Terjebak Cinta Sang Pewaris ( Twins Ax )

Terjebak Cinta Sang Pewaris ( Twins Ax )
MBA ( Married By Accident)


__ADS_3

Halo, aku bawa cerita baru untuk kalian semua. Mampir yuk di cerita teman aku dan aku jamin ceritanya doi gak kalah nyenengin kek cerita lain yang pernah kalian baca.


So, cuss...kepoin karyanya, dan aku akan kasih Spil dulu yaa...🤭


Karya by : Lautan Biru


...****************...



"Kanaya kau dimana!! dasar anak tidak berguna."


Brak


Pria itu membanting keras pintu rumahnya sehingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.


"Kanaya..!!" Teriak Herman dengan keras, membuat dua orang yang di dalam kamar saling memeluk.


"Kak Fikri takut." Bocah berusia 10 tahun itu memeluk erat tubuh kakaknya.


"Jangan takut dek, ada kakak." Kanaya memeluk adik laki-laki yang tumbuhnya bergetar karena katakutan.


Brak


Kanaya dan Fikri tersentak kaget melihat pintu kamar Kanaya terbuka lebar dengan kuat.


"Apa kau tuli." Herman menarik tangan Kanaya yang memeluk adiknya.


"Bapak lepas..!! apaan sih." Kanaya mencoba untuk memberontak hingga tangannya terlepas dari cekalan Herman.


"Kenapa kau kabur hah! bukankan aku menyuruhmu untuk melayani mereka di sana!" Hardik Herman dengan tatapan marah kepada Kanaya.


Tubuh Fikri sudah menggigil dan bergetar ketakutan, melihat keributan di depannya bahkan wajahnya sudah pucat.


"Aku tidak mau pak, aku bukan wanita murahan."


Plak


"Akhh." Kanaya jatuh tersungkur dengan memegangi pipinya yang terasa begitu sakit.


"Kakak." Fikri berteriak dan setelah itu jatuh pingsan.


"Fikri..!!" Kanaya langsung bangkit berdiri menghampiri adiknya yang tergeletak di atas ranjang.


"Fikri bangun Fikri, bangun..!"


.


.


.


"Kenapa kalian tidak mencegah Kanaya hah..!!" Herman menatap tajam tiga orang yang hanya bisa menunduk takut.

__ADS_1


"Apa kalian tidak tahu, jika mereka marah dan minta uang nya dikembalikan. Dan sekarang aku tidak memiliki uang sepeser pun meskipun hanya untuk satu kali putaran." Herman masih marah dengan kejadian beberapa waktu lalu. 3 Preman setempat yang cukup meresahkan pengunjung dan warga setempat kini hanya bisa diam pasrah mendapat amukan dari Herman, pria yang ditakuti di desa setempat.


"Ah, sialan..!!"


Harman meluapkan amarahnya kepada ketiga pria yang hanya diam saja.


Herman adalah pria berusia 45 tahun. Tumbuhnya yang kekar memiliki banyak tato sekitar tanyanya, Herman terkenal sebagai pria penjudi dan mabuk-mabukan, hanya saja pria itu tidak pernah main wanita.


Siapa yang tidak kenal dengan Herman di daerah sana, bahkan sebuah resort besar menggunakan jasanya sebagai securty. Walaupun begitu Herman tidak pernah puas dengan hasil kerjanya sendiri karena kebiasaan judinya lebih banyak menghabiskan uang dari pada mendapatkan uang.


"Sial!! aku harus mendapatkan uang sebelum aku mati di tangan mereka." Geramnya yang mengingat Kanaya ternyata malah kabur.


Terpaksa Herman harus mencari uang untuk membayar hutangnya, dan sesuatu terlintas di kepalnya.


"Dokter bagaimana dengan adik saya?" Kanaya berdiri didepan dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Pasien mengalami serangan jantung, dan harus di operasi segera." Ucap sang dokter yang memeriksa Fikri.


"Apa!" Kanaya menutup mulutnya tak percaya.


Inilah yang Kanaya takutkan. Sebelumya Fikri memang memiliki riwayat jantung seperti ibunya yang sudah tiada, dan kini adiknya memiliki penyakit yang sama.


Kanaya menangis terisak meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan, ibunya meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung, dan ayahnya yang penggila judi dan mabuk-mabukkan tanpa memikirkan kehidupan anaknya.


Kanaya Alifa, gadis berusia 20 tahun yang bekerja di toko kue, uang gajinya hanya untuk kehidupan sehari-hari sisa dari untuk menebus obat sang adik yang memiliki riwayat penyakit jantung.


Kanaya hidup dengan adik dan ayahnya, tapi memiliki ayah bagi Kanaya tidak ada artinya sama sekali, karena sejak ibunya meninggal ayahnya tidak bisa dikendalikan.


