Tentang Rasa

Tentang Rasa
Menara Dan Kenangannya


__ADS_3

"Andra!" panggil Bu Mirna sambil memegang bahu Andra dari belakang.


"Mama." ucap Andra sambil menoleh, menatap Ibunya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bu Mirna sambil mengernyitkan keningnya. Beliau heran melihat anaknya berdiri terpaku di depan kamar Ella.


"Aku tadi membeli apel ini untuk dia, aku mencari Mama, tapi Mama tidak ada. Dan aku tidak sengaja melihat dia sedang menangis." jawab Andra dengan pelan.


Bu Mirna menghela nafas panjang, beliau ikut menatap Ella yang sedang duduk sambil menangis. Lalu Bu Mirna menarik tangan Andra, dan mengajaknya pergi. Beliau mengajak Andra duduk di sofa ruang tengah.


"Kenapa Mama malah kesini, kenapa Mama tidak menghampirinya?" tanya Andra sambil menatap Ibunya.


"Tidak Ndra." jawab Bu Mirna sambil menggeleng.


"Mama tahu dia sedih, dia butuh waktu untuk sendiri. Jika menangis bisa membuatnya lega, biarkanlah. Asalkan dia tidak mengabaikan kesehatannya, Mama tahu ini sangat berat untuk dia." sambung Bu Mirna.


"Bukan hanya untuk dia Ma, tapi untuk kita semua. Aku juga merasa sedih kehilangan Kairi, dan aku yakin Mama juga merasakan hal yang sama." ucap Andra sambil tetap menatap Ibunya.


"Kau benar, Mama juga merasakan hal yang sama. Tapi sekarang, bukanlah saat yang tepat untuk meratapi kesedihan. Jangan sampai Ella tahu kalau kita juga rapuh, dia butuh dukungan kita semua Ndra. Jangan sampai bebannya dia bertambah, hanya karena kita ikut bersedih." kata Bu Mirna sambil menyeka air matanya. Membicarakan tentang Kairi, selalu saja membuat air matanya menetes.


"Andai saja ada jalannya Ma, aku ingin sekali menggantikan Kairi. Aku yang pergi, agar Kairi bisa tetap hidup bahagia bersama Ella." ucap Andra dengan tatapan kosong.


Kini tak ada hal lain yang ada dalam fikirannya, selain kebahagiaan Ella. Rasanya sudah tidak sanggup ia menatap air mata Ella, yang selalu menetes dalam diamnya. Dan juga Ibunya, Andra tahu Ibunya sangat kehilangan Kairi. Ahh kenapa harus Kairi? Kenapa bukan dia saja yang diambil lebih dulu. Dia yang berlumur dosa, dan selalu mengecewakan Ibunya. Seharusnya dia saja yang pergi, mungkin Ibunya tidak akan sesedih ini.


"Apa yang kau bicarakan Ndra? Jaga ucapan kamu!" bentak Bu Mirna.


"Kau juga anak Mama. Kau fikir Mama rela kehilangan kamu. Kau dan Kairi sama-sama Mama sayangi, kalau saja boleh meminta, Mama tidak ingin diantara kalian ada yang pergi. Kau jangan bicara yang aneh-aneh!" sambung Bu Mirna masih dengan nada yang sedikit tinggi.


"Aku...aku..." jawab Andra dengan gugup. Ia seakan tersadar dari lamunannya, entah apa tadi yang ia katakan, ia sendiri juga sedikit lupa.


"Apa kau masih mencintai Ella, jadi kamu bisa mengatakan hal itu?" tanya Bu Mirna dengan penuh selidik.


"Ti...tidak Ma."


"Bagus kalau tidak. Kamu ingat ya Ndra, Ella itu kakak ipar kamu. Apapun yang terjadi pada Kairi, dia tetaplah kakak ipar kamu. Dulu kamu sudah merelakan dia untuk Kairi, jadi sampai kapanpun kamu tidak boleh bermimpi untuk memilikinya lagi. Kamu paham!" kata Bu Mirna sambil menatap Andra dengan tajam.


"Tidak Ma, aku sudah tidak mencintai dia kok." jawab Andra.


"Harus, memang harus seperti itu. Masih banyak wanita lain, yang tidak kalah baiknya dengan Ella. Kamu bebas mencarinya, tanpa perlu melirik kakak ipar kamu." kata Bu Mirna.


"Iya Ma."


"Oh ya, bagaimana kabar Suci?" tanya Bu Mirna.


Andra tidak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang, seraya tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Andra!"


"Aku kehilangan dia Ma." jawab Andra.


