
Setelah beberapa hari belakangan ini Resty selalu tertunda untuk memeriksakan kandungannya, baru kali inilah Alex memiliki waktu luang. Kebetulan juga hari ini mereka tidak ada jadwal ngampus.
Memang setelah Alex memutuskan ikut membantu papanya di kantor, pria itu terlihat sangat sibuk. Selain mengatur jadwal kuliahnya yang masih setengah jalan, juga pria itu begitu giat turut mengelola bisnis keluarganya. Jiwa pekerja kerasnya seakan membumbung tinggi begitu menjadi calon bapak.
Setelah sarapan bersama pagi ini Alex dan Resty segera keluar dari rumahnya. Sebelum itu mereka harus pergi ke rumah papa Tommy untuk menjemput Ika yang merengek meminta ikut mereka.
"Jangan kenceng-kenceng, Yang," tegur Alex ketika melihat Resty tengah memakai seatbelt.
"Nanti anakku susah nafas gimana?" serunya berlebihan sekali.
"Mana ada, ini loh sudah longgar." Resty menggeleng gemas melihat Alex yang selalu over protektif kepadanya semenjak hamil.
Alex mendekat kepada Resty yang sudah duduk tenang di sampingnya. Seperti biasa pria itu selalu menyapa anaknya saat akan beraktifitas apapun.
"Sayang anak papa, sehat-sehat ya, setelah ini papa sama mama akan tahu kamu cowok apa cewek. Tolong nanti jangan malu-malu tunjukin kellamin kamu sama dokter, biar kita semua tahu kamu generasi papa yang tampan atau generasi mamamu yang cantik sejagad raya," ucap pria itu sambil mengelus-ngelus perut Resty yang bertambah buncit.
Dan Resty sendiri hanya tersenyum simpul mendengar perkataan suaminya yang sering ngadi-ngadi bila berbicara dengan calon anaknya.
"Sini papa cium dulu."
Lalu pria itu mencium perut Resty dengan perasaan gemas. Rasa-rasanya sudah tidak sabar melihat anaknya lahir ke bumi ini. Padahal masih harus melewati sekitar lima bulan lagi untuk menyambut bayi itu lahir.
"Eh, barusan babby nya gerak, Yang," pekik Alex riang sekali.
Pria itu jarang sekali mendapatkan momen seperti ini. Meski sebelumnya Resty pernah bilang jika babby nya sudah mulai bergerak, tetapi bila Alex memegang perutnya selalu gagal.
"Ayo dong anak papa, gerak lagi dong," ucap Alex sambil mengelus perut Resty, seakan terlupa jika kali ini mereka memiliki janji dengan dokter obgyn mereka.
"Nanti pasti gerak lagi kok. Ini masih kecil, jadi geraknya cuma sekali-kali doang," tutur Resty.
"Gitu ya, Yang."
Resty mengangguk meyakinkan.
Sekali lagi pria itu mencium perut Resty, dan kemudian bersiap berangkat pergi ke rumah papa Tommy.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah papa Tommy. Rupanya Ika sudah menunggu mereka cukup lama, hingga membuat wanita itu langsung uring-uringan kepada mereka.
"Lama amat sih! Hampir jamuran nunggu kalian," cerocos Ika saat mobil yang membawa mereka kembali melaju di perjalanan.
"Katanya suruh nunggu papa berangkat dulu," Resty memberi pembelaan sesuai permintaan Ika semalam.
__ADS_1
"Iya, tapi papa kamu berangkatnya pagi sekali tadi," jawab Ika masih dengan bibirnya yang manyun.
Kali ini Ika ikut mereka berdua memang tanpa setahu Tommy. Wanita itu berniat memeriksakan dirinya juga kepada dokter, mengenai dirinya yang tak kunjung hamil. Sebelumnya Ika sudah sering mengajak Tommy untuk periksa bersama-sama kepada dokter, tetapi suaminya itu selalu menolak dengan alasan tunggu dan bersabar.
Apalagi saat ini kondisi tubuh Ika bertambah gemuk dari sebelumnya. Naik sekitar lima kilo dari sebelum ia menikah. Hal itu pula lah yang membuat wanita itu bertambah gelisah. Sebab ia pernah mendengar istilah perempuan gemuk akan sulit mengandung. Dari sini Ika berinisiatif sendiri ingin berkonsultasi dengan dokter bagaimana caranya agar bisa lekas hamil.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Segera mereka pergi ke ruang dokter obgyn yang mana mereka sudah membuat janji sebelumnya. Beruntung saja tidak terlambat. Hanya menunggu satu pasien saja untuk kemudian giliran mereka yang di periksa.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menitan, akhirnya tiba waktunya mereka yang masuk ke ruangan dokter itu.
