Tentang Rasa

Tentang Rasa
Penyesalan Angelina


__ADS_3

Kairi melangkah mendekati Angelina, ia meraih tubuh Ella, dan membawanya kedalam pelukannya. Hati Kairi teriris sakit, saat melihat kondisi Ella yang menyedihkan.


"Lelaki macam apa aku ini, bahkan menjaga wanitaku saja, aku tidak bisa." batin Kairi dalam hatinya.


Kemudian dengan cepat ia menggendong Ella, dan membawanya keluar dari ruangan itu. Rey, dan Angelina berjalan mengikutinya.


"You drive it (kau yang menyetir)!" perintah Kairi pada Angelina saat mereka sudah tiba dimobil.


"Okay." jawab Angelina sambil masuk kedalam mobil Kairi, ia duduk didepan kemudi.


"Rey, call Jacub, and told to come to the apartment (Rey, hubungi Jacub, dan suruh dia datang ke apartemen)" kata Kairi sambil menatap Rey.


Jacub adalah seorang dokter yang cukup akrab dengan Kairi, dulu mereka adalah teman dekat sewaktu kuliah di Perancis.


"Okay." jawab Rey sambil masuk kedalam mobilnya.


Kairi juga langsung membawa Ella masuk kedalam mobilnya, ia duduk di kursi belakang. Ia membaringkan Ella, dan memangku kepalanya. Angelina mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, dan bergegas menuju apartemennya Kairi.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjagamu dengan baik." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella. Kairi merasakan tangan kekasihnya begitu dingin, dan ia mulai panik.


Tanpa berfikir panjang, Kairi melepaskan kemejanya, dan menyelimutkannya pada tubuh Ella. Angelina meliriknya lewat pantulan kaca, ia bisa menatap dengan jelas tubuh Kairi yang sedang bertelanjang dada. Ahh, lagi-lagi Angelina merutuki kebodohannya, meninggalkan lelaki seperti Kairi, lelaki yang memiliki hati, dan fisik yang sempurna.


Angelina menggelengkan kepalanya, tidak, sekarang bukan saatnya untuk menyesali kesalahan yang telah lalu. Ia harus fokus dengan jalanan yang ada didepannya, ia harus secepatnya sampai di apartemennya Kairi dengan selamat.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai dihalaman apartemen, Angelina menghentikan mobilnya, dan Kairi langsung menggendong tubuh Ella, dan membawanya keluar dari mobil. Angelina juga mengikutinya, ia meminta tolong pada satpam untuk memarkirkan mobilnya.


Kairi tak peduli dengan tatapan orang-orang yang berpasan dengannya, memang kehadirannya cukup menarik perhatian. Ia bertelanjang dada sambil membawa wanita dalam gendongannya. Kairi berjalan dengan sangat cepat, ia naik lift dan turun di lantai 10, ia masuk kedalam apartemen nomor 99.


Angelina tampak kesulitan mengatur langkahnya, ia tertinggal jauh dibelakang Kairi. Lelaki itu berjalan dengan sangat cepat.


Kairi membawa Ella kedalam kamarnya, ia membaringkan tubuh Ella diatas ranjangnya. Kemudian Kairi berlari menuju almarinya, ia mengambil piyama panjang miliknya. Kairi kembali mendekati Ella sambil membawa piyamanya, namun ia tertegun sejenak, ia sadar jika ia tak bisa melakukannya. Kairi membalikkan badannya, ia menoleh menatap Angelina yang masih berdiri didekat pintu.


"Please change the clothes (tolong gantikan bajunya)" kata Kairi sambil mendekati Angelina.


"Okay." jawab Angelina sambil mengangguk.


Lalu ia meraih piyamanya, dan melangkah mendekati Ella. Sedangkan Kairi, ia melangkah keluar dari kamarnya.


Angelina melepaskan dress yang membalut tubuh Ella, lalu ia menggantinya dengan piyamanya Kairi. Angelina menatap setiap jengkal ruangan itu, sebuah kamar yang rapi dengan nuansa biru cerah. Tidak ada yang berubah, kamar itu masih sama seperti dulu, sewaktu ia masih menjadi kekasihnya Kairi. Angelina tersenyum getir, hatinya teriris sakit. Kamarnya memang tidak berubah, tetapi pemilik kamar ini yang sudah berubah. Hatinya bukan lagi miliknya, tetapi milik wanita lain yang sekarang sedang terbaring lemah dihadapannya. Angelina mengusap perutnya yang masih rata, dirinya sudah sekotor ini, dan masih bermimpi bisa bersama dengan Kairi. Bodoh sekali, mana mungkin Kairi mau menerimanya, meskipun seandainya dia belum punya kekasih.