"Apa maksud kamu?" tanya Bu Mirna.


"Waktu Kairi kecelakaan, aku buru-buru datang kesini, dan aku sampai melupakan ponselku. Baru besoknya Reymond datang mengantarkannya padaku. Sejak saat itu aku tidak bisa menghubungi Suci, nomornya tidak aktif, akun sosial medianya juga tidak pernah aktif. Saat aku menyuruh seseorang untuk melihat rumahnya di Indonesia, rumahnya kosong sejak lama. Aku tidak tahu dia kemana Ma." kata Andra dengan panjang lebar.


"Kok bisa seperti itu Ndra, apa dia tidak bilang apa-apa padamu? Lalu bagaimana dengan alamatnya yang ada di Thailand, kau punya kan?" tanya Bu Mirna.


"Tidak Ma." jawab Andra sambil menggeleng.


"Aku malah merasa kalau Suci tidak berada di Thailand, melainkan dia ada di Eropa. Waktu kita telfonan, seperti tidak ada perbedaan waktu diantara kita. Jadi rasanya mustahil, jika dia berada di Tahiland." sambung Andra.


"Benarkah?"


"Iya Ma, aku merasa Suci menyembunyikan sesuatu dariku, tapi entah apa aku juga tidak tahu. Sebenarnya aku juga sangat menyesal, kehilangan kabar tentang dia. Aku hampir berhasil mencintai dia Ma, tapi sekarang malah seperti ini." ucap Andra sambil tersenyum hambar.


"Kamu yang sabar ya nak, Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Pasti ada jalan terang setelah ini." kata Bu Mirna sambil mengusap bahu Andra dengan lembut.


"Terima kasih Ma."

__ADS_1


***


Keesokan harinya, jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi waktu Paris. Bu Mirna, dan Andra sudah bersiap untuk pergi. Mereka akan berangkat bersama-sama ke bandara. Bu Halimah, dan Ella mengantarnya hingga ke ambang pintu.


"Hati-hati ya Ma, Andra." ucap Ella sambil tersenyum.


"Iya El, kamu jaga diri baik-baik ya, nanti Mama akan kesini lagi." jawab Bu Mirna sambil memeluk Ella.


"Iya Ma."


"Hati-hati ya Bu, semoga perjalannya lancar sampai rumah." ucap Bu Halimah sambil menatap Bu Mirna.


"Iya Mbak terima kasih, saya titip Ella ya, untuk sementara saya tidak bisa ikut menjaganya." jawab Bu Mirna sambil melepaskan Ella, dan memeluk Bu Halimah sekilas.


"Iya Bu."


"El, aku pergi dulu ya. Lusa aku akan kesini lagi." ucap Andra sambil tersenyum.


"Iya Ndra, jangan terburu-buru, selesaikan dulu pekerjaan kamu." jawab Ella.


"Budhe saya pergi dulu ya." kata Andra sambil menyalami Bu Halimah.


"Iya, hati-hati nak." jawab Bu Halimah.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Bu Halimah mengajak Ella masuk ke ruang tamu, setelah Bu Mirna dan Andra melangkah pergi. Mereka duduk bersebelahan di sofa. Ella mengambil irisan buah apel yang diletakkan di atas meja. Ia menggigitnya, dan mengunyahnya dengan pelan.


"Bu!" panggil Ella.


"Iya, kenapa nak?"


"Ibu dulu seperti ini tidak, waktu ditinggal Ayah?" tanya Ella sambil menatap Ibunya lekat-lekat.


Bu Halimah menghela nafas panjang, beliau diam beberapa detik untuk menata hatinya, dan memilih kata yang tepat untuk menjawabnya.


"Ibu memang sangat kehilangan. Ibu merasa sedih, dan juga terpuruk. Tapi itu tidak lama Ella, karena perlahan Ibu mulai sadar, jika hidup Ibu tidak berhenti disitu saja. Ada banyak hal yang harus Ibu lakukan, ada banyak hal yang harus Ibu perjuangkan. Salah satunya, dan yang paling utama adalah anak." ucap Bu Halimah. Beliau menjeda kalimatnya, dan melihat reaksi Ella. Ella hanya diam sambil menunduk.


"Ibu berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar, karena Ibu sadar kalian sangat membutuhkan Ibu. Kebahagiaan kalian adalah prioritas Ibu saat itu. Kalian sudah sedih karena kehilangan Ayah. Jadi mana mungkin Ibu tega membiarkan kalian semakin bersedih, karena melihat Ibu yang terpuruk." sambung Bu Halimah. Beliau merangkul Ella yang saat itu masih menunduk.


