
Alex langsung melompat dari tempat duduknya saat mendapatkan kabar dari anak buahnya bahwa Acher dan Aurin mabok.
Entah apa yang terjadi, tapi ini jauh dari rencana mereka semua.
" Bagaimana bisa mereka mabuk?" Alex menghubungi anak buahnya saat mendapatkan kabar tidak menyenangkan ini.
" Tapi sudah menjalankan tugas dengan baik Tuan besar. "
" Tugas apa sialan? Jadi dimana mereka berdua?" Tanya Alex lagi.
Sungguh, dia merasa sakit kepalanya kambuh begitu saja saat mendengar semua ini.
Ini jauh dari kata sempurna dari rencana mereka, sangat jauh sekali.
" Mereka sedang di bawa ke kamar hotel di atas tuan. "
" ****!" Alex langsung mengumpat saat berita ini.
" Cegah mereka untuk melakukan hal buruk. Jangan biarkan mereka sampai melakukan hal itu dan aku akan segera datang." Alex langsung Klang kabut.
Dia bingung harus melakukan apa saat ini. Dia tengah menikmati malamnya bersama Markus, tapi mendapatkan kabar seperti ini membuatnya langsung blank.
" Tenangkan dirimu, kita harus tenang dulu. "
" Sudah ayo kita pergi ke hotel. Aku bisa di penggal Sky jika sampai terjadi sesuatu pada anaknya saat ini. " Mereka berdua langsung pergi menuju tempat dimana Acher dan Aurin berada.
Sementara di dalam kamar hotel itu, Acher dan Aurin tengah berbaring di tempat tidur yang sama.
Keduanya hampir tak sadarkan diri di tengah rasa panas yang menjalari seluruh tubuhnya.
" Panas..."
" An, are you oke?" Acher berusaha untuk tetap sadar di saat dia juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan wanita itu.
" Panas Ace, panas..." Aurin merasakan rasa panas itu semakin menjalari seluruh tubuhnya.
Dan saat dia merasakan tangan Acher menyentuh keningnya, tubuh Aurin semakin bereaksi.
Begitu juga dengan yang di rasakan Acher saat ini, tubuhnya semakin bereaksi saat kulitnya bersentuhan langsung dengan Aurin.
" Ace...aku mohon..." Acher menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin merusak Aurin.
__ADS_1
Dia tidak ingin membuat noda di dalam kehidupan Aurin. Dia ingin benar-benar menjaga aurin sampai batas waktu yang mereka tentukan nantinya
Dia memang ingin menjadikan Aurin satu-satunya wanita yang dicintainya, tidak dengan hal kotor semacam ini.
Acher terus berusaha untuk membuat dirinya sadar dan tetap pada pendiriannya, namun godaan itu semakin datang saat Aurin meminta lebih padanya.
Aurin meminta padanya untuk terus menyentuh tubuhnya, dan hal itu yang paling dihindari oleh Acher saat ini.
" Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini Aurin. Aku tidak---hemph..." Aurin sudah menyerang Acher dengan ciuman yang dia lakukan.
entah dari mana dia belajar, tapi dia melakukan itu karena tubuh dan hasratnya yang menginginkan semua itu.
Dia terus saja berusaha untuk menggoda Acher dengan ciuman panas yang mereka lakukan sampai dia merasa bahwa Acher juga mulai membalasnya.
" Aurin..." Acher kaget saat Aurin membalikan posisi mereka saat ini hingga kini posisi audien berada di atasnya.
Aurin menduduki perut bagian bawahnya dan membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Acher.
" Aurin, Jagan..." Bibirnya memang mengatakan jangan pada Aurin.
Tapi gejolak di dalam dirinya terus saja mendorong untuk meminta lebih pada Aurin yang kini berada di atasnya.
" Aurin---Hemph..." Bibirnya kembali di bungkam oleh Aurin hingga membuat Acher juga semakin menikmati semua itu.
Kini tangan Acher tidak tinggal diam. Dia juga ikut meraba tubuh Aurin hingga membuat wanita itu mendesah dalam ciuman mereka.
Dapat Acher rasakan bahwa saat ini dada bulat milik Aurin sudah menempel di dadanya walau masih menggunakan daunnya.
