Ella.


"Mas, Ardi baru saja chat, katanya Ibu titip belanjaan. Tidak apa-apa kan Mas kalau mampir belanja dulu." ucap Garnis sambil menunjukkan layar ponselnya.


Ariel menatap sekilas, dan kemudian kembali fokus dengan jalanan didepannya.


"Baiklah, nanti kita belanja sebentar." jawab Ariel.


"El tidak apa-apa kan belanja sebentar, Ibu yang nitip." kata Garnis sambil menoleh menatap Ella.


"Iya Mbak tidak apa-apa. Tapi nanti aku menunggu di mobil saja ya." jawab Ella.


"Iya." ucap Garnis sambil tersenyum.


Mobil terus melaju, dan sepanjang perjalanan Ella hanya diam sambil melipat tangannya di dada. Entah kenapa rasanya ia sangat kecewa, saat Kairi meninggalkannya begitu saja tanpa melamarnya terlebih dahulu. Lalu untuk apa tadi Kairi meminta maaf padanya, dan memohon untuk kembali dengannya. Jika ternyata masih lebih penting pekerjaan, dibandingkan dirinya.


"Kalau sampai besok dia belum melamarku, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua. Dikira enak apa menunggu seperti ini, sangat menyebalkan." gerutu Ella dalam hatinya.


Tak lama kemudian, mobil perlahan berhenti didepan pusat perbelanjaan. Garnis dan Ariel bersiap untuk turun dari mobilnya.


"Kita tinggal sebentar ya El, jangan kemana-mana, tetaplah di sini." kata Garnis sambil menatap Ella.


"Iya Mbak."


"Kamu mau titip sesuatu El?" tanya Ariel.


"Tidak Mas." jawab Ella sambil menggeleng.


"Kalau begitu kita pergi dulu ya."


"Iya."

__ADS_1


Garnis dan Ariel mulai melangkah meninggalkan Ella sendirian didalam mobil. Ella menatap kerumunan orang yang berlalu lalang disekitar pusat perbelanjaan. Ella menghela nafas panjang, dan membuangnya dengan kasar. Hatinya sedang tidak nyaman.


Ella merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya. Tidak ada satu pesanpun dari Kairi. Ella kembali memanyunkan bibirnya, ingin sekali ia menghubungi Kairi, namun ia merasa malu.


"Aku tidak boleh menghubunginya, sebelum dia menghubungiku terlebih dahulu." gerutu Ella sambil meletakkan kembali ponselnya.


Ia kembali menatap keluar lewat jendela mobilnya. Namun meskipun ia menatap kesana, tapi fikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Ingatan tentang Kairi terus saja berputar dalam otaknya. Tentang bagaimana lelaki itu meminta maaf padanya, meminta dia untuk kembali, memeluknya dengan lembut, dan akhirnya meninggalkan dirinya begitu saja.


"Kenapa kamu membuat aku resah seperti ini Kai!" teriak Ella sambil memegangi kepalanya. Rasanya ia ingin menangis saja, kata maaf dari Kairi sekarang seperti harapan hampa baginya.


Sudah dua jam Ella duduk sendiri didalam mobil. Namun Garnis dan Ariel belum juga menampakkan batang hidungnya. Entah belanjaan apa yang dibelinya, kenapa begitu lama. Berkali-kali Ella mendengus kesal, hatinya sudah tidak nyaman, dan kedua kakaknya malah membuatnya menunggu selama ini. Benar-benar hari yang sangat menyebalkan.


Sekitar satu jam kemudian, Garnis dan Ariel sudah kembali. Mereka langsung naik kedalam mobil sambil membawa satu kantong belanjaan. Ella menatapnya sambil memutar bola matanya dengan jengah.


"Sebenarnya belanjaannya cuma sedikit, tapi kenapa lama sekali. Membuatku semakin jengkel saja." gerutu Ella dalam hatinya.


"Maaf ya El, tadi sedikit sulit mencari barangnya, harus berputar-putar dulu baru ketemu. Dan karena itu, kamu jadi menunggu lama." ucap Garnis sambil menatap Ella.


"Tidak lama kok Mbak, cuma sebentar." jawab Ella dengan bibir yang manyun.


Garnis tidak lagi bicara, ia tahu jika adiknya sedang jengkel. Ariel mulai melajukan mobilnya meninggalkan pusat perbelanjaan.


Mobil terus melaju menyusuri jalan raya yang cukup padat. Ariel tidak bisa menambah laju kecepatannya, sehingga mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai di rumah Ella.


Tepat pukul 14.00 mobil Ariel berhenti didepan rumah Ella. Ella sedikit terkejut saat melihat ada tiga mobil yang terparkir disamping rumahnya. Mobil itu terlihat sedikit familiar, namun Ella tak bisa mengingat siapa pemilik mobil itu.


"Ada tamu ya Mbak?" tanya Ella pada Garnis.


