Tentang Rasa

Tentang Rasa
Dirawat Di Rumah Sakit


__ADS_3

Ditengah kegelapan malam, Andra turun dari mobil yang mengantarnya ke rumah sakit. Andra berlari dengan cepat, ia tak peduli dengan beberapa orang yang menatapnya dengan heran. Enam jam yang lalu ia masih duduk di kursi kerjanya, di London. Dan sekarang ia sudah tiba di Paris. Setelah mendapatkan telefon dari Bik Darmi, Andra langsung meninggalkan pekerjaannya. Ia memesan tiket pesawat yang bisa membawanya ke Paris dengan cepat.


Dan kini Andra sudah berada di sini, di halaman rumah sakit tempat Ella dirawat. Ia berlari menuju ruangan ICU, ruangan dimana Ella terbaring dalam keadaan koma. Andra berhenti didepan ruangan, ia berbincang dengan Bik Darmi yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan Ella Bik?" tanya Andra.


"Nyonya masih belum sadar Tuan, Nyonya nyaris saja keguguran. Sekarang keadaan Nyonya, dan bayinya sangat lemah." jawab Bik Darmi sambil mengusap air matanya. Beliau menangis, saat mendapati kenyataan bahwa Tuannya sedang mengalami musibah cukup berat.


"Apakah sudah diizinkan masuk?" tanya Andra.


"Sudah Tuan, silakan masuk, ada satu dokter yang menunggu di sana. Saya baru saja keluar, melihat Nyonya yang terbaring lemah, saya tidak tega Tuan." jawab Bik Darmi.


"Kalau begitu biar aku saja yang masuk Bik." ucap Andra sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia mengusap wajahnya sambil melangkah masuk kedalam ruangan.


Andra menatap satu dokter yang sedang memeriksa detak jantung Ella. Hati Andra teriris sakit, saat melihat Ella terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus tampak menancap di lengan kirinya, dan di hidungnya terpasang ventilator untuk membantu pernafasannya. Bunyi detak jantung yang terekam dalam monitor, terdengar menyakitkan di telinga Andra. Ella sedang berjuang diantara hidup, dan mati. Ia sedang berada diantara sadar, dan tidak.


Andra mendekati Ella, ia menggenggam tangannya, sambil menatap wajahnya yang pucat, dengan mata yang tertutup rapat. Lalu Andra menatap perut Ella yang mulai membuncit, hatinya semakin teriris sakit. Empat bulan yang lalu ia masih melihat Ella tersenyum bahagia, wanita itu masih tetap ceria seperti dulu. Namun sekarang, ia melihat Ella terbaring tak berdaya. Kenapa? Kenapa semuanya harus terjadi?


"Ella!" ucap Andra dengan pelan seraya mengusap tangan Ella yang berada dalam genggamannya.


"Bangun El, bangun!" ucap Andra dengan suara yang tertahan. Tenggorokannya seakan tercekat, kala melihat Ella yang selemah ini. Melihat Ella koma, jauh lebih menyakitkan, dibandingkan dengan melihat Ella menikah.


Andra menunduk, ia menggigit bibirnya. Karena terburu-buru ia sampai lupa membawa ponselnya, ia meninggalkannya di kamar apartemennya . Kini Andra hanya bisa merutuki kebodohannya. Tanpa ponsel, ia tidak bisa menghubungi Pak Louis, dan juga Bu Halimah. Ia juga tidak bisa mencari informasi terbaru tentang pencarian korban yang masih terus dilakukan. Dan ia juga tidak bisa menghubungi Suci. Tadi siang mereka sempat mengobrol, Suci berjanji akan menghubunginya setelah selai kerja, namun karena ia lupa membawa ponselnya, Suci pasti merasa kesal, ketika telefonnya terabaikan.


"Kamu harus bangun Ella, demi anak kamu, demi Kairi, dan juga demi aku. Kairi pasti masih hidup El, jadi kamu harus cepat bangun, nanti kita berdoa bersama-sama." ucap Andra dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sakit, sesak, perih bercampur menjadi satu, mengacaukan hati, dan perasaannya.


Tak lama kemudian, dokter itu pamit undur diri. Beliau berpesan, agar Andra memanggilnya, jika terjadi sesuatu dengan pasien.


Kini tinggal Andra, dan Ella yang berada didalam ruangan. Andra duduk di samping Ella, sambil tetap menggenggam tangannya. Tanpa diminta buliran bening mulai menetes dari pelupuk matanya.