Angelina mendongak sambil memejamkan matanya, berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya. Lalu ia melangkah keluar untuk memanggil Kairi. Namun saat ia membuka pintu, ternyata Rey, dan Jacub sudah tiba di sana.


Angelina tersenyum sambil mengangguk, lalu Jacub, dan Kairi melangkah menuju ranjang tempat Ella terbaring. Sedangkan Rey, ia menemani Angelina berdiri didekat pintu.


Jacub mulai mengeluarkan peralatannya, dan memeriksa kondisi Ella. Beberapa menit kemudian, ia menatap Kairi sambil tersenyum.


"She is fine, this is just a drug effect, she will wake up soon (dia baik-baik saja, ini hanya efek obat biusnya, sebentar lagi dia akan sadar)" kata Jacub menjelaskan tentang kondisi Ella.


"In that case thank God (syukurlah kalau begitu)" ucap Kairi sambil mengusap wajahnya, ia bisa bernafas lega saat mengetahui kondisi Ella baik-baik saja.


"This is an ointment to treat bruisses on her cheeks, and this is a vitamint taken once a day (ini salep untuk mengobati memar di pipinya, dan ini vitamin diminum satu kali sehari)" kata Jacub sambil menyodorkannya pada Kairi.


"Thank you (terima kasih)" jawab Kairi sambil menerima salep, dan vitaminnya.


"I'am going, take care of him (aku pergi ya, jaga dia baik-baik)" kata Jacub sambil tersenyum, dan menepuk bahu Kairi.


"Of course (tentu saja)" jawab Kairi sambil membalas senyuman Jacub.


Lalu Jacub melangkah pergi, meninggalkan Kairi, dan yang lainnya.


Kairi naik keatas ranjang, ia mengusap rambut Ella yang kusut, dan berantakan. Sakit, hati Kairi sangat sakit melihat Ella yang seperti ini. Pipinya memar, dan membiru, bibirnya bengkak, dan sedikit berdarah.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Cepatlah sadar, dan lihatlah bagaimana aku menghancurkan wanita gila itu." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella dengan erat.


Lalu Kairi menunduk, memeluk Ella, dan mencium keningnya cukup lama. Angelina memalingkan wajahnya, rasa sakit kembali menusuk tepat diulu hatinya.


"It seems you really love him Kai (sepertinya kau sangat mencintainya Kai)" batin Angelina dengan mata yang berkaca-kaca.


Kemudian Angelina melangkah keluar dari kamar itu, ia tak ingin melihat lagi, bagaimana cara Kairi memperlakukan Ella. Angelina memilih duduk disebuah sofa di ruang tengah, ruangan yang tak jauh dari kamarnya Kairi.


Namun baru saja beberapa detik ia duduk, tiba-tiba Rey sudah menyusulnya, dan duduk disebelahnya.


"You have to let her go Angelina (kau harus mengikhlaskan dia Angelina)" kata Rey sambil menatap Angelina.


"I'am stupid, leaving a man as good as him (aku memang bodoh, meninggalkan lelaki sebaik dia)" ucap Angelina sambil mengusap air matanya yang mulai menetes.


"There's no point in regretting the past, better just fix things that haven't happened yet (tidak ada gunanya menyesali hal yang telah lalu, lebih baik perbaiki saja hal yang belum terjadi)" kata Rey.


"I know, but my mistake was too fatal Rey, irreparable or not (aku tahu, tapi kesalahanku terlalu fatal Rey, entah bisa diperbaiki atau tidak)" ucap Angelina sambil menunduk, menatap perutnya yang masih rata, namun ia sangat tahu, jika ada janin yang bersemayam didalam sana.


"As long as you have the intention, God will surely provide a way (selama kau punya niatan, Tuhan pasti akan memberikan jalan)" ucap Rey sambil menepuk bahu Angelina.


"Thank you (terima kasih)" jawab Angelina sambil menoleh menatap Rey.


"Do not cry, keep smile (jangan menangis, tersenyumlah)" ucap Rey sambil mengusap air mata Angelina dengan jemarinya.


Angelina diam, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, namun detik berikutnya ia menyunggingkan senyum di bibir ranumnya.

__ADS_1


***


Pukul 20.00 waktu London.


Ella membuka matanya dengan perlahan, dan mengumpulkan kesadarannya. Ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya, namun ia kesulitan, ada sesuatu yang menahan tubuhnya.


Ella menoleh kesamping, ia melihat Kairi sedang terlelap sambil memeluk pinggangnya. Ella menggerakkan tangannya, dan mengusap pipi Kairi.