"Aku juga tidak tahu El, aku kan juga baru datang bersama kamu." jawab Garnis.


"Ya sudah kita masuk saja, nanti kita akan tahu siapa tamunya." sahut Ariel sambil membuka pintu mobilnya, dan kemudian melangkah turun.


Lalu Ella dan Garnis juga ikut turun dari mobil. Mereka bertiga melangkah bersama-sama menuju kedalam rumah. Ella tak bisa menebak siapa tamunya. Namun saat ia sudah berada diambang pintu, ia tersentak kaget saat mendengar seorang wanita sedang berteriak sambil menatapnya.


"Nah itu dia pengantinnya sudah datang!" teriak Nadhira sambil berdiri, dan menatap Ella.


Ella tertegun, pengantin?


Apa maksudnya Nadhira, kenapa dia ada di sini, dan siapa yang akan menikah. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ella menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada Ibunya, ada Gilang, Arga, Ardi, Vino, Nadhira, Pak Louis, Bu Mirna, Andra, dua lelaki asing, dan Kairi.


Pandangan Ella terkunci pada Kairi. Lelaki itu duduk bersimpuh disamping Andra. Memakai celana panjang hitam, kemeja putih yang dipadu dengan jas hitam. Dan juga ada songkok yang ia pakai dikepalanya. Apa maksudnya ini?


"Aku akan melamarmu sekarang, dan sekaligus aku juga akan menghalalkanmu." ucap Kairi sambil menggenggam tangan Ella.


Ella membuka mulutnya, ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Kairi akan menikahinya, sekarang juga, semendadak ini, Oh My God apa yang ada dalam fikirannya.


"Apa maksudmu Kai!" teriak Ella.


"Kau memberiku kesempatan kedua kan, dan kau ingin aku kembali melamarmu. Sekarang aku akan melamarmu sayang, sekaligus menghalalkanmu. Ibu, Mas Gilang, dan Mbak Garnis mereka sudah setuju, jadi kamu tidak mungkin menolakku kan sayang." ucap Kairi sambil tersnyum.


"Ini pernikahan Kai, bukan permainan. Kita butuh rencana, kau tidak boleh melakukannya mendadak seperti ini." kata Ella.


"Kita sudah merencanakannya sejak kita masih di London sayang, kau tidak lupa kan?"


Memang benar mereka sudah merencanakan pernikahan sejak mereka masih di London. Tapi, mengingat perpisahannya kemarin, Ella tidak menyangka jika pernikahannya akan secepat ini.


"Waktu itu aku sudah berjanji, satu minggu lagi aku akan membawa kedua orang tuaku kesini. Dan sekarang sudah tepat satu minggu sayang, aku tidak ingkar janji kan. Aku sekarang sudah membawa Mama Papa kesini, dan mereka akan menjadi saksi pernikahan kita." kata Kairi masih dengan senyumannya.


Ella tak bisa berkata-kata lagi, ia memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Semua ini sulit dipercaya, semua ini seperti mimpi baginya.


"El ayo masuk, mandi dan segera dandan. Kasihan pak penghulunya sudah menunggu dari tadi." kata Garnis sambil mendekati Ella.


"Mbak Garnis ternyata sudah tahu ya." gerutu Ella.


"Sudah jangan banyak bicara, kamu juga senang kan Kairi datang kesini, dan menikahi kamu. Aku tahu kenapa tadi kamu manyun terus, gara-gara Kairi meninggalkan kamu, dan tidak memberimu kabar kan." ucap Garnis.


Pipi Ella memerah, bisa-bisanya Garnis mengatakan semua itu didepan Kairi, dan didepan banyak orang. Malu sekali rasanya.


Dan tanpa banyak kata Ella langsung melangkah pergi, dan menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Ella keluar dari kamar mandi, dan menuju ke kamarnya. Ternyata Garnis sudah ada di sana.


"Pakai ini El!" ucap Garnis sambil menyodorkan gamis warna putih lengkap dengan jilbabnya.


"Ini bajunya siapa Mbak?" tanya Ella.


"Itu baju kamu, yang baru saja aku beli tadi." jawab Garnis.


"Ternyata Mbak Garnis sudah tahu, tetapi kenapa tidak bilang padaku." gerutu Ella.


"Protes saja sama suami kamu nanti. Aku cuma mengikuti rencana dia, untuk memberi kejutan ini padamu. Sudah cepat sana ganti baju, nanti setelah itu aku dandani." kata Garnis.

__ADS_1


Tanpa memberi jawaban, Ella mulai memakai gamisnya. Sangat pas di tubuhnya, tidak kebesaran juga tidak kekecilan. Ada hiasan renda dibagian depannya, simpel namun sangat cantik.


"Ayo duduk sini!" kata Garnis sambil menunjuk kursi yang berada didepan meja riasnya.


Ella menurut, ia duduk di kursi itu, dan membiarkan Garnis menyisir rambutnya.


