Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 120


__ADS_3

Cup.


Dengan sengaja Alex mencium kecil pada bahu mulus Resty. Hingga membuat Resty seketika mendelik resah. Pria itu sungguh berhasil membuat bulu romanya seketika meremang, layaknya kedatangan hantu penghisap darah yang siap menerkam. Sialnya Resty malah hanya terdiam, bagai tertancap ditempat yang membuatnya sulit bergerak.


Beruntung pria itu tidak melanjutkan apa yang semestinya dilanjutkan. Dengan senyum hangatnya pria itu membantu melepaskan bagian yang sulit dilepas sendiri oleh Resty.


"Sudah cukup, yang ini aku bisa lepas sendiri," ucap Resty, saat Alex akan membantu lebih dalam lagi.


Alex menurut. Pria itu lantas bergeser dari Resty untuk sekedar duduk ditepi ranjang, masih sambil memperhatikan Resty yang terlihat sibuk melucuti satu persatu yang melekat didirinya.


"Kamu sudah makannya? Perasaan cepat amat." Resty bertanya.


"Belum," sahutnya singkat.


Resty membalik badan menghadap kepada Alex duduk. "Kenapa?"


"Pinginnya makan diluar aja."


"Apa makanannya nggak cocok sama selera kamu?" selidik Resty, karena sebenarnya namanya orang kalau sudah lapar pasti langsung makan seadanya.


"Setelah ini kita makan diluar yuk?" Alex malah mengajak Resty untuk keluar, tanpa mau menjawab pertanyaan Resty sebelumnya.


"Tergantung," jawab Resty, membuat kening Alex seketika berkerut tak paham.


"Kalau papa mengijinkan, ya ayo," terangnya kemudian.


"Pasti diijinkan lah, Yang," balasnya sangat yakin.


"Kamu diajak keluarnya sama suami, masa nggak dibolehin."


Resty terdiam sejenak. Pikirannya seperti sedang loading mencoba mengingatkan diri jika benar pria yang bersamanya itu kini adalah suaminya.


"Duh, gerah nih. Aku mandi dulu, Yang." Alex langsung membuka begitu saja pakaiannya didepan Resty tanpa sungkan. Membuat gadis itu seketika membalik badan lagi, menghindari pemandangan indah pada tubuh kekar Alex yang membuat otaknya seketika travelling tanpa permisi.


Alex hanya menyeringai tipis mendapati Resty yang kentara berpaling diri. Rasanya akan sangat senang setelah ini menggoda Resty agar terjerit-jerit manja. Tiba-tiba saja otak usilnya kambuh lagi.


Berhubung tubuhnya sudah terasa sangat lengket dan menuntutnya untuk segera mandi saja, Alex memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi di kamar itu, berjalan santai melewati Resty dengan hanya menyisakan celana ditubuhnya.


Seketika Resty dapat menghembus nafas dengan lega saat melihat Alex sudah masuk ke kamar mandi. Dan ia pun kembali melanjutkan aktifitasnya melepas semua bagian pakaian pengantinnya hingga semuanya terlepas sempurna.


Sambil menunggu Alex selesai dari kamar mandinya, Resty memilih menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya tanpa minat mau baca apa. Hingga terdengar ketukan pintu kamar berbunyi, membuatnya bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu kamarnya.


"Mbak, ini pakaiannya milik mas Alex. Tadi saudaranya titip sama Mak."

__ADS_1


Mak Asna memberikan tas kecil berisi pakaian ganti Alex kepada Resty.


"Makasih ya, Mak," serunya kemudian.


"Sama-sama, Mbak."


"Mm, tadi mas Alex Mak lihat nggak jadi makan. Apa mau Mak masakin yang lain, Mbak? Kali aja tadi nggak ada yang cocok sama kesukaan mas Alex," tawarnya.


"Tidak perlu, Mak. Setelah ini aku mau makan diluar sama Alex," jelasnya.


"Oooh..." Mak Asna mengangguk paham.


"Tapi entar malam masih pulang ke sini kan, Mbak?" tanyanya, yang terdengar sangat ambigu bagi Resty.


"Kalau nggak pulang ke sini, emangnya mau pulang kemana lagi, Mak?"


"Ya kali aja setelah makan diluar langsung booking hotel," ujarnya sangat ceplas ceplos.


Resty terhenyak sesaat. Apa yang dikatakan mak Asna ada benarnya. Siapa tahu tanpa setahu dirinya diam-diam Alex telah menyewa kamar hotel untuk dijadikan kenangan terindah pada malam pengantinnya.


