
Malam sudah menyapa. Alex merasa tubuhnya sudah lebih baik, apalagi yang menjadi moodbosternya selalu ada didepan mata dan melempar senyum tiap kali berpapasan di rumah ini. Kali ini seperti yang diminta eyang tadi sore, Resty dan Alex sama-sama duduk diruang makan. Sembari menyantap makan malam, eyang Asih membuka obrolan santainya dengan mereka berdua.
"Kamu nggak perlu canggung begitu, aku sudah tahu semua dari Saleh."
Eyang Asih mengaku kalau ia tahu identitas asli Alex dari Saleh. Kendati begitu Alex tidak bisa marah kepada Saleh. Ibarat pepatah mau mapan bagaimana pun menyimpan bangkai, cepat atau lambat rahasia itu pasti akan tercium juga.
"Aku minta maaf, Buk, kalau sudah berbohong selama ini sama Ibu." ujar Alex kemudian.
"Hei, jangan panggil ibu lagi. Panggil saja eyang, biar semakin nyaman ngomongnya." ujar eyang Asih.
Dan Alex hanya bisa mengangguk patuh. Tiada salah juga menuruti kemauan wanita baik seperti eyang Asih, walau sebenarnya rasanya masih akan canggung untuk Alex merubah panggilannya itu.
Eyang Asih masih senantiasa mengulas senyum hangatnya dihadapan dua sejoli itu. Setelah tadi ia mendengar langsung masalah yang menimpa Alex dari Saleh, ia sudah memaafkannya sebelum pria itu mengucapkannya barusan. Rasa empatinya yang memang begitu tinggi kepada siapapun, membuat wanita tua itu semakin sayang kepada Alex.
Sosok pemuda yang mau bekerja keras meski harus turun kasta menjadi pembantu di rumah ini, sudah cukup menjadi poin bagus bagi eyang Asih. Menilai pria itu sebagai pemuda teguh dan bisa bertanggung jawab dengan masalah yang dihadapinya saat ini.
Sedangkan Resty juga ikut tersenyum bahagia setelah melihat eyangnya mau memaafkan kebohongan Alex tanpa banyak drama. Gadis itu kini bisa bernafas lega, tersemat ucapan kata syukur yang mendalam karena telah dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarnya.
"Cuma satu hal yang kamu nggak jujur sama aku." lanjutnya lagi. Bergantian eyang Asih menatap lebih intens kepada Alex dan Resty.
"Ada hubungan apa kamu sama Resty?" tanyanya langsung.
Alex tercengang seketika, pun demikian dengan Resty. Sorot mata keduanya saling memberi kode akan menjawab bagaimana kepada eyang Asih. Tidak mungkin juga akan mengaku kalau mereka pacaran dan baru jadian sore tadi.
"Sudah jujur saja, nggak usah saling ngelirik gitu. Eyang sudah tahu kok dari Saleh tentang kedekatan kalian."
Padahal sebenarnya Saleh tak mengatakan itu. Hal itu murni sebagai pancingan agar keduanya mau terbuka kepada kepada eyang Asih.
"Pak Saleh bilang apa saja, Buk?" tanya Alex penasaran.
"Panggil ibu lagi. Eyang gitu." hardiknya, merasa gemas kepada Alex yang masih keceplosan memanggilnya ibu.
"Eh, iya. Eyang." Alex mulai nyengir bersalah.
"Kalian pacaran?" terka eyang sekenanya dan sesuai instingnya saja. Ketahuan saling berpegangan tangan, siapa yang tak menebak jika keduanya saling memiliki hubungan lebih.
Alex dan Resty sama-sama bergeming. Tetapi tidak dengan pergerakan kaki mereka dibawah kolong meja yang saling menendang kecil. Keduanya sama-sama merasakan dilema, takut sang eyang akan melarang hubungan yang terlanjur terjalin diantara mereka.
"Ehem!"
__ADS_1
Eyang Asih sengaja berdeham dibuat-buat. Diamnya mereka semakin meyakinkan pikirannya tentang adanya sesuatu dari dua anak manusia itu.
"Ya sudahlah. Mungkin kalian masih belum mau ngaku. Tapi eyang harap sih kalian mengaku saja. Eyang nggak mungkin hukum kalian kok. Nggak akan ada pidana apa-apa bagi sebuah rasa cinta."
Sekali lagi Resty dan Alex dibuat terkesiap oleh eyang yang rupanya juga bisa berkata puitis diakhir kalimatnya.
"Sudah, ayo lanjut makannya." serunya lagi. Yang kemudian mereka kembali menikmati makan malamnya dengan tenang.
Tak lama kemudian mereka sudah selesai dengan kegiatan makannya. Melihat eyang yang bergegas membereskan beberapa piring kotornya sendiri, Resty pun baru sadar jika sedari tadi tak ada suara Ayu diruangan itu.
"Ayu kemana, Eyang?" tanyanya, sambil ikut membantu menata piring kotornya.
