Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 125


__ADS_3

Alex dan Resty masih terlelap nyaman dibawah satu selimut sambil saling berpelukan. Setelah mengarungi penyatuan raga yang cukup melelahkan bagi pemula seperti mereka, keduanya memilih langsung tidur saja. Tetapi kali ini Resty terbangun lebih awal. Tiba-tiba ingin pipis membuatnya terpaksa bangun walau sebenarnya mata masih sangat mengantuk.


Wanita itu masih mengerjap-ngerjapkan mata sebelum benar-benar beranjak. Merasakan ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya, siapa lagi kalau bukan suaminya yang sedang melingkarkan tangannya sedikit posesiv di pinggangnya saat ini.


Perlahan ia pun melepas tangan Alex dari pinggangnya cukup pelan, tetapi rupanya masih bisa membuat Alex terjaga dari tidurnya.


"Mau kemana, Yang?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Mau ke kamar mandi," balasnya, sedikit menarik selimutnya lebih rapat hingga sebatas dada, karena saat ini dirinya masih polos tanpa sehelai benang pun.


Alex beranjak duduk, lalu sedikit menggeser untuk meraih celpen miliknya yang teronggok dilantai bawah dekat ranjangnya. Kemudian memakainya didepan Resty, agar setelah ini istrinya itu bisa leluasa memakai selimut itu sebagai penutup tubuhnya saat ke kamar mandi.


Resty pun segera memasang selimut itu hingga melilit dengan benar ditubuhnya. Kemudian dengan perlahan mencoba turun dari ranjangnya, walau sejujurnya merasa seperti ada yang tertinggal pada inti miliknya. Perih dan sedikit ngilu, begitulah yang dirasa Resty saat ia mencoba berdiri.


Wanita itu meringis dalam diam. Melangkah sedikit tertatih akibat aksi penyatuan raga semalam. Alex yang sedari tadi memperhatikannya tentu merasa tak tega. Karena dirinya lah Resty harus seperti ini. Lalu pria itu pun juga ikut turun dari ranjangnya, segera menyusul Resty yang masih tak sampai ke kamar mandi. Dengan gerak cepat pria itu membopong tubuh istrinya begitu saja.


"Ah, ngapain?" Tentu Resty kaget dengan reaksi Alex yang tiba-tiba.


"Aku bantu kamu ke kamar mandi," ujarnya kemudian membawa tubuh Resty masuk ke kamar mandi itu dengan menggendongnya ala-ala bridalstyle.


"Sudah sampe, turunin!" Resty sedikit memukul kecil dada bidang Alex. Sejujurnya ia kembali resah, takut-takut suaminya itu akan mesum lagi. Sedangkan saat ini saja Resty ketakutan untuk sekedar pipis. Membayangkan ada luka yang kemudian tersiram air seni, duh... pasti perih-perih nikmat kan?


Alex pun menurut. Ia menurunkan dengan pelan tubuh Resty, tetapi tak membuatnya beranjak dari sana.


"Kok masih disini?" Resty bertanya heran.


"Takut entar kamu butuh bantuan aku lagi, Yang."


"Cuma pipis doang. Emang mau bantu cebokin?"


"Ya kalau kamu mau, ayo!"


Bola mata Resty seketika membulat. Ia pun mendaratkan cubitan kecilnya dipinggang Alex sangat gemas.

__ADS_1


"Aduh, Yang, demen banget nyubitin suami," serunya, sok mengaduh kesakitan padahal demen dengan tingkah Resty yang begini.


"Kamu sih, mesum!" umpatnya bertambah gemas.


"Mesum begini tetapi semalam kamu menikmatinya juga kok," balasnya lagi-lagi tanpa filter.


"Iiiih.... Alex! Aku siram nih kalau nggak keluar sekarang!"


Bukan karena marah Resty menyuruh Alex keluar, ia sudah tidak tahan digoda dengan hal semalam yang membuatnya kembali teringat akan kejadian itu. Sungguh Resty masih ingat betul saat dirinya berada dipuncak kenikmatan atas perlakuan suaminya itu, bahkan tanpa malu sampai mengeluarkan suara lacknat yang sungguh memalukan menurutnya.


"Ciye... Ciye... Malu nih yee? Duh, jadi bikin gemes lihat pipinya merona begitu."


Dasar Alex si kang jail! Ia suka sekali menggoda istrinya yang kepalang tambah malu dibegitukan.


"Udah keluar sana aku mau pipis." Resty sampai memaksa dengan sedikit mendorong tubuh Alex, namun rupanya suaminya itu tipe ngeyelan dan tak beranjak sama sekali.


"Iiih... Nyebelin!" umpatnya sangat sebal, begitu suaminya itu hanya nyengir dan tak berhasil membuatnya keluar dari kamar mandi itu.


