
Setelah acara pesta pernikahannya dengan Aurin tadi, Ace langsung membersihkan dirinya karena dia terlalu lelah.
Dia masuk ke kamarnya lebih dulu karena tadi ada teman Aurin yang menunggunya.
Maka dia lebih memilih ke kamar mereka lebih dulu.
Saat dia keluar dari kamarnya, dia melihat ternyata istrinya tengah kesusahan untuk membuka resleting gaun pengantin yang tengah dikenakannya saat ini.
" Kenapa tidak memanggil ku?"
" Ace?" Aurin kaget saat tiba-tiba saja ada Acher di belakang punggungnya saat ini.
" Ya, ini aku sayang."
Serr....
Berdesir darah Aurin saat mendengar Acher memanggilnya dengan kata sayang. Merasa bahwa dirinya saat ini begitu di sayang dan di cintai sekali oleh pria ini.
" Kenapa tidak meminta tolong pada ku? Aku bisa membantu mu jika hanya untuk ini."
" A-apa sudah selesai?" Tanya Aurin yang merasa was-was karena takut jika Acher akan melakukan hal lebih padanya.
__ADS_1
Jujur, Aurin masih takut dan merasa malu jika harus melakukan hal itu bersama Acher. Dia masih mengingat bagaimana mereka berkahir di ranjang malam itu walau tidak sepenuhnya dia sadar dengan apa yang mereka lakukan, tapi itu berhasil membuatnya malu setengah mati.
Dia belum siap untuk melakukan malam kedua bersama Acher, karena masih merasa malu.
" Sudah..." Jawab Acher yang membuat Aurin langsung pergi ke kamar mandi dengan menyeret gaun pengantinnya.
Acher hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya yang seperti menahan mu seperti itu.
Saat dia hendak naik ke tempat tidur, pintu kamar mereka di ketuk dan dia pun membukanya.
" Surprise..." Rava dan Reve memberikan kejutan pada kakak tertua mereka.
Dia berdiri di tempatnya dengan tatapan datarnya ketika melihat mereka berdua. Sementara sih kedua personil baby four itu langsung kabur dan meninggalkan tempat kejadian perkara saat merasa keadaan sudah tidak kondusif lagi.
" Kabur...." Ucap mereka berdua setelah membuat kegaduhan di depan pintu kamar pengantinnya.
Acher kembali ke dala kamarnya dns ternyata Aurin memanggilnya dari balik pintu kamar mandi.
" Ada apa An? Kenapa lagi?" Tanya Acher pada istrinya yang terlihat seperti sangat kebingungan saat ini.
" Ehm--itu a-ku ini, apa namanya."
__ADS_1
" Ada apa An?" Tanya Acher lagi karena dia tau bahwa saat ini Aurin pasti membutuhkan sesuatu lagi.
" Itu, bisa tolong ambilkan handuk? Aku lupa membawanya tadi." Acher langsung pergi mengambilkan handuk untuk istrinya.
" Terima kasih..." Aurin hendak mengambil handuk itu namun masih di tahan oleh Acher yang sedang menatapnya dengan tatapan menusuk hingga ke jantung Aurin.
" Seharusnya kamu tidak membutuhkan handuk karena setelah ini juga kita tidak membutuhkan handuk lagi. Jadi untuk apa memakai handuk?" Aurin hanya bisa terpelongo mendengar ucapan suaminya yang menurut Aurin itu sudah menjurus ke hal 21+.
" Dasar mesum!"
brak!
Aurin membanting pintu kamar mandinya setelah Acher melepaskan handuk yang di tahannya tadi.
Acher sendiri dia hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan seperti itu.
Aurin itu memang benar-benar menggemakan menurutnya dan Acher menyukai wajah polos dan menggemakan milik Aurin saat dia tersipu malu seperti itu.
" Beginilah rasanya menikahi orang yang kita cintai? Apa sebahagia ini?" Acher kembali ke tempat tidur dan menunggu istrinya selesai membersihkan dirinya lebih dulu.
...💙💙💙...
__ADS_1