
Sejak keluar dari dalam kamarnya, Rigel terus saja memperlihatkan wajah tidak bersahabatnya karena memang dia tidak habis pikir dengan itu semua.
Bagaimana bisa dia menuruti ngidamnya Aurin sementara dia tidak ikut menyumbang apapun tapi dia ikut bertanggung jawab dengan semua itu.
" Ayo lihat kesini Rigel, biar aku mengambil foto mu." Ucap Aurin yang sedang memegang kamera untuk mengambil foto Rigel yang tengah memakai kostum yang sama dengan suaminya saat ini.
" Aku tidak akan mau melakukan hal ini lagi, dan ayo cepat ambil gambarnya!" Mau tidak mau Aurin langsung mengambil gambar Rigel yang tengah memakai kostum beruang berwarna kuning itu.
Walau Rigel memperlihatkan wajah kesalnya, setidaknya Aurin bisa mendapatkan foto Rigel dengan kostum yang menurut Aurin sangat menggemaskan.
Kini bergantian dengan Acher yang berpose dan itu terlihat sangat menggemaskan sekali bagi Aurin karena suaminya tengah tersenyum dengan bahagia untuknya.
" Ayo sayang, tersenyum lagi agar baby kita senang melihat Daddy-nya yang tampan ini."
" Huuekkk 🤮" Tiba-tiba saja Rigel melakukan hal seperti itu, seolah dia tengah muntah saat mendengar apa yang Aurin katakan pada Acher untuk mendapatkan foto saudara kembarnya itu.
" Rigel..."
__ADS_1
" Terserah kalian! Kau harus membayar mahal untuk ini dan aku akan membalas mu nanti." Rigel langsung meninggalkan halaman rumah utama setelah melakukan hal tersebut untuk istrinya Acher itu.
Kenapa Rigel merasa bahwa Aurin itu menyebalkan seperti gadis aneh itu ya?
Tapi tunggu dulu, kenapa Rigel kembali memikirkan gadis aneh itu?
" Tidak! Aku tidak memikirkannya, aku tidak memikirkannya." Rigel terus mengatakan hal itu sampai tanpa sadar dia telah menabrak seseorang yang menurutnya juga tak kalah menyebalkannya.
Brugh...
" Ahhhkkk...Mommy..." Rigel memutar bola matanya malas saat melihat adiknya yang berakting seperti itu.
" Aahhh...Tolong, tolong panggilkan ambulance, saudara ku membutuhkan pertolongan saat ini. Tolong, tolong bantu kami." Melihat aksi adik-adiknya yang seperti itu membuat Rigel menghembuskan nafasnya degan frustasi.
Kenapa dia merasa bahwa keluarganya semakin hari semakin aneh saja?
" Ahhh...tolong, tolong panggilkan Mommy dan Daddy, katakan bahwa Rava terluka parah saat ini." Rigel semakin tidak habis pikir dengan semua ini.
Bisa-bisanya mereka berakting seperti ini seolah apa yang terjadi pada Rava itu cidera parah.
__ADS_1
" Kau tidak ikut berakting bersama saudara mu? Kau bisa menambahkan dramanya juga. Mungkin sebagai dokter atau pembunuh bayaran sekalian." Rigel menatap Reyden yang terlihat hanya menatap datar pada kedua kakak kembarnya yang tengah berakting seolah mereka berada dalam situasi tidak baik-baik saja.
" Aku tidak ingin terlibat dengan hal konyol seperti ini, membuang waktu saja."
" Jika seperti itu, sadarkan mereka agar tidak semakin terganggu pikirannya." Rigel pun meninggalkan ketiga adiknya setelah mengatakan hal seperti itu.
Setelah kepergian Rigel, Rava dan Reve langsung mengakhiri drama yang mereka mainkan tadi yang ternyata tidak berhasil sama sekali.
" Sulit sekali membuatnya kembali mencair seperti dulu lagi. Jika melihatnya seperti itu, aku merasa bahwa dia memang keturunan Klan Alexander." Ucap Rava yang menatap sendu pada kakaknya.
Mereka merindukan Rigel yang hangat seperti dulu lagi. Rigel yang bisa tertawa dengan keras ketika merasakan hal lucu di sekelilingnya.
" Kita tidak tau apa yang Kakak rasakan di luar sana. Kehidupan luar tidak seperti yang kalia bayangkan dan aku sudah merasakannya sendiri, apalagi kakak di pilih sebagai penerus klan Alexander selanjutnya. Mungkin itu yang membuatnya berubah."
" Kau sendiri yang salah. Sudah tau kehidupan luar itu mengerikan kau malah memilih jalan itu. Aku juga berani bertaruh, jika bukan karena koneksi Daddy, usaha ilegal mu itu sudah di gulung aparat sejak dulu!" Reyden tidak menjawab apa yang Rava katakan karena memang itu kenyataannya.
Dia tidak akan bisa hidup bebas di luar menjalankan bisnis ilegalnya jika tidak ada campur tangan dari daddy-nya.
...💙💙💙...
__ADS_1