
Brak!!
Donita mendobrak meja yang terbuat dari kayu itu cukup keras, membuat semua mata yang berada disekitarnya turut menyorot ke arahnya.
Wanita itu terlihat kesusahan mengatur gejolak amarahnya, tetapi sebisa hati ia masih mencoba menahannya. Terlihat dari sorot matanya yang menatap nanar pada kekasihnya yang masih enjoy memasukkan makanannya ke mulut.
"Apaan sih, Ta?" Pria itu berhenti sejenak dari kegiatan makannya. Pura-pura bodoh meski tahu Donita sedang marah kepadanya.
"Jelaskan, Lex!" ucapnya penuh penekanan.
"Masalah?" Sungguh, Alex benar benar niat mencari kesalahan dengan menjadi pria menyebalkan saat ini.
"Apa yang terjadi sama kamu? Mobil kamu nggak ada itu kemana? Yang kamu bilang harus irit uang itu kenapa?" tanyanya, nyerocos tanpa jeda.
"Ya nggak ada emang." sahutnya santai. Lalu menyendokkan makanan miliknya ke dalam mulut lagi.
"Ya nggak ada kemana? Dijual? Disita? Atau--"
"Dijual."
Terbesit senyum tipis dari bibir Donita. "Pasti mau ganti keluaran terbaru lagi kan?" tanyanya penuh harap.
Dan Alex hanya menggelengkan kepala. Masih terkesan asyik menikmati hidangan didepannya.
"Aku bangkrut, Ta." jelasnya, ketika makanan di piringnya sudah tandas tak tersisa.
"Bangkrut?" Kening Donita bertekuk berlipat-lipat.
"Heem." sahutnya, masih sambil menyempatkan diri meminum minumannya hingga sisa separuh gelas.
Heeeeeekkkk.....
Suara sendawa dari pria itu terdengar nyaring dan seperti memang dibuat-buat olehnya.
"Alhamdulillah.... Kenyang." ucapnya, sambil mengusap-usap perutnya sendiri.
Donita menatap risih pada Alex yang dinilainya sedikit menjijikkan. Dengan kelakuannya yang begitu, juga dengan pengakuannya yang katanya sedang bangkrut, sudah pasti membuatnya seketika ilfil alias hilang rasa kepada Alex.
Brak!
Sekali lagi Donita menepuk meja kayu itu, cuma kali ini tidak sampai begitu nyaring.
"Kita putus!" ucapnya, sambil mulai beranjak dari tempatnya duduk.
"Serius?" Sorot mata Alex seketika berbinar senang.
"Eh, dengerin ya... Aku, Donita, seorang model yang berkelas, tidak sudi punya pacar kayak kamu. Sudah jatuh miskin, jorok pula!" cercanya, sangat pede sekali mengaku dirinya model berkelas.
__ADS_1
Kelas dari mana dulu nih? Kelas taman bermain / TK? Wkwkwk...
Alex tertawa mengejek dalam hati saat mendengar kepedean tingkat dewa yang dimiliki wanita yang mulai detik ini sudah resmi mengundurkan diri sendiri menjadi pacar Alex.
"Baik." balas Alex, lalu ikut berdiri saling berhadapan dengan Donita.
Donita menatap penuh kesal pada pria yang begitu kentara sangat senang sudah putus dengannya. Hingga kakinya dihentakkan ke lantai, pertanda sudah tak tahan bersama dengan pria mengecewakan seperti Alex.
Pupus sudah segala ekspektasi Donita selama ini. Ia yang tahu jika Alex dari keluarga berada dan terpandang, juga sebagai satu-satunya pewaris dari kekayaannya itu, seketika musnah oleh pengakuan bangkrut dari Alex.
Apalagi ditambah notif news update yang muncul di hape nya, yang memberitakan tentang kondisi perusahaan keluarga Alex yang terancam pailit, membuatnya bertambah yakin untuk meninggalkan pria yang tak menghasilkan menurutnya.
"Eh, mau kemana dulu?" Alex sengaja mencegah Donita pergi dengan mencekal lengannya.
Donita hanya melirik sambil menarik paksa cengkraman tangan Alex dari lengannya.
"Setidaknya bayarin ini dulu." ucap Alex apa adanya.
Kedua mata Donita membulat lebar. Sumpah demi apa, wanita itu semakin bertekad ingin membuang jauh Alex lalu mencari cowok lagi yang bisa membuatnya bergelimang harta.
Buru-buru Donita membuka tas kecilnya. Lalu mengambil beberapa lembar uang merah dan menaruh sembarangan diatas meja.
Lalu tanpa berucap satu patah kata pun, Donita langsung pergi begitu saja. Sedangkan Alex mulai menghitung selembar demi selembar uang itu yang dirasa masih ada sisa dari membayar tagihan makanannya.