"Sayang, nggak jadi pipisnya?"


"Nggak!" balasnya ketus.


"Eh, nggak boleh. Nahan pipis itu nggak baik loh, Yang."


Bahkan pria itu sengaja menggendong tubuh Resty lagi hingga masuk lagi ke kamar mandi. Jangan tanya bagaimana reaksi Resty saat dibegitukan, pukulan kecilnya terus saja mendarat di bahu Alex sambil berseru minta diturunkan, tetapi Alex terus saja mengabaikan.


"Iya deh, maaf... Aku beneran keluar sekarang," ucapnya kemudian, benar-benar merasa kasihan kalau terus menggoda Resty dan sampai harus menahan pipisnya itu.


Lalu kemudian pria itu pun keluar dari kamar mandi, tetapi tetap menunggu Resty didepan pintu.


Sedangkan Resty sendiri segera mengeluarkan BAK yang ia tahan sedari tadi. Mulutnya seketika meringis perih lagi, saat air seni itu mengalir dari dirinya.


"Ya ampun, gini amat rasanya pecah perawan," gumamnya seorang diri.

__ADS_1


Setelah selesai bebersih, Resty pun memilih keluar dari sana untuk segera kembali tidur. Tubuhnya yang terasa sedikit pegal, membuatnya ingin tidur sangat nyenyak malam ini. Tetapi ia dibuat heran setelah melihat Alex rupanya menunggunya didepan pintu kamar mandi.


"Sudah, Yang?" tanyanya. Sejujurnya ia mau bertanya bagaimana keadaannya, tetapi memilih menahannya setelah melihat wajah Resty yang sedikit murung.


Wanita itu mengangguk lemah, lalu seketika tubuhnya terasa melayang setelah suaminya itu lagi-lagi menggendongnya.


"Udah diem, aku cuma mau bantu kamu. Sepertinya kamu kesakitan ya, maaf ya, Yang?" ucapnya dengan tulus, sungguh merasa kasihan tetapi memang seperti itulah proses awalnya.


"Nggak usah bahas itu lagi." Resty menyahut kalem. Kali ini ia tidak marah ataupun sebal kepada suaminya itu. Apapun yang terjadi dengan dirinya saat ini sejujurnya ia sangat ikhlas. Malah kali ini wanita itu dengan nyamannya menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya saat dibawa dalam gendongannya menuju kasur.


Perlahan pria itu merebahkan tubuh Resty dengan pelan, sedikit menata bantalnya agar tidur wanita itu lebih terasa nyaman. Sekilas mengecup keningnya dengan hangat, lalu kemudian ikut merebah juga disamping Resty masih sambil memeluknya dengan erat.


"Aku mau pake baju," ucap Resty berusaha duduk tetapi langsung ditahan oleh Alex.


"Nggak usah. Begini nih nyaman, hangat," ucapnya yang kemudian semakin merapatkan pelukannya.


Walau merasa agak risih dan juga masih sangat malu harus tidur dalam kondisi seperti itu sedari tadi, tetapi akhirnya Resty memilih menurut. Wanita itu merapatkan selimutnya hingga sebatas leher, tetapi lihatlah kelakuan Alex. Pria itu dengan sengaja bergeser turun dari bantalnya, mensejajarkan posisi kepalanya dengan sumber air kehidupan.


"Sayang," serunya sambil mengendus nakal pada area buah kenyal itu.


Resty hanya terdiam, tetapi sejujurnya perasaannya kembali resah.


"Boleh ya?" tanyanya ambigu.


Resty langsung paham saat tangan nakal suaminya itu memainkan titik coklat miliknya dengan sentuhannya yang memicu rasa geli-geli nikmat.


"Cuma mimik kok," ucapnya lagi saat tak kunjung mendapat respon dari Resty.


Dasar memang si Alex! Pria itu langsung mengulum titik coklat itu dengan rakus, meski belum mendapatkan ijin dari istrinya. Diamnya wanita itu oleh Alex dianggap telah setuju. Dan lihatlah, karena perlakuannya itu membuat Resty lagi-lagi tanpa sadar mengeluarkan suara lacknatnya. Mendessah dengan penuh kenikmatan. Membuat jiwa pria itu terpancing lagi untuk melakukan yang lebih.


Bahkan saat pria itu menyentuhnya pada seluruh tubuhnya, tak ada lagi penolakan atau protes apa-apa dari Resty. Seperti telah lupa jika miliknya itu masih terlalu perih untuk disambangi lagi. Rasa itu terlalu candu bagi seorang pasangan pengantin baru seperti mereka. Yang akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan teramat nagih hingga mau mencobanya lagi dan lagi.


*

__ADS_1


__ADS_2