"Ternyata itu benar-benar kau Kairi, terima kasih sudah menolongku untuk yang kedua kalinya, maafkan aku Kai, aku telah mengabaikan pesanmu." kata Ella sambil tersenyum.


Saat ia mulai kehilangan kesadarannya, samar-samar ia melihat Kairi datang menolongnya, dan ternyata itu bukan hanya ilusinya, melainkan memang kejadian yang nyata.


Ella menatap Kairi lekat-lekat, sambil mengusap rahangnya dengan jemarinya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku Kai, tanpa adanya kau, mungkin sekarang aku sudah kehilangan masa depan." ucap Ella sambil fikirannya menerawang jauh.


Rasanya masih tidak percaya, jika Yura bisa melakukan hal sekejam itu padanya. Dulu waktu pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di London, Yura adalah wanita anggun yang sangat ia kagumi, Yura adalah wanita baik yang ia anggap seperti saudara. Namun kini, semua kebaikan Yura hanya tinggal kenangan, wanita itu nyaris saja menghancurkan hidupnya.


Dan lamunan Ella terhenti, kala jemarinya digenggam erat oleh Kairi.


"Kau sudah bangun sayang, maaf aku tertidur." ucap Kairi sambil menggenggam tangan Ella yang masih menempel di rahangnya. Ia hendak bangkit dari tidurnya, namun Ella menahannya.


"Aku tahu kau lelah." jawab Ella sambil tersenyum.


"Sekarang bagaimana keadaanmu? apa yang kau rasakan?" tanya Kairi dengan penuh kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja Kai, aku tidak apa-apa." jawab Ella.


"Maafkan aku sayang, aku gagal menjagamu." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella lebih erat.


"Aku yang salah Kai, aku mengabaikan pesanmu, ternyata Mbak Yura memang bukan orang baik." ucap Ella.


"Iya, dan sekarang dia sudah membayar atas apa yang telah dilakukannya." kata Kairi.


"Apa maksudmu Kai?" tanya Ella ingin tahu.


"Polisi sudah menagkapnya." jawab Kairi.


"Mbak Yura dipenjara?" tanya Ella.


"Iya." jawab Kairi.


"Lalu bagaimana dengan William Kai?" tanya Ella.


"Gabriella, dia sudah jahat padamu, jangan lagi fikirkan tentang dia. Lagipula masih ada Dimas kan yang mengurusi anaknya." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Ssstt diamlah, aku tidak mau membicarakan dia!" ucap Kairi dengan tegas.


Lalu Kairi merengkuh tubuh Ella, dan membawanya kedalam pelukannya. Ella tidak menolak, jujur ia juga merasa nyaman dengan perlakuan Kairi. Pelukan lelaki itu sangat lembut, dan hangat, Ella merasa tenang dibuatnya.


"Kau adalah wanita yang kucintai Gabriella, aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani menyentuhmu. Kau tahu, hatiku sangat sakit melihat keadaanmu saat ini." kata Kairi sambil memeluk Ella dan mengusap-usap rambutnya.


"Aku tidak apa-apa Kai." ucap Ella dengan pelan.


Setelah cukup lama, Kairi melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah wanitanya yang sedang tersenyum manis padanya.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Kairi sambil menyentuh pipi Ella yang memar.


"Mbak Yura." jawab Ella.


"Dasar wanita gila, untung saja aku sudah membalas tamparannya." geruru Kairi dalam hatinya.


"Kalau ini?" tanya Kairi sambil menyentuh bibir Ella.


Jantung Kairi berdetak dengan cepat saat menanti jawaban yang keluar dari mulut Ella.


"Kalau sampai lelaki itu yang melakukannya, aku pastikan dia akan meregang nyawa sekarang juga." batin Kairi dalam hatinya.


"Aku sendiri yang melukainya." jawab Ella.


"Apa maksudmu?" tanya Kairi dengan heran.


"Dia memaksa ingin menciumku, aku tidak mau Kai, aku tidak sudi disentuh olehnya." jawab Ella.


"Gabriella, maafkan aku sayang. Kau mengalami hal buruk sendirian, andai saja aku datang lebih awal, kau tidak akan mengalami semua ini. Maafkan aku." kata Kairi dengan penuh penyesalan.


"Jangan terus meminta maaf, kau sudah menolongku, kau datang tepat waktu Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi, dan tersenyum.


Kairi membalas senyuman Ella, sambil mengusap-usap pipinya dengan lembut. Mereka saling bertatapan mata, dan hanyut dalam lamunannya masing-masing.


"Tunggulah di sini, aku akan memasak untukmu, kau ingin makan apa?" tanya Kairi setelah mereka saling diam untuk beberapa saat.


