
Pagi ini Alex dan Resty pergi ke kampus masih dengan menaiki motor. Sempat ada perdebatan kecil sebelum berangkat tadi karena Alex yang merasa khawatir kandungan Resty akan kenapa-napa bila naik motor. Tetapi setelah melihat Resty yang masih suka mual setelah mencium aroma mobil, maka terpaksa Alex menaiki motornya. Tentunya dengan kecepatan lambat saat sedang di perjalanan tadi.
Mereka berdua sudah tiba di kampusnya. Segera keduanya menuju kantin dulu karena memang Resty meminta sarapan di sana pagi ini. Berhubung mereka berangkat lebih awal dari jadwal masuk kelas, maka mereka pun bisa santai sejenak di kantin sambil menikmati sarapan yang di pesannya.
"Mungkin setelah ini aku akan sering telat pulang, Yang," ucap Alex di sela-sela aktifitas makannya.
Resty hanya diam mendengarkan, sembari menikmati coklat hangat pagi ini.
"Aku akan bantu papa di kantor. Sepertinya akan jarang bisa bareng-bareng lama berdua. Kecuali weekend," serunya mulai melas.
Setelah mendapati Resty mengandung anaknya, jiwa kebapakan Alex terpanggil. Ia harus menjadi lelaki yang bekerja keras demi kesejahteraan keluarga kecilnya nanti. Memang selama ini Alex disuruh fokus kuliah dulu oleh kedua orang tuanya. Masalah pekerjaan tidak perlu dikhawatirkan, karena memang Alex lah pewaris dari dua perusahaan milik orang tuanya itu.
Tetapi kali ini Alex telah bertekad akan belajar mengelola bisnisnya bersama papanya. Selagi masih awal dan mumpung belum sepenuhnya dimandatkan kepadanya kelak.
Senyum kecil Resty terbit pada wajah ayunya. Wanita itu meraih tangan Alex dan mengusap punggung tangan suaminya itu dengan penuh kasih.
"Semangat calon papa. Aku di sini hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu sehat. Aku nggak pa-pa meski kita akan jarang berdua berlama-lama seperti ini, asal hati aku dan hati kamu tetap saling menjaga," ucap Resty sangat menenangkan.
"Mmm... Takut aku kepincut sekretaris seksi ya?" selorohnya tiba-tiba. Sudah tahu jika yang diucapkan istrinya itu serius malah menggodanya.
"Awas saja kamu kalau beneran macem-macem!"
Kedua mata Resty mendelik gemas. Suaminya itu memang terlalu meresahkan. Tampangnya yang keren dan masih muda, sudah pasti akan banyak wanita yang mengiranya masih single. Ah, belum apa-apa kenapa sudah cemburu duluan?
"Nggak deh, canda, Sayang."
Alex meraih tangan Resty, lalu mengecup telapaknya dengan lembut.
Saat keduanya sedang beromantis ria itu, tiba-tiba Ika muncul dan langsung ikut gabung duduk bersama mereka tanpa permisi sebelumnya.
"Gimana, Res? Positif nggak?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Apaan sih! Datang-datang nanya-nanya positif?" seloroh Alex agak ketus, pertanda tak suka dengan kemunculan ibu mertuanya yang dianggapnya sebagai pengganggu momen hari ini.
"Aku nggak nanya sama kamu!" Ika membalas ketus juga.
Entahlah. Meski keduanya sudah terjalin ikatan antara mertua dan menantu, tetapi yang dasarnya memang tidak pernah akur masih sedikit sulit untuk bisa baik-baik saja bila bertemu. Terkadang mereka lupa seperti apa hubungan mereka saat ini.
"Resty, kamu positif hamil kan?" tanya Ika lagi, dengan nada suaranya yang pelan.
Setelah kemarin Resty sempat curhat masalah kegalauannya itu, semenjak itu Ika terus kepikiran. Apalagi kemarin ia juga meminta Resty segera mengabari jika sudah mencoba testpack nya, dan saat ini Ika menagih jawabannya.
