
Beberapa saat sebelum terciduknya Alex dan Resty....
Donita pulang dengan kesal dari perusahaan milik pak Bahar. Setelah tuntutan permintaan tanggung jawabnya terus ditolak oleh pak Bahar, bahkan istri dari pak Bahar pun yang saat itu kebetulan juga sedang berada di kantor itu juga ikut menghinanya dengan tuduhan hanya numpang pamor saja.
Wanita tak tahu malu itu pun akhirnya mau pergi setelah pak Bahar beserta istri memanggil pihak security untuk menyeret paksa agar mau keluar dari perusahaan itu. Bagai sudah jatuh masih harus tertimpa tangga, begitulah ibarat pepatah yang pas untuk Donita saat ini.
Sudah kepalang menanggung aib mengandung diluar nikah, kehilangan job kerja karena ketahuan sedang berbadan dua, hingga kejadian barusan yang sungguh amat memalukan menjadi tontonan seisi perusahaan setelah dikeluarkan paksa dari ruang kerja pak Bahar.
Wanita itu segera menghentikan taksi saat kebetulan seseorang turun di perusahaan itu juga. Segera ia duduk di kursi penumpang dengan menutup pintu mobil itu cukup kasar. Bila perlu ingin membantingnya saja sekalian.
"Jalan, Pak," titahnya seketika.
Mobil taksi itu melaju sesuai intruksi Donita. Dapat dilihat dengan jelas wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Sorot matanya yang memancarkan amarah, dada yang terasa sesak dipenuhi rasa sakit hati tertimpa hinaan yang sungguh menyayat hati, sungguh ia tidak dapat memaafkan kejadian itu.
Seakan menyalahkan takdir mengapa harus sesial ini hidupnya. Sungguh penyesalan memang selalu datang diakhir. Andai dulu ia tidak meninggalkan Alex saat pria itu terkena kebangkrutan, mungkin ia masih baik-baik saja dengan pria itu.
Teringat tentang Alex, bayang-bayang Resty pun ikut muncul. Gemuruh didadanya kembali hidup. Apalagi jika teringat saat kemarin ditolak mentah-mentah oleh papanya Resty, membuat wanita itu semakin membenci akan keberadaan Resty. Sungguh sebuah dendam yang salah sasaran, jika harus membenci Resty dan papanya atas kejadian yang menimpanya ini.
"Mau kemana, Mbak?" sapa sang sopir taksi, saat hanya terus melaju tiada tujuan.
"Jalan saja," sahutnya singkat.
Wanita itu sedang menyusun rencana bagaimana caranya agar hubungan Resty dan Alex berakhir. Sungguh ia tak mau melihat keduanya bahagia. Benar-benar telah dikuasai oleh dendam hati, hingga rela menempuh segala cara agar tujuannya itu bisa tercapai.
Saat sedang dalam perjalanan tiada arah itu, kebetulan sekali matanya sedang awas melihat sekitar. Hingga Donita yang sedang diselimuti rasa sakit hati yang teramat dalam, bagai menemukan jalan untuk menuntaskan rasa dendamnya begitu tak sengaja menjumpai mobil Alex yang terparkir ditepi jalan.
Saat diperhatikan rupanya si pemilik mobil itu sedang beradegan mesra dengan sang kekasih. Bagai dayung bersambut, wanita itu pun meminta sang driver taksi untuk menepi ditempat yang tak begitu jauh dengan mobil Alex. Sekilas senyum liciknya terbit, merasa alam sedang mendukungnya untuk menyalurkan dendam kesumat yang sungguh salah tempat.
Rasa iri wanita itu terlanjur menguasai hatinya. Ia yang terobsesi ingin menjadi wanita kaya dan terpandang, yang akhirnya tetap tak kesampaian, membuatnya gelap mata sehingga memiliki ide licik untuk membuat Alex dan Resty tertimpa malu seperti yang dialami dirinya.
"Pak," sapa Donita pada sopir taksi yang berumur sekitaran empat puluh tahunan itu.
"Iya, Mbak."
"Aku akan kasi Bapak bonus banyak dari ongkos taksi ini, asal Bapak mau membantuku," ucap Donita.
"Membantu apa ya, Mbak?"
Sepertinya sopir itu tertarik dengan tawaran yang diucapkan Donita.
__ADS_1
"Bapak perhatikan mobil yang dibelakang," pintanya sambil bersamaan memperhatikan mobil Alex yang hanya berjarak sekitar dua meter saja dari taksi mereka.
Sang sopir hanya menyeringai tipis, merasa sudah lumrah memergoki aksi seperti itu.
"Bapak cari orang untuk menciduk mereka. Bila perlu lapor polisi sekalian. Atau Bapak telpon polisi sekarang, bilang kalau ada pasangan pemuda lagi berbuat mesum ditempat umum," serunya penuh kelicikan.
Sopir itu terlihat berpikir sejenak. Desakan ekonomi yang mengharuskannya mengumpulkan uang sebanyak mungkin demi sang istri yang bulan ini akan melahirkan secara saecar, membuatnya setuju dengan permintaan Donita tanpa memikirkan efek ke belakangnya seperti apa.
