Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 121


__ADS_3

Bersamaan Alex dan Resty menuruni undakan tangga menuju lantai bawah. Mereka bersiap akan berpamitan kepada Tommy dan Ika untuk makan malam diluar. Kebetulan juga Tommy dan Ika sedang duduk santai di ruang keluarga, jadilah mereka berdua segera menghampiri keberadaan orang tuanya itu.


"Mau kemana sudah rapi begini?" tanya Tommy basa-basi, karena sebenarnya ia sudah tahu dari mak Asna kalau Alex dan Resty akan makan malam diluar.


"Pa, aku sama Alex mau keluar," seru Resty.


"Hem, baru nggak bolehin keluar dua harian, udah nggak betah aja mau keluar rumah," seloroh Tommy, sebenarnya hanya ingin menggodanya saja.


"Eh, bukan gitu, Pa. Aku ngajak Resty keluar karena aku nya pingin makan diluar." Alex ikut menimpali.


"Emang masakan di rumah nggak cocok gitu?"


"Cukup, Mas." Ika segera menahan Tommy untuk tidak membuat Alex dan Resty salah paham dengan ucapannya yang barusan.


Benar saja, karena ucapan Tommy itu membuat hati kecil Alex merasa tak enak sendiri. Belum sehari ia berada di rumah ini sudah bertingkah sok mau makan diluar, yang biasanya akan dilalui dengan makan bersama dulu dengan seluruh keluarga.


Seketika Tommy menyeringai tipis. Kemudian ia meletakkan sebuah amplop coklat diatas meja.


"Itu buat kalian," ucapnya, memerintah kepada Resty atau pun Alex untuk mengambil amplop itu.


"Ini apa, Pa?" Resty yang mengambilnya, sedikit curiga sambil menimang-nimang kira-kira apa isi dari amplop itu.


"Eh, jangan dibuka di sini!" Ika histeris sendiri, ketika Resty akan membuka amplop itu.


Resty langsung menurut meski sudah sangat penasaran. Apalagi mendapati tatapan aneh dari papanya dan Ika, rasanya ia harus menahan rasa penasarannya itu hingga nanti saja.


"Katanya mau keluar?" Tommy mengingatkan lagi.


"Iya, Pa." Alex langsung sigap.


"Have fun ya kalian," seru Ika tiba-tiba.


Keduanya hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Ika. Setelah itu mereka pun langsung melesat keluar rumah dan segera menaiki mobil milik Resty yang mana Alex lah yang menjadi drivernya saat ini.


"Kita mau makan dimana, Yang?" tanya Alex ditengah-tengah perjalanan mencari rumah makan yang belum muncul minat mau makan dimana.


"Terserah lah. Aku ngikut kamu aja," balas Resty, masih sibuk menimang amplop di tangannya yang belum dibuka juga.


"Oke, terserah aku ya?" tanya Alex, yang tak kunjung mendapat respon dari Resty karena masih sibuk mengamati amplop itu.


"Kalau penasaran kenapa nggak dibuka aja, Yang?" usul Alex, tetapi kemudian mobilnya menepi didepan sebuah warung lesehan sederhana.


Resty mendongak sekilas. Meneliti ke sekitar, dan terhenyak sesaat begitu tahu kalau Alex menepikan mobilnya di pinggiran jalanan ibu kota yang dulu pernah mereka ke sana saat Alex belum minggat ke rumah eyang Asih.

__ADS_1


"Kita makan di sini aja, Yang. Sekalian bernostalgia dikit tentang kita di sini," ujar Alex yang langsung mendapat anggukan setuju dari Resty.


Mereka pun kemudian turun dari mobilnya dan langsung menempati tempat kosong di warung lesehan penjual aneka masakan seafood. Sembari menunggu pesanannya datang, mereka menyempatkan diri saling berfoto untuk dijadikan kenangan manis mereka berdua.


"Sayang, kamu ingat nggak kejadian ditempat itu?" Alex menunjuk sebuah kursi panjang yang berada di sekitaran tempat itu.


Resty hanya menggeleng kecil.


"Ditempat itu kamu menolakku. Masih belum ingat?"


"Oke, akan aku ingatkan. Waktu itu kamu menolakku karena kata kamu sudah dijodohin sama bang Ziyyan," terang Alex yang seketika membuat Resty terjengkit kaget saat mendengar ucapan Alex itu.


"Dari mana kamu tahu kalau aku pernah dijodohin sama kak Ziyyan?" tanya Resty sangat penasaran.


"Dia kan abang sepupuku."


"Kak Ziyyan yang cerita ya?"


Alex hanya menggeleng.