"Kenapa harus seperti ini El." ucap Andra sambil memandang Ella dengan tatapan nanar. Tak pernah sekalipun ia membayangkannya, jika akan ada hari seperti saat ini. Hari dimana dia menyaksikan Ella berjuang antara hidup dan mati.


Andra tetap menatap wajah Ella, tak sedetikpun ia berpaling darinya. Bukan sedang mengagumi kecantikannya, melainkan ia menanti keajaiban, yang akan membantu Ella membuka matanya.


"Kau harus tetap hidup Kai, meskipun aku tidak tahu kau sekarang ada dimana. Tapi satu hal yang harus kau tahu, kau harus memperjuangkan hidupmu. Demi Ella, kau harus baik-baik saja. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu menjaga Ella, kau harus menepati janjimu Kai. Kau harus kembali dengan selamat." ucap Andra dalam hatinya.


Namun sebenarnya jauh didalam hatinya, ia juga merasa ragu dengan harapannya. Dari kabar yang ia dengar, 29 orang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Bukan hal yang tidak mungkin, jika Kairi juga bernasib demikian. Samudra Hindia adalah sebuah lautan lepas, meskipun berhasil selamat dari jatuhnya pesawat. Tapi jika tidak segera ditemukan, dan terlalu lama terombang-ambing di tengah lautan, itu juga bukanlah hal yang baik.


"Apapun yang terjadi, kau harus bangun El. Ingatlah bayi yang ada dalam kandungan kamu. Kamu harus menjaganya, dia adalah bukti dari cintamu bersama Kairi. Kau harus bangun, kau harus menyelamatkan dia." ucap Andra dengan nada suara yang bergetar. Tetesan demi tetesan air matanya sudah membasahi tangan Ella yang ada dalam genggamannya.


***


Dalam ruangan yang serba putih, Ella duduk dalam kesendirian. Lalu tanpa sengaja ia melihat sebuah lorong yang kecil, dan panjang. Ella beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekati lorong itu. Dan tak lama kemudian Ella mulai melangkahkan kakinya menyusuri lorong kecil itu.


Sebuah lorong yang membawanya ke sebuah tempat yang sangat indah. Hamparan rumput hijau, yang dihiasi ribuan bunga yang berwarna-warni. Ella tersenyum, ia mulai merasakan semilir angin yang meriapkan rambutnya. Gaun panjangnya yang berwana putih, terlihat berkibar saat semilir angin berhembus semakin keras.


Ella menoleh kesana kemari, ia tidak tahu tempat apa ini. Terlalu indah, tapi juga asing. Meskipun ia terpukau dengan pesona tempat ini, namun ia juga merasa gelisah, tidak ada orang sama sekali. Ella sempat merasa takut, lalu ia membalikkan badannya, dan hendak kembali menuju ruangan yang tadi.

__ADS_1


"Ella, kemarilah nak!" panggil pria paruh baya dari belakang Ella.


Ella tersentak kaget, suara itu. Suara yang sudah beberapa tahun sangat ia rindukan. Ella membalikkan badannya, ia tersenyum kala menatap sosok Ayahnya yang sedang merentangkan tangannya. Ella melangkah mendekati Ayahnya, ia hendak menghambur kedalam pelukannya. Namun belum sempat ia menyentuh Ayahnya, tiba-tiba sebuah suara yang cukup keras memanggil namanya.


"Jangan Gabriella!" teriak suara itu.


Ella menoleh, ternyata Kairi yang memanggilnya. Ella mengernyit heran, kenapa Kairi ada di sini? Sebenarnya tempat apa ini?


"Kairi." ucap Ella dengan pelan.


"Jangan kesana, tetaplah di sini!" kata Kairi sambil melangkah mendekati Ella.


"Aku hanya ingin menemui Ayah Kai. Aku sudah sangat lama merindukannya, dan kita bertemu di sini, aku ingin memeluknya. Aku juga ingin mengenalkanmu padanya." ucap Ella sambil tersenyum lebar.


"Belum saatnya kau menemui Ayah Gabriella, masih ada banyak hal yang harus kau lakukan di sini. Masih ada banyak orang yang membutuhkanmu di sini." kata Kairi sambil menatap Ella dengan tajam.


"Tapi Kai, aku hanya ingin menemuinya sebentar saja. Aku pasti kembali kesini lagi nanti." jawab Ella.


