
Saat ini, baik Acher maupun Rigel keduanya tengah menikmati malam kebersamaan mereka sebelum besok Acher menjadi calon mempelai pria untuk Aurin.
Mereka belum ada yang membuka pembicaraan karena keduanya masih diam seribu bahasa. Bingung juga sebenarnya jadi mereka berdua. Apa yang harus mereka jelaskan saat ini?
Apa juga yang akan mereka bicarakan?
" Ace."
" Giel." Lihat betapa kompaknya mereka berdua. Kedua nya bisa sama-sama memanggil nama saudara kembar mereka hingga berbarengan seperti itu.
" Kau duluan."
" Kau saja Giel," Lagi dan lagi Acher yang mengalah di sini.
Dia penasaran apa yang ingin di katakan Rigel padanya nanti.
" Are you happy?"
" Kau sendiri?" Tanya Acher balik karena dia juga penasaran apakah Rigel hidup dengan bahagia atau tidak saat ini.
__ADS_1
Namun pertanyaan balik dari Acher membuat Rigel berdecak kesal dengan saudaranya itu.
" Aku bahagia. Apalagi yang membuat ku tidak bahagia? Aku bisa mengalahkan pria sombong itu dengan membungkamnya. Aku bahkan tidak mengambil 10% saham miliknya dan mengatakan bahwa yang ku miliki jauh lebih dari cukup dengan yang di milikinya saat ini." Acher tidak heran lagi dengan apa yang Rigel lakukan, karena memang dia tau seperti apa saudaranya itu.
" Kebahagiaan bukan seperti itu yang ku maksud Giel. Aku bertanya apa kau bahagia?"
" Aku yang pertama kali bertanya pada mu, apa kau bahagia atau tidak. Lalu kenapa bertanya lagi hal seperti itu padaku?" Acher akan selalu kalah jika berdebat dengan Rigel seperti ini.
Saudaranya itu memang luar biasa sekali. Dia bisa membolak-balik perasaan seseorang termasuk dirinya sendiri.
" Aku bahagia jika melihat mu bahagia. Bukan hanya kau saja, tapi juga dengan adik-adik kita yang lainnya." Jawaban sang kakak membuat Rigel berdecak kagum untuk itu.
" Apa kau pikir aku tidak bahagia?"
" Bukan seperti itu maksud ku Rigel, tapi--"
" Aku bahagia. Aku benar-benar bahagia dan kau harus percaya itu." Rigel berusaha untuk meyakinkan Acher bahwa dia memang bahagia saat ini.
Dia tidak ingin membuat kakaknya terus saja berpikir dan memikirkan mereka semua. Acher juga berhak bahagia dan memikirkan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Setelah ini, cobalah untuk bersikap egois Ace. Kau dan Aurin, kalian akan memulai kehidupan yang baru sebentar lagi. Baik aku dan adik-adik kita yang lainnya lagi, kau tidak harus terus memikirkan mereka. Aku bisa mengambil tanggung jawab mu untuk mengurus anak-anak berandalan itu." Yang di maksud Rigel anak berandalan itu adalah Rava dan juga Reve, selebihnya Reyden dan Elle itu hanya pemanis ruangan saja karena mereka memiliki dunia mereka sendiri.
Apalagi Elle, dia sibuk dengan dunia musiknya. Piano adalah salah satu kebahagiaan bagi hidupnya dan Reyden?
Sudahlah, jangan memikirkan mereka lagi karena percuma sama. Mereka tidak akan bisa mengerti tentang apa itu sebuah kebersamaan dan ikatan tali persaudaraan seperti apa yang Ace dan Rigel rasakan selama ini.
" Aku, sudah menyiapkan jas yang sama dengan mu. Aku ingin kau yang menjadi pendamping ku besok."
" Apa yang akan aku dapatkan jika menjadi pendamping untuk mu?"
" Nah kak, Kami juga mau." Tiba-tiba saja masuk duo perusuh. Siapakah mereka berdua?
Jawabannya adalah Rava dan juga Reve. Mereka akan selalu seperti ini dan membuatnya kesal. Terutama Rigel yang selalu saja bertengkar dengan Reve yang usil dan jahil.
" Apa? Kami kesini untuk bertemu dengan kak Ace, yakan Rav?" Rava menganggukkan kepalanya karena dia tidak ingin di hukum berdua dengan Reve.
Dia tau seberapa menyeramkan Rigel, maka dari itu mereka lebih memilik untuk mencari aman saja.
...💙💙💙...
__ADS_1