Tentang Rasa

Tentang Rasa
Khayalan Yang Menjadi Kenyataan


__ADS_3

Setelah hampir dua jam penerbangan, akhirnya Kairi, dan Ella sampai juga di Paris. Mereka kini telah tiba di Bandara Internasional Paris Charles De Gaulle.


Sejak menapakkan kakinya waktu turun dari pesawat, Ella tak henti hentinya tersenyum. Rasanya ini seperti mimpi. Dirinya berada di kota Paris, kota impian yang sangat indah menurutnya.


"Apa aku punya kesempatan untuk melihat Menara Eiffel ya, letaknya jauh tidak ya dari sini." batin Ella dalam hatinya.


Lalu kemudian ia merasakan tangannya menghangat, ternyata Kairi kembali menggandengnya.


Ella menatapnya, lelaki itu sedang tersenyum manis padanya.


"Welcome to Paris." ucap Kairi sambil merentangkan tangannya.


Ella tersenyum melihatnya, hatinya sudah lebih tenang, ia tidak setakut tadi. Aneh, apakah naik pesawat itu bisa menenangkan hati ya ?


Dulu waktu pertama kali menginjakkan kakinya di London, ia juga merasa bahagia, dan tidak merasa sedih seperti saat di Bandara Juanda.


Dan sekarang juga sama. Ia merasa resah waktu di Bandara Heathrow, dan merasa bahagia saat sudah mendarat di Bandara Charles De Gaulle. Apa terbang diangkasa memang bisa meringankan beban ya ?


"Kai..." panggil Ella. Ia mencoba untuk terbiasa memanggil Kairi tanpa sebutan pak, karena Kairi sangat menolak hal itu.


"Hemm." jawab Kairi dengan gumaman pelan.


"Apakah kita langsung menemui klien ?" tanya Ella. Sebenarnya dia ingin menanyakan 'kita akan tinggal dimana ?' tapi Ella merasa kurang nyaman untuk mengatakan hal itu secara langsung.


"Tentu saja tidak, ini sudah senja Gabriella. Besok saja kita menemui dia." jawab Kairi sambil menatap Ella dengan heran. Bisa bisanya dia menganggap akan menemui klien, saat baru saja turun dari pesawat.


"Lalu kita akan kemana ?" tanya Ella. Akhirnya bisa juga dia memancing Kairi untuk mengatakan dimana mereka akan tinggal. Benar memang, kalau wanita itu suka berbelit belit, dan banyak teka teki. Sabar ya para lelaki, jangan patah semangat untuk belajar lebih peka.


"Ke apartemenku." jawab Kairi.


"Hah..." ucap Ella sambil menoleh kaget. Kok apartemen ?


Bukannya rumah, atau penginapan yang berbeda kamar begitu. Kalau apartemen, berarti mereka akan tinggal berdua dalam satu atap. Membayangkannya saja sudah membuat jantung Ella berdegub kencang.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu ?" tanya Kairi saat melihat Ella menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak mau tinggal di apartemenmu." jawab Ella.


"Kenapa ?" tanya Kairi heran.


"Kamu punya niat buruk ya, mengajakku tinggal dalam satu atap, tanpa ada orang lain." gerutu Ella.


"Kamu jangan salah paham Gabriella, kita tidak tinggal satu atap." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Maksud kamu ?" tanya Ella dengan heran.


"Kamu tinggallah di apartemenku, sedangkan aku, aku akan tinggal dengan Papa." jawab Kairi menjelaskan.


Ella bernafas lega, bibirnya mengukir senyuman, sepertinya Kairi memang lelaki yang baik.


Tapi tunggu, tempat tinggal Papanya dimana ya, kalau jauh dari apartemennya bagaimana ?


"Papamu tinggal dimana ?" tanya Ella ragu ragu.

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin tahu ?" Kairi balik bertanya.


"Apakah jaraknya jauh dengan apartemen ?" tanya Ella sambil terus berjalan, beriringan dengan Kairi.


Kairi tertawa mendengar pertanyaan Ella, "Memangnya kenapa ?, kamu takut rindu ya, jika aku jauh darimu ?" tanyanya menggoda Ella.


"Jangan sembarangan, bukan seperti itu maksudku. Aku kan tidak bisa bahasa Perancis, dan aku tidak pernah tahu tentang negara ini. Mana bisa aku sendirian." jawab Ella dengan kesal.


Kairi menatap Ella sambil tersenyum, bahagia rasanya melihat pipi Ella bersemu merah seperti sekarang ini.


"Kamu tenang saja, tempat tinggal Papa, dan apartemenku jaraknya tidak jauh. Aku yang mengajakmu kesini, tentu saja aku akan bertanggung jawab atas keselamatan kamu." kata Kairi, dan sukses membuat pipi Ella semakin merona.


Lalu mereka berjalan menuju mobil yang menjemput mereka. Kairi, dan Ella duduk bersebelahan di kursi belakang.


"Apakah apartemenmu masih jauh dari sini ?" tanya Ella.


"Sekitar 35 km, tidak sampai satu jam kita sudah sampai." jawab Kairi.


"Oh." ucap Ella singkat. Ingin rasanya dia bertanya dimana letak Menara Eiffel, tapi dia kan kesini untuk urusan kerja, bukan liburan. Ia merasa tidak nyaman untuk menanyakannya.


Dan akhirnya Ella memilih diam, sambil menikmati pemandangan diluar. Gedung gedung yang menjulang tinggi, berbaris rapi disepanjang jalan. Senja sudah hampir berlalu, dan sinar terang dari lampu lampu kota mulai terlihat.