Rambut Ella hanya diikat sederhana, karena nanti akan ditutup dengan jilbab. Dan kini Garnis sedang merias wajah Ella dengan make up yang sedikit tebal. Disaat Garnis sedang sibuk merias Ella, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


"Masuk!" teriak Garnis.


Pintu kamar terbuka, ternyata Kairi yang datang. Ia tersenyum sambil melangkah mendekati Garnis, dan Ella.


"Gabriella!" panggil Kairi.


"Ada apa?" tanya Ella sambil melirik Kairi.


"Kau ingin mahar apa?"


Ella terdiam sejenak, belum sempat ia memikirkan tentang mahar. Karena dia tidak menyangka jika pernikahannya akan secepat ini.


"Aku masih bingung Kai." ucap Ella dengan pelan.


"Sebenarnya aku sudah membelikan gelang untukmu. Tapi aku tidak tahu kau akan suka atau tidak. Jika kau ingin mahar yang lain, katakan saja, aku akan menyiapkannya." kata Kairi.


"Baiklah, itu saja Kai, tidak usah yang lain." jawab Ella.


"Kau yakin tidak ingin yang lain?" tanya Kairi.


"Tidak." jawab Ella sambil menggeleng.


"Baiklah. Gabriella maaf ya, sekarang aku menikahi kamu dengan cara yang sederhana. Tapi setelah ini aku janji, aku akan menyiapkan pesta besar untuk merayakan hari bahagia kita." ucap Kairi sambil tersenyum.


Pipi Ella kembali memerah, saat menatap senyuman Kairi lewat pantulan cermin.


"Jangan berlebihan Kai." kata Ella dengan pelan.


"Aku tidak berlebihan. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya, aku tunggu diluar." kata Kairi sambil melangkahkan kakinya.


"Iya." jawab Ella.


"Sebentar lagi selesai Kai." sahut Garnis sambil mengoleskan lipstik di bibir Ella.


Sekitar lima menit kemudian, Garnis sudah selesai merias Ella.


Ella menatap pantulan dirinya di cermin, sangat cantik. Dengan balutan gamis putih, dan jilbab yang juga berwarna putih. Wajahnya dioles make up yang sedikit tebal, dengan bibir yang berwarna merah merona. Ella menunduk sambil tersenyum.Ia akan menunjukkan riasan wajahnya pada calon suaminya. Ahh rasanya masih seperti mimpi, rasanya masih belum percaya, jika ia benar-benar akan menikah dengan Kairi.


"Ayo El, jangan senyum-senyum terus!" ajak Garnis sambil menggandeng tangan Ella, dan mengajaknya keluar kamar.


Di ruang tamu Kairi menunggu calon istrinya dengan hati yang berdebar-debar. Ia terus berdoa semoga pernikahannya bisa berjalan dengan lancar.


Dan tak lama kemudian, Garnis sudah datang sambil menggandeng tangan Ella. Jantung Kairi berdetak dengan cepat, saat menatap wajah Ella yang sangat cantik.


"Dengan pakaian yang serba putih seperti itu, dia terlihat seperti bidadari. Ya Allah lancarkanlah ijab qabulku nanti, agar bidadari cantik ini sah menjadi istriku." batin Kairi sambil tersenyum. Jantungnya berdetak semakin cepat, saat Ella sudah duduk disampingnya.


"Kau sangat cantik El, tapi sayang kecantikan itu bukan untukku. Meskipun ini berat, tapi aku berusaha untuk merelakan. Kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku El." batin Andra sambil menghela nafas panjang.


Lalu Garnis menutup kepala mereka berdua dengan kerudung panjang warna putih. Kemudian ia duduk disamping Ibunya.


"Sudah siap semuanya?" tanya pak penghulu.


"Sudah." jawab mereka semua bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai sekarang. Siapa walinya?" tanya pak penghulu.


"Saya Pak." jawab Gilang.


"Bapak siapa namanya?"


"Gilang."


"Baiklah Bapak Gilang, saya akan bertanya kepada Anda. Anda memilih pasrah, dan mempercayakan semuanya kepada saya. Atau Anda ingin menikahkannya sendiri dengan bimbingan saya?"


"Jika diizinkan, saya ingin menikahkannya sendiri dengan bimbingan Bapak." jawab Gilang.


"Alhamdulillah, itu adalah pilihan yang baik. Saya pasti akan membimbing Anda." kata penghulu itu sambil tersenyum, lalu beliau memberitahukannya kepada Gilang. Bagaimana caranya, dan apa kalimatnya untuk melaksanakan ijab qabul.


Setelah Gilang merasa faham, mereka semua mengucapkan basmallah bersama-sama. Dan kemudian Gilang mulai menjabat tangan Kairi.


"Saya nikahkan engkau Kairi Da Vinci Bin Louis Da Vinci, dengan Gabriella Tamara Binti Almarhum Prasetyo, dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." kata Gilang dengan suara yang lantang.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2