"Selamat siang, Dok," sapa Alex pada dokter perempuan yang akan memeriksa dua wanita yang ikut masuk ke ruangan itu bersama Alex.
"Selamat siang, silahkan duduk," jawab dokter itu sangat ramah.
Dokter itu menatap bergantian pada Resty dan Ika. Tatapan matanya lebih menyorot heran kepada Alex.
"Mereka berdua ini istri kamu?" tanya dokter itu.
"Ah, bukan, Dok. Istri saya hanya satu ini yang paling cantik," jawab Alex sambil merangkul pundak Resty.
Sedangkan Ika hanya terkekeh lucu melihat dokter itu mengira mereka pasangan poligami.
"Dia mama saya, Dok," ucap Resty memperkenalkan Ika kepada dokter itu.
"Mama sambung, Dok," Alex turut menjelaskan.
"Ih, nggak usah di perjelas napa? Syirik terus deh," ujar Ika mendadak sewot kepada Alex.
"Emang benar begitu kan?" Alex ikutan sewot.
"Baiklah, jadi siapa yang mau periksa?" tanya dokter itu memutus perdebatan random antara Alex dan Ika.
"Istri saya, Dok," jawab Alex.
Lalu dokter itu menyuruh Resty berbaring di ranjang periksa. Alex dan Ika sama-sama memperhatikan pada gambar yang muncul pada mesin USG itu.
"Detak jantungnya sehat ya," ucap dokter itu.
Semuanya hanya tersenyum lega dan senang.
"Jenis kelaminnya, Dok?" Alex yang memang sudah sangat kepo langsung bertanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah cowok. Tuh burungnya sudah mulai nongol," tutur dokter itu sambil menunjukkan garis kecil sebagai bukti jika anak Alex dan Resty berjenis kelamin laki-laki.
"Beneran cowok, Dok?" Alex masih tidak percaya, tetapi sebenarnya ia sangat bahagia. Senyum riangnya selalu terpancar pada wajah pria itu.
Dokter itu hanya mengangguk sambil tersenyum ramah.
Sedangkan Resty yang melihat uforia dari suaminya itu ikut tersenyum bahagia. Tak terasa air mata bahagianya menetes, sangat bersyukur sekali telah di berikan nikmat hamil dengan kondisi bayi dan dirinya yang sehat.
"Alhamdulillah... Setelah ini rajin periksa ya, jaga pola makan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Semoga sampai nanti di beri kelancaran proses bersalinnya," ucap Dokter itu.
"Aamiin... Terimakasih, Dokter." Hampir bersamaan Alex dan Resty mengucapkan itu.
"Duh... Selamat ya kalian sudah di beri babby boy. Semoga tidak bandel kayak bapaknya," celetuk Ika tanpa tahu tempat.
Resty hanya tersenyum bahagia sekali, sedangkan Alex langsung melotot gemas pada Ika yang memang keduanya sulit akur bila bertemu.
"Kenapa melotot begitu?"
Belum sempat Alex membalas omongan Ika, Resty buru-buru menahan dengan memegang tangannya.
"Ee... Dokter, mama saya ini juga mau periksa," ucap Resty kemudian.
"Mari, silahkan." Dokter itu membimbing Ika untuk berbaring.
"Ada keluhan apa?" tanya dokter itu sebelum memulai periksanya.
"Saya ingin mengecek kesehatan saya, Dok. Saya ingin cepat hamil, padahal pernikahan kami sama seperti mereka," tutur Ika to the poin.
"Alangkah baiknya datang ke sini bareng suami, biar sama-sama tahu kondisi kesehatan kalian," ujar dokter itu memberi pendapat yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri saat melakukan pemeriksaan.
"Suami saya sibuk terus, Dokter. Ini aja aku sempat-sempatin ikut mereka ke sini."
"Apakah mens nya lancar tiap bulan?" tanya dokter itu setelah mengetahui adanya kejanggalan pada perut Ika begitu di pegang oleh dokter itu.
"Mm... Lancar."
"Untuk memastikannya saya USG ya?" tawar dokter itu untuk lebih jelasnya.
Ika mengangguk patuh. Menunggu dengan gugup saat cairan gel dingin itu mulai di oles ke perutnya.
"Mm.... Ini--"
__ADS_1
*