Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 108


__ADS_3

Resty dan Alex baru pulang dari tempat fitting baju pengantinnya setelah jam menunjukkan hampir pukul delapan malam. Calon pengantin baru itu tadi juga ditemani Sisil saat sedang fitting. Makanya karena terjadi saling tukar pendapat antara menantu dan ibu mertua itu membuat Alex dan Sisil tiba di rumah lewat dari jam biasanya.


Saat mereka sudah masuk ke rumahnya, rupanya Tommy sedang menunggu mereka di ruang keluarga. Resty dan Alex mendekat seraya menyalim dan juga menyapa kepada Tommy.


"Duduk sini. Ada yang mau papa bicarakan sama kalian berdua," ujarnya begitu tenang.


Resty dan Alex menurut. Mereka pun duduk ditempat masing-masing yang tentunya masih berhadapan dengan Tommy.


"Maaf, Om. Kalau pulangnya agak malam," ucap Alex.


"Tidak apa-apa. Bagaimana tadi fittingnya? Lancar?" tanyanya, yang tentu masih basa-basi dari hal yang sebenarnya ingin ia sampaikan kepada mereka.


"Lancar, Pa." Resty ikut menjawab.


Perbincangan mereka terjeda sesaat, begitu mak Asna datang sambil membawa minuman lengkap dengan kudapannya untuk mereka.


"Mau diajak makan malam, tapi pasti kalian sudah makan diluar kan?" tebaknya, yang ternyata Alex dan Resty sama-sama mengangguk membenarkan jika sebelum pulang barusan mereka masih mampir ke sebuah restoran untuk makan malam.


"Hem... Sudah papa duga." Tommy mendadak menjadi sendu.


Resty langsung peka dengan perubahan mimik wajah papanya itu. "Apa papa masih belum makan malam? Apa papa sengaja nungguin kita barusan?" tanyanya sedikit merasa bersalah.


Tommy tersenyum simpul menanggapinya. "Sudah barusan."


Resty masih menyorotnya sedikit tak percaya. Tetapi yang membuatnya agak penasaran setelah meneliti aura papanya yang sedikit berbinar dari biasanya. Senyum manisnya itu terus terukir dibibirnya, membuat gadis itu penuh tanda tanya dalam hati, ada apa dengan papa?


"Silahkan diminum dulu, Lex." Tommy menyuruh Alex mencicipi kopi susu hangat buatannya mak Asna kepada Alex.


Alex pun mengangguk menurut, walau sebenarnya tidak merasa haus tetapi tetap harus menghormati tuan rumah yang telah membuatkannya suguhan minuman hangat untuknya.


"Apa yang mau papa bicarakan?" Akhirnya Resty bertanya langsung.


Tommy terdiam sejenak. Walau apa yang akan dibicarakannya itu Tommy yakin akan mendapat respon baik dari anaknya, tetapi untuk memulainya Tommy sendiri merasa kesulitan.


"Tadi papa ke rumah Ika," ujarnya kemudian.


Resty dan Alex sama-sama mengangguk paham. Mereka pikir papanya hanya akan mengatakan jika tadi ia mengantar Ika pulang, padahal sebenarnya bukan tentang itu.


"Papa bertemu sama mama papanya Ika," tambahnya lagi.

__ADS_1


"Trus, Om?" Alex mulai terpancing penasaran.


Sejenak Tommy menghembus nafasnya, agar lebih rileks ketika mengatakan yang sebenarnya itu kepada mereka berdua.


"Yaa... Kami akan menikah," ujarnya, sangat slow tetapi jelas terdengar pada indra pendengaran Resty dan Alex.


Sekilas Resty dan Alex saling bertatap heran bercampur kaget. Tetapi kemudian mendapat reaksi senang dari Resty, setelah keinginannya itu terwujud sesuai harapan.


"Papa...." Gadis itu beranjak mendekat kemudian memeluknya dengan erat.


"Selamat ya, Pa. Akhirnya papa menemukan tambatan hati papa. Semoga papa senang dan bahagia. Aku ikut senang, Pa," ujarnya sangat sangat bahagia sekali.


Tommy melepas pelukannya, menatap bahagia pada anaknya yang begitu wellcome dengan apa yang dibicarakannya itu.


Berbeda dengan yang dirasa oleh Alex. Walau tadi siang sempat mengatakan tidak masalah jika Ika akan menjadi mama mertuanya saat Resty tanya tadi, sejujurnya ia masih sedikit canggung dan sangat tidak percaya dengan pilihan papa mertuanya itu.


"Sayang, papaku akan menikah juga," seru Resty kepada Alex.