"Ibu yakin kamu juga bisa El, tetaplah tegar demi anak kamu. Dia membutuhkan kamu, sebentar lagi dia akan lahir, dia akan bersedih jika melihatmu seperti ini." ucap Bu Halimah sambil mengeratkan rangkulannya.


"Aku akan berusaha Bu." jawab Ella dengan pelan. Suaranya sedikit tertahan, Bu Halimah tahu jika saat itu Ella mulai menangis.


"Menangislah sepuasmu, jika itu bisa membuat hatimu lega. Setelah itu berjanjilah untuk tidak menangis lagi. Kamu adalah anak kebanggaan Ibu. Selama ini Ibu bisa melakukannya, jadi Ibu yakin kau juga bisa. Ibu akan selalu ada untuk kamu nak." kata Bu Halimah sambil mengusap rambut Ella. Sesekali tangannya menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi.


Setelah puas menangis, Ella melepaskan pelukan Ibunya. Ia beranjak dari duduknya, dan pamit untuk pergi ke kamarnya. Tak lupa ia juga membawa potongan buah apel, yang diletakkan didalam mangkok.


Tiba di kamarnya, Ella duduk di dekat jendela. Ia menatap keluar, menatap menara besi yang masih menjulang tinggi. Matanya yang sembap kembali berkaca-kaca, nyatanya ia tidak bisa menepati janjinya untuk tidak menangis lagi.


"Anak kita sudah hampir lahir Kai. Dan aku belum tahu dimana kau berada, dan bagaimana keadaanmu. Tapi yang jelas aku sangat merindukanmu. Meskipun itu sedikit mustahil, tapi hatiku masih mengharapkan kamu kembali Kai. Aku ingin kita bersama-sama merawat bayi kita, aku ingin tetap bersamamu Kai." ucap Ella sambil mengusap perutnya.


***


Disuatu sore, satu minggu setelah Bu Mirna pulang ke Indonesia. Andra yang saat itu sudah kembali ke Paris, menatap pantulan dirinya di cermin. Celana panjang yang dipadu dengan kaos pendek warna putih, rambutnya berdiri, dan dibiarkan cinta langit. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya keluar. Baru saja Ella meminta dirinya untuk menemaninya jalan-jalan.


"Jalan-jalan berdua, kalau aku tidak bisa mengendalikan perasaanku bagaimana. Tapi mau menolak juga tidak mungkin, dia pasti merasa suntuk di rumah terus. Membiarkan dia jalan-jalan sendirian, itu lebih tidak mungkin. Ahh dilema kan." gerutu Andra sambil mamainkan botol parfum yang akan dipakainya.


Dan tak lama kemudian, ponselnya bergetar, ada satu pesan dari Ella.


Ia sudah menunggunya diluar apartemen. Dengan cepat Andra menyemprotkan parfumnya, dan bergegas melangkah keluar dari kamarnya. Andra membuka pintu apartemennya, dan benar saja, di sana sudah ada Ella yang berdiri menunggunya. Dengan balutan dress longgar warna biru muda, serta rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja, Ella terlihat sangat cantik di mata Andra.


Namun diluar dugaan, tiba-tiba Ella menutup mulutnya sambil melangkah menjauhi Andra.


"Ada apa El?" tanya Andra sedikit heran, ia melangkah mendekati Ella.

__ADS_1


"Berhenti, jangan mendekat!" teriak Ella.


"Kenapa El?"


"Bau parfummu sangat tidak enak Ndra, aku tidak tahan, rasanya aku ingin muntah." jawab Ella sambil tetap menutup mulut, dan hidungnya.


"Apa! Baiklah, tunggu di sini aku akan ganti baju." kata Andra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau tidak mau, ia kembali masuk kedalam apartemennya, dan mengganti bajunya.


"Seribet itukah wanita hamil, ahh bagaimana ya Suci dulu, menjalani masa-masa seperti ini sendirian. Dulu aku memang bodoh, tapi sekarang juga masih bodoh. Sangat bodoh sampai-sampai aku kehilangan kabar tentang dia." gerutu Andra sambil menggenggam baju yang baru saja ia lepaskan.


Andra melemparkan baju itu ke atas sofa, lalu ia duduk sambil menopang dagunya.


"Kira-kira kemana ya Suci, dia baik-baik saja kan. Waktu itu hubungan kita cukup baik, tapi kenapa tiba-tiba dia meninggalkan aku?" ucap Andra seorang diri.


Cukup lama Andra merenung, dan melamunkan Suci. Hingga tak lama kemudian, ada teriakan nyaring yang mengagetkannya. Sebuah teriakan yang sangat memekakkan telinga.


