
Alex sedang menunggu Resty sambil duduk gelisah di ruang tamu rumah gadis itu. Setelah mak Asna bilang kalau Resty ada di rumah, pria itu bisa bernafas dengan lega. Cuma sekarang yang ditunggu itu tidak lekas muncul, entah sengaja berlama-lama atau apa yang pasti Alex tetap akan menunggunya sampai Resty mau menemuinya.
Hingga segelas orange jus yang disuguhkan mak Asna sudah tandas tak tersisa, gadis itu belum keluar juga dari kamarnya. Membuat pria itu bertambah resah, dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya itu.
Andai di rumah itu ada Tommy, mungkin Alex nekat meminta izin menyusul Resty ke kamarnya, demi menuntaskan keresahan hatinya itu. Tetapi berhubung di rumah itu hanya ada mak Asna dan Resty saja, tentu Alex harus tahu diri dalam menjaga sikap.
"Mak," sapa Alex, saat ART itu memberinya segelas orange jus lagi buatnya.
"Iya, Mas," sahutnya sopan.
"Tadi pas pulang Resty gimana? Cemberut, sedih, nangis, senang, atau bagaimana?"
Sumpah demi apapun Alex sangat mengkhawatirkan kondisi Resty yang seperti sengaja menghindarinya.
"Duh, Emmak nggak terlalu memperhatikan, Mas. Maaf ya?" ujarnya, yang tentu membuat Alex sedikit kecewa.
Pria itu berpikir sejenak. Seketika muncul ide pamungkas yang mungkin bisa membuat gadisnya itu keluar dari kamar.
"Gini aja deh, tolong Mak bilang ke Resty, kalau nggak mau keluar, aku yang susul ke kamarnya. Aku serius loh, Mak!" ucap Alex, sok serius akan melakukannya, padahal nyatanya hanya gertakan sambal.
Mak Asna hanya manggut-manggut paham. Secepatnya ia masuk ke kamar anak majikannya lagi, untuk menyampaikan pesan ancaman calon mantu rumah itu.
Resty memberengut kesal saat mendengar pesan yang disampaikan ART nya itu. Mendadak ia menjadi resah mengingat Alex adalah pria nekat bila sudah bertekad bulat. Walau sebenarnya sedikit malas menemui kekasihnya itu, mau tak mau akhirnya Resty menemuinya juga.
Gadis itu keluar dengan tampilannya yang kusut. Langkah kakinya yang gontai, menandakan jika gadis itu sama sekali tak bersemangat saat ini.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Alex langsung mendekatinya, saat Resty sudah duduk di ruang tamu itu.
"Hem," Resty hanya bergumam malas.
"Serius nggak kenapa-napa? Wajah kamu lemas begini kok." Alex sampai menyentuh pipi Resty dengan belaiannya yang lembut.
"Tadi kenapa pulang dulu, pake nggak bilang-bilang lagi. Aku sampe cari kamu ke toilet, karena Ika bilang kamu ke situ."
"Iya, tadi aku pulang dulu, karena mendadak perutku nggak enak. Ulu hatiku nyeri. Dadaku sesak sulit bernafas." balasnya, sedikit menekan perkataannya.
__ADS_1
Alex memandangnya panik. "Sekarang masih sakit?"
Resty bergeming saja.
"Ayo periksa ke dokter, Yang. Aku takut kamu kenapa-napa," ajaknya, sambil meraih tangan Resty dalam genggamannya.
Resty menggeleng pelan, sembari melepas tangan pria itu dengan pelan.
"Aku sudah nggak kenapa-napa. Lihat kamu ke sini sudah cukup jadi obat buatku. Semoga saja tetap begitu. Semoga kita tetap saling ada, tetap saling setia, walau akan ada penggoda yang lebih menggiurkan yang akan menghadang hubungan kita." ucapnya, yang sebenarnya sedikit nggak nyambung dengan yang dibahas sebelumnya.
Gadis itu sengaja menyindir dengan situasi yang ada. Semoga saja kekasihnya itu peka.
Alex tersenyum simpul menanggapinya. Tangannya membawa tangan gadis itu lagi ke dalam genggaman eratnya.
"Semoga kita ditakdirkan menjadi pasangan abadi hingga kematian nanti yang memisahkan. Semoga Tuhan selalu menjaga hatiku, sehingga tetap utuh hanya mencintai satu orang saja, yaitu kamu." Alex balas menimpali dengan doa kebaikan demi hubungannya itu.
Sejujurnya pria itu tidak tersindir apa-apa. Hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang dirasanya saat ini. Itu saja.
"Janji? Kamu bisa menjaga yang kamu bilang itu?" Resty mengangkat jari kelingkingnya didepan Alex.
Sesaat Resty tersenyum tipis. Paling tidak hatinya sedikit lega saat nendengar perkataan kekasihnya itu. Mungkin yang menjadi kejanggalan hatinya tentang Donita tadi, lain kali saja Resty akan membahasnya. Tetapi bila nanti rupanya tidak ada apa-apa antara Alex dan Donita, mungkin lebih baik Resty tidak mengusutnya lagi.
"Diminum dulu jus nya, Yang. Mak Asna kemana ya, apa nggak ada kudapan gitu buat kamu." Resty celingukan mencari keberadaan ART nya itu.
"Nggak usah lah, Yang. Perutku sudah jegah. Ini saja sebenarnya sudah gelas kedua buat aku. Hehe..."
Resty terperangah sekilas. Maklum saja jika Alex sudah menghabiskan segelas jus orange itu, karena memang tadi Resty sengaja berlama-lama untuk menemuinya.
"Duh, padahal aku sudah janji mau jadi mahasiswa rajin demi kamu. Tapi karena kamu tiba-tiba ngilang aku jadi bolos lagi." seloroh Alex tiba-tiba.
"Rajinnya jangan demi aku. Itu sama saja niat kamu berubah nggak tulus dari hati."
"Mau kata apa lagi, nyatanya penyemangatku hanya kamu saja."
"Kalau aku tiba-tiba nggak ada gimana?"
__ADS_1
"Jangan bilang gitu lah. Menakutkan!" Alex sampai membawa tubuh gadis itu dalam rangkulan eratnya, demi tidak ingin mendengar ucapan meresahkan kekasihnya itu.
"Jangan pernah tinggalkan aku," gumamnya lirih, seiring dengan kecupan hangatnya yang menghujani pucuk kepala gadisnya itu.
"Sayang, kamu bisa anterin aku nggak?" Resty melerai pelukannya, menatap netra sang kekasih dengan lekat.
"Mau kemana?"
"Ada deh. Bisa nggak?"
"Hiss... Bikin penasaran saja. Tapi, kuy lah..."
Segera Resty beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan. Tak lupa kerudung panjang juga gadis itu pasang dikepalanya. Menimbulkan rasa penasaran Alex yang teramat sangat demi melihat tampilannya yang berubah hampir seratus delapan puluh derajat.
Meski Alex sudah bertanya kemana mereka akan pergi, tetapi Resty tetap betah merahasiakannya. Hingga kemudian motor yang dibawa Alex itu berhenti disebuah area TPU, barulah Alex mulai paham.
Sebelumnya Resty membeli sebuket bunga mawar putih untuk ia hadiahkan kepada almarhum mamanya. Saat ini mereka berdua telah berada didepan pusara mendiang Bella, mama Resty. Langsung saja gadis itu membaca doa kebaikan untuk sang mama, disusul juga Alex melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Resty.
Sesaat setelah doa itu selesai dipanjatkan, Resty meletakkan bunga mawar putih yang dibawanya itu diatas pusara sang mama. Tangannya terulur untuk mengusap-usap batu nisan bertuliskan nama almarhum mamanya, Bella.
Senyumnya terus terukir indah, manakala gadis itu menatap sendu pada sang kekasih yang menemaninya saat ini.
"Mama, dia Alex. Tiga minggu lagi kita akan menikah, Ma. Tolong restui kami," ujarnya dengan sendu.
"Tante, perkenalkan aku Alex. Terimakasih karena tante telah melahirkan wanita cantik seperti Resty. Dan, tolong doakan kami dari sana, semoga kita tetap selalu bersama hingga akhir kehidupan nanti." Alex ikut menyentuh batu nisan itu.
"Ma, kalau misalnya mama melihat Alex ada wanita lain, tolong jangan sungkan hantui dia, Ma." Resty sedikit melirik kepada Alex.
"Eh!"
*
Duh, nggak terasa ya cerita ini sudah sampai 100 episode. Btw, makasih banyak buat yang masih setia dukung karya receh othor. Tanpa kalian cerita ini nggak akan sampai dititik ini.
Salam sayang dari author MAY.s😘
__ADS_1