"Nanti saja." jawab Ella sambil menahan tangan Kairi yang hendak bangkit dari tidurnya.


"Kau harus makan sayang, setelah itu minum vitaminnya." ucap Kairi.


"Kai..." panggil Ella.

__ADS_1


"Hmmm." gumam Kairi.


Ella menatap Kairi lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang sulit untuk ia ungkapkan.


"Ada apa? katakan saja." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Tadi siang, apa yang terjadi padamu?" tanya Ella dengan pelan.


"Angelina menjebakku." jawab Kairi sambil menghela nafas panjang.


Ella masih menatap Kairi, seakan ia meminta penjelasan yang lebih lewat tatapan matanya.


"Angelina hamil, namun lelaki yang menghamilinya tidak bertanggung jawab. Aku bertemu dengannya dijalan, dia pura-pura diganggu orang, dan meminta tolong padaku. Lalu aku menolongnya, dan mengantarnya pulang, dia mengajakku untuk mampir, dan memberiku secangkir teh yang sudah dicampur dengan obat tidur. Dia menjebakku, dan berharap bisa menikah denganku. Tapi kau tenang saja, selamanya hal itu tidak akan pernah terjadi." sambung Kairi.


Ella terdiam, ia tak menyangka jika saat ini Angelina sedang hamil. Ahh, Ella jadi teringat akan Andra. Dulu Andra pernah dijebak Suci sampai kehilangan pendidikannya. Tapi itu juga bukan murni kesalahannya Suci, meskipun Andra bukanlah orang yang menghamilinya, tapi Andra juga sering menidurinya.


"Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sana?" tanya Ella.


"Angelina yang memberitahuku." jawab Kairi.


"Angelina?" ucap Ella mengulangi ucapan Kairi.


"Iya, awalnya dia berpihak pada Yura, tapi kemudian dia berubah fikiran, dia mengkhianati Yura dan berpihak padaku." kata Kairi menjelaskan.


"Ohh." ucap Ella.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Kairi.


"Tidak." jawab Ella.


Kemudian Kairi bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil menatap Ella.


"Kau ingin makan apa?" tanya Kairi.


"Telur dadar saja." jawab Ella.


"Telur dadar? kau tidak ingin yang lain?" tanya Kairi sambil mengernyitkan keningnya.


"Tidak." jawab Ella sambil menggelang.


"Ada banyak sayuran, dan juga daging di kulkas, katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan memasaknya untukmu." ucap Kairi.


"Tidak Kai, aku hanya ingin telur dadar." jawab Ella.


"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar ya." ucap Kairi sambil menghela nafas panjang.


Banyak makanan yang tersedia, kenapa pilihannya hanya telur dadar.


"Iya." jawab Ella sambil mengangguk, dan tersenyum.


Lalu Kairi beranjak dari duduknya, ia turun dari ranjang, dan melangkah keluar kamar.


Ella juga bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Ella meraih guling yang berada disebelahnya, dan ia menyadari jika baju yang dipakainya bukanlah miliknya.


"Kairi!!" teriak Ella dengan keras.


Kairi yang baru saja keluar dari pintu, spontan langsung berlari menghampiri Ella.


"Ada apa sayang?" tanya Kairi dengan panik.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


"Maksud kamu?" tanya Kairi tidak mengerti.


"Ini bukan bajuku, seharusnya kau tidak boleh melakukannya Kai!" teriak Ella sambil menunduk.


Kairi menghela nafasnya, sekarang ia tahu apa maksudnya Ella. Wanita itu sudah salah paham dengan dirinya.


"Kau tenang dulu, bukan aku yang melakukannya, tapi Angelina." kata Kairi sambil memegang kedua bahu Ella.


"Angelina tidak ada di sini, kau jangan membohongiku Kai." kata Ella.


"Aku tidak bohong sayang, tadi Angelina dan Rey ada di sini, tapi mereka sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Aku tidak membohongimu, percayalah padaku!" kata Kairi sambil menatap Ella.


"Kau serius dengan perkataanmu?." tanya Ella.


"Aku serius, aku tidak bohong. Memang Angelina yang melakukannya bukan aku. Lagipula jika memang aku ingin melihatmu, bukan dalam keadaan pingsan sayang, tapi dalam keadaan sadar seperti ini." kata Kairi sambil tersenyum miring.


"Apa maksud kamu?" teriak Ella.


"Tidak seru jika melakukannya dalam keadaan pingsan sayang, tidak ada perlawanan, tidak ada desahan, dan tidak..." ucap Kairi.


"Diam!!" teriak Ella sambil melemparkan bantal pada tubuh Kairi.


Kairi tertawa keras, sambil melangkah pergi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2