Sebelumnya sopir itu menghubungi kantor polisi terdekat, melaporkan sesuai seperti yang dikatakan Donita. Sedangkan Donita sendiri mulai mengambil gambar Alex dan Resty dengan ponselnya, kemudian ia mengirim hasil fotonya itu kepada seorang wartawan berita viral.
Tak lama setelah itu polisi pun datang dan langsung menggerebek Alex dan Resty saat itu juga. Bersamaan dengan kedatangan polisi itu, Donita meminta sang sopir taksi untuk pergi lebih dulu dari tempat itu.
Dan karena itulah yang akhirnya Alex dan Resty bisa berada di kantor polisi.
*
"Papa, maafkan aku," ucap Resty saat Tommy mengantarnya pulang ke rumah.
Gadis itu terus menundukkan wajahnya, sorot matanya mengembun, benar-benar menyesali perbuatannya yang sangat memalukan keluarga.
Tommy hanya terdiam. Sebenarnya ia pun merasa malu sang anak sampai tertangkap seperti itu, tetapi ia lebih penasaran oleh siapa orang yang berada dibalik tersebarnya berita terciduknya Resty ini, yang ia yakini seseorang itu begitu membenci dengan keluarganya.
"Papa maafkan, asal jangan diulangi lagi. Sudah cukup jadikan pelajaran, Res. Kamu ini sudah mau menikah," ucap Tommy, begitu sabarnya.
"Mending kamu lekas masuk kamar. Untuk besok jangan kuliah dulu. Diam di rumah sampai papa berhasil menemukan orang yang melaporkan kejadian ini."
Resty hanya mengangguk patuh, walau sebenarnya sedikit penasaran dengan ucapan papanya yang mengisyaratkan kejadian ini atas rencana orang lain. Walau harus menjalani hukuman tidak boleh keluar rumah entah itu sampai kapan, tetapi Resty hanya bisa pasrah karena ini memang salahnya juga.
"Malam ini papa masih harus kembali ke rumah Ika," ucap Tommy lagi.
Resty mengangguk paham.
"Besok papa pulang. Tapi kamu nggak keberatan kan kalau papa bawa Ika ke rumah ini?"
"Dengan senang hati, Pa. Aku sangat senang kalau mama Ika mau tinggal di rumah ini," balasnya begitu riang.
Tommy tersenyum lega. Tinggal ia yang harus membicarakan hal ini dengan Ika setelah ini. Eh, kira-kira Ika sudah tidur belum ya? Tiba-tiba saja Tommy kepikiran istri kecilnya itu.
Pria itu segera pamit pergi kepada Resty. Begitu memastikan anaknya itu masuk ke kamarnya, Tommy pun segera pergi untuk segera sampai di rumah sang istri lagi.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari saat Tommy tiba di rumah Ika. Segera pria itu masuk ke rumah itu, setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah yang ditugasi oleh Ika untuk menunggu kedatangan Tommy pulang.
Sejenak pria itu mengatur nafasnya sebelum kemudian masuk ke kamarnya. Begitu pintu kamar itu terbuka, rupanya istrinya itu sudah tidur dengan nyenyak. Segera ia melepas jaketnya yang terasa menyiksa diri, menaruhnya pada gantungan baju yang ada di sana. Dengan langkah pelan ia mendekati sang istri, dan langsung mendaratkan kecupan hangatnya di kening Ika begitu saja.
Merasa ada yang menyentuhnya, maka Ika pun terbangun dari tidurnya. Senyum kecilnya langsung terbit menyambut kedatangan suaminya yang baru pulang.
"Tidur lah, ini sudah malam," seru Tommy, sambil membelai kepala Ika penuh sayang.
Ika beranjak duduk. Rasa kantuknya seketika musnah melihat sang suami datang dengan selamat. Sempat kepikiran sebelum tertidur tadi, berganti dengan kelegaan hati begitu melihat wajah sumringah Tommy saat ini.
"Resty gimana, Mas?" tanyanya kemudian.
"Urusannya sudah selesai. Besok aku ceritakan. Sekarang tidurlah."
Ika menggeleng pelan. "Sudah nggak ngantuk."
Seketika Tommy teringat akan ucapannya sebelum pergi tadi. Apa jangan-jangan istrinya itu memang menunggunya pulang untuk melanjutkan ninuninu nya itu? Aah, jadi kepingin lagi kan?
"Kalau nggak ngantuk, mending kita--"
Tommy mencondongkan wajahnya, berniat akan mencium bibir istrinya itu. Tak disangka Ika malah mendorong bahunya, menolak kemauan Tommy dengan gelengan kepalanya memperingatkan.
"Sepertinya kamu harus puasa dulu, Mas," ucap Ika dengan senyumnya yang bikin penasaran.
"Aku datang bulan," jelasnya yang seketika membuat Tommy ternganga kecewa.
"Serius, By?" tanyanya masih tak percaya.
Ika mengangguk mantap.
"Sejak kapan?" selidiknya lagi.
"Baru saja, sebelum aku ketiduran."
Tommy menggaruk kepalanya agak frustasi.
"Berapa lama?"
"Mmm... Mungkin semingguan, atau bisa jadi lebih dari itu."
__ADS_1
Oh nooooooo....
*