Terjebak Cinta Sang Pewaris ( Twins Ax )

Terjebak Cinta Sang Pewaris ( Twins Ax )
Pohon Mangga Keramat


__ADS_3

Hari pertunangan semakin dekat, dan saat itu juga keluarganya semua hadir di rumahnya saat ini termasuk keluarganya yang dari Indonesia.


Seperti saat ini, Rigel yang baru saja pulang dari kantornya di kejutkan dengan kedatangan keluarganya yang sudah berkumpul di rumahnya.


Melihat keluarganya yang sedang berkumpul di rumahnya membuat Rigel langsung menatap datar pada mereka semua.


Mereka yang melihat reaksi Rigel seperti itu langsung tau, bahwa pria itu tidak senang dengan kehadiran mereka semua di sana.


" Kenapa wajahmu terlihat tidak senang saat melihat kami di sini? apa masalahnya?" Tanya Acher yang melihat bahwa wajah saudara kembar yang tidak bersahabat pada mereka.


Tatapan Rigel kini tertuju pada saudara kembarnya dengan istrinya yang terus saja menempel seperti lintah berperut buncit itu.


" Kau sudah tahu kenapa aku melihatmu seperti itu karena aku tidak menyukai kehadiran kalian di sini. Tidak bisakah kalian meninggalkanku disini dan lebih memilih menginap saja di hotel? banyak hotel yang tersebar di kota Paris ini lalu kenapa kalian memilih tinggal di rumahku?" Rigel menjelaskan ketidaksukaannya terhadap mereka semua.


Dia ingin menenangkan dirinya setelah beberapa hari ini berdebat dan bermain drama bersama Belle.


Dari mulai tema, gaun, cincin tunangan bahkan hingga sepatu saja pun di permasalahkan oleh kekasihnya itu.


Tidak tau kah mereka ini bahwa togel ingin tidur dengan tenang tanpa harus di ganggu oleh mereka?


" Kami hanya ingin ikut merayakan kebahagiaanmu lalu apa salahnya. Kami ini saudaramu jadi kami ada di setiap acara mu."


" Tidak perlu hadir juga tidak masalah karena aku tau ada yang sedang kau rencanakan saat ini. Aku yakin bahwa kau tidak seluang itu untuk bisa menghadiri acara pertunangan ku yang akan di selenggarakan kurang dari seminggu lagi. Pasti ada yang kau rencanakan saat ini." Acher menatap Rigel dengan tatapan rasa bersalahnya.

__ADS_1


Rigel memang sulit sekali untuk di kelabui dan hanya untuk bersamanya saja Acher harus meninggalkan semua pekerjaannya agar menuruti ngidamnya Aurin yang selalu saja ingin di dekat Rigel dan meminta hal yang aneh-aneh.


Seperti saat ini, Aurin ingin minum susu hamil yang langsung di buat oleh Rigel. Luar biasa sekali bukan?


Padahal Acher sudah menawarkan pada istrinya itu untuk dia saja yang membuatnya namun Aurin malah memuntahkan susu itu yang sengaja di buat oleh suaminya.


Terhitung sudah 3 hari ini Aurin seperti itu, selalu muntah setiap kali minum susu jika yang membuatkannya adalah Acher atau pembantu rumah tangga mereka di Opa Alexander.


Terlihat Acher menghembuskan nafasnya berat sebelum mengatakan hal ini pada Rigel.


" Sebenarnya--" Mata tajam Rigel sudah menyorot tajam ke arahnya lalu beralih pada Aurin yang semakin menyembunyikan wajahnya di lengan sang suami.


" Jangan menatapnya seperti itu." Sela Acher lagi saat dia melihat bahwa istrinya di tatap tajam oleh Rigel seperti itu.


Dia tidak ingin membuang banyak waktunya karena dia sudah sangat lelah saat ini.


" Giel, jangan kasar dengan ibu hamil seperti itu. Bagaimana jika nanti suatu saat Belle hamil? Kamu akan merasakan apa yang Ace rasakan nak." Sang bidadari keluarga Sky Alexander mulai mengeluarkan suara indahnya untuk membuat sang putra tidak lagi berkata kasar seperti itu pada saudari iparnya dan saudara kembarnya.


" Giel akan pastikan bahwa Belle tidak akan hamil dalam waktu dekat sampai dia menyelesaikan kuliahnya. Belle meminta itu dan Giel menyanggupinya."


" Tapi kenapa harus menundanya?" Tanya Sky yang ikut merasa heran dengan apa yang di katakan putranya itu.


" Karena Rigel tidak ingin menghancurkan masa depan Belle hanya karena dia akan mengandung. Menunda bukan berarti tidak menginginkannya. Tapi kamu berdua sama-sama sudah berkomitmen dan itu keputusan kami. Belle hanya meminta itu saja dari Rigel lalu kenapa Rigel tidak bisa menurutinya?"

__ADS_1


" Tapi tidak harus menunda kehamilan."


" Itu jauh lebih baik dari pada mengandung tapi menyusahkan banyak orang. Dia yang mengandung dan dia yang mendesah bersama suaminya lalu kenapa orang lain yang harus repot?"


Uhuk!


Acher tersedak air yang di minumnya saat ini ketika Rigel mengatakan hal seperti itu padanya.


Dia tau bahwa saat ini, saudara kembarnya itu tengah menyindirnya dan juga Aurin.


" Apa? Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Rigel menantang Acher yang tengah menatap tajam padanya.


" Aku? memangnya aku kenapa?" Kini Acher yang bertanya balik pada Rigel karena pria itu yang menatap tajam padanya.


" Apa yang salah dengan yang aku katakan? Bukanlah sudah jelas apa yang aku katakan saat ini? Kau dan istri mu yang mendesah, lalu bagaimana bisa aku yang selalu di repotkan dengan keinginan istrimu yang tidak amsuk akal itu? Kemarin dia meminta ku untuk menjadi badut, lalu meminta buah strawberry dari jepang dan aku yang harus membelinya dengan uang ku dan itu tidak masalah bagi ku karena uang ku banyak. Tapi yang tidak bisa ku terima adalah, saat aku harus memanjat pohon mangga di depan rumah Opa itu. Kau tau? Aku benar-benar ingin menebang pohon mangga merah itu agar nanti tidak ada lagi korban dari pohon mangga keramat itu. Entah orang bodoh mana yang menanam pohon mangga sialan itu, rasanya aku ingin--"


Bugh...


" Opa!" Rigel kaget kepalanya di lempar bantal oleh Opa Alex.


" Apa? Kau tadi mengatakan orang bodoh mana yang menanam pohon mangga sialan itu bukan? Yang menanam itu adalah aku! Aku yang membuang biji mangga itu hingga tumbuh dan berbuah seperti itu hingga menjadi pohon mengga keramat. Bahkan saat ibu kalian gajah Thailand itu tengah mengandung kalian pun aku juga yang memanjat pohon mangga keramat itu hingga pinggang ku terasa sakit dan panas sampai akhirnya aku harus memakai 3 lembar koyo cabe yang sengaja di beli dari Indonesia kau tau itu?" Baik Rigel mau pun Acher, mereka tidak ada yang berani berbicara lagi setelah mengetahui silsilah pohon mengga keramat itu hingga mereka tidak ada yang berani mengatakan apapun lagi.


...💙💙💙...

__ADS_1


__ADS_2