"Sebelum maghrib tadi Ayu pamit pulang. Bilangnya kangen ibunya."
"Ooh..." Resty hanya ber-oh, tetapi matanya melirik lagi kepada Alex.
Tiba-tiba gadis itu curiga sendiri, kalau Ayu pamit pulang mendadak begini karena kelewat malu oleh hal yang tadi.
"Tumben nggak pamit. Biasanya ada apapun Ayu selalu ngomong sama aku." Alex ikut berbicara.
"Mungkin nggak sempat. Sudah eyang cegah sih, karena mau malam juga. Tapi Ayu nya tetap ngotot pingin pulang sekarang juga." jelas eyang.
"Seminggu." Eyang menyahut singkat dan jelas.
Lalu kemudian wanita tua itu beranjak menuju dapur untuk meletakkan piring kotornya ke tempat rak cuci piring. Diikuti oleh Resty dan Alex yang sama-sama mengekor dibelakangnya.
"Biar aku yang cuci, Eyang."
Alex langsung menghandle tugas yang biasa ditangani Ayu. Sebelumnya pria itu memang sering berbagi tugas dengan Ayu. Dan karena itu lah pria itu terlihat lihai mencuci semua piring kotor yang telah digunakan.
Eyang Asih membiarkan saja pria itu melakoni kemauannya. Apalagi seorang pria yang mau ikut membantu meringankan pekerjaan rumah menurut pandangannya sangat keren. Karena tidak semua lelaki di kampung ini sudi mengerjakan pekerjaan rumah yang terlanjur dimandatkan sebagai tugas perempuan saja.
"Mari kita buat kesepakatan." ujar eyang Asih, disela-sela sedang memperhatikan Alex membilas piring kotor itu.
"Berhubung Ayu ijin libur seminggu, berarti tugas Ayu ini eyang bagi dua buat kalian. Kalau eyang ada waktu, eyang pasti bantu. Tapi selebihnya eyang pasrahkan sama kalian. Gimana?"
"Siap." Alex langsung merespon mantap.
Dirinya yang sudah sedikit mahir menyapu atau mencuci piring kotor seperti ini, tentu tak keberatan bila harus mengerjakan tugas itu selama Ayu tidak ada.
__ADS_1
"Tapi aku nggak mau kalau kebagian tugas masak. Aku nggak bisa masak, Eyang." Resty langsung usul, demi tidak kebagian tugas memasak yang memang gadis itu tidak begitu pandai memasak.
"Masalah itu bisa belajar lewat medsos kan?"
Resty mengerucutkan bibirnya, pertanda tidak begitu setuju dengan usulan eyangnya itu.
Setelah itu eyang Asih beranjak pergi. Meninggalkan Resty dan Alex berdua saja ditempat itu. Setelah meyakini jika eyangnya sudah melenggang jauh, perlahan Resty mendekat dan berdiri tepat disamping Alex yang sudah selesai mencuci piring kotornya. Pria itu langsung membalik badan untuk saling berhadapan dengan Resty.
"Kenapa?" tanya Alex, setelah melihat adanya kebetean dari raut gadisnya itu.
"Aku nggak bisa masak." ujarnya pelan.
"Masak mie rebus juga nggak bisa?"
"Kalau yang itu bisa lah."
"Ya sudah. Masak yang kamu bisa aja. Nggak repot kan?"
Resty semakin manyun setelah mendengar pendapat Alex yang menurutnya bukan solusi baik.
"Masa iya, mau tiap hari aku masakin kalian mie rebus?" protesnya kesal.
Tetapi pria itu malah terkekeh gemas.
"Coba ini di kota, sudah pasti tiap hari aku pesan online saja. Ribet beud, ck!"
"Hei, nggak baik berdecak kayak gitu. Jadi kelihatan kalau kamu keberatan sama tugas eyang." Seketika Alex mencapit gemas pipi Resty.
Resty terdiam. Andai ia punya seorang mama, sudah pasti jauh-jauh hari gadis itu bisa belajar masak dengan mamanya itu. Hingga tak terasa netra itu sedikit mengembun, merasa hampa harus hidup tanpa adanya kasih sayang seorang mama.
"Sayang, kamu nangis?" Alex mencermati bola mata Resty yang berkaca-kaca.
Mendengar pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang, Resty jadi semakin mellow. Air matanya menetes tak terbendung, antara senang bercampur terenyuh oleh perhatian pria itu kepadanya.
Perlahan Alex membawa tubuh gadis itu dalam pelukan hangatnya. Dan Resty menyambutnya dengan turut melingkarkan tangannya dipinggang Alex dengan begitu erat. Pria itu masih berpikir keras, tentang penyebab utama kenapa gadisnya itu mewek tanpa sebab.
Tanpa mereka sadari, posisi mereka yang sedang berpelukan itu telah sampai pada seorang pria yang harus Alex perjuangkan gadisnya itu, andai ingin menggapai restu itu darinya.
*
__ADS_1