Kemana dirinya harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu cepat, sedangkan keadaan Fikri sedang kritis dan harus segera di operasi.


"Ya Tuhan tolong aku."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Naya kamu kenapa?" Tanya Sasi teman Kanaya bekerja.


"Sasi, Fikri." Kanaya kembali menangis di dalam pelukan Sasi.


"Adik kamu kenapa Nay." Sasi memeluk Kanaya sambil mengusap punggung temanya itu.


"Fikri harus di operasi, dan aku-" Kanaya tidak bisa melanjutkan ucapanya.


Hatinya terlalu sesak dan perih mengingat bagaimana adiknya terbaring di rumah sakit menunggu pertolongan.


"Kita masuk dulu, kita bicarakan." Sasi membawa Kanaya masuk kedalam kos-kosannya.


Sasi adalah teman Kanaya bekerja di toko kue. Mereka kerja hanya sampai pukul 5 sore, dan Sasi hidup seorang diri menghidupi dirinya sendiri.


"Jadi Fikri harus operasi dan butuh biaya?" Ucap Sasi yang ikut syok mendengar penuturan temanya itu.


"Hu'um." Kanaya mengagguk dengan isak tangisnya.


"Aku tidak tau harus mencari uangnya kemana, aku tidak tahu harus melakukan apa." Kanaya menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Gadis itu terisak menyedihkan.

__ADS_1


Sasi mengusap punggung Kanaya, wanita yang usianya lebih tua 3 tahun dari Kanaya itu memeluknya dari samping.


"Aku bisa membantumu, tapi tidak banyak seperti yang kamu butuhkan." Ucap Sasi pada Kanaya yang terisak dalam rengkuhannya.


"Tapi aku bisa memberimu jalan mendapatkan uang banyak dalam waktu cepat, jika kamu ingin melakukanya." Ucapan Sasi membuat Kanaya mendongak dan menatap wanita yang juga sedang menatapnya.


"Maksud kamu apa Sas?"


.


.


Kanaya tampak risih dengan pakaian yang dia kenakan, sejak tadi tanganya terus bergerak menurunkan gaun malam yang dia kenakan sebatas paha yang sama sekali tidak pernah dia pakai. Apalagi datang ketempat yang tidak pernah dia bayangkan. Kanaya rasanya sudah ingin pergi dari tempat yang mengerikan jika tidak ingat kepada Fikri adiknya yang tergeletak tidak berdaya dirumah sakit.


"Nay, ayoo." Sasi mengandeng tangan Kanaya untuk lebih masuk kedalam, walaupun risih dan takut tapi Kanaya tetap mengikuti kemanapun Sasi membawanya.


"Bos.." Sasi memanggil seorang pria yang sedang duduk disofa sambil ditemani dua wanita berpakaian minim bahkan kurang bahan.


"Saya bawa teman saya." Ucap Sasi pada pria yang sedang mematikan sisa bakaran tembakau di asbak.


"Who?" Tanya Alex pria yang memiliki tato dilehernya.


"Teman saya butuh uang cepat dan banyak." Itulah yang Sasi katakan, dan membuat Kanaya menuduk.


Alex menggoyangkan jarinya tanda jika dua wanita yang menemaninya harus pergi.


"Is she still a virgin?" tanya Alex menatap penampilan Kanaya dari atas ke bawah, dan kembali menatap Sasi untuk meminta jawaban.


Sasi hanya menggangguk, tidak perlu bersuara. Karena dengan anggukannya Alex sudah terseyum lebar.


"Girl, what's your name?" Tanya Alex sambil duduk bersandar di bahu sofa.


Melihat gadis muda belia dan masih tersegel, membuat Alex ingat dengan temanya.


"Nay, kamu ditanya?" Sasi menyenggol bahu Kanaya membuat gadis itu mendongakkan wajahnya.


"S-saya Kanaya tuan." Jawab Kanaya terbata.


"Kamu ingin menjual kegadisanmu hanya untuk uang?" Tanya Alex yang menatap wajah cantik Kanaya.


bola mata bulat, hidung mancung. Jangan lupakan dagunya yang belah tengah membuat bibir gadis itu terlihat begitu menggoda.


"S-saya-" Suara Kanaya tercekat, rasanya begitu sulit untuk mengatakannya. Hidupnya terlalu sulit.


"Baiklah, jika kau sudah bertekad untuk terjun, jangan harap bisa keluar tanpa ada jaminan."


Mendengar itu membuat bulu kuduk Kanaya langsung merinding, jadi setelah ini dirinya akan mulai melakukan pekerjaan yang penuh adrenalin menurutnya.


"Semoga niatku mendapatkan hasil baik."


...****************...


...Cus, di baca kuy 🤭...

__ADS_1


__ADS_2