
Pagi sudah menyapa. Terik matahari sudah meninggi memantulkan semburat cahayanya lewat celah-celah kain gorden di jendela kamar Resty. Akan tetapi gadis itu pagi ini masih terlelap damai di kasur empuknya, masih dengan jaket yang berada dalam dekapannya.
Suara ketukan pintu kamarnya sudah berulang berbunyi, saking nyenyaknya Resty tidur hingga tidak terusik sedikitpun. Maka kemudian eyang Asih memilih masuk saja, dan seketika menggeleng kepala begitu tahu cucu perawannya masih tidur di pagi yang sudah meninggi.
"Astaga! anak gadis sudah terang begini masih molor kerjaannya." gerutu eyang Asih, sambil mulai duduk ditepi ranjang itu juga sambil menggoyang-goyang lengan Resty.
"Resty, ayo bangun!"
Kali ini eyang Asih berusaha menarik jaket yang dipeluk Resty, tetapi gadis itu malah semakin mengeratkannya.
"Iish... ish... ish... nih anak ya?" Eyang masih terus mengomel.
Jalan terakhir untuk bisa membangunkan Resty ialah dengan menyipratkan air ke mukanya. Tetapi belum sempat eyang pergi mengambil air, gadis itu mulai bergerak sambil menggeliatkan tubuhnya begitu saja.
Perlahan Resty pun mengerjapkan matanya. Begitu terbuka lebar ia mendapati eyangnya tengah berkacak pinggang sambil melotot kepadanya.
"Mm, bagus ya? Jadi selama ini kamu memang sering bangun kesiangan begini, hah?"
Bukan tanpa sebab eyang Asih marah pagi ini. Baginya seorang perempuan tidak sepatutnya bangun kesiangan. Karena itu akan menjadi kebiasaan buruk bila nanti keterusan sampai berumah tangga.
Apalagi eyang Asih sendiri memang hidup di kampung. Yang mana rata-rata semua perempuan di kampung ini sudah bangun lebih awal, bahkan bisa bangun sebelum subuh menyapa, agar bisa melaksanakan urusan keluarganya lebih awal.
"Ini sudah jam berapa, Eyang?" sapa Resty sambil berusaha meraih ponselnya yang berada di nakas samping ranjangnya.
"Sudah mau siang. Ayam diluar sana sudah selesai cari makan, kamu masih enak-enakan molor. Ayo buruan bangun!"
Resty hanya nyengir tanpa berani membantah. Ia memang salah karena tak sepatutnya bangun saat jam hampir menunjukkan angka tujuh. Bahkan meski begitu sebenarnya Resty malas beranjak, rasa kantuknya masih belum pergi setelah semalam baru bisa nyenyak saat lewat dari pertengahan malam.
Eyang Asih menyorot curiga pada sebuah jaket pria yang tadi dipeluk Resty. Ia mencurigai kalau jaket itu adalah milik seseorang yang Resty suka selama ini. Mungkin ini kesempatannya untuk bertanya itu. Bukankah memang Tommy memintanya untuk menanyakan siapa lelaki yang disukai Resty.
"Ini jaket siapa, Res?" tanya eyang Asih, sambil meraih jaket itu dan menelitinya dengan cermat.
Resty terkesiap seketika. Ia baru ingat jika ada jaket itu di kasurnya. Tentu ia pun mulai kebingungan mencari alasan untuk jawabannya. Apalagi kejadian semalam yang tak mungkin ia lupa itu seketika terngiang kembali, membuat perasaan Resty bertambah panik saja.
"E-- itu, milik--"
__ADS_1
"Pacar ya?" Eyang Asih langsung menebak sekenanya.
"Ah, bukan, Eyang." Resty langsung membantah meyakinkan.
Gadis itu segera melipir ke kamar mandi begitu saja sebelum eyang Asih bertanya lebih banyak. Sedangkan eyang Asih sendiri masih tetap ditempat sambil mencermati jaket ditangannya yang dirasa seperti tak asing lagi baginya.
Sambil menunggu Resty selesai mandi, akhirnya eyang Asih memilih keluar dari kamar itu. Wanita tua itu sekarang sudah duduk di kursi makan untuk sarapan bersama Resty.
Setelah ditunggu hampir setengah jam akhirnya Resty keluar dari kamarnya. Segera ia menuju sang eyang yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Maaf, Eyang. Semalam aku memang nggak nyenyak tidur, jadi nggak sengaja bangun kesiangan." ucap Resty penuh sesal.