Perlahan Resty akhirnya mengangguk. Ia tidak bisa merahasiakan hal ini dari Ika. Wanita itu kemarin yang menasehati nya panjang lebar tentang kegalauan yang dirasanya.
Spontan Ika berteriak histeris kegirangan. Sungguh merasa senang mendengar kabar Resty hamil. Meski julukannya akan segera berubah menjadi nenek muda, tetapi sungguh Ika tidak keberatan dengan itu.
Resty menarik tangan Ika agar tidak bereuforia seperti ini, karena memang saat ini dirinya telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.
"Nggak usah lebay, Mak. Duduk!"
"Eh, awas saja anakmu mirip aku entar," seloroh Ika setelah melihat reaksi Alex yang kentara tak suka melihatnya bersorak senang.
"Eh, amit-amit. Na'udzubillah!" ucap Alex seketika.
Ika balik gemas dengan menjitak tangan Alex menggunakan sendok di depannya.
Dan Resty hanya bisa terkekeh geli melihatnya. Saat itu pula Ika langsung mengabari Tommy tentang kabar kehamilan Resty. Membuat Alex dan Resty menatapnya tajam karena mereka saja masih merahasiakan hal itu dari Tommy.
"Astaga!" Alex menyorot sangat gemas kepada Ika sambil geleng-geleng kepala, sesaat setelah Ika selesai mengabari Tommy.
"Dasar Mak-mak rempong. Terlalu ember kau!" umpatnya lagi.
"Eh, aku salah ya?" Ika baru paham setelah melihat raut wajah Resty yang menyorotnya dingin.
__ADS_1
"Aku masih belum ngasih tahu ini ke papa. Malah keduluan kamu," seru Resty kemudian.
"Duh, maaf, Res..."
Ika meraih tangan Resty.
"Bahkan papa mama Alex masih belum tahu juga tentang hal ini."
Ika mengusap punggung tangan Resty penuh sesal. Tetapi semuanya sudah terlanjur, apa mau dikata?
"Rencananya aku mau ngasih tahu mereka setelah memastikan baby ini kuat dan sehat. Tapi ya sudah lah."
"Resty, Alex, aku beneran minta maaf. Tadi tuh aku kelewat senang dengar kabar ini."
Resty dan Alex hanya bisa mengangguk pelan. Biar bagaimana pun itu semua sudah terlanjur tersebar ke papanya. Mungkin saja Tommy saat ini sudah menghubungi Kenzo juga.
Jam menunjukkan sudah kurang lima menit mereka masuk kelas. Maka mereka pun segera beranjak dari tempat itu untuk mengikuti makul hari ini.
Waktu merambat cepat. Tak terasa sudah saatnya mereka pulang, tetapi Resty dan Alex sudah berencana pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungnya. Apalagi mereka sudah membuat janji dengan dokternya pagi tadi.
Hingga sampai saat ini Tommy tidak menanyakan masalah kehamilannya itu meski sudah tahu dari Ika. Dan Resty sudah tidak begitu memusingkannya. Karena ia dan Alex telah berencana akan memberitahu orang tua mereka secepatnya setelah selesai periksa hari ini. Lenyap sudah ekspektasi Resty yang telah menyusun surprise ini untuk minggu depan.
Saat ini mereka telah keluar dari ruang dokter obgyn yang memeriksa kandungan Resty barusan. Bersyukur sekali kondisi kehamilan Resty dinyatakan baik-baik saja dan sehat. Dan calon bapak itu sedari tadi tersenyum riang, sungguh merasa bahagia luar biasa.
"Apa kita perlu booking restoran, Yang?" tanya Alex setelah sama-sama sepakat akan memberitahu hal ini nanti malam.
"Di rumah saja. Aku lagi mager mau keluar," jawab Resty.
Dan Alex tidak keberatan dengan usulannya itu, mengingat kondisi Resty yang tidak begitu baik mungkin lebih baik mereka undang kedua orang tuanya ke rumahnya nanti. Ah, rasanya sudah tidak sabar menunggu nanti malam.
*
__ADS_1