Tentang Rasa

Tentang Rasa
Perceraian


__ADS_3

Dimas berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai, Yura bersikeras meminta cerai, jika dirinya tidak segera dibebaskan. Sedangkan kepolisian bilang, semua bukti sudah jelas, dan Yura Esterina Collin dinyatakan bersalah. Ia tidak bisa dibebaskan, kecuali pihak korban memang mencabut tuntutannya.


Dimas masuk kedalam mobilnya, ia menunduk sambil memegangi kepalanya. Pusing, panik, dan kacau, dia bingung harus berbuat apa. Kemudian Dimas merogoh sakunya, dan mencari ponselnya, tetapi tidak ada. Dan Dimas baru ingat, jika tadi ia membanting ponselnya, dan meninggalkannya di kamar.


"Arrgghh!!" geram Dimas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan." ucap Dimas dengan pelan.


Fikirannya menerawang jauh, mengingat masa dulu saat pertama kali ia menjalin hubungan dengan Yura. Dia adalah wanita anggun dan ceria, wanita yang bisa membuat hari-harinya penuh tawa.


Tahun demi tahun terus berganti, hubungan mereka terjalin semakin erat, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Dimas berfikir setelah menikah mereka akan semakin bahagia, tetapi nyatanya tidak, rumah tangga mereka penuh dengan ujian.


Dimas merenung, memikirkan sikapnya selama ini, juga memikirkan kata-kata Dirga waktu itu.


"Kau sangat perhatian terhadap Ella Dim, ini benar karena perasaan bersalah, atau kau sebenarnya menyimpan perasaan lain untuk dia." kata Dirga waktu itu.


"Mungkin selama ini aku memang berlebihan, dan itu menyakiti Yura. Maafkan aku sayang, aku akan menebus kesalahan aku. Aku akan menemui Ella, dan meminta dia mencabut tuntutannya." ucap Dimas sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Namun baru saja ia hendak melaju, tiba-tiba matanya menatap dua orang yang sedang melangkah masuk di kantor polisi. Mereka adalah Pak Harry, dan Bu Hana, orang tuanya Yura.


Kemudian Dimas mematikan kembali mesin mobilnya, ia turun dari mobil dan melangkah menyusul mereka. Siapa tahu mereka punya cara lain untuk membebaskan Yura, sebab menemui Ella juga belum tentu berhasil, karena Kairi pasti akan menolaknya, jadi tidak ada salahnya jika mencoba berbagai cara, demi Yura.


Dimas terus melangkah hingga sampai didekat ruangan Yura. Dan langkahnya terhenti saat mendengar Yura sedang berbincang dengan orang tuanya. Ia berdiri dibalik dinding, sehingga mereka tidak menyadari kehadirannya.


"Aku menggertak Dimas, aku mengancam untuk meminta cerai, jika dia tidak membebaskan aku secepatnya." kata Yura dengan sedikit tertawa.


Dimas mengernyit heran, tadi Yura terlihat sangat sedih, tetapi kenapa sekarang nada suaranya terdengar begitu ceria.


"Kalau dia benar-benar menceraikanmu bagaimana?" tanya Bu Hana.


"Tidak mungkin Ma, tadi aku melihat sendiri Dimas hampir menangis saat melihat keadaanku di sini, dan dia pasti juga memikirkan Willi. Aku yakin Ma, Dimas pasti akan membebaskan aku." jawab Yura dengan penuh keyakinan.


"Tapi bagaimana caranya Dimas membebaskan kamu, kamu tahu sendiri kan, Da Vinci itu bukan orang sembarangan." kata Pak Harry.


"Dimas pasti menemui Ella, dan meminta bantuannya. Ella adalah gadis bodoh Pa, dia pasti mau membantuku." ucap Yura.


"Kamu yakin dengan pendapat kamu. Nanti kalau Ella tidak mau membantu, atau Dimas malah benar menceraikan kamu bagaimana. Tindakan kamu ini terlalu beresiko Yura." kata Pak Harry.


"Itu tidak mungkin Pa, Dimas sangat menyayangi Willi, dia tidak mungkin menceraikan aku." ucap Yura.


"Kalau kamu tahu Dimas sangat menyayangi Willi, dan juga sangat mencintai kamu. Lalu kenapa kamu melakukan semua ini, kamu sendiri yang rugi Yura, walaupun kamu bebas, tapi kamu tidak bisa lagi menjadi dosen, Seharusnya kamu fikirkan itu dong." kata Bu Hana.


"Aku sangat membenci Ella Ma, Dimas sangat peduli padanya. Dan juga, sebenarnya aku sedang butuh uang, itu sebabnya aku berencana menjual dia." ucap Yura.


"Kamu punya suami, jika butuh uang kenapa tidak meminta saja pada suamimu?" tanya Bu Hana.