Alex menanggapinya dengan tersenyum getir. "Selamat ya, Om. Duh, jujur aku sedikit kaget dengarnya. Tetapi aku ikut senang juga. Kira-kira entar kalau aku cerita sama mama papa, reaksi mereka bakal gimana ya?"


Tommy terkekeh kecil. "Ceritakan saja sesuai yang kamu tahu," selorohnya.


Tommy menggeleng kepala.


"Iya nih... Kapan, Pa?"


Tommy meresponnya dengan mengangkat ketiga jarinya.


"Tiga bulan lagi?" terka Alex dan Resty sekenanya.


Tommy menggeleng lagi.


"Tiga-- Tiga--"


"Tiga hari lagi."


"Hah, secepat itu?" Mereka berdua membulatkan mata tak percaya.


Tommy mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Oh my God!" Resty sampai membungkam mulutnya sendiri begitu kagetnya.


Sedangkan Alex langsung menyeruput kopi susunya hingga nyaris tandas demi menutupi rasa kagetnya itu. Sesaat pria itu pamit pulang, setelah merasa entah dengan perasaannya sendiri.


"Mama Ika... Mama Ika.... Mama Ika.... Aaaaah!!! Nggak mungkin! Ini pasti sudah gila." Alex mengoceh sendiri saat dirinya sudah stand by duduk di jok motornya.


Meski masih tak percaya, tetapi itulah kenyataannya yang akan terjadi. Maka sebisa mungkin Alex harus mengubah panggilannya itu kepada Ika nanti. Apa iya Alex bisa bereaksi baik dan tunduk kepada Ika nanti, padahal sebelumnya mereka seringnya saling cek-cok mulut. Haduuh... Benar-benar memusingkan bagi Alex.


Sedangkan kondisi di rumah Ika saat ini mendadak menjadi sibuk sendiri. Setelah menyepakati pernikahan Ika dengan Tommy akan digelar tiga hari menjelang, tentu keluarga dari pihak perempuan itu direpotkan dengan urusan kelengkapan untuk pengantin perempuan.


Apalagi setelah selentingan mendengar dari Ika jika Tommy difitnah menghamili Donita yang jelas-jelas itu wanita simpanannya pak Bahar, papanya Ika semakin yakin ingin menikahkan Ika dengan Tommy secepat ini.


Ramdan sangat yakin jika Tommy bisa diandalkan dalam mengurus Ika yang terkadang sulit ditebak kemauannya. Apalagi Ramdan juga tahu bagaimana Tommy saat muda dulu. Bahkan cerita tentang pernikahan Tommy yang sebelumnya Ramdan juga tahu itu. Maka dari itu, Ramdan dengan tenang menyerahkan Ika kepadanya, setelah mengenal betul siapa dan bagaimana Tommy.


"Ikaaaaaa....." Resty langsung memekik senang, saat panggilan telponnya dijawab oleh Ika.


"Duh, nggak usah teriak-teriak. Kuping mau pecah nih rasanya," seru Ika.


"Aku senang banget, Bestie... Muach... Muach..."


"Lebay amat sih kau?" Ika sampai terkekeh sendiri begitu mendengar reaksi Resty yang begitu.


"Tolong anggap aku seperti anak kandungmu, Mama," seloroh Resty tiba-tiba.


Ika terhenyak sesaat. Ia sama sekali tak menyangka jika anak dari calon suaminya itu tetap akan seperti biasanya yang mengasyikkan, walau tiga hari menjelang dirinya akan beralih menjadi mama sambungnya.


"Sumpah nggak nyangka banget kalau ternyata kamu yang bakal nikah duluan," ucap Resty.


"Kita memang best friend yang ditakdirkan apa-apa akan barengan. Bahagia bareng, akan kumpul terus siang dan malam. Semoga persahabatan kita tetap utuh ya, Res. Tolong jangan malah sungkan sama aku, meski nanti aku berubah status menjadi mama kamu." tutur Ika sepenuh hati.


"Siap, Mama Bestie..."


"Eh, geli amat dengernya?"


Duo sahabat itu saling tertawa kecil. Begitu bahagia yang mereka rasa sekarang. Apalagi Tommy yang saat itu ikut mendengar percakapan antara Resty dan Ika, hanya bisa tersenyum lega melihat rona bahagia Resty yang berkali-kali lipat.


Satu tugas yang masih menjadi PR beratnya, yaitu belajar mencintai Ika yang telah menyerahkan seluruh cintanya itu hanya kepada seorang duda beranak satu seperti dirinya. Mana mau mantu lagi. Haha....


*

__ADS_1


__ADS_2