"Andra!!" teriak Ella sambil mengetuk pintu kamar Andra.


"I...iya sebentar." jawab Andra sambil beranjak dari duduknya.


"Kenapa aku bisa sampai melupakan Ella sih." gerutu Andra sambil memakai kaos pendek warna hitam yang baru saja diambilnya dari almari.


Lalu Andra bergegas membuka pintu kamarnya, ia tersenyum lebar kala menatap Ella yang berdiri di ambang pintu dengan bibir yang manyun.


"Lama." kata Ella sambil melangkahkan kakinya.


"Sorry." ucap Andra sambil mengikuti langkah Ella.


Mereka terus berjalan meninggalkan apartemen, menyusuri jalanan yang masih sangat ramai. Beberapa kendaraan terlihat berlalu lalang kesana kemari. Sambil terus melangkahkan kakinya, Ella menatap suasana kota. Paris masih sama seperti dulu. Sebagai kota fashion Paris selalu ramai, padat, dan nyaris tidak pernah tidur. Menara Eiffel juga masih tetap sama, tetap berdiri kokoh, menjulang tinggi menantang langit. Ternyata hanya dirinyalah yang berubah, ruang hatinya kini serasa kosong, dan sebagian jiwanya seakan menghilang entah kemana.


"Mau crepes El?" tanya Andra sambil menatap Ella.


"Tidak." jawab Ella sambil menggeleng.


"Mau yang lain?"


"Tidak, kalau kau mau belilah, aku akan menunggumu." jawab Ella.


"Tidak usah." jawab Andra sambil menggeleng.


Lalu mereka terus berjalan, menuju ke taman di bawah Menara Eiffel. Andra mengajak Ella duduk di kursi panjang. Ella tersenyum getir, dulu di kursi inilah, ia selalu bercanda mesra dengan Kairi. Kemudian Ella beranjak dari duduknya, sedangkan Andra, ia tetap duduk sambil menatap Ella dari belakang.


"Kau tahu Ndra, di tempat inilah awal kisah cintaku dimulai. Dia melamarku, dan menyatakan perasaannya padaku. Romantis, aku sangat bahagia waktu itu, dengan dia disampingku, aku merasa menjadi wanita yang sempurna." ucap Ella sambil memejamkan matanya.


"Tapi tidak kusangka, ditempat ini juga kisahku berakhir. Sehari sebelum dia pergi ke Pulau Reunion, dia mengajakku ke sini. Kita menghabiskan waktu yang cukup lama di tempat ini Ndra. Kita membicarakan tentang banyak hal, tentang perasaan, tentang ikatan, tentang perpisahan, dan tentang kematian." Sambung Ella.


Lalu Andra ikut beranjak dari duduknya. Ia melangkah, dan berdiri di samping Ella.


"El, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi kau adalah wanita yang hebat, serapuh apapun dirimu, aku yakin kau tidak akan menyerah. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap hambanya, itu adalah kalimat yang dulu sering kau ucapkan padaku. Tidak salah kan jika sekarang aku yang mengucapkannya padamu," ucap Andra.


Ella terdiam, ia hanya menghela napas panjang, seraya menautkan kedua tangannya.


"Jangan menangis lagi ya El, aku sakit melihatmu bersedih. Aku ingin kau selalu bahagia," ucap Andra sambil merapikan rambut Ella yang berantakan tertiup angin.


"Aku tidak menangis Ndra." Kata Ella dengan pelan.


"Tapi kau juga tidak tersenyum." Sahut Andra.


"Semua ini berat untukku Ndra." Ucap Ella sambil menunduk.


"Berat juga untukku El, kau tahu siapa dia bagiku, dan kau juga tahu siapa dirimu bagiku. Andai saja diizinkan, aku sangat ingin menggantikan posisi Kairi, biarkan aku yang pergi asal dia bisa kembali dengan selamat. Dengan begitu kau dan dia akan bahagia, Mama bahagia, dan Papa juga bahagia," kata Andra dengan pandangan datar. Melihat Ella yang terus bersedih, ia tak mampu lagi menyimpan bebannya dalam hati.


"Andra___" ucap Ella sambil mendongak, ia menatap Andra yang masih berdiri di sampingnya. Apa yang diucapkan Andra membuat Ella terpaku di tempatnya.


Ella tahu bagaimana posisi Andra dalam keluarganya. Tapi ia tak menyangka, kalau pikiran Andra akan sejauh itu. Apa yang membuat Andra berpikir demikian, dirinya atau keluarganya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2