"Aku tidak bisa Ma." jawab Yura.


"Kenapa?" tanya Bu Hana.


"Uang itu aku gunakan untuk mengganti uangnya Dimas." jawab Yura.


"Maksud kamu?" tanya Bu Hana.


"Mama ingat kan waktu aku bekerjasama dengan Johan untuk menyingkirkan Ella. Saat itu kita membuat bisnisnya Dimas bangkrut, harapanku Dimas akan meminta bantuan sama Mama dan Papa, jadi dia akan merasa berhutang budi pada kita, dan dia tidak akan meninggalkan aku. Tapi ternyata Johan gagal, dia ketahuan, dan akhirnya Dimas juga tahu jika itu ulahku. Untung saja dia masih mau memaafkan aku." kata Yura menjelaskan.


"Lalu kenapa sekarang kau butuh uang, uangnya masih kamu bawa kan?" tanya Bu Hana.


"Tidak Ma, sebelum Johan tertangkap lagi dan dijebloskan ke penjara, dia sudah mengambil semua uangnya, dia mengkhianati aku Ma. Itu sebabnya sekarang aku butuh banyak uang, untuk mengganti uangnya Dimas." ucap Yura dengan penjang lebar.


"Kamu kenapa bisa sebodoh itu sih Yura, kalau bekerjasama itu dengan orang yang betul-betul bisa dipercaya, jangan asal begitu, kalau dia berkhianat, kamu sendiri kan yang rugi." kata Bu Hana.


"Kamu itu dosen, seharusnya otak kamu lebih cerdas, jangan ceroboh seperti ini." sahut Pak Harry.


"Semua itu gara-gara Ella, kalau dia tidak ada, aku juga tidak akan seperti ini. Heran aku, dulu aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayar beberapa perusahaan, agar menolak lamaran dia, namun siapa sangka dia malah bekerja di kantor Da Vinci. Awas saja ya kalau aku sudah bebas, aku akan membuat perhitungan sama dia." kata Yura dengan penuh kebencian.


"Dan aku tidak akan membebaskan kamu!" sahut Dimas yang tiba-tiba muncul mendekati mereka.


Pak Harry, Bu Hana, dan Yura, mereka menatap Dimas sambil menganga tak percaya.


Jantung Yura berdetak dengan cepat, mungkinkah Dimas mendengarkan semua omongannya?


"Dimas..." ucap Yura.


"Aku tidak menyangka kamu seperti itu Yura, dimana sifat kamu yang anggun dan baik hati itu, kenapa sekarang yang kulihat hanya sifat licik kamu." kata Dimas sambil mendekati Yura.

__ADS_1


"Dimas ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku bisa menjelaskannya." ucap Yura sambil menggenggam tangan Dimas.


"Cukup! aku tidak butuh penjelasan kamu, karena semua kata-kata yang keluar dari mulut kamu adalah bohong." kata Dimas.


"Kamu tidak bisa seperti ini Dimas, bagaimanapun juga Yura melakukan ini karena kamu, dia sangat mencintai kamu, itu sebabnya dia sangat cemburu." sahut Pak Harry sambil berdiri.


"Begitukah Pa? Yura membuatku bangkrut, dan berencana membantuku, agar aku merasa berhutang budi padanya. Apa seperti itu yang namanya cinta? lalu dia anggap apa rumah tangga kita Pa, permainan, atau lelucon?" kata Dimas sambil tersenyum kecut.


"Dia melakukan itu agar kamu tidak meninggalkannya." kata Pak Harry.


"Jika dia masih ragu dengan perasaanku, seharusnya dulu tidak usah menerima lamaranku, dan seharusnya jangan mau menikah denganku." ucap Dimas.


"Dim, maafkan aku, aku tidak bermaksud..." sahut Yura.


"Cukup Yura! kau tadi meminta cerai kan, baik aku turuti permintaan kamu. Hari ini juga aku akan mengurus surat perceraian kita. Aku akan mengembalikanmu pada orang tuamu." kata Dimas sambil menatap Yura.


"Apa!!" teriak Pak Harry dan Bu Hana bersamaan.


"Tidak Dimas, kamu tidak boleh menceraikan aku, ingat Dim kita sudah punya Willi, kamu tidak ingin dia sedih kan." ucap Yura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Willi akan lebih sedih, jika tahu Ibunya selicik kamu." jawab Dimas.


"Dimas, kamu tidak boleh memperlakukan Yura seperti ini, kamu tidak boleh menceraikan dia." sahut Pak Harry.


"Maaf Pa, maaf Ma, ini sudah yang ketiga kalinya Yura mengecewakan aku, dia berkhianat dibelakangku. Aku tidak bisa lagi memberinya kesempatan, sekali lagi maaf, mulai detik ini Yura bukan lagi tanggung jawabku, aku mengembalikannya pada Papa." kata Dimas sambil melangkah pergi, meninggalkan mereka bertiga.