"Lumayan lah. Bisa buat ongkos ojol selama dua hari." ujarnya, lalu kemudian memanggil waiters lagi untuk membayar tagihan makanannya.
Setelah itu Alex hengkang juga dari cafe itu, yang mungkin ini akan menjadi hari terakhirnya mengunjungi cafe ini, setelah mengharuskannya untuk menghemat uang.
Lalu ia pun lekas menaiki ojol yang semula dipesannya untuk mengantarnya pulang. Apalagi setelah mendapat pesan bahwa papa dan mamanya lebih mempercepat jadwal keberangkatannya ke Jepang malam ini, tentu membuatnya ingin segera tiba di rumah.
***
"Sudah pulang, Nak?" sapa Tommy, begitu melihat Resty akan menaiki undakan tangga menuju kamar.
"Eh, Papa." Gadis itu beranjak mendekat kepada papanya yang tengah duduk santai sambil membaca koran.
"Aku nggak lihat kalo Papa sudah pulang. Sudah dari tadi, Pa?" ucapnya, tak lupa menyalim takdzim kepada papanya juga.
"Sekitar setengah jam yang lalu."
"Ada berita apa, Pa? Serius amat bacanya?"
Gadis itu ikut duduk menemani disebelah Tommy. Mengintip sedikit berita yang sedang dibaca papanya, tetapi Tommy malah cepat-cepat melipatnya.
"Nggak ada apa-apa." jawabnya dusta.
Helaan nafas Tommy berhembus berat. Sebuah kabar yang ditemukan di koran itu yang membuatnya sedikit resah. Sebuah nama perusahaan yang sudah tak asing lagi di telinganya, apalagi jika membaca nama dari CEO perusahaan tersebut, membuatnya teringat dengan satu nama seseorang.
__ADS_1
Huft. Entahlah! Tommy jadi resah sendiri teringat tentang kesalahan yang pernah ia perbuat dengan seseorang itu.
Andai ditakdirkan bertemu kembali, rasanya ingin sekali Tommy meminta maafnya kembali. Yang membuatnya tidak tenang pikiran hingga sekarang karena belum juga sempat mengucapkan kata maaf setelah insiden kelam itu.
"Papa," Resty mengguncang pelan lengan Tommy, yang dirasa sedang melamun asyik seorang diri.
"Astaghfirullah...."
Sebuah kalimat permohonan ampun itu keluar dari mulutnya. Lengkap dengan tarikan nafasnya yang berhembus kasar.
"Papa pasti lagi ngelamun ya?"
"Iya. Papa memang lagi mikirin kamu."
Tommy sengaja berkilah dengan membuka arah tujuaan obrolannya kali ini.
"Mikirin aku kenapa?"
"Masalah jodoh kamu lah."
"Ah, Papa. Kuliah aja masih belum separuh sudah mikirin jodohnya aku."
"Mm, tapi kalau misalnya papa mau jodohin kamu sama lelaki pilihan papa, Resty mau?"
"Ngomong apaan sih, Pa? Jadi geli mikirnya."
Resty menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia duduki. Dengan kedua tangan yang sudah berlipat didada, juga dengan mulut yang mulai mengerucut.
"Kenapa malah geli? Belum juga mau dinikahkan udah ngomong geli duluan." Tommy jadi terkekeh mendengar ucapan Resty.
"Habisnya Papa sih..."
Seutas senyum tipis terukir dari sudut bibir Tommy. Pria itu menarik kepala anaknya lalu merebahkannya untuk bersandar dipundaknya. Tangannya terulur mengusap penuh kasih di puncak kepala gadis yang baru berusia dua puluh tahun lebih.
"Papa ingin kamu dapat jodoh lelaki baik, sayang sama kamu, juga yang penuh tanggung jawab sama kamu." tutur Tommy, masih terkesan ambigu bagi Resty.
"Papa sering cemas kamu salah pergaulan, dan bisa jatuh cinta dengan lelaki yang--" Tommy tak sampai hati mengungkapkan kecemasannya kepada Resty masalah kedekatannya dengan Alex kemarin.
"Papa jangan khawatir berlebihan sama aku. Aku bisa jaga diri kok." balasnya meyakinkan kecemasan papanya.
"Eh, tapi papa serius loh, masalah mau jodohin kamu sama pilihan papa itu."
Resty menarik kepalanya dari dekapan Tommy. Ia menatap penasaran dengan maksud terselubung dari penuturan papanya itu.
"InsyaAllah besok lusa dia datang. Papa kenalin kamu ke dia ya?"
"Jadi papa beneran serius mau jodohin aku?" tanyanya, masih shock dan sangat tak percaya, meski yang ia lihat papanya sudah mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
*