
SEKALI AKU MEMULAI, SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MENGAKHIRINYA. CAMKAN ITU!
Resty mengambil kertas bertuliskan ancaman untuk dirinya yang oleh si pelaku ditempel di kaca depan mobilnya. Gadis itu tidak habis pikir jika ada orang yang benar-benar tidak menyukainya, bahkan mungkin sudah sangat membenci dirinya.
Setelah hanya memandangi tulisan itu, Resty hanya bisa berdiri lemas. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas oleh karena mendapatkan teror seperti itu. Entah apa penyebab utamanya sehingga orang itu melakukan hal ini pada Resty. Ia pun hanya bisa menahan amarahnya tanpa bisa ia keluarkan meski rasanya sudah ingin menjerit sekuat hati.
"Tenang, Res." Ika merangkul bahu Resty sambil mengusap pelan di lengannya. Ia tahu jika sahabatnya itu sangat membutuhkan dukungan saat ini.
Ika pun meraih kertas itu dari tangan Resty. Membacanya lagi sekilas, lalu meremassnya hingga menjadi bulatan kecil dan melemparnya ke sembarang arah.
"Kita laporkan saja sama yang berwajib. Papa kamu pasti bisa bantu kok. Kamu tenang ya... Aku juga akan cari tahu siapa pelakunya. Benar-benar sudah bukan manusia tuh orang." omel Ika. Tentu ia juga merasa sangat kesal karena kasus ini sudah melebihi batas.
Bukan karena kerugian materi yang diberatkan oleh Ika, karena Ika yakin kalau cuma masalah itu Resty bisa menanganinya. Melainkan tentang mental Resty nantinya. Ia takut sahabatnya itu akan menjadi down gara-gara di bully macam ini.
Padahal selama Ika menjadi sahabat Resty ia merasa Resty adalah gadis baik dan juga santun terhadap sesama. Jika memang mereka iri hanya karena kecantikan Resty, bukankah masih banyak juga yang cantik di kampus ini. Jika memang karena kekayaannya, masih banyak yang lebih kaya darinya. Sungguh Ika telah bersumpah dalam hati, ia akan mengusut dan menyelidiki siapa dalang dibalik perbuatan ini.
"Jangan-jangan..." Ika ternganga sendiri, setelah tiba-tiba saja pikirannya terarah pada satu geng yang dikenal sangat usil di kampus, yaitu geng The Fly.
Resty melirik tajam pada Ika, seperti sedang menunggu ucapan yang terjeda dari Ika.
"Kamu tahu? Siapa, Ka?" tanyanya, sudah tak sabar.
"Alex dan kacung-kacungnya itu. Bisa jadi mereka pelakunya, Res." Ika asal berkata sesuai dengan praduganya.
Resty berpikir cukup lama. Memang akhir-akhir ini ia sering diganggu oleh geng mereka, walau sebenarnya sang ketua tidak pernah ikut langsung didalamnya selama Resty menjadi objek keusilannya. Akan tetapi jika memang benar ini perbuatan mereka, sungguh Resty sudah tidak bisa mentolerirnya lagi.
Kedua tangan Resty mengepal erat. Rahangnya mengeras menahan amarah yang terpendam. Deru nafasnya hanya bisa berhembus kasar mencoba tetap berada di akal warasnya, meski sebenarnya sangatlah ingin ia melabraknya saat ini juga.
__ADS_1
"Sayangnya disini nggak ada CCTV," ujar Ika, saat menyadari area parkir yang memang berada di halaman kampus yang cukup luas itu tanpa adanya kamera pengintai disekitarnya.
Resty tak begitu merespon ucapan Ika. Gadis itu sudah penat dengan pikirannya yang dibuat kacau saat ini.
"Mobil kamu pasang CCTV nggak?" Ika begitu berantusias sekali.
Dan Resty hanya menggeleng pelan. Mungkin sebagian orang akan memasang CCTV didalam mobilnya, tetapi bagi Resty itu tidaklah penting. Dan sekarang setelah terjadi begini dengannya rasanya Resty membutuhkan kamera itu juga, untuk selanjutnya merekam siapa yang akan berbuat jahat kepadanya.
