Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 168


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


"Sayang, aku berangkat ya, nanti pulang dari kampus aku masih harus mampir ke kantor, ada meeting penting, papa ingin aku datang di sana," pamit Alex kepada Resty sesaat setelah mereka usai sarapan bersama.


Resty menganggukkan kepalanya. Wanita itu sudah mengajukan cuti hamil ke kampus, mengingat kandungannya yang sudah membesar dan di perkirakan akan melahirkan dua minggu ke depan.


"Hati-hati di jalan, Yang," ucap Resty sambil mengusap kepala Alex yang sedang membungkuk menciumi perutnya.


Setelah itu Alex mencium kening Resty, lalu sekilas menempelkan bibirnya pada bibir Resty. Seperti itu sudah biasa mereka lakukan setiap akan berpamitan.


"Jangan lupa telpon kalau ada yang nggak nyaman sama perut kamu," pesan Alex.


Resty mengangguk kecil. Memang seminggu ini perut Resty sedikit tidak nyaman, tetapi wanita itu terbilang cukup kuat hingga baru mengajukan cuti dari kampus baru lusa kemarin.


"Nanti jadi kontrol nya sama mak Ika?" tanya Alex memastikan.


Sebelumnya Resty sudah berpamitan akan kontrol ke dokter bersama Ika. Dan Alex mengijinkan karena belakangan ini ia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor.


"Mak Ika nggak jadi kontrol sekarang," jawab Resty.


"Tapi mama Sisil mau mengantarku," lanjutnya.


Alex tersenyum lega.


"Maaf ya, karena aku hampir nggak punya waktu nemenin kamu."


"Nggak pa-pa, Sayang. Kamu sibuk begini kan juga demi masa depan kita. Aku sama anak kita maklum."


Lalu Alex mulai duduk di jok motornya. Resty masih berdiri di sampingnya, menunggu hingga sampai suaminya itu pergi.


Tak di sangka rupanya Alex berpapasan dengan mobil mama Sisil saat akan keluar dari pagar rumahnya. Mereka saling menyapa dengan saling membunyikan klakson. Dan kemudian Alex melajukan motornya lagi.


Resty menyambut kedatangan ibu mertuanya dengan senyum yang menghangatkan.


"Sudah siap berangkat sekarang, apa nunggu sebentar lagi?" tanya Sisil sambil mengusap perut Resty menyapa cucunya.


"Aku mau siap-siap dulu, Ma," Lalu mereka berdua masuk ke rumahnya.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Sisil begitu memperhatikan cara berjalan Resty yang sedikit aneh.


"Aku baik, Ma. Cuma punggung ku dari semalem pegal, mana perut rasanya kayak mau jatuh," tutur Resty merasa nyaman menceritakan itu kepada mama Sisil.


Bukannya Resty tidak mau menceritakan itu kepada Alex juga, tetapi demi menjaga konsentrasi suaminya agar bisa fokus ngampus dan bekerja, maka Resty tidak menceritakannya. Karena yang ia tahu hal seperti ini sudah wajar di rasakan bagi ibu hamil yang sudah memasuki trimester terakhir seperti dirinya.


"Masih kuat jalan ke kamar?" tanya Sisil mulai cemas.


"Kuat dong, Ma," sahut Resty sambil kemudian berjalan pelan menuju kamarnya.


Sebenarnya Sisil memiliki feeling kalau itu mungkin tanda-tanda Resty akan melahirkan. Tetapi wanita itu tidak mengatakannya sekarang agar itu tidak membuat Resty panik duluan sebelum memastikannya dulu ke dokter.

__ADS_1


Sisil mengikuti menantunya itu sambil berjalan di belakangnya. Bahkan hingga Resty masuk ke kamarnya, Sisil juga ikut masuk.


"Santai saja, mama nggak keburu kok," ucap Sisil saat melihat Resty memakai bedaknya agak cepat.


Tetapi setelah itu Resty selesai merias diri dan sudah siap berangkat ke rumah sakit bertemu dengan dokter Jessy, dokter yang telah di pilih Resty sebagai dokter yang akan membantu proses bersalinnya nanti.


"Ma, tunggu bentar ya, perutku mules mau BAB dulu," Resty balik masuk lagi ke kamarnya dan lekas masuk ke kamarnya mandinya.


Sedangkan Sisil yang saat itu sudah berada di ambang pintu kamar itu, terpaksa ikut masuk lagi.


Tak lama kemudian Resty keluar dari kamar mandinya. Dan mereka pun segera keluar dari rumah itu. Tetapi tidak di sangka Resty mengeluh akan BAB lagi saat dirinya sudah duduk nyaman di mobil.


"Kamu diare, Res?" curiga Sisil.


"Nggak, Ma. Tadi itu aku nggak jadi mules, tapi kok sekarang mules lagi ya? Tunggu bentar ya, Ma."


Resty terpaksa keluar lagi dari mobil itu dan segera masuk lagi ke rumahnya menuju kamar mandi. Sisil menunggu dengan cemas sambil duduk di ruang tamu. Sekitar lima menitan menunggu, akhirnya Resty keluar lagi. Tetapi wajah pucat menantunya itu membuat Sisil seketika panik dan langsung mendekat kepadanya.


"Resty, kamu baik-baik saja kan, Nak?" Sisil merangkul pundak Resty.


"Mama, di-- di CD ku barusan ada flek darahnya," tutur Resty sedikit takut bercampur gugup.