Dimas terus melangkah, ia tak peduli dengan teriakan Yura yang memanggil namanya.


Hatinya kelewat hancur mendapati kenyataan ini.


***


Pukul 19.00 waktu London.


Ella dan Kairi baru saja makan malam bersama, kini mereka sedang duduk berdua di sofa ruang tengah, mengerjakan desain yang kemarin lusa belum sempat Ella selesaikan.


Ella tersenyum saat menatap Kairi yang sedang memainkan pensilnya.


"Betapa bahagianya aku bisa mendapatkan kamu Kai, kamu benar-benar sosok yang sempurna." batin Ella dalam hatinya.


"Apa aku tampan sayang?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.


"Aku akan menunduk, agar kamu bisa puas memandangku, tanpa perlu merasa malu." ucap Kairi menggoda Ella.


"Tidak mau." kata Ella sambil tetap menunduk. Ia kembali memainkan pensilnya, mencoretkan sketsa desain diatas kertas putih.


Kairi menatap Ella sambil tersenyum, kehadiran wanita itu benar-benar membuat harinya terasa berwarna.


"Kita sudah tinggal satu atap, tapi sayang hubungan kita masih pacar. Andai saja kamu sudah halal, pasti aku lebih bahagia, bisa bebas memakanmu kapan saja." batin Kairi sambil tersenyum.


Disaat mereka sedang sibuk mengerjakan desain, tiba-tiba bel apartemen berbunyi.


"Siapa?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


"Tidak tahu, aku lihat dulu ya." kata Kairi sambil beranjak dari duduknya, dan melangkah pergi. Kairi memang tidak punya pelayan, ia lebih suka tinggal sendiri, karena menurutnya itu bisa membuatnya mandiri.


Kairi berjalan mendekati pintu, dan membukanya. Ia sedikit terkejut saat melihat siapa tamunya, Dimas Renaldi.


"Untuk apa kamu kesini? tidak terima istri kamu dipenjara?" tanya Kairi dengan nada tinggi.


"Tidak, aku kesini untuk menjenguk Ella." jawab Dimas.


"Tidak usah, dia akan lebih baik, jika tidak bertemu dengan kamu." kata Kairi dengan tetap berdiri diambang pintu.


"Tuan Da Vinci..." ucap Dimas.


"Aku bilang tidak! kau tidak boleh bertemu dengan Ella!" bentak Kairi.


"Ada apa Kai?" tanya Ella sambil mendekati mereka. Ia penasaran siapa tamunya, kenapa suara Kairi terdengar sedikit tinggi.


"Kak Dimas." ucap Ella sambil menatap Dimas.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dimas sambil menatap Ella. Pipinya masih lebam, dan bibirnya juga masih sedikit bengkak.


"Pantas saja Kairi marah, kamu terluka El." batin Dimas dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Kak Dimas masuk yuk!" ucap Ella sambil tersenyum.


"Tidak usah, aku tidak lama El. Aku hanya ingin menjenguk kamu, sekaligus meminta maaf sama kamu. Selama ini Yura banyak menyulitkan kamu, dan aku tidak tahu." kata Dimas.


"Tidak apa-apa Kak, aku sudah memaafkan Mbak Yura." ucap Ella.


"Aku sudah menceraikan dia." kata Dimas.


"Hah!! Kak Dimas bercanda kan!" teriak Ella sambil menatap Dimas.


"Tidak, aku serius. Dia lebih licik dari yang kubayangkan, bukan hanya kamu yang dia sakiti, tapi juga aku, selama ini dia sering mengkhianati aku El." kata Dimas.


"Tapi Kak, kalian sudah punya Willi, bagaimana nasib dia." ucap Ella.


"Dia anakku, tentu saja aku akan menjaganya. Ella, aku pergi dulu ya, aku kesini hanya untuk menjenguk kamu, aku senang ternyata kau baik-baik saja." kata Dimas sambil melangkah pergi.


Ella masih tertegun, ia belum bergerak ataupun mengucapkan sepatah katapun, bahkan saat Dimas sudah tak terlihat lagi. Ia masih tak percaya, jika Yura dan Dimas bercerai karena dirinya.


"Ayo sayang." ucap Kairi sambil menutup pintunya.


"Kenapa Kak Dimas cerai Kai." kata Ella sambil menatap Kairi, matanya mulai berkaca-kaca.


"Yura bukan wanita yang baik." kata Kairi sambil membimbing Ella untuk duduk di sofa.


"Tapi seharusnya tidak cerai, mereka sudah punya anak Kai." ucap Ella, ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Jika tidak cocok mau bagaimana lagi, kamu dengar sendiri kan Dimas bilang apa, Yura itu licik, dia bukan wanita baik-baik." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Tapi kasihan Willi, dia yang jadi korban, masa depannya akan hancur Kai." ucap Ella.