Sementara dari sekian banyak mahasiswa yang melihat keadaan mobil Resty, mereka terkesan acuh. Tanpa ada yang bertanya kenapa dan bagaimana bisa terjadi. Mungkin memang karena Resty tidak begitu dikenal di kampus ini karena memang dirinya belum genap tiga bulan mengenyam pendidikan di sini. Apalagi Resty tergolong orang yang pendiam dan hanya bergaul dengan Ika, yang membuat mereka hanya bisa saling berbisik dengan yang lain.
Resty membuka pintu mobil itu dengan malas. Setelah terbuka ia langsung masuk dan segera duduk di belakang kemudinya. Disusul Ika yang juga turut masuk dan duduk disamping Resty.
"Jadi ngerjakan tugas sekarang?" tanya Ika. Seandainya Resty membatalkan ia tidak masalah, karena ia rasa Resty butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
"Jadi." Resty menyahut singkat. Lalu kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Kalau memang nggak memungkinkan bisa dikerjakan besok kok, Res.." usul Ika. Gadis itu telah memiliki rencana akan menyerahkan semua tugas itu kepada Alex. Sekalian buat pelajaran untuknya karena telah berani mengusik sahabatnya.
Resty membelokkan mobilnya begitu melihat mini market di seberang jalan. Ia pun segera turun setelah memarkirkan mobilnya, dan Ika hanya bisa mengekor dibelakang Resty tanpa berani bertanya setelah melihat wajah masam sahabatnya itu.
Gadis itu memasukkan aneka snack ringan ke dalam keranjang belanjanya dengan asal. Hingga sampai keranjang miliknya telah penuh baru ia memenuhi keranjang yang di jinjing Ika dengan macam-macam snack kekinian dan juga aneka minuman instan.
Ika hanya bisa melongo tak percaya melihat Resty yang jika sedang marah rupanya lebih senang mengemil. Sultan mah bebas. Bila perlu Resty juga bisa membeli toko ini.
"Kalo aku ini bisa buat sebulanan, Res." ucap Ika, saat sudah menunggu kasir melakukan transaksi.
"Nggak. Ini harus habis sekarang." sahut Resty. Setelahnya ia menyerahkan beberapa lembar uang merah ke kasir dan segera keluar dari sana dengan menenteng dua kantong kresek ditangannya, Ika pun juga begitu.
__ADS_1
"Jadi mau sekalian party nih?"
Menghabiskan empat kantong kresek penuh makanan ringan itu sekarang, apalagi jika bukan untuk berpesta.
Resty hanya tersenyum singkat. Biarlah, ia sudah tidak peduli akan bagaimana tanggapan Ika terhadapnya. Yang ia mau sekarang hanya ingin mengunyah dan menelan puas seluruh snack ringan itu.
Mobil kembali melaju dengan pesat ke arah rumah Resty. Sementara gadis itu tidak mau ambil pusing dengan yang menimpanya barusan. Setelah sampai dirumah nanti ia sudah berencana akan menyuruh sopir untuk mengurus mobilnya, selagi papanya belum pulang dari kantor. Ia memang akan merahasiakan kejadian ini dari papanya selama masih belum menemukan pelaku sebenarnya.
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit dari mini market tadi, kini Resty sudah sampai dirumahnya. Ia segera dihampiri oleh security dan sopir, setelah melihat kondisi mobil Resty yang begitu.
"Minta tolong di urus ya, Pak. Jangan bilang sama papa." ucap Resty kepada kedua pekerja rumahnya itu.
Kedua pria tanggung itu mengangguk patuh.
"Bawa sekarang ya, Pak." Resty menyerahkan kunci mobilnya kepada sopir yang bernama Benny.
"Baik, Mbak."
Benny segera mengambil alih mobil itu untuk segera di perbaiki. Sedangkan sang security turut membantu membawakan barang belanja anak majikannya itu ke dalam rumah.
"Mbak Resty," sapa mak Asna yang sengaja menyambutnya di teras rumah.
"Iya, Mak." Resty menyahut ramah.
"Mm, di dalam ada temannya, Mbak." tuturnya.
"Teman?"
__ADS_1
Resty menoleh ke sekitar. Dan barulah ia menyadari kalau ada mobil yang sudah tak asing lagi menurutnya. Ika turut melihat ke arah Resty memandang, ia pun dibuat ternganga setelah tahu jika pemilik mobil itu adalah Alex.
*