"Astaga! Mungkin kamu akan melahirkan, Nak. Ayo kita cepat ke rumah sakit. Mama sudah feeling dari tadi. Ayo buruan, Nak."


Lalu Sisil menuntun Resty untuk masuk ke mobilnya. Menantunya itu benar-benar tergolong jenis wanita kuat untuk menghadapi proses bersalinnya yang mungkin akan di jalaninya hari ini juga. Buktinya Resty masih kuat berjalan sendiri menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang dokter Jessy.


"Berarti beneran mau lahiran sekarang, Dok?" Resty masih sempat bertanya, padahal rasa mules yang ia rasa sudah lebih sering di rasa dari pada sebelumnya.


"Iya. InsyaAllah. Nah, seperti ini yang saya suka. Tidak panik, tetap tenang, meski sebenarnya sakitnya sudah lebih sering kan?"


"Iya, Dokter. Sakitnya MasyaAllah sekali. Mau teriak juga nggak mungkin ngurangi sakitnya."


"Yang kuat ya, Nak." Sisil terharu sekali melihat menantunya itu terbilang kuat dengan wajahnya yang masih bisa tenang.


"Terimakasih, Ma. Bantu do'a nya ya..."


Sisil mengangguk. Sekilas ia mencium kening Resty cukup lama, sebelum akhirnya seorang perawat membawa Resty masuk ke dalam ruangan bersalin.


"Astaga! Aku sampai lupa tidak menelpon Alex," pekik Sisil kaget sendiri karena baru ingat tidak memberitahu hal ini kepada Alex.


Setelah itu Sisil menghubungi Alex, Kenzo, dan juga Tommy. Setelah di hubungi pertama yang datang adalah Kenzo, karena kebetulan saat ini pria itu sedang berada di jalan hingga bisa langsung putar arah menuju rumah sakit.


"Alex belum datang, Sil?" tanya Kenzo karena melihat Sisil masih seorang diri menunggu di luar ruang bersalin itu.


"Belum, Ken. Mungkin setelah ini. Aku cemas sekali takut Alex kebut-kebutan di jalan setelah mendengar ini."


Kenzo hanya bisa menepuk pundak istrinya, mencoba menenangkan kegelisahannya karena Alex tak kunjung datang.


Tetapi tak lama setelah itu Alex muncul dari ujung koridor sambil berlari.

__ADS_1


"Mama, Resty bagaimana?" tanya Alex dengan deru nafas yang ngos-ngosan.


"Kamu masuk sana, temani Resty," Sisil membuka pintu ruang bersalin itu agar Alex bisa masuk ke ruangan yang tiba-tiba terasa mencekam bagi Alex.


Di ranjang pasien itu Alex melihat Resty yang meringis menahan sakit seorang diri. Pria itu mendekat dan langsung menggenggam tangannya dengan erat.


"Maaf, Sayang, aku terlambat," ucapnya sambil mencium kening Resty cukup lama.


Resty mengangguk kecil. Setitik air matanya lolos dari pelupuk matanya. Sedangkan bibir bawahnya ia gigit kecil, menahan rasa sakit yang semakin menjadi.


"Dokter, ini masih lama?" tanya Alex sudah tidak tahan melihat aura istrinya yang sangat kesakitan.


"Ini sudah pembukaan delapan, sudah hampir, di tahan ya... "


Resty mengangguk. Tetapi genggaman tangannya bertambah erat menggenggam tangan Alex.


"Sayang, kalau tidak kuat bilang. Lebih baik Caesar," usul Alex merasa kasihan sekali melihat Resty.


"Aku kuat. Kamu cukup di sampingku saja, jangan kemana-mana," sahut Resty.


Dari awal Resty memang ingin melahirkan dengan normal. Ia sangat ingin menikmati segala prosesnya sebagai ibu yang seutuhnya. Apalagi jika teringat almarhum mamanya yang meninggal pasca melahirkan dirinya, dari sini Resty bisa merasakan juga betapa dahsyatnya perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya hingga rela berkorban bertaruh nyawa demi melihat buah hatinya terlahir ke dunia.


"Dokter, rasanya kayak ada yang mau keluar," ucap Resty membuat dokter dan perawat yang bertugas menemani berhambur mendekat.


"Jalan lahirnya sudah sempurna. Sekarang ikuti aba-aba saya. Tolong tetap tenang, tarik nafas, hembuskan, lalu dorong." Dokter itu mulai membantu proses jagoan Alex dan Resty terlahir ke dunia.


Alex terus saja menyemangati Resty yang hampir tak kuat di tengah jalan. Pria itu sampai menangis menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan istrinya melahirkan buah cintanya. Hingga sampai tangisan bayi itu memekik nyaring di ruangan itu, seketika itu pula Alex bersujud syukur karena istri dan jagoan miliknya terselamatkan.


***


TAMAT


Hai readersku...


Tidak terasa ya cerita ini sudah berakhir. Tetapi semoga kalian tidak kecewa dengan akhir cerita ini ya...


Terimakasih othor ucapkan buat kalian yang sudah mengikuti dari awal. Semoga othor bisa selalu menghibur kalian dengan karya othor yang lain.


Eh, btw... Siapa nih yang belum mampir di karya othor yang baru🤭


Othor tunggu kalian di sana ya guys...


Nih judulnya:


#CINTA MILIK KEANU


#SETELAH KAU HIANATI


Bye... bye... peluk jauh dari othor buat kalian😘

__ADS_1


__ADS_2