"Tidak!" bentak Kairi.


"Pergilah nak, turuti ucapan suamimu. Ayah juga akan pergi, selamat tinggal. Jaga diri kamu baik-baik, jangan bersedih, dan jangan menangis." sahut Ayahnya sambil melangkah pergi.


"Ayah! Ayah!" teriak Ella sambil menangis. Ia meronta, berusaha melepaskan diri dari Kairi. Ia hendak mengejar Ayahnya yang sudah melangkah semakin jauh.


"Lepaskan aku Kai! Aku ingin menemui Ayah!" teriak Ella.


"Kau jahat Kai! Kau melarangku bertemu dengan Ayah, apa maksudmu Kai, kenapa kau melakukan ini padaku." kata Ella disela-sela tangisnya.


Kairi diam, ia tidak menjawab perkataan Ella. Ella menatapnya dengan tajam, namun Kairi tetap saja tak berbicara. Dan tak lama kemudian, samar-samar Ella mendengar suara lain yang memanggil namanya. Suara itu terdengar cukup keras, namun Ella tak menemukan sosok yang memanggilnya. Ella mendongak, dan menoleh kesana kemari, namun tetap saja sosok itu tak menampakkan batang hidungnya.


"Kamu dengar suara itu, banyak yang menginginkan kamu untuk tetap berada di sini. Menurutlah! Kembalilah Gabriella!" kata Kairi sambil melepaskan tangan Ella.


"Dia siapa Kai, dan kamu mau kemana?" tanya Ella dengan heran. Kairi membalikkan badannya, dan pergi meninggalkan Ella.


"Aku tidak bisa bersamamu sekarang, berdoalah semoga Allah masih mengizinkan kita untuk tetap bersama. Kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan untuk kita. Bersabarlah, dan tetaplah tersenyum, serahkan semuanya pada Sang Pencipta. Kita akan bersama atau tidak, yakinlah jika itu memang yang terbaik untuk kita. Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan jalan pada setiap hambanya." kata Kairi sambil tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan Ella sendirian.


Ella terpaku, meskipun hatinya berniat mengejar Kairi. Namun kakinya sangat berat untuk dilangkahkan, seakan sudah menancap pada rerumputan hijau yang sedang dipijaknya. Ella kembali sendiri, tidak ada Ayahnya, juga tidak ada Kairi. Namun suara yang memanggil namanya masih jelas terdengar. Semakin keras, dan semakin berisik. Suara yang semakin lama terdengar semakin familiar di telinganya.


Diwaktu yang bersamaan, Andra berteriak keras memanggil dokter. Ada secercah harapan dalam hatinya, saat melihat buliran air mata menetes dari pelupuk mata Ella. Meskipun matanya masih terpejam, namun buliran itu terlihat begitu nyata. Apa yang sedang dirasakan Ella, kenapa dia menangis? Apakah dia sangat kesakitan? Ahh andai saja Tuhan mengizinkan, ingin sekali ia menggantikan posisi Ella. Biarlah ia merasakan sakit, asal Ella tetap bahagia, dan baik-baik saja.


"Doctor! Doktor! Come here doctor (dokter! Dokter! Cepat kesini dokter)!" teriak Andra dengan keras.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter, dan seorang perawat berlari masuk kedalam ruangan. Mereka langsung memeriksa kondisi Ella.


"She cries (dia menangis)" ucap Andra sambil menunjuk air mata yang masih membasahi sudut mata Ella.


Dokter itu mengangguk, dengan bantuan seorang perawat, beliau memeriksa kondisi Ella dengan sangat cermat. Dan tak lama kemudian dokter itu menatap Andra sambil tersenyum.

__ADS_1


"Her condition is starting to stabilize , soon she will wake up (keadaannya mulai membaik, sebentar lagi dia akan sadar)" ucap dokter itu.


Andra bernafas lega, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil mengucapkan Alhamdulillah, ia sangat bersyukur mendengar kondisi Ella yang mulai membaik. Dokter itu juga menjelaskan, bahwa kandungan Ella masih bisa diselamatkan. Meskipun sekarang keadaannya masih sangat lemah, tapi masih ada harapan, apalagi jika Ella segera sadar, itu akan lebih baik untuk janin didalam perutnya.


