
Ziyyan dan Zayn sudah sama-sama duduk di sofa yang berada didalam ruang kerja rumah mereka. Sejenak ayah dan anak itu hanya saling diam tanpa ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.
Zayn memang sedang resah sendiri. Setelah semalam ia mendengar dari istrinya jika Resty adalah cewek gebetan Alex, tentu ia tak mau menyetujui rencana ini andai tahu dari sebelumnya. Dan hal itulah yang membuat pria itu kebingungan bagaimana harus memulai obrolannya. Karena yang paling ia takutkan saat ini ialah andai Ziyyan sudah menyukai Resty dan malah ia menyuruh untuk menyudahinya.
"Rencananya siang nanti aku mau bertemu Resty, Yah." Ziyyan memulai obrolannya lebih dulu.
Zayn sedikit terhenyak. Tetapi ia masih diam agar bisa mendengarkan lanjutan dari bicara Ziyyan.
"Kemarin gagal ketemu karena insiden Zee." lanjutnya.
Zayn menghela nafasnya sejenak. Lalu ia menatap intens kepada anaknya itu.
"Menurutmu bagaimana Resty? Kamu menyukainya?" Zayn langsung bertanya pada intinya.
"Cantik sih, cuma belum tentu juga nanti aku menyukainya kan? Mau ketemu saja baru hari ini." Ziyyan menjawab sesuai dengan apa yang dirasakannya sekarang.
Zayn hanya bergeming. Untuk saat ini ia akan membiarkan Ziyyan bertemu dengan Resty. Tetapi setelah ini ia akan membuat anaknya itu sibuk dengan urusan di kantor, sehingga nanti fokusnya bisa teralihkan dengan pekerjaan, bukan memikirkan masalah perjodohan ini lagi.
Terus terang Zayn sudah sedikit ciut untuk melanjutkan itikad baik sahabatnya itu. Menjaga hubungan persaudaraan lebih utama, dari pada harus muncul konflik hanya karena masalah perempuan. Dan semoga saja nanti Tommy bisa berlapang dada jika Zayn sudah menyampaikan keputusannya itu.
"Kamu kapan mau bantu di kantor?" Zayn mengalihkan topik ke yang lainnya.
"Tunggu dulu lah, Yah, masih pingin santai dulu."
Sungguh Ziyyan memang sedikit tak sama dengan Zayn ketika muda dulu. Jika Zayn semangat memupuk kariernya begitu ia lulus kuliah karena memang saat itu keadaan keluarga yang cukup mendesak, tetapi berbalik dengan Ziyyan. Mungkin karena sedari kecil sudah terbiasa dimanja oleh kakek Haris dan nenek Viona, hingga membuat Ziyyan terlampau enjoy dengan masalah pekerjaan.
Rahardian Group adalah Perusahaan yang dirintis oleh Haris, papinya Ara. Sedang ahli waris penerus perusahaan itu memang jatuh kepada Ziyyan. Surat wasiat itu sendiri sudah tertulis semenjak Ziyyan masih berusia tujuh tahun. Dan otomatis akan resmi menjadi CEO Rahardian Group setelah Ziyyan selesai mengenyam pendidikannya dan sudah berusia dua puluh empat tahun.
Sebenarnya saat ini Ziyyan sudah memenuhi syarat itu. Cuma memang Zayn akan mengumumkannya bila nanti Ziyyan sudah mulai aktif di kantor. Dengan begitu Zayn bisa resign perlahan dan menyerahkan sepenuhnya kepada anaknya. Karena memang perusahaan itu hak mutlak milik Ziyyan.
Sedangkan untuk bagian Ziana, Zayn dan Ara juga sudah mempersiapkannya. Tetapi karena memang Ziana hanya waris perempuan, tentu bagiannya hanya seperempat dari kakaknya. Beruntungnya kedua anaknya itu tidak saling cemburu dan iri karena perbedaan warisan. Berbekal ilmu agama yang pernah dipelajari mereka sewaktu belajar bersama ustadz saat remaja dulu, rupanya mereka benar-benar menjalankan sesuai syariat dari masalah ilmu faroidh tersebut.
"Jam berapa nanti mau ketemu sama Resty?" tanya Zayn.
__ADS_1
"Nunggu dia selesai kelas dulu. Paling jam dua, Yah."