Srek...
Acher sudah tidak tahan lagi untuk semua itu. Semakin dia berusaha untuk menahannya, semakin besar gejolak itu datang dan menghantamnya saat ini dan itu sangat menyakitkan baginya menahan hasrat terlarangnya saat ini.
"Aahhh...Ace..." Aurin mulai mendesah saat merasa tangan besar Acher memainkan Aguan dada kenyal miliknya hingga membuat Aurin semakin mendesah.
Di saat-saat ambang batas kesadarannya,Acher berusaha untuk menghentikan itu semua namun dengan cepat pula Aurin menahan Acher agar tidak berhenti melakukan itu padanya.
Maka terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Aurin yang terus meminta di sentuh olehnya dan dia yang tidak bisa menahan hasratnya.
" Aku taku menyakiti mu An..."
" Lalukan Ace, lakukan. Sentuh aku dengan indah, aku menginginkan sentuhan kamu. " Merasa sudah terbakar juga, akhirnya Acher dan Aurin melakukan hal itu walau sebelum itu terjadi Acher sempat melihat bagaimana keindahan tubuh Aurin yang full naked di depannya saat ini.
__ADS_1
Di bawah cahaya lampu yang temaram, Acher menyentuh Aurin dengan lembut.
Dia menjadikan malam ini menjadi malam terindah untuk mereka berdua.
" Aahhh...sakit Ace, sakit..." Aurin mendesah dengan sisa rasa kesakitannya saat Acher berhasil mengoyak selaput darah yang menandai gerbang utama di dalam diri Aurin saat ini.
" Ahhh...Ananta..." Acher tak kalah mendesah saat merasakan miliknya sudah masuk sepenuhnya.
Deg!
Jantung Alex berdetak kencang saat mendengar suara ******* dari dalam kamar tempat dimana hanya keluarga mereka saja yang bisa menempati kamar tersebut.
" Markus, Kau dengar itu?" Markus hanya bisa menghela nafas panjang saat dia juga mendengar apa yang Alex dengarkan.
Mereka terlambat, mereka terlambat mencegah semua ini hingga terjadi hal yang tidak mereka inginkan.
" Kita terlambat Alex, kita terlambat mencegah mereka. "
" Lalu apa yang harus ku katakan pada Sky?" Di saat mereka kebingungan Mario datang dengan wajah gembiranya.
Dia tidak menyangka jika kedua Sabahat karibnya sudah datang ke tempat ini. cepat sekali memang informasi itu terbang dan sampai ke telinga sang penguasa ini.
" Wahh...kalian sudah sampai di sini rupanya. Bagaimana kerja ku? Bagus bukan?" Mario menaik turunkan alisnya siap untuk mendapatkan pujian dari Alex dan Markus.
Namun saat melihat wajah datar Alex dia tau bahwa apa yang di lakukan ya ini tidak sesuai dengan sang penguasa.
" Eh, aku maksudnya bukan seperti itu, aku hanya--"
Plak!
" Bajingan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini sialan? Aku hanya menyuruhmu untuk membuat mereka agar bisa berdansa dengan semua permainan ini. Kau sudah mengatakan bahwa semua nama yang ada di bowl itu nama Rose semua dan hanya Acher dan Aurin yang memegang nama Rose. Tapi kenapa mereka berakhir di ranjang bodoh?" Markus hanya bisa diam sambil menonton pertengkaran di antara mereka saja.
Dia sudah pasrah dan sudah biasa saat melihat Mario di hakimi oleh Alex karena kecerobohannya.
" Aku lupa jika kau sudah uzur, jadi pikiran mu sudah menurun dan kau semakin bodoh. "
" Tapi kau juga sudah tua Alex, dan di antara kita semua kau yang paling tua." Markus melotot saat mendengar Mario berani menjawab Alex yang sudah kebakaran jambangnya saat ini.
Benar saja apa yang di khawatirkan Markus terjadi karena Alex hendak menyerang Mario saat ini. Beruntung Markus langsung menghalangi Alex untuk menyerang Mario, jika tidak habis lah dia.
...💙💙💙...
__ADS_1