"Ah, sudahlah. Jangan ungkit itu lagi," ucap Alex kemudian. Masih ingat bagaimana terluka hatinya saat itu, saat mendengar sendiri jika Ziyyan lah yang akan dijodohkan dengan Resty.


"Siapa yang memulainya dulu tadi? Kamu juga kan?"


"Jadi intinya sekarang, aku sangat bersyukur karena Tuhan menjodohkan kita sebagai suami istri. Semoga kita tetap berjodoh sampai tua nanti," ucap Alex, begitu pelayan itu sudah kembali ke tempatnya.


"Aamiin..." Resty mengamininya sepenuh hati.


"Yuk makan, Yang."


Lalu mereka pun menikmati makanan yang mereka pesan itu dengan sangat lahap. Juga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeksekusi makanannya itu.


Setelah selesai lantas mereka memilih kembali masuk ke mobil. Tidak untuk kembali berjalan, melainkan hanya duduk santai didalam mobil itu.


"Aku sangat penasaran ini isinya apa? Aku buka ya, Yang?" Resty segera membuka amplop coklat yang sengaja diberi lem perekat itu setelah mendapat persetujuan dari Alex.


"Wau, tiket honeymoon, Yang." Alex langsung meraih satu tiket yang dipegang Resty. Tersenyum sangat sumringah karena papa mertuanya itu sangat tahu apa yang kebanyakan diinginkan oleh pasangan pengantin baru.


Akan tetapi Resty mendadak resah lagi. Suhu tubuhnya mendadak menjadi aneh, begitu mendengar istilah kata honeymoon keluar dari mulut Alex.


"Sayang, kok malah diem? Nggak suka ya? Padahal ini papa Tommy yang ngasih loh?"


Resty mendengus sesaat. Lalu meletakkan satu tiket yang dipegangnya itu diatas dashboard dengan gerakan pelan.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, mungkin semuanya itu harus dibicarakan saat ini juga. Semoga saja pria itu mau menerima permintaannya itu nanti. Sesaat Resty menghela nafasnya, sebelum kemudian mengatakan uneg-unegnya itu.


"Sayang, sebenarnya ada yang ingin aku omongin serius sama kamu," ucap Resty kemudian.


Alex menatapnya serius. "Bicaralah."


"Tapi janji kamu jangan marah." Resty sampai menggigit kecil bibir bawahnya saking gugupnya.


"Iya, janji." Alex mengiyakan.


"Mm... Sebenarnya aku masih nggak siap kalau harus punya anak disaat aku masih kuliah." Resty berkata sedikit pelan sambil menundukkan wajahnya sedikit takut kalau Alex akan tersinggung karena ucapannya itu.


Bukannya tersinggung atau pun marah, tetapi pria itu malah terkekeh sendiri, membuat Resty menyorotnya penasaran.


"Kamu lucu banget sih, Yang." Alex mencubit gemas pipi Resty.


Resty hanya mengerutkan keningnya. Lucu?


"Kita gituannya aja masih belum, kamu udah bahas anak duluan," selorohnya yang seketika mampu membuat pipi Resty merona lagi.


"Iya emang masih belum, makanya aku bilang sebelum semuanya terlanjur jadi."


Tiba-tiba Alex meraih tangan Resty untuk ia genggam.


"Ayo!" ajaknya ambigu.


"Ayo kemana?" Resty mulai was was.


"Balik pulang." Kemudian Alex menstater mobilnya untuk kemudian kembali melaju di jalanan ramai ibu kota.


Akan tetapi ditengah perjalanan itu Alex kembali menepikan mobilnya tepat didepan sebuah mini market.


"Tunggu bentar ya, ada yang mau aku beli," ucapnya lalu kemudian segera melesat masuk ke dalam mini market itu.


Didalam sana Alex tak segera mengambil barang yang ingin ia beli. Sengaja ia berputar-putar sebentar sambil mengambil beberapa snack ringan dan kemudian segera kembali ke arah tempat pembayaran.


"Sama ini sekalian, Mbak."


Kasir cewek muda berusia sekitar baru lulus SMA itu menyorot curiga kepada Alex. Sebab pria itu tak hanya mengambil sebungkus alat kontrasepsi milik cowok, melainkan langsung mengambil sekenanya tangannya mengambil.


"Sebenarnya kata orang pake ini nggak terlalu nyaman, kurang nikmatnya. Tapi demi Resty-- Aaaah...." Pria itu bermonolog sendiri, sedikit frustasi, termakan omongan orang yang belum tentu itu benar, tetapi tetap dibeli demi keamanan bersama.


*

__ADS_1


__ADS_2