"Setelah ini ayah minta sama kamu untuk jujur sejujur-jujurnya. Apa kamu menyukai dia atau bagaimana, kamu harus jujur sama ayah." pinta Zayn dengan yakin.
"Siap, Yah." Ziyyan menjawab mantap.
Zayn menepuk-nepuk pundak Ziyyan, sebelum akhirnya ia keluar dari ruang kerja itu karena harus segera berangkat ke kantor.
Ziyyan turut menyusul keluar dari ruangan itu. Mereka sama-sama tertegun setelah melihat Alex menghampiri mereka dengan membawa ransel dipunggungnya.
"Mau kemana, Lex? Bawaan berat banget kayaknya?" cerca Ziyyan to the point.
"Mau pergi liburan. Aku pamit, Om, Bang Ziyyan."
Alex mengulurkan tangannya kepada Zayn untuk bisa bersalaman.
"Liburan nggak ngajak-ngajak. Curang nih!" protes Ziyyan, merasa butuh liburan juga sebelum akan sibuk dengan dunia perkantoran.
"Sekitar dua minggu, Om."
"Astaga! Mau liburan apa pergi minggat? Lama amat." Ziyyan kembali protes.
"Memang sudah di planning jauh-jauh hari, Bang. Bang Ziyyan jangan kangen aku ya?" Alex memulai candaannya.
"His, najis kangen sama kamu!"
Sesaat Alex dan Ziyyan sama-sama terkekeh.
"Eh, tapi dua minggu itu kamu nggak liburan bareng cewek kamu juga kan?" selidik Ziyyan. pertanyaan yang bermaksud menggoda saja.
"Nggak lah, Bang." Alex langsung menyahut meyakinkan.
"Ehem." Zayn sengaja berdeham, demi mengalihkan pandangan Alex agar menatapnya.
__ADS_1
"Kapan om mau dikenalkan sama cewek kamu? Masa cuma dikenalkan sama tante Ara doang."
Zayn sengaja menyinggung hal itu demi bisa memastikan tentang kebenaran kabar dari Ara semalam.
Bukannya dijawab malah Alex hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Wah, aku kalah cepat sama kamu nih. Kalau begitu mending aku segera nikah aja deh." Ziyyan berkata sekenanya, saat mendengar Alex sudah mengenalkan ceweknya pada bundanya.
Dan Alex hanya bisa tersenyum getir begitu mendengar perkataan Ziyyan mengenai pernikahan. Lubuk hatinya bagai terhantam benda berat, saat membayangkan Resty menikah dengan Ziyyan.
Sedangkan Zayn sendiri hanya bisa menatap entah kepada Ziyyan. Entah itu hanya sebuah candaan atau memang kesungguhan Ziyyan yang berseloroh ingin segera menikah secepatnya.
"Kalau begitu mari berangkat sama om, Lex." tawar Zayn.
"Tidak usah, Om. Aku sudah pesan ojol, kebetulan sudah menunggu didepan."
"Ngapain pesan ojol?" protes Zayn. Ia merasa Alex terlalu menjaga diri, sehingga sungkan merepotkan sopir yang bekerja di rumah ini.
"Biar lebih praktis saja, Om." sahut Alex.
Padahal sebenarnya dengan menaiki ojol Alex bisa leluasa pergi ke terminal kota tanpa hambatan. Pria itu sudah bertekad bulat menyusul pak Saleh ke kampungnya, meski ia sendiri masih belum mengabari hal itu kepada pak Saleh.
"Mm, Om, aku pamit ya." ucapnya lagi.
Zayn hanya bisa mengangguk sambil terus menatap Alex keluar rumah hingga hilang dari pandangannya.
Saat ini Alex sudah menaiki ojol pesanannya dan secepatnya pergi ke arah terminal kota. Pria itu juga sudah memblokir nomor contact seluruh teman-temannya, termasuk nomor milik Resty juga. Terkecuali nomor milik kedua orangtuanya yang masih ia simpan.
Bila memungkinkan suatu saat nanti ia juga akan memblokir nomor contact om dan tantenya, termasuk Ziyyan dan Zee, jika memang perlu dilakukan.
Entahlah. Saat ini Alex hanya merasa ingin pergi ke tempat jauh tanpa ada orang yang mengenalinya. Membayangkan bagaimana suasana khas perkampungan sudah cukup membuatnya senang. Khas perkampungan yang sepi nan asri adalah tempat yang dibutuhkan olehnya saat ini.
*
__ADS_1