Tanpa sadar gadis itu jadi begidik geli sendiri. Otaknya kembali travelling. Pengalaman dua kali mendapat serangan meresahkan dari Alex, membuatnya tambah merinding resah.


"Mbak Resty kenapa?" Mak Asna bertanya sambil mengguncang pelan lengan Resty.


"Kalau Mbak memang mau makan diluar, Mak mau bilang saja sama tuan Tommy. Biar mereka tidak menunggu Mbak makan bareng."


"Iya, tolong bilangkan dulu, Mak. Setelah ini aku juga mau ngomong sendiri sama papa."


Kemudian mak Asna pamit pergi. Dan Resty kembali masuk ke kamarnya sambil menenteng tas kecil milik Alex di tangannya.


Tanpa disadari rupanya Alex sedari tadi sedang memandanginya, tentu dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggang dan lutut di tubuhnya saat ini.


"Sudah selesai?" tanya Resty, tetapi tatapan matanya sibuk memandangi arah lain. Rasanya sangat malu untuk melihat tubuh setengah telanjang Alex, walau kenyataannya itu sangat wajar bagi seorang pasutri.


Tanpa menyahut, Alex malah mendekat kepada Resty. Tetapi tatapan matanya terus menyorot tajam bagai mau menguliti diri Resty yang diterpa kegelisahan. Perlahan gadis itu mundur teratur, saat Alex terus memepetnya hingga terhenti disaat tubuh Resty sudah berhasil ia himpit didinding kamar.


"Lex, kamu mau apa?" seru Resty, kentara sangat gugup di wajahnya.


"Lapar," jawabnya singkat, tetapi tubuhnya semakin mengikis kepada Resty.


Resty memberanikan diri mendorong dada telanjang Alex, tetapi sama sekali tak membuat pria itu bergeser walau sedikit. "Aku mau mandi dulu. Setelah ini ayo kalau mau makan diluar," ucapnya, masih berpaling ke yang lain, tak berani menatap Alex yang menyeringai puas.


"Nggak jadi. Aku mau makan kamu saja."

__ADS_1


Astaga! Terus terang sekali nih cowok. Resty jadi berdebar resah dibuatnya. Bagaimana kalau Alex benar-benar meminta haknya saat ini juga?


Sedangkan Alex terus menyeringai puas. Otak usilnya telah berhasil membuat gadis itu bersemu merah. Seandainya saja saat ini ia sedang tidak merasa lapar yang sesungguhnya, mungkin ayolah unboxing sekarang juga. Hehe...


Cup.


Resty membulatkan matanya saat Alex tiba-tiba mencium pipinya. Kenapa tiba-tiba jadi parno begini? Ini hanya pipi. Padahal sebelumnya lebih dari ini Resty pernah merasakannya, tetapi sekarang kenapa rasanya ingin kabur saja.


"Sayang," seru Alex sambil membelai pipi bekas ciumannya dengan sangat lembut.


Resty tak menyahut. Deru nafasnya jelas sedang tidak beraturan, karena Alex bisa merasakannya itu.


"Mandinya jangan lama-lama ya? Aku beneran lapar banget nih," ucap Alex tiba-tiba.


Terdengar suara keroncongan dari perut Alex, membuat Resty akhirnya bisa bernafas lega. Itu artinya pria itu tidak akan menuntut haknya untuk saat ini, tetapi tidak menjamin untuk nanti malam.


Perlahan pria itu mundur, memberi ruang untuk Resty bisa beranjak. Tetapi gadis itu malah tetap ditempat, membuat Alex kembali menatap penasaran kepadanya.


"Sayang nggak mau mandi?" tanyanya.


Resty masih bergeming.


"Baju gantiku mana?"


Lantas Resty menyerahkan tas kecil yang sedari tadi dipegangnya kepada Alex. Tetapi pria itu sengaja menarik tangan Resty hingga gadis itu berteriak kaget atas ulahnya itu.


"Kamu diem gini aku jadi gumush deh, Yang. Beneran pingin tak makan, tapi sayang perutku lapar."


"Waddoh!"


Pria itu terjengkit kaget saat mendapati cubitan kecil dari Resty di pinggangnya.


"Kok nyubit sih, Yang?"


"Tauk ah, kamu rese banget."


"Rese begini tapi aku suami kamu loh, Yang."


Resty tak menimpalinya lagi. Segera ia melangkah lebar menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama, Yang. Pintunya jangan lupa dikunci, atau aku bisa masuk trus khilaf beneran gimana?"


Sumpah demi apa coba? Pria itu terkekeh sendiri begitu mendengar bunyi klik dari pintu kamar mandi.

__ADS_1


*


__ADS_2