Andra duduk di samping Ella, dokter dan perawat sudah pamit undur diri. Mereka akan kembali beberapa saat lagi. Andra menggenggam tangan Ella dengan lembut, sambil menatap matanya yang belum juga terbuka. Kenangan tentang masa lalu kembali melintas dalam ingatan Andra. Bayangan tentang masa remajanya Ella, dia adalah gadis yang baik dan ceria. Meskipun hidupnya sulit, namun sekalipun ia tak pernah mengeluh. Dia adalah gadis terbaik yang pernah Andra kenal. Tapi kenapa, kenapa dia harus menagalami musibah sepahit ini?


"Cepat sembuhkanlah dia Ya Allah." ucap Andra dengan pelan.


Diluar, sang surya sudah menampakkan keperkasaannya. Sinarnya sudah terasa sangat menyengat. Namun meskipun Andra sudah menunggu Ella sejak semalam, tak sekalipun terbersit rasa kantuk, ataupun lapar. Satu hal yang paling penting untuk saat ini adalah Ella. Ia akan tetap duduk di sana sampai Ella membuka matanya.


Disaat Andra masih larut dalam kesedihannya, ia merasakan tangan Ella mulai bergerak. Andra tersentak kaget, ia menatap tangan itu dengan lekat-lekat. Dan benar saja, itu bukan ilusi, tangan Ella memang benar-benar bergerak.


"El! Ella, kamu mendengarku El!" panggil Andra sambil menatap wajah Ella.


"Doctor! Doctor!" teriak Andra memanggil dokter.


Perlahan mata Ella mulai terbuka, Dan Andra tersenyum lebar kala menatapnya.


"Ella sudah sadar, Alhamdulillah Ya Allah." ucap Andra dalam hatinya.


"El, kamu sudah sadar El." kata Andra sambil mengusap rambut Ella dengan lembut.


Tak lama kemudian dokter kembali datang. Beliau menghampiri Ella, dan memeriksa kondisinya. Dokter itu tersenyum, keadaan Ella sudah semakin membaik. Dokter itu berpesan agar Ella tidak melakukan banyak gerakan, juga tidak boleh terlalu banyak memendam beban fikiran. Dokter itu kembali pergi, beliau akan menyiapkan resep obat untuk Ella.


"Ella." ucap Andra dengan pelan.


"Andra." jawab Ella dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan.


"Aku senang akhirnya kau sadar El, tujuh belas jam kamu dalam kedaan koma, aku sangat khawatir." kata Andra sambil menatap Ella.


"Dimana Kairi?" tanya Ella masih dengan suara yang pelan.


Andra tersentak, seakan ada benda tajam yang menikam tepat di ulu hatinya. Pertanyaan Ella, bagaimana dia akan menjawabnya. Kairi belum ditemukan, jika Andra menjawab dengan jujur, pasti Ella akan sangat terpukul. Itu tidak baik untuk kesehatannya.


"Kairi baik-baik saja." jawab Andra.


"Kairi sudah ditemukan? Dimana dia sekarang, aku ingin melihatnya Ndra, antarkan aku kesana Ndra." kata Ella dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan sekarang El, kondisimu masih lemah. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau harus berbaring dengan tenang di sini." ucap Andra gugup.


"Apa kau membohongiku Ndra, apa sebenarnya kau tidak tahu dimana Kairi?" tanya Ella dengan air matanya yang mulai menetes.


"Ella, jangan berfikir yang macam-macam, fikirkan saja keadaan kamu, dan bayi kamu. Kondisinya lemah, kau nyaris saja keguguran. Tolong, demi dia, kau harus bisa tenang dalam melewati semua ini." kata Andra sambil menggenggam tangan Ella.


Ella memejamkan matanya, jawaban Andra sudah cukup membuatnya paham. Kairi belum ditemukan. Satu tangannya bergerak pelan, menyentuh perutnya, dan mengusapnya dengan pelan. Ingatannya kembali melintas pada saat Kairi akan berangkat. Jaga dia selama aku tidak ada, itulah pesan terakhir dari Kairi yang diucapkan padanya.


Hati Ella menjerit sakit, apakah saat itu Kairi sudah punya firasat buruk tentang dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku melewati semua ini sendirian Kai, aku butuh kamu. Kembalilah dengan selamat Kai, ini adalah buah cinta kita, kau harus menemaniku dalam menjaganya. Aku rapuh tanpamu, kau harus selamat, dan segera kembali." ucap Ella dalam hatinya.


__ADS_2