"Sudahlah, ayo segera sarapan." balas eyang Asih. Aura wajahnya kembali sabar, tidak menunjukkan adanya sisa kesal kepada Resty.
Resty segera mengisi piringnya dengan nasi dan lauk telur dadar saja. Perutnya yang masih terasa tidak begitu enak, membuatnya tak berani mengambil lauk yang berbumbu kental.
"Ini sayur sama kare ikannya kamu nggak suka?" tanya eyang, karena hanya melihat Resty seperti tak semangat sarapan.
"Sudah cukup, Eyang. Lagian perutku juga agak nggak beres habis makan kekenyangan semalam."
"Obat apa itu, Yu? Kamu sakit?" tanya eyang Asih.
"Bukan, Buk." sahut Ayu ramah.
"Ini Ayu mau kasih ke mas Deden. Pak Saleh bilang mas Deden semalam demam karena sambil jaga nggak pake jaket." jelasnya, yang seketika membuat Resty terjeda sejenak.
"Sekarang dia dimana?" tanya Eyang, terlihat sangat cemas.
"Masih didepan, Buk. Di pos maksudnya."
"Ck, anak itu!" Eyang Asih berdecak kesal.
Ia pun beranjak berdiri dari tempatnya untuk menyusul Deden ke pos depan. Sebenarnya eyang Asih sendiri menyadari perubahan Deden setelah kedatangan Resty. Sebelum Resty datang, Deden bahkan tidur di rumah ini juga. Kamar Deden dan Ayu agak bersebelahan. Kecuali pak Saleh yang tak pernah mau tinggal bersama disini, karena ia masih bisa pulang pergi ke rumahnya sendiri yang masih tetangga kampung sebelah.
"Deden? Maksudnya Alex kah?" batin Resty bertanya-tanya.
__ADS_1
Saking penasarannya Resty pun akhirnya beranjak juga dan hanya terdiam sebatas teras depan. Karena eyang Asih sudah datang lagi bersama dengan Deden atau Alex.
"Apanya yang sungkan. Cucuku itu bukan orang sombong. Kamu sama Resty sepertinya masih seumuran. Bukannya masih bisa berteman juga, seperti kamu berteman sama Ayu?"
Eyang Asih terus mengomel sambil berjalan melewati Resty. Sedangkan Alex sendiri tetap diam dengan wajahnya yang kentara pucat.
Sekilas keduanya saling melempar lirikan kecil, tetapi tak ada yang mau saling bersapa. Seperti dua orang yang tidak pernah kenal, begitulah yang Resty tangkap dari pergerakan Alex.
"Resty," Eyang Asih menyapa.
"Eh, iya Eyang." sahut Resty, sedikit gugup.
"Minta tolong ambilkan sarapan buat Deden." titahnya yang seketika membuat Resty tercengang ditempat.
"Biar Ayu saja, Buk, yang ambilkan sarapan buat mas Deden." Ayu menawarkan diri.
"Nah, betul. Ayu saja, Eyang." Resty berucap sambil nyengir nggak jelas.
Eyang Asih langsung menggeleng kepala. Semula ia berencana akan mengantar Alex langsung ke kamarnya, tetapi begitu mendengar Ayu menawarkan diri eyang Asih mulai was was sendiri.
"Begini saja. Ayo sekalian kita sarapan bersama. Awas nggak ada yang nolak lagi!" ucapnya sambil melangkah lagi ke ruang makan.
Melihat wajah serius eyang Asih membuat mereka yang berada di sana tidak berani membantah lagi. Resty, Alex dan Ayu, sama-sama mengekor dibelakang eyang.
Resty sudah duduk lagi ditempatnya. Sedangkan eyang Asih kembali tersenyum hangat begitu melihat seluruh penghuni rumahnya mau sarapan bersama pagi ini.
Dan Alex duduk tepat berhadapan dengan Resty. Tatapannya masih sama, selalu menghindar lebih dulu tiap tak sengaja netra keduanya saling bersirobok.
"Oh iya, Saleh panggil kesini juga, Yu." titahnya lagi, lalu kemudian Ayu segera pergi ke depan untuk menyusul pak Saleh agar bisa sarapan bersama.
"Nah, kalau begini kan jadi rame. Eyang berasa seperti lagi makan bareng cucu sekaligus cucu mantu." seloroh Eyang, saat melihat Resty dan Alex hanya diam.
"Uhuk... Uhuk...."
Bersamaan keduanya sama-sama tersedak. Resty tersedak saat ia sedang mengunyah sarapannya lagi, sedangkan Alex tersedak oleh minumannya yang baru setengguk ia telan.
__ADS_1
*