Ia tak pernah menyangka, bisa menginjakkan kakinya di negara ini. Negara yang sejak dulu, hanya ada dalam khayalannya saja.


"Gabriella, lihatlah, bukankah itu sangat indah." ucap Kairi sambil menunjuk kedepan.


Ella mengikuti arahan Kairi, dan ia bisa melihat sesuatu yang menjulang sangat tinggi, dengan dihiasi cahaya yang sangat terang. Apakah itu yang namanya Menara Eiffel ?


Ella kembali menatap menara itu. Yang saat ini hanya ujungnya saja yang terlihat, namun semakin jauh mobilnya melaju, menara itu terlihat semakin dekat.


Apakah Kairi akan mengajaknya mampir disana ?


Ella semakin merona, hatinya benar benar bahagia.


Sekitar lima menit kemudian, menara besi yang berdiri di Champ De Mars, ditepi sungai Seine itu terlihat sangat jelas, mulai dari bawah hingga keujung atasnya. Ella benar benar berada didekat Menara Eiffel sekarang, ahh rasanya ini seperti mimpi.


Tapi kenapa Kairi tidak berhenti, apakah mereka hanya akan lewat saja ?


"Sadar Ella, kesini untuk urusan kerja, bukan liburan. Jangan berharap yang berlebihan. Harusnya kamu sudah bersyukur, bisa melihat Menara Eiffel dengan jarak yang begitu dekat, walaupun hanya sekilas. Masih lebih baik kan, daripada melihatnya lewat internet." ucap Ella dalam hati, ia memperingatkan dirinya sendiri.


Namun tak lama kemudian, mobil memasuki pelataran apartemen, dan berhenti disana.


"Kita sudah sampai Gabriella." ucap Kairi.


"Benarkah ?" tanya Ella tidak percaya. Dia akan tinggal di apartemen ini, apartemen yang jaraknya sangat dekat dengan Menara Eiffel. Ahh bukankah ini suatu keburuntungan yang sangat besar.


"Iya. Mari kita masuk." ajak Kairi sambil turun dari mobil.


Ella juga ikut turun. Kemudian mereka berjalan masuk, lalu menaiki lift, dan turun dilantai sepuluh.


Kairi menggandeng tangan Ella, dan mengajaknya masuk kedalam apartemennya.


"Apartemen ini memiliki dua kamar, tapi kamarku yang lebih nyaman. Kamu bisa tinggal disana." kata Kairi saat mereka sudah sampai didalam apartemen.

__ADS_1


"Aku memilih kamar yang lain saja." jawab Ella. Kurang nyaman rasanya, kalau harus tinggal di kamar Kairi.


"Benarkah ?, kau tidak ingin melihatnya lebih dulu." tanya Kairi.


"Tidak." jawab Ella singkat.


Kairi melangkah meninggalkan Ella, dan dia berhenti didepan pintu kamar.


"Lihatlah dulu, nanti kau akan berubah pikiran." ucap Kairi sambil tersenyum.


Mau tidak mau Ella mengikutinya, ia ikut melangkah memasuki kamar Kairi. Kamar itu tertata rapi, dan dimoninasi warna biru. Apa dia menyukai warna biru ya ?


"Kemarilah !" kata Kairi sambil berdiri didekat jendela.


Dengan ragu ragu Ella melangkah mendekatinya.


Dan tiba tiba Kairi menyingkap tirainya, dan memperlihatkan pemandangan yang sangat menakjubkan.


Menara Eiffel yang bersinar terang, terlihat sangat jelas dari tempat ini.


Dan belum puas Ella mengagumi pemandangan dihadapannya, tiba tiba Kairi sudah mengejutkannya.


"Apakah kau menyukainya Gabriella ?" tanya Kairi sambil memeluk Ella dari belakang.


Jantung Ella berdegub kencang, pelukan Kairi terasa begitu hangat ditubuhnya, dan suaranya begitu lembut membisik di telinganya.


"Izinkan aku membahagiakan kamu, selamanya." bisik Kairi dengan sangat pelan, namun Ella masih bisa mendengarnya. Tubuhnya seakan tersengat listrik, saat nafas Kairi terasa menghangat di lehernya. Dan anehnya Ella sangat menikmati pelukan itu, seakan ia tak mau melepaskannya.


Namun tak berapa lama kemudian, Kairi melepaskan pelukannya. Dan Ella seakan tersadar dari lenanya. Ahh lelaki ini benar benar sukses meluluhkan hati Ella.


"Beristirahatlah, aku ada di apartemen sebelah, panggil saja jika kamu butuh sesuatu." kata Kairi sebelum meninggalkan Ella.


"Katanya kau akan tinggal dengan Papamu ?" tanya Ella.


Kairi tersenyum, "Benar, dan Papaku tinggal di apartemen sebelah." jawab Kairi.


"Oh begitu." gumam Ella sambil mengangguk angguk.


"Aku pergi dulu ya, tidurlah disini, tidak perlu sungkan." ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella dengan lembut.


"Baik." jawab Ella sambil tersenyum.


Ella menatap kepergian Kairi dengan heran. Seorang Louis Da Vinci, tinggal di apartemen. Bukankah itu sangat aneh ?


Beliau adalah pembisnis besar, kantor cabangnya tersebar diberbagai negara, dan hanya tinggal di apartemen biasa, bukan di rumah mewah yang dirancang bak istana.


Apakah orang yang sudah kelewat kaya, gaya hidupnya memang begitu hemat ya ?


Ella menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ahh sudahlah, untuk apa memikirkan mereka. Lebih baik sekarang aku tidur dikasur yang sangat empuk." ucap Ella sambil merbahkan tubuhnya dikasur.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2