"Dimas pasti bisa menjamin masa depannya, aku tahu Dimas lelaki yang bertanggung jawab." kata Kairi.


"Bukan itu maksudku Kai." ucap Ella.


"Lalu?" tanya Kairi.


"Dulu aku punya teman, orang tuanya berpisah, dan dia tumbuh menjadi sosok yang buruk, ia kurang kasih sayang, dan kurang perhatian, itu membuat dia frustasi, dan akhirnya memilih hal-hal negative sebagai pelarian. Aku tidak ingin Willi tumbuh menjadi sosok yang seperti itu." ucap Ella, banyangan tentang Andra melintas diingatannya. Sosok lelaki yang berkepribadian buruk, karena korban perceraian.


"Itu tergantung dari sifatnya masing-masing sayang." kata Kairi.


"Tapi kebanyakan seperti itu Kai, kau tahu Kakakku juga bercerai, dan sekarang keponakanku juga berubah, mereka menjadi lebih bandel, dan nakal. Prestasinya disekolah juga merosot, aku hanya tidak ingin Willi mengalami hal itu, kasihan dia Kai." ucap Ella.


"Aku paham dengan maksud kamu, tapi percayalah, kepribadian seseorang tidak bergantung pada keadaan. Banyak anak diluar sana, yang bisa tumbuh menjadi sosok yang baik, meskipun orang tuanya bercerai, dan dia tidak pernah diperhatikan. Terkadang mereka menjadikan itu semua sebagai pelajaran, agar dimasa depannya ia tidak melakukan kesalahan yang sama seperti orang tuanya." kata Kairi sambil memegang kedua bahu Ella.


"Aku tahu, tapi itu sangat jarang Kai. Hanya anak-anak hebat yang bisa berfikir sedewasa itu." ucap Ella.


"Benarkah sangat jarang? jadi menurutmu hanya anak hebat yang bisa melakukan itu?" tanya Kairi sambil menyembunyikan senyumannya.


"Bukan hanya hebat, tapi sangat hebat." jawab Ella.


"Berarti aku juga termasuk anak yang sangat hebat." batin Kairi sambil tersenyum.


"Kai, aku capek, aku istirahat dulu ya, desainnya kita kerjakan besok lagi tidak apa-apa kan?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


"Tidurlah, desainnya tinggal sedikit. Biar aku saja yang menyelesaikan." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Baiklah, tapi aku tetap digaji kan?" tanya Ella sambil tertawa.


"Jangan menggodaku sayang." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Kenapa?" tanya Ella masih dengan tawanya.


"Kalau aku tergoda nanti kau pasti menangis." goda Kairi sambil tersenyum.


"Dasar mesum!!" teriak Ella sambil berlari ke kamarnya.


Kairi menatapnya sambil tertawa keras.


Ella masuk kedalam kamarnya, tetapi ia tidak tidur, melainkan duduk didekat jendela kamarnya. Ia menyibak sedikit tirainya, dan memandang bintang-bintang yang berkedip indah di angkasa.


"Ternyata datang ke London tidak sesederhana yang kubayangkan. Dulu kufikir aku akan kuliah, lalu bekerja dan membangunkan toko untuk Ibu, lalu aku pulang dan menikah. Dulu kuharap Andra yang akan menikah denganku." ucap Ella sambil menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.


"Tapi ternyata takdir berkata lain, takdir memberiku jalan yang sedikit berliku. Takdir membuatku bersedih saat aku tahu Andra mencintai sahabatku, tapi perlahan kesedihan itu hilang saat takdir menghadirkan Kairi dalam hidupku. Tapi aku tidak menyangka, jika kehadiranku di sini juga membuat Kak Dimas, dan Mbak Yura berpisah. Ya Allah sebenarnya aku tidak menginginkan hal ini, jika saja aku tahu kejadiannya akan begini, lebih baik aku tidak pernah datang ke sini." ucap Ella sambil mengusap air matanya yang mulai menetes.


"Tidak lama lagi aku akan pulang ke Indonesia bersama Kairi, akankah takdir kembali memberikan jalan yang tak terduga padaku. Aku dan Andra akan bertemu, lalu Kairi dan cinta pertamanya juga akan bertemu, apa yang akan terjadi nanti?" ucap Ella sambil menunduk.

__ADS_1


"Aku dan Andra sudah memiliki pasangan sendiri-sendiri, tentu saja kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing, persahabatan kita akan berakhir. Tapi kalau Kairi, bagaimana jika wanita itu sekarang mencintainya. Ya Allah, aku hanya berharap, jika takdirku memang bersama dengan Kairi, aku tidak sanggup kehilangan dia." ucap Ella dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.


Bersambung......


__ADS_2