
Denting jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Kumandang adzan subuh baru saja usai saat ketukan pintu kamar Resty berbunyi. Gadis itu masih betah terlelap dibalik selimut tebalnya, karena memang cuaca dipagi hari di kampung ini sangatlah dingin. Hingga sampai ketukan pintu itu semakin keras, masih tak ada tanda-tanda penghuni kamar itu terjaga.
"Sepertinya masih tidur, Eyang." ucap Alex, saat eyang Asih kebetulan lewat dan masih melekat mukenah ditubuhnya.
"Coba gedor tambah keras. Kebiasaan tuh anak gadis." Eyang menyahut sewot.
Alex menggedor pintu itu semakin keras, tetapi tetap saja tak ada sahutan dari dalam.
"Sudah kamu masuk saja, Lex." serunya seketika.
"Hah? Tapi Eyang.."
"Ingat! Cuma bangunin Resty, bukan ngapa-ngapain, apalagi mau mesum. Awas kau!" pesannya memperingatkan.
Lalu kemudian eyang Asih beranjak menuju sebuah ruangan yang di disegn menjadi musholla kecil didalam rumah itu. Meskipun Alex masih ragu, tetapi akhirnya membuka pintu itu dengan perlahan.
Setelah pintu itu terbuka, pria itu hanya berdiri diambang pintu saja. Dan rupanya Resty sudah tidak ada, hanya ada selimut yang cukup berantakan dikasur itu. Bisa jadi gadis itu sudah bangun dan mungkin sedang ada di kamar mandi.
Merasa tak perlu lagi membangunkan Resty, Alex berencana menyusul eyang Asih untuk menjalankan ibadah subuh juga. Tetapi baru tubuh pria itu berbalik, ia dikagetkan dengan suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras. Ia pun menoleh ke dalam kamar Resty lagi, rupanya gadis itu saat ini sedang meringis menahan sakit sambil berjalan tertatih-tatih.
Spontan Alex masuk ke kamar itu, merasa sangat khawatir dengan kondisi Resty yang begitu.
"Kamu kenapa?" tanyanya panik.
Pria itu langsung membantu memapahnya hingga sampai di kasurnya.
Resty tak menyahut. Tetapi rintihan kecil itu terus berdesis dari mulutnya. Sedangkan tangannya menekan perutnya sendiri.
"Sakit perut?"
Resty mengangguk. Ia memilih merebah lagi dan langsung meringkuk sambil memegangi perutnya yang terasa melilit.
"Sudah minum obat? Aku ambilkan ya?"
"Nggak usah," sahutnya dengan gelengan kecilnya.
"Kalau nggak minum obat gimana mau sembuh?" Alex semakin panik.
"Ini sudah biasa kok." Resty menyahut lemah.
__ADS_1
"Biasa?" Kening Alex berkerut heran.
"Kamu punya riwayat sakit apa? Kok bilang biasa?"
Resty menghela nafasnya sebentar. Sebenarnya ia malu untuk terus terang jika sakitnya itu karena sedang kedatangan tamu bulanan. Tetapi demi melihat wajah Alex yang kentara gelisah, mungkin ia harus jujur saja.
"Sayang, kok nggak jawab? Jangan bikin aku tambah takut dong? Kamu punya penyakit apa sebenarnya? Ayolah ngomong, biar aku bisa bantu cari solusi dan sakit kamu ini nggak kambuh-kambuh lagi."
Kali ini Alex turut duduk ditepi ranjang itu. Tangannya menyentuh lengan Resty dengan usapan kecilnya yang kentara sangat khawatir melihat Resty hanya terdiam.
"Nggak usah lebay gitu. Aku nggak punya penyakit apa-apa. Masih sehat wal afiat." seru Resty, yang masih tidak memuaskan Alex dengan jawabannya itu.
"Mana ada sehat tapi sakit perut begini?"
Resty hanya tersenyum kecil, yang semakin membuat Alex terheran-heran.
"Kamu nggak lagi ngeprank aku kan?" Alex mulai sedikit curiga.
Resty menimpuk tangan Alex yang sedang mengusap lengannya. "Tahu sakit begini malah dianggap ngeprank. Sudah keluar sana!"
Alex tercengang lagi. Tiba-tiba beranggapan dirinya telah salah ucap sehingga Resty menyuruhnya keluar.
"Tunggu bentar, aku masih cemas nih lihat kamu merintih tadi." Alex mencekal tangan Resty, dan kemudian menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya.
"Terimakasih sudah cemasin aku. Tapi ini udah biasa aku begini, jadi kamu jangan khawatir."
"Tinggal ngomong sakit apa susah amat!"
Lagi-lagi Resty tersenyum tipis. Ia tidak menyangka jika pria yang sudah menjadi kekasihnya itu sangat perhatian dengannya. Merasa tidak salah telah menempatkan pilihan hatinya pada pria badung itu yang rupanya memiliki sisi kepedulian tinggi terhadap orang terkasihnya.
"Alex."
Eyang Asih ikut masuk ke kamar Resty. Kepalanya menggeleng kecil mendapati pria itu rupanya masih betah berada di kamar Resty.
"Aduh... Aduh..."
Alex meringis kecil saat telinganya sengaja dijewer oleh eyang Asih.
"Sudah aku bilang jangan macam-macam. Kamu cuma aku kasi tugas bangunin Resty. Sudah tahu bangun harusnya cepat keluar, bukan malah asyik ngobrol berdua didalam kamar." hardiknya, merasa gemas dengan tingkah Alex.
__ADS_1
Apalagi setelah melihat posisi Resty yang tetap merebah begitu, membuat wanita itu semakin berpikiran tidak enak atas kedekatan mereka berdua. Eyang Asih bukan tidak menyukai hubungan antara Resty dan Alex, tetapi lebih menjaga keetikaan saja. Berdua saja didalam kamar dengan status yang masih pacaran, bukankah akan menimbulkan fitnah? Apalagi kondisi mereka saat ini sedang ada di kampung, yang masih teguh berprinsip dengan norma ketimuran.
"Aduh, aduh.... Iya, ampun Eyang..."
Tubuh Alex sampai ikutan miring karena eyang Asih masih betah menjewernya. Hingga sampai pria itu sampai diambang pintu, barulah eyang Asih mau melepas jewerannya.
"Sana subuhan dulu! Udah mau kesiangan juga!"
Alex langsung pergi tanpa protes lagi sesuai perintah eyang Asih. Masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menuju ruangan kecil yang biasa ditempati untuk ibadah. Selama hidup bersama eyang Asih, pria itu menjadi semakin terarah. Lebih rajin beribadah, yang sebelumnya hampir lupa menyapa Tuhannya lewat lantunan doa yang selalu tersemat dalam lafal ibadahnya itu.
Resty berusaha duduk, tetapi masih betah ada dikasurnya. Lalu eyang Asih mendekatinya, tentu dengan tatapan tajam bagai mau menghunus gadis itu dengan bermacam-macam pertanyaan soal yang tadi.
"Kamu nggak mau sholat? Malah enak-enakan duduk."
"Aku lagi dapet, Eyang. Baru aja, perut aku aja sekarang lagi nyeri."
Eyang Asih mendengus saja. Ia tentu ingat jika Resty selalu begitu tiap awal-awal period.
"Apa mau eyang belikan obat buat pereda nyerinya?"
"Nggak perlu. Aku tiduran begini aja nanti sembuh juga. Cuma--"
"Cuma kenapa, Res?"
Mulut Resty tiba-tiba mengerucut kesal sendiri. Disaat begini ia sangat butuh Ayu untuk membelikannya roti sayap.
"Kok diem, Res? Tadi itu cuma kenapa?" Eyang bertanya lagi.
"Aku butuh pembalut." balasnya agak kikuk.
"Oh, ya sudah. Eyang berangkat beli dulu."
"Jangan, Eyang. Biar nanti aku yang beli sendiri. Aku masih ada sisa, cukup buat sampe sore." cegahnya, demi tidak mau merepotkan eyangnya, walau dengan tubuh rentanya itu sang eyang masih sangat energik.
"Eyang juga nggak mau berangkat sendiri. Ada Alex atau Saleh nanti yang berangkat beli." terangnya santai.
"Waduh! Jangan, Eyang. Aku bisa malu kalau eyang nyuruh Alex yang beli."
Bukannya menimpali, eyang Asih lantas keluar dari kamar itu untuk mencari Alex.
__ADS_1
*