
Kenzo dan Sisil masih saling tatap penuh curiga. Sedangkan Alex sendiri sudah melesat mendekati Resty yang muntah-muntah di wastafel dapur. Pria itu langsung sigap memijiti tengkuk Resty penuh perhatian. Sesekali membenahi rambut panjangnya yang tergurai agar istrinya itu merasa lebih nyaman.
"Jangan-jangan?" Sisil bergumam cukup jelas didekat Kenzo.
Kenzo menatapnya sengit. "Jangan-jangan apa?"
"Kasus yang kegerebeg di gubuk itu--" Sisil tidak meneruskan perkataannya. Walau sebenarnya pikirannya itu tak mau berprasangka buruk terhadap Alex dan Resty, tetapi sebagai orangtua yang anaknya pernah terlibat kasus kegerebeg orang di kampung tentu timbul perasaan was-was lagi.
"Ah, mana mungkin, Sil?" Kenzo langsung menampiknya.
"Bisa jadi kan? Buktinya sudah jelas gitu. Kamu lupa, pas itu di leher Resty banyak bekas ncupangnya?" Sisil menghidupkan kembali memori saat itu.
Kenzo tentu ingat hal itu. Walau ia juga merasa was-was seperti yang dirasa istrinya itu, tetapi ia mencoba terlihat tenang sebelum menanyakan itu kepada sang pembuat kasus.
"Jangan asal nuduh dulu. Lebih baik kita tanyakan sama Alex. Sebenarnya Resty kenapa. Syukur-syukur cuma gejala masuk angin." Kenzo mencoba menenangkan.
"Kalau ternyata masuk janin?"
"Ya kita bakal punya cucu. Gitu aja kok repot!"
Seketika Sisil mendelik gemas. Suaminya itu terlihat sangat santai untuk hal yang sangat ditakuti bagi sebuah keluarga. Seseorang yang kedapatan hamil sebelum menikah bukankah itu termasuk aib keluarga? Kenapa suaminya itu malah terlihat santai dan biasa-biasa saja?
"Emang kamu nggak pernah bisa diajak ngomong serius, Ken!" Sisil langsung beranjak berdiri. Langkah kakinya berjalan cepat menyusul Alex dan Resty.
Terlihat menantunya itu sudah tidak muntah-muntah lagi, tetapi wajahnya terlihat bertambah pucat dari sebelumnya.
"Lex, lekas bawa ke kamar." titah Sisil yang langsung diangguki kepala oleh Alex.
"Digendong gitu, Lex." Sisil mulai tak sabar melihat anaknya yang tak sigap menggendong Resty menurutnya.
"Iya, Mama." Padahal pria itu lagi siap-siap mau mengangkat tubuh Resty.
"Eh, nggak usah, Yang. Aku masih bisa jalan." tolak Resty merasa malu sendiri karena dilihat langsung oleh kedua mertuanya.
Alex tak mempedulikannya. Pria itu dengan sigap langsung mengangkat tubuh Resty ke dalam gendongannya. Membawanya masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas.
"Jangan tanya sekarang. Nanti saja, Sil." Kenzo menarik lengan Sisil begitu melihat istrinya itu akan beranjak juga.
"Siapa juga mau tanya sekarang?" Wanita itu meresponnya sedikit nyolot.
"Aku cuma mau ambilkan obat buat menantuku. Kali aja masuk angin beneran."
Lalu Sisil pun pergi untuk mengambil kotak obat. Sebelumnya wanita itu menuang air hangat ke dalam gelas untuk nanti bisa diminum oleh Resty.
Sedangkan Kenzo hanya bisa mengelus dada. Ia baru sadar jika istrinya bisa secerewet itu. Bila dulu hanya terlihat diam dan sedingin es balok, tetapi semua sifat asli itu terbuka setelah saling menerima satu sama lain.
__ADS_1
Alex merebahkan tubuh Resty dengan perlahan di ranjangnya. Menyelimutinya dengan benar tentu sambil membubuhi kecupan hangatnya di kening istrinya itu.
"Makasih ya, Yang. Kamu sudah capek-capek gendong aku sampai ke sini. Padahal aku masih bisa jalan kok," ucap Resty.
Alex hanya tersenyum tipis sambil terus membelai dengan manja pada pipi Resty.
"Kamu tidur saja yang nyenyak. Maaf ya, karena aku kamu jadi sakit," ucapnya sepenuh hati.
"Kamu nggak tidur juga?"
Alex hanya menggeleng, sebab ini terlalu sore bagi Alex untuk jam tidur malam.
"Aku tunggu isya dulu," ucapnya kemudian.
"Aku juga."
"Kamu tidur aja nggak papa. Entar aku bangunin kalau sudah enakan. Lagian kamu juga belum makan. Atau apa perlu aku pesenin diluar? Kamu pingin makan apa?"
"Nggak pingin makan apa-apa. Perutku tetap mual, Yang," jawab Resty apa adanya.
Tanpa mereka sadari kalau ternyata Sisil mendengarkan percakapan mereka dari celah pintu yang tidak ditutup rapat oleh Alex tadi.
"Duh, maafin aku ya..." Alex mengecup telapak tangan Resty.
"Nggak perlu merasa bersalah begitu, Yang. Kalau aku nolak, pasti nggak akan terjadi juga kan? Kita sama-sama salah. Jadi berhenti merasa nggak enak sama kondisi aku," ucap Resty, yang seketika membuat telinga yang menguping di sana semakin terkaget-kaget.
Alex menghela nafas beratnya. Pria itu kemudian ikut merebahkan diri disamping Resty, tanpa komando lagi wanita itu langsung membalik posisinya agar berhadapan dengan suaminya itu. Tidur berada dalam dekapan suami tersayang pastilah sangat menenangkan.
"Yakin nggak mau makan apa gitu, Yang?"
Wanita itu menggeleng dalam benaman dada bidang Alex. "Males."
"Eh, nggak boleh gitu. Tetap harus makan biar bisa minum obat entar. Aku mau ambil obat dulu ya?"
"Nggak mau. Nggak mau ditinggalin." Resty menahan tubuh Alex dengan lingkaran tangannya yang memeluk semakin erat.
Alex menurut saja. Pria itu lantas membelai kepala Resty dengan begitu lembut.
"Aku tadi panik banget, Yang, lihat kamu muntah-muntah kayak tadi," seru Alex.
Tetapi Resty hanya bergeming, tetapi tetap terjaga belum tertidur.
"Jadi ngebayangin seandainya entar kamu hamil, terus harus muntah-muntah kayak tadi setiap hari." Alex tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.
Resty memilih diam saja. Mulutnya terlalu kelu jika harus membahas hamil, padahal dirinya saat ini belum siap untuk hamil.
__ADS_1
"Apa? Hamil?" Sisil yang hanya mendengar tidak begitu jelas, seketika bertambah kaget saat mendengar kata hamil keluar dari mulut Alex barusan.
"Kok masih disini, Sil?"
Suara Kenzo yang tiba-tiba muncul dibelakangnya membuat Sisil gelagapan sendiri. Yang tentu suara itu juga didengar olah Alex dan Resty juga.
"Iiiih.... Ngagetin aja!" kesal Sisil.
"Nguping kamu ya?" tuduh Kenzo seketika.
"Diam kau!"
Lalu kemudian Sisil pun akhirnya memilih masuk ke kamar Alex, setelah sebelumnya mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Rupanya Kenzo ikut mengekor dibelakang Sisil. Ia merasa takut istrinya itu akan terbawa emosi dengan prasangkanya yang belum tentu benar.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Kenzo perhatian.
"Sudah mendingan, Pa. Cuma tinggal pusingnya sedikit," jawabnya ramah.
"Masih mual nggak?" Sisil ikut bertanya, yang sebenarnya mengarah kepada interogasi kepada mereka.
Dan Resty hanya mengangguk kecil.
"Mama bawa obat apa?" Alex kepo dengan isi nampan yang dibawa mamanya.
"Ah, mama keliru bawa obat. Ini salah. Mending Resty periksa dulu sama dokter sebelum asal meminum obat."
Kenzo langsung menyorot heran atas pernyataan istrinya itu.
"Sil, ikut aku keluar." Kenzo menyikut lengan Sisil, membuat Alex dan Resty timbul curiga atas perlakuan orangtuanya yang sedikit aneh dari sebelumnya.
"Alex, kamu keluar juga. Mama ingin ngomong penting sama kamu." Sisil malah ikut memerintah kepada Alex. Lalu setelahnya wanita itu akhirnya keluar juga dari kamar anaknya itu.
Disusul kemudian Kenzo juga ikut keluar, dengan mimik yang begitu gemas melihat perlakuan istrinya yang kentara tidak enak dipandang.
"Sayang, mama kenapa ya?" Resty langsung menanyakan kecurigaannya itu kepada Alex. Tetapi pria itu hanya menghedikkan kedua bahunya pertanda entah.
"Aku keluar dulu ya? Bentar kok, nggak lama," pamit Alex pada akhirnya.
Wajah Resty seketika murung. Kondisinya yang begini, ditambah lagi sedang berada di rumah mertua, membuatnya tak mau ditinggal lama-lama oleh suaminya itu karena masih merasa sungkan jika harus sendirian di rumah yang masih asing bagi Resty.
Sekilas Alex mengecup bibir Resty yang sedang mengerucut.
"Jangan cemberut, entar aku